Pagi mengulang
kembali. Membangunkan kehidupan dari mati sementara selama lelap. Pagi itu
seperti pagi biasanya, bising lalu lalang, riuh orang-orang berseragam, dan
wangi daun rimbun yang tumbuh di jalan setapak sekolahan. Aku mulai terbiasa.
Bel berbunyi
tepat saat kumasuki bingkai pintu kelas. Kusenyumi orang-orang yang menyambutku
hangat, lalu duduk di bangku kedua baris kedua, di samping seorang teman
berkacamata.
Semua terjadi
seperti biasanya. Guru masuk, mengabsen satu-satu, menerangkan, menjawab jika
ditanya, dan pergi dengan tak lupa memberi tugas sebelumnya. Bel berbunyi lagi,
waktunya istirahat.
Lalu aku akan
bergabung dengan teman-teman asyikku. Bercerita laki-laki ini dan itu,
perempuan ini dan itu, dan berkarouke ria diiringi musik dari handphone nexian querty milik teman yang paling ngehits saat itu. Aku ingat sekali
lagu yang terlalu sering aku nyanyikan, Last
Child-Pedih.
Semua seperti
biasa hingga laki-laki itu masuk ke dalam cerita. Dia laki-laki yang kemarin
sempat kuceritakan, laki-laki di depan meja.
Dia menghampiri
kami. Mengobrol dengan temanku. Karena tak ada kerjaan aku ikut mendengarkan.
Selesai mengobrol dengan temanku ia menghadap ke arahku, memulai obrolan dengan
sesekali mencoba melucu. Seperti biasa aku hanya bisa tertawa. Dia bercerita
banyak hal tentangnya, tanpa aku tanya. Dia bertanya tentangku yang kujawab
sekenanya. Pada ujung percakapan dia kembali bertanya.
“boleh minta nomor hp kamu?”
tanyanya.
Aku mengangguk walau sedikit
ragu. Saat itu aku belum terlalu tertarik untuk berbalas pesan dengan
seseorang. Walau pada akhirnya aku mengeja nomorku untuknya, karena tidak enak
bila kutolak, toh itu cuma nomor handphone.
Malam itu satu
sms masuk. Nomor baru. Aku membacanya dan bisa kutebak siapa yang mengirimnya,
yap! laki-laki itu. Aku lupa apa yang kami obrolkan malam itu. Yang pasti
setelah beberapa kali berbalas pesan aku mulai bosan. Dia seru sekali bila
mengobrol secara langsung, tapi tidak ketika beralas sms. Malam itu juga kebetulan
ada film yang seru di TV hingga aku lupa kalu aku belum membalas pesannya.
Satu sms masuk.
Suara getar handphone sedikit terdengar. Ternyata nomor laki-laki itu. Karena
malas aku tidak membukanya dan meneruskan menonton. Dua sms masuk, aku masih
tidak peduli. Tiga sms masuk. Aku mulai sedikit kesal dan menjauhkan handphoneku dengan manaruhnya agak jauh.
Walau begitu getarnya masih terdengar. Empat sms masuk, lima sms masuk, enam
sms masuk, tujuh sms masuk, delapan sms masuk, Sembilan sms masuk, sepuluh sms
masuk…..
Aku tak habis
pikir. Itu semua pesan dari laki-laki itu! Kuraih handphoneku yang masih terus
menerima pesan dengan terpaksa. Itu sms ke dua puluh tujuh! Aku yang kesal
mulai geleng-geleng kepala. Lalu tertawa sendiri sambil terus memegang handphone yang terus bergetar. Pada
akhirnya, sms darinya berhenti kuterima, mugkin dia bosan sebab samasekali tak
kubalas. Empat puluh sms masuk!
Esoknya kami
membahasnya. Dia bilang sedang banyak pulsa, aku bilang aku telah tidur lelap.
Kami sama-sama berbohong dan sama-sama tertawa.
Dia selalu tak
biasa.
Depok, 4 April 2016

0 komentar:
Posting Komentar