Senin, 18 April 2016

Laki-laki di Depan Meja



Mendung. Langit merundung kelabu. Hawa dingin menembus paksa sweater coklat yang sengaja kukenakan. Langit berencana menurunkan hujan, namun nyatanya hujan enggan turun, atau belum. Lalu hanya rintik halus yang mengenai wajahku –yang langsung mengering seiring angin di atas motor yang menerpa wajahku. Dingin.
Kucium punggung tangan Ibu, melambai ke arahnya, melihat laju motornya menjauh sambil berjalan buru-buru memasuki gerbang sekolah. Hari itu ujian akhir semester.
Ada empat barisan kelas di sudut paling belakang sekolah, kelasku di barisan ke dua. Bukan kelas biasanya. Kelas itu hanya berlaku saat ujian. Di tiap meja ada kertas segi empat yang menempel di sisi kanannya, menjelaskan siapa yang harus duduk di meja itu. Aku duduk di barisan paling belakang dekat dinding. Terkadang aku berterimakasih sebab Ibu memberiku nama dengan awalan abjad Z. setidaknya saat ujian –walau aku tidak pernah mencontek- aku bisa tenang dan santai tanpa harus mendapat tatapan mengerikan dari pengawas ujian.
Yang ingin kuceritakan bukan tentang ujian ini –walau memang karena ujian itu cerita ini ada- tapi tentang seseorang, yap! seorang laki-laki. Laki-laki yang duduk tepat di depan mejaku.
Dia tipikal laki-laki yang suka bercerita walau tak pernah kupinta untuk bercerita. Dia suka sekali bertanya walau aku jarang balik bertanya padanya. Dia suka mencoba menjadi lucu di hadapanku, dan yang kulakukan hanya tertawa. Dia pemberani, terlalu pemberani.
Aku duduk. Mengeluarkan ringkasan yang kubuat malam hari dan mengulang membacanya. Lalu bel berbunyi bersamaan dengan masuknya laki-laki itu dari bingkai pintu. Dia duduk di depan mejaku, menghadap ke arahku. Tersenyum.
“sini ringkasannya, aku nyontek” katanya.
Aku memandangnya lalu menggeleng tertawa. bukannya pelit atau takut nilainya lebih bagus dari nilaiku. Itu murni karena aku tak suka dengan orang yang mencontek. Serius. Tapi dia tetap mengataiku pelit.
Pengawas masuk. Buru-buru kumasukkan ringkasanku. Mengeluarkan kartu ujian, papan ujian, dan tempat pensil. Aku terkejut. Pensilku tidak ada.
Aku memandang sekeliling, menanyai teman di samping mejaku, meminjam pensil. Tak ada yang membawa dua pensil. Aku panik, yang lain sudah mulai mengerjakan soalnya. Argh, Aku memandang kearah laki-laki itu, walau aku tahu dia tak akan punya dua pensil.
Dan benar, dia hanya punya satu pensil yang ia bawa bersama papan ujian, tanpa tas.
                “ngga ada pensil?” tanyanya.
                Aku menggeleng.
                “bentar…”
Laki-laki itu berbalik mengambil pensilnya. Itu pensil 2B yang masih baru karena baru dua hari dipakai ujian. Pensil biasa, tidak ada yang istimewa. Dia memegang pensil itu dengan dua tangan, masing-masing tangan memegang ujung pensil dan……trek! Pensil itu ia patahkan menjadi dua bagian sama panjang. Dia memberiku pensil yang runcing, sedang dia bagian yang tumpul. Dia tersenyum, berdiri lalu berjalan mencari serutan pensil di meja paling depan. Aku melongo.
Dia kembali duduk. tidak menoleh ke arahku. Pensil sebagian yang ia serut ujung patahannya ia gunakan untuk mengerjakan soal.
Aku ingin tertawa tapi ini kan ruang ujian.
Kutoel bahunya dengan pensil pemberiannya. Berucap terimakasih. Bukan untuk pensilnya, sungguh. itu ungkap terimakasihku karena telah memberiku sepotong pensil dengan caranya.
Terimakasih, Wan, sampai kini.

Depok, 4 April 2015







0 komentar:

Posting Komentar