Selasa, 19 April 2016

Laki-laki di Depan Meja: bag 2




Pagi mengulang kembali. Membangunkan kehidupan dari mati sementara selama lelap. Pagi itu seperti pagi biasanya, bising lalu lalang, riuh orang-orang berseragam, dan wangi daun rimbun yang tumbuh di jalan setapak sekolahan. Aku mulai terbiasa.
Bel berbunyi tepat saat kumasuki bingkai pintu kelas. Kusenyumi orang-orang yang menyambutku hangat, lalu duduk di bangku kedua baris kedua, di samping seorang teman berkacamata.
Semua terjadi seperti biasanya. Guru masuk, mengabsen satu-satu, menerangkan, menjawab jika ditanya, dan pergi dengan tak lupa memberi tugas sebelumnya. Bel berbunyi lagi, waktunya istirahat.
Lalu aku akan bergabung dengan teman-teman asyikku. Bercerita laki-laki ini dan itu, perempuan ini dan itu, dan berkarouke ria diiringi musik dari handphone nexian querty milik teman yang paling ngehits saat itu. Aku ingat sekali lagu yang terlalu sering aku nyanyikan, Last Child-Pedih.
Semua seperti biasa hingga laki-laki itu masuk ke dalam cerita. Dia laki-laki yang kemarin sempat kuceritakan, laki-laki di depan meja.
Dia menghampiri kami. Mengobrol dengan temanku. Karena tak ada kerjaan aku ikut mendengarkan. Selesai mengobrol dengan temanku ia menghadap ke arahku, memulai obrolan dengan sesekali mencoba melucu. Seperti biasa aku hanya bisa tertawa. Dia bercerita banyak hal tentangnya, tanpa aku tanya. Dia bertanya tentangku yang kujawab sekenanya. Pada ujung percakapan dia kembali bertanya.
                “boleh minta nomor hp kamu?” tanyanya.
                Aku mengangguk walau sedikit ragu. Saat itu aku belum terlalu tertarik untuk berbalas pesan dengan seseorang. Walau pada akhirnya aku mengeja nomorku untuknya, karena tidak enak bila kutolak, toh itu cuma nomor handphone.
Malam itu satu sms masuk. Nomor baru. Aku membacanya dan bisa kutebak siapa yang mengirimnya, yap! laki-laki itu. Aku lupa apa yang kami obrolkan malam itu. Yang pasti setelah beberapa kali berbalas pesan aku mulai bosan. Dia seru sekali bila mengobrol secara langsung, tapi tidak ketika beralas sms. Malam itu juga kebetulan ada film yang seru di TV hingga aku lupa kalu aku belum membalas pesannya.
Satu sms masuk. Suara getar handphone sedikit terdengar. Ternyata nomor laki-laki itu. Karena malas aku tidak membukanya dan meneruskan menonton. Dua sms masuk, aku masih tidak peduli. Tiga sms masuk. Aku mulai sedikit kesal dan menjauhkan handphoneku dengan manaruhnya agak jauh. Walau begitu getarnya masih terdengar. Empat sms masuk, lima sms masuk, enam sms masuk, tujuh sms masuk, delapan sms masuk, Sembilan sms masuk, sepuluh sms masuk…..
Aku tak habis pikir. Itu semua pesan dari laki-laki itu! Kuraih handphoneku yang masih terus menerima pesan dengan terpaksa. Itu sms ke dua puluh tujuh! Aku yang kesal mulai geleng-geleng kepala. Lalu tertawa sendiri sambil terus memegang handphone yang terus bergetar. Pada akhirnya, sms darinya berhenti kuterima, mugkin dia bosan sebab samasekali tak kubalas. Empat puluh sms masuk!
Esoknya kami membahasnya. Dia bilang sedang banyak pulsa, aku bilang aku telah tidur lelap. Kami sama-sama berbohong dan sama-sama tertawa.
Dia selalu tak biasa.



Depok, 4 April 2016


0 komentar:

Posting Komentar