Menjadi dewasa adalah sebuah elegi
— Berputar pada poros yang konstan. Membosankan. Tertawa hanya untuk
lelucon-lelucon jorok dan nakal, bukan karena dibahagiakan dan membahagiakan
seseorang. Menangis hanya untuk tersakiti. Merengek hanyalah bentuk dari kekalahan
yang jelek. Kau marah disebut belum dewasa. Akhirnya, emosi adalah bagian
permaianan menjadi dewasa. Saat menangis, tertawa, marah, kesal menjadi
kepura-puraan yang mudah.
Kepribadian ganda? Semudah meniup
dandelion untuk menjadi anai-anai. Nyatanya, berteman adalah saat-saat yang
sangat tepat untuk memilih kepalsuan mana yang ingin dimainkan. Pemenangnya
ialah ketika semua orang dengan mudahnya percaya.
Kepura-puraan tersulit adalah
pura-pura itu sendiri, resiko terbesar menjadi dewasa. Pembohong? Selagi tak
merugikan orang-orang yang percaya tak apa. Kadang bohong itu baik, apalagi
berbohong pada diri sendiri untuk menyenangkan orang-orang sekitar. Hanya satu
hal yang harus dikorbankan, jati diri yang asli.
Hanya mimpi yang menjadi tempatnya
bertandang sesuka hati. Tak perlu takut dimusuhi, sebab sutradaranya adalah
diri sendiri.
Yah, mungkin itu kata-kata dari
diri yang terluka di tengah kehidupan yang menjengahkan. Saat dimana dirinya
mulai berpura-pura, sebab rupa orang di sekitarnya telah lebih dulu berwarna-warna.
Depok,
28 Mei 2016


0 komentar:
Posting Komentar