Tak banyak yang berubah dari dirinya,
laki-laki sipit berkacamata. Hanya badanya yang lebih berisi, selain itu, semua
masih tetap sama dari dua tahun lalu. Rentang waktu yang cukup lama untuk dua
orang yang dulu sehari tak bertemu saja rindu.
Tak ada percakapan. Hanya kontak mata yang tak
berarti apa-apa. Hanya salaman sebatas penghormatan sebagai teman yang sudah
lama tak bersua. Hanya tanya basa-basi yang sangat tidak penting sekali. Jauh
dari ekspektasi-ekspektasi liar yang memenuhi kepala; keromantisan, kegugupan,
dan debar seperti dua tahun lalu. Semua terbang bersama angin sore pedesaan.
Aku wanita yang banyak salah
sangka. Cinta yang paling kupuja adalah ketololan yang memalukan. Memaksakan
manusia yang tak sempurna bak pangeran dari negeri dongeng, dia yang tampan,
dia yang baik, dia yang memperdulikanku, dia yang hidup hanya untuk
kesenanganku adalah kesalahan yang kini kutertawakan. Dewasa menjadi masa
menertawakan kenangan masa lalu , juga waktu untuk menahan malu.
Bagaimana dulu bisa sebegitu
polosnya?
Untung aku pelupa. Banyak kebodohan
yang terlupa dimakan usia.
Laki-laki sipit berkacamata.
Mengajarkan rasa malu sedalam-dalamnya, mengajarkan melihat laki-laki dari sisi
yang paling kelam, dan mengajarkan menjadi perempuan bersalah selamanya.
Bukan sepenuhnya salah dia.
Sebagian besar memang dari diri yang belum dewasa tapi menjalani cinta sok dewasa. Akhirnya ada satu
kesimpulan, masa remaja itu menakutkan.
Walau akhirnya aku mencoba untuk
berterimakasih. Tanpanya aku tak akan pernah bisa memulai untuk menulis cerita.
Tanpanya aku tak akan miliki kecamuk rasa yang bisa kutuang dalam kata.
Tanpanya aku tak akan pernah menjadi perempuan dewasa.
Depok,
29 Mei 2016


karikaturnya siapa yg buat la?
BalasHapusorang ki, dapet searching hehehe
Hapus