Sabtu, 28 Mei 2016

Menjadi dewasa, Sebuah Elegi Jati Diri



Menjadi dewasa adalah sebuah elegi — Berputar pada poros yang konstan. Membosankan. Tertawa hanya untuk lelucon-lelucon jorok dan nakal, bukan karena dibahagiakan dan membahagiakan seseorang. Menangis hanya untuk tersakiti. Merengek hanyalah bentuk dari kekalahan yang jelek. Kau marah disebut belum dewasa. Akhirnya, emosi adalah bagian permaianan menjadi dewasa. Saat menangis, tertawa, marah, kesal menjadi kepura-puraan yang mudah.
Kepribadian ganda? Semudah meniup dandelion untuk menjadi anai-anai. Nyatanya, berteman adalah saat-saat yang sangat tepat untuk memilih kepalsuan mana yang ingin dimainkan. Pemenangnya ialah ketika semua orang dengan mudahnya percaya.
Kepura-puraan tersulit adalah pura-pura itu sendiri, resiko terbesar menjadi dewasa. Pembohong? Selagi tak merugikan orang-orang yang percaya tak apa. Kadang bohong itu baik, apalagi berbohong pada diri sendiri untuk menyenangkan orang-orang sekitar. Hanya satu hal yang harus dikorbankan, jati diri yang asli.
Hanya mimpi yang menjadi tempatnya bertandang sesuka hati. Tak perlu takut dimusuhi, sebab sutradaranya adalah diri sendiri.
Yah, mungkin itu kata-kata dari diri yang terluka di tengah kehidupan yang menjengahkan. Saat dimana dirinya mulai berpura-pura, sebab rupa orang di sekitarnya telah lebih dulu berwarna-warna.






Depok, 28 Mei 2016


0 komentar:

Posting Komentar