Depok, Maret 2016
Angkot
berangka 106 melaju pelan, membelah keramaian jalan Depok di pagi menjelang siang.
Di jalan beraspal mobil mengular, sedang motor mencari celah untuk terus melaju
diantaranya. Suara klakson sahut menyahut, ditimpali dengan teriakan sang
sopir. Ditambah lagi semesta samasekali tak bersahabat, rasanya matahari dan
angin tengah bersengkokol untuk libur sementara waktu. Kubuka jendela di
belakangku selebar-lebarnya, mempersilahkan angin untuk masuk agar mengenaiku.
Nihil.
Kuurut
kening pelan sambil memejamkan mata, mencoba mengurangi pening yang ada. Dalam
pejam bayang seseorang tertayang, Salma.
****
Jakarta,
November 2011
Saat
itu, sedetik masuk ke gedung berpintu kaca, aroma teramat khas menyeruak masuk
penciumanku, membuat hidungku sedikit agak terganggu. Lorong-lorong bernuansa
putih mendominasi, suara-suara roda dan suara seperti kaleng terdengar
sesekali. ketika memasuki tempat ini tadi, rasanya aura asing menjalar masuk ke
tubuh. Tempat yang tembok dan lantainya lebih dingin dari tempat lainnya, Rumah
sakit.
“Assalamu’alaykum” salah satu bangsal
kumasuki. Memandang sekeliling ruang serba putih lalu tersenyum kearah
perempuan yang tengah terbaring di salah satu ranjang. Salma terpejam. Tidur.
Matanya
terpejam dalam, lentik bulu matanya sesekali bergerak mengikuti kelopak. refleks
karena alam bawah sadarnya tengah menyelam hingga dasar mimpi. Bibir tipisnya
serupa orang yang tengah mengalami dehidrasi, kering dan pucat. Di punggung
tangan sebelah kanannya menempel balutan plester putih, menahan jarum infus
yang mengalirkan cairan obat agar masuk ke darahnya. Salma Hafifah, nama perempuan terpejam itu,
yang nantinya tiap terlintas di bayang ingin melulu kutemui, lalu kudekapi.
“Sakit apa, Bi?”
Aku bertanya, padahal baru saja diberitahu
sejelas-jelasnya. Aku hanya sulit mencerna perkataan Abi barusan. Ummi berdiri
disampingnya, memandangku dengan tatap menyiratkan kerapuhan. Nampak terlihat
dari kilatan bening di matanya.
“leukemia,
Gung. Kanker darah”
Aku
mematung sejenak. Tidak menunjukan ekspresi kaget yang berlebihan, biasa saja,
seperti halnya kau mendengar saudaramu terkena demam yang parah, namun dalam
waktu yang lama. Semua penyakit ada
obatnya, kan?
*****
Jakarta, Juni 2012
Setelah
tiga kali pindah rumah sakit. Mulai saat itu, untuk waktu yang amat lama Salma
akan menjalani pengobatannya di rumah sakit khusus kanker, Dharmais.
Salma
memulai kemoterapinya. Selang bening mulai mengalirkan cairan putih ke pembuluh
darahnya. Memberikan gempuran besar-besaran terhadap sel-sel kanker yang
membelah seenaknya, juga pada sel-sel sehat di darahnya. Ia terlihat pucat.
Entah apa yang tubuhnya rasakan, tapi aku bisa sedikit meresapi kesakitannya.
Mungkin sepersekian nol koma persen.
Setelahnya
ia mual. Tubuhnya lemah. Ia mulai muntah. Cairan yang tengah menggempur sel-sel
kanker di dalam membuatnya kacau di luar. Kalau sudah seperti itu mau tak mau Salma
harus diopname satu atau dua hari. Allah…apa
yang bisa aku lakukan lagi selain berdo’a?
Usianya
baru belasan tahun. Masih teramat muda. Tapi hatinya sedewasa-dewasanya orang
dewasa, tapi tubuhnya sekuat-kuatnya orang kuat. Tingkahnya serupa anak
seumurnya, tapi ucapnya mendewasakan, menyabarkan, pun menguatkan untuk dirinya
juga orang-orang yang memperhatikannya. Fisiknya memang divonis sakit, tapi
jiwanya tidak. Dengar tawa lepasnya, dengar cerita serunya, dengar canda
hebohnya, kau bahkan tak akan menyangka jika dokter sudah memperkirakan hingga
kapan tubuhnya sanggup bertahan.
