Kamis, 15 September 2016

Kal.

Waktu bagai merangkak. Berlalu sangat lambat. Rasanya matahari terlalu betah untuk bersinar sedang bulan terlalu nyaman untuk tetap tinggal. Dalam keadaan terjaga yang sehari bagai seminggu, kamu menunggu lelap, menuntut lupa dari sejuta kenang. Seolah jarum panjang pada jam tak lagi diciptakan untuk menunjukan detik, tapi menit.
Dan sejauh yang aku tau, penciptanya hanyalah dia, Kamu mengangguk.
Banyak orang berkata pertemuan adalah awal dari perpisahan. Kamu menggeleng, tak menyetujui ungkapan itu seluruhnya.
“masih ada kata kembali, kan?”
Aku mengangguk ragu. Mengiyakan pertanyaan sekaligus pernyataanmu. Ya, perpisahan bisa diartikan pergi, sedang setelah pergi ada kata kembali. Walau jarang, namun kamu mempercayainya. Atau mencoba untuk mempercayainya.
Kamu tak menangis, tapi aku tahu kamu hanya gengsi untuk menangis di depanku. aku bisa melihat matamu yang berkilau, bibir yang kamu gigit sesekali, dan gemetar suaramu yang bisa kudengar. Aku jadi kasihan pada laki-laki. Menganggap menangis adalah bentuk kelemahan.
Aku menggenggam tanganmu lembut. Menepuk pundakmu dengan senyum simpati.
“ masih ada aku, kan? Aku sama seorang perempuan sepertinya. Jadi, kenapa tak mencoba bahagia denganku?”
Kamu menatapku.
“….sebagai teman, tentu saja. Seperti tahun-tahun kemarin. Tertawa adalah hal yang paling sederhana untuk kita”
Kita?
Perih itu kembali. Agak menghentakku seketika, disini, di sekitar dada.
Lalu kudengar kamu tertawa. Tawa yang aku kenal dulu, lama sekali.
“aku agak kaget mendengar kata-katamu tadi. Aku kira….”
kamu terdiam sebentar.
“…ah, sudahlah. Dan hei, aku jadi merasa baikan sekarang. Terimakasih”
Aku mengangguk. Melepas genggamku pada tanganmu.
Kenapa tak kau ungkap saja apa yang kamu kira dalam hatimu itu, Kal?

Bersambung.





0 komentar:

Posting Komentar