Waktu bagai merangkak. Berlalu sangat lambat. Rasanya matahari
terlalu betah untuk bersinar sedang bulan terlalu nyaman untuk tetap tinggal. Dalam
keadaan terjaga yang sehari bagai seminggu, kamu menunggu lelap, menuntut lupa
dari sejuta kenang. Seolah jarum panjang pada jam tak lagi diciptakan untuk
menunjukan detik, tapi menit.
Dan sejauh yang aku tau, penciptanya hanyalah dia, Kamu mengangguk.
Banyak orang berkata pertemuan adalah awal dari perpisahan. Kamu
menggeleng, tak menyetujui ungkapan itu seluruhnya.
“masih ada kata kembali, kan?”
Aku mengangguk ragu. Mengiyakan pertanyaan sekaligus pernyataanmu.
Ya, perpisahan bisa diartikan pergi, sedang setelah pergi ada kata kembali.
Walau jarang, namun kamu mempercayainya. Atau mencoba untuk mempercayainya.
Kamu tak menangis, tapi aku tahu kamu hanya gengsi untuk menangis
di depanku. aku bisa melihat matamu yang berkilau, bibir yang kamu gigit
sesekali, dan gemetar suaramu yang bisa kudengar. Aku jadi kasihan pada
laki-laki. Menganggap menangis adalah bentuk kelemahan.
Aku menggenggam tanganmu lembut. Menepuk pundakmu dengan senyum
simpati.
“ masih ada aku, kan? Aku sama seorang perempuan sepertinya. Jadi,
kenapa tak mencoba bahagia denganku?”
Kamu menatapku.
“….sebagai teman, tentu saja. Seperti tahun-tahun kemarin. Tertawa
adalah hal yang paling sederhana untuk kita”
Kita?
Perih itu kembali. Agak menghentakku seketika, disini, di sekitar
dada.
Lalu kudengar kamu tertawa. Tawa yang aku kenal dulu, lama sekali.
“aku agak kaget mendengar kata-katamu tadi. Aku kira….”
kamu terdiam sebentar.
“…ah, sudahlah. Dan hei, aku jadi merasa baikan sekarang.
Terimakasih”
Aku mengangguk. Melepas genggamku pada tanganmu.
Kenapa tak
kau ungkap saja apa yang kamu kira dalam hatimu itu, Kal?
Bersambung.

0 komentar:
Posting Komentar