Senin, 19 September 2016

Apel dan sebuah Keridhoan



Kuffah dilirik terik. Pada gurun, pada gersang dahaga yang terkadang meradang.
Matahari mencipta fatamorgana. Pada pandang diujung jalan, pada pasir yang berbisik kering.
Sesosok berjalan sedikit terseok. Dahaga telak menguntai kerongkongan. Keajaiban Allah cipta lewat air yang membelah dari padanya gurun yang menghampar bagai tak ada habisnya.
Juga pada sebuah apel yang tangkainya tak mampu lagi menahannya jatuh, lalu mengambang melambai pada sungai. Ialah Tsabit, lelaki berwajah teduh. Seakan bersamanya matahari diizinkan meredup –Yang dihadapannya mengalir air dengan ambang sebuah apel.
Dahaga memuncak, sebuah apel diangkat.
Dahaga mengelam, segigit apel tertelan.
Apa salahnya mengigit apel jatuh yang seakan tak bertuan? Ada.
Apel itu bertuhan. Sungai itu bertuhan. Pemiliknya bertuhan. Dan penemunya bertuhan.
Sayang, Tsabit terlanjur menelan. Terlanjur merasakan. Wajahnya menyesal sebab apel digenggamannya.  
Apalah arti keridhoan untuk segigit apel yang ditelan karena ditemukan? Baginya segala.
Lelah-lelah ia, sekiranya mencari tuan dari apel di genggamnya.
Allah mengirim sebuah apel untuk alasan menyatukan dua hamba yang meghamba padaNya, dengan caraNya.
Jauh di lain tempat, seorang wanita menunduk dalam ketaatan. Bersujud sebab menghamba. Mengadah tangan tanpa suruhan. Terpejam dalam keharuan sebab diberikan Tuhannya kehidupan yang teramat membahagiakan.
Ia ditawan oleh keindahan lantun Al’Qur’an. Ia dicandu oleh rindu akan syurga nirwana.
Apalah arti kebahagiaan semesta bila di syurga untuknya keabadiaan yang membahagiakan?
Ialah perempuan yang ayah menyebut dirinya buta, tuli, bisu, pun lumpuh.
 Ialah perempuan yang Allah mengarang skenarionya