Mendung. Langit
merundung kelabu. Hawa dingin menembus paksa sweater coklat yang sengaja
kukenakan. Langit berencana menurunkan hujan, namun nyatanya hujan enggan
turun, atau belum. Lalu hanya rintik
halus yang mengenai wajahku –yang langsung mengering seiring angin di atas
motor yang menerpa wajahku. Dingin.
Kucium punggung
tangan Ibu, melambai ke arahnya, melihat laju motornya menjauh sambil berjalan
buru-buru memasuki gerbang sekolah. Hari itu ujian akhir semester.
Ada empat
barisan kelas di sudut paling belakang sekolah, kelasku di barisan ke dua.
Bukan kelas biasanya. Kelas itu hanya berlaku saat ujian. Di tiap meja ada
kertas segi empat yang menempel di sisi kanannya, menjelaskan siapa yang harus
duduk di meja itu. Aku duduk di barisan paling belakang dekat dinding.
Terkadang aku berterimakasih sebab Ibu memberiku nama dengan awalan abjad Z.
setidaknya saat ujian –walau aku tidak pernah mencontek- aku bisa tenang dan
santai tanpa harus mendapat tatapan mengerikan dari pengawas ujian.
Yang ingin
kuceritakan bukan tentang ujian ini –walau memang karena ujian itu cerita ini
ada- tapi tentang seseorang, yap!
seorang laki-laki. Laki-laki yang
duduk tepat di depan mejaku.
Dia tipikal
laki-laki yang suka bercerita walau tak pernah kupinta untuk bercerita. Dia
suka sekali bertanya walau aku jarang balik bertanya padanya. Dia suka mencoba
menjadi lucu di hadapanku, dan yang kulakukan hanya tertawa. Dia pemberani,
terlalu pemberani.
Aku duduk.
Mengeluarkan ringkasan yang kubuat malam hari dan mengulang membacanya. Lalu
bel berbunyi bersamaan dengan masuknya laki-laki itu dari bingkai pintu. Dia
duduk di depan mejaku, menghadap ke arahku. Tersenyum.
“sini
ringkasannya, aku nyontek” katanya.
Aku memandangnya
lalu menggeleng tertawa. bukannya pelit atau takut nilainya lebih bagus dari
nilaiku. Itu murni karena aku tak suka dengan orang yang mencontek. Serius.
Tapi dia tetap mengataiku pelit.
Pengawas masuk.
Buru-buru kumasukkan ringkasanku. Mengeluarkan kartu ujian, papan ujian, dan
tempat pensil. Aku terkejut. Pensilku tidak ada.
Aku memandang
sekeliling, menanyai teman di samping mejaku, meminjam pensil. Tak ada yang
membawa dua pensil. Aku panik, yang lain sudah mulai mengerjakan soalnya. Argh,
Aku memandang kearah laki-laki itu, walau aku tahu dia tak akan punya dua
pensil.
Dan benar, dia
hanya punya satu pensil yang ia bawa bersama papan ujian, tanpa tas.
“ngga ada pensil?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“bentar…”
Laki-laki itu
berbalik mengambil pensilnya. Itu pensil 2B yang masih baru karena baru dua
hari dipakai ujian. Pensil biasa, tidak ada yang istimewa. Dia memegang pensil
itu dengan dua tangan, masing-masing tangan memegang ujung pensil dan……trek! Pensil itu ia patahkan menjadi dua
bagian sama panjang. Dia memberiku pensil yang runcing, sedang dia bagian yang
tumpul. Dia tersenyum, berdiri lalu berjalan mencari serutan pensil di meja
paling depan. Aku melongo.
Dia kembali
duduk. tidak menoleh ke arahku. Pensil sebagian yang ia serut ujung patahannya
ia gunakan untuk mengerjakan soal.
Aku ingin
tertawa tapi ini kan ruang ujian.
Kutoel bahunya
dengan pensil pemberiannya. Berucap terimakasih. Bukan untuk pensilnya,
sungguh. itu ungkap terimakasihku karena telah memberiku sepotong pensil dengan caranya.
Terimakasih, Wan, sampai kini.
Depok,
4 April 2015


0 komentar:
Posting Komentar