Salma
kesakitan –lagi— bukan ketika jarum menembus kulit lengannya, tapi setelahnya,
ketika cairan yang disuntikkan di punggung tangannya mulai masuk ke pembuluh
darah, bercampur menyatu lalu ikut mengalir ke seluruh tubuh. Lengannya panas,
serasa terbakar di dalam. Tapi dia tetap Salma, setelahnya semua seakan
baik-baik saja. Mengeluh dan mengalah bukan caranya menunjukan lelah.
*****
Serang-Rumah, Februari 2013
Ternyata demam samasekali tak bisa
disamakan dengan leukemia.
Siang itu aku terhenyak di tengah
tawa. Canda kami berubah canggung. Segenggam rambut ada di tangan kanan adik
bungsuku, Haykal. Bukan sisa potongan rambut yang sengaja dipotong, apalagi
rambut boneka. Bukan. Itu rambut asli. Rambut yang tercabut dengan mudahnya
dari kulit kepala Salma. Rambut Salma mulai rontok.
Kau
tahu apa yang terlintas dipikiranku saat itu? Tak percaya. Apa yang
diperbuat penyakit ini kepada Salma? Apa yang dilakukan selama ini oleh
dokter-dokter yang tiap minggunya kami datangi? Atau, apa yang kemoterapi telah
rubah setelah hampir tiap minggu Salma menahan sakit ketika cairan keras itu
bercampur darahnya? Aku dikacaukan sedih.
Sedang
Salma? Dia masih sanggup tertawa, seakan hanya dengan tertawa saja leukemia
yang tengah mendera lenyap tak meninggalkan sisa. Ia masih memiliki wajah
ceria, walau ketika relaps wajah
cerianya dimendungi rona pucat. Ia masih punya sejuta cerita untuk diungkapkan,
perihal sakitnya, teman sesama penyandang leukimea, bahkan aku. Kakaknya.
Cerita
yang buatku selalu ingin bercerita juga. Tentang duniaku kepadanya, sampai
sekarang, walau kesempatan itu terlalu cepat tiada.
“Salma
tau, Salma lagi diuji sama Allah. Dosa Salma lagi dihapus pelan-pelan sama
Allah”
Aku
menatapnya dalam. Terlalu pelan, Ma.
Gumamku. Untuk dosa seorang gadis berusia lima belas tahun, dosa sebesar apa
yang harus dihapus? Hingga satu-satunya jalan menghapusnya hanyalah lewat
sel-sel kejam yang bermetastasis di darahnya.
Saat
ini aku bahkan percaya Salma tak miliki dosa lagi.
****
Jakarta, juli 2014
Itu
perjalanan kesekian kalinya. Perjalanan menuju Dharmais untuk kembali menjalani
kemoterapi. Salma mulai terlihat berbeda. Badannya menjadi lebih gemuk, akibat
efek dari obat-obatan yang selama itu ia terima, di tangannya banyak luka kecil
kehitaman bekas berbagai macam jarum suntikan, jarum yang tangannya telah kebal
merasakan runcing ujungnya.
Kepala
yang tak lagi berambut ia tutupi dengan kerudung kaos hitamnya. Beberapa hari
sebelumnya Salma meminta rambut sebahunya dipotong habis, mengingat rambutnya
sudah benar-benar mengalami kerontokan. Masker menutupi wajahnya sebagian.
Bukan menghindari menularnya leukemia ke orang lain, tapi menghindari ditulari
penyakit oleh orang di sekitarnya. Sebab flu sedikit saja butuh waktu lama
untuk mengenyahkannya.
Aku
duduk disampingnya. Memandanginya sebentar lalu menerawang, tanpa disadari
ketakutan muncul dalam benak. Pertanyaan menakutkan diawali kata ‘kalau’
memenuhi kepalaku. Saat itu aku buru-buru meminta maaf dalam hati, kepada diri
sendiri. Meminta maaf sebab sempat meragukan adanya kesembuhan.
*****
Serang-Rumah, 24 Januari 2015
Siang
itu Salma relaps. Tubuhnya lemas dan
mual hebat. Kepalanya pening hingga ia memilih untuk berbaring sepanjang hari.
Ia nyeri luar biasa di sekitar dada dan perut, terlihat dari kerasnya Salma
memukul-mukul perutnya. Nafasnya sengal, seakan oksigen tak sudi masuk ke
rongga pernapasannya. Nafasnya serupa orang yang tengah cegukan, di tiap
hirupan mengeluarkan bunyi yang menggambarkan kepayahan. Lalu jebol lah pertahanannya
yang selama itu ia tahan. Ia menangis terisak. Ya Allah…
Kalut
mengatmosfer kami sekeluarga.
Ummi
menjadi sandaran Salma untuk berbaring. Memijiti kepala juga perut Salma,
berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa sakit yang tengah dirasakan
gadisnya. gadis kecil yang melulu ingin ia dengar tawanya, bukan lenguh
sakitnya, gadis kecil yang ia tunggu sembuhnya, gadis kecil yang ia ingin lihat
dewasanya. Jika ada alat yang bisa menampilkan derajat kesedihan seseorang, aku
yakin saat itu Ummi berada ditingkat teratas.
Seharian
itu Salma tak lepas dari pengawasanku, juga Abi dan Ummi. Bergantian kami
memijiti perut Salma yang membengkak. Aku memandang Salma keseluruhan. Tubuh,
tangan, perut, kaki, juga wajah cantiknya, ya
Allah….bahkan sudah membengkak hampir seluruhnya.
“Astagfirullah….ya
Allah, sakit….ampuni Salma….” Ungkapnya terbata. Ummi menangis tertahan. Abi
membuang pandangannya. Aku menatap ketiganya sendu.
*****
Serang-Rumah, 25 Januari 2015
Riuh
ramai samar-samar terdengar dari luar. Semesta kembali memulai cerita. Pagi itu
tak terdengar lagi suara tangisan Salma seperti kemarin. Salma kembali seperti
Salma biasanya. Aku menatapnya lega, sambil berusaha untuk tidak membayangkan ketakutan
yang akan terjadi kedepannya.
Sayang,
apa yang kutakutkan terjadi.
Ia
yang kuat kesakitan lagi. Adikku yang cantik itu menangis lagi. Anak gadis Abi
Ummi yang selama sakitnya tak sedetikpun kehilangan harapannya untuk sembuh itu
memukul-mukul perutnya lagi. Teteh untuk kedua adik kecil yang selalu
merindukan menjadi bidadari syurga itu sulit bernafas lagi.
Jakarta- Dharmais, 26 Januari 2015
Salma
dibawa ke UGD. Selang infusan dipasang di punggung tangan kirinya, mengalirkan
cairan obat dari kantung infus yang digantung pada besi tinggi. Alat pembantu
pernafasan berwarna hijau dipasang untuk membantunya bernafas.
Jakarta-Dharmais, 27 Januari 2015
Setelah
sempat pulang ke rumah aku kembali ke Dharmais. Keadaan Salma mengalami
kemunduran. Di dadanya sudah banyak tertempel alat serupa kabel yang entah
namanya apa. Aku mendekati Salma yang tengah mengeluarkan kata dengan terbata.
“Ummi,
Abi, Aa…udah ya ikhlasin Salma. Sakit…Salma sakit….astagfirullah”
Deg.
Dadaku seperti dihimpit benda keras. Sesak. Ummi mulai menangis sesegukan lagi,
abi yang selama itu megontrol tangisnya tak sanggup lagi membendungnya. Abi
kalah oleh air mata. Aku mematung. Salma terpejam.
“bi
peluk Salmanya…” suaraku bergetar. Abi menurut, dipeluknya Salma dengan
memangkunya. Tak lama Salma membuka matanya, memandang aneh apa-apa yang di
sekitarnya.
“kok
Salma masih disini? Syurga itu enak bi. Salma mau disitu”
Jakarta-Dharmais, 28 Januari 2015
Salma
bangun. Seperti kemarin tak terjadi apa-apa, wajahnya cerah. Aku berucap syukur
ternyata apa yang aku takutkan sudah terlewati. Aku sedikit bercakap dengannya
sambil menyantap sarapan. Sayang, lagi-lagi itu tak bertahan lama.
Salma
kejang. Tubuhnya mengejang tak terkendali. Setelah beberapa menit, tubuh Salma
yang sebelumnya kaku –saat kejang—kini sudah melemas. Tak bergerak. Terpejam.
*****
Serang,
Maret 2016
Langit
senja berarak datang. Lukisan mega berkanvas oranye perlahan mendominasi langit
sore. Semilir angin lembut menggaung di telinga. Hamparan rumput di sekitarku
menari dengan angin sebagai musiknya.
Aku
mengunjungi Salma, perempuan yang menungguku pulang. Yang kini berada di
peraduannya menunggu syurga. Kutitip ia pada makhluk-makhluk langit yang
kuyakin akan menjaganya, melebihi ketika keluargaku menjaganya.
Salma
Hafifah. Inspirasi terakbar dalam semestaku sekarang. Tak peduli seberapa
jahatnya leukemia menyakitinya, ia tak pernah menyalahkan Dzat yang memberinya
penyakit itu.
“Allah
tahu apa yang terbaik untuk Salma.…” ungkapnya, kala Ia masih menjelma makhluk
dunia. Sekarang? Ia menjelma bidadari nirwana, seperti cita-citanya.
Ah, Salma...Aa rindu sekali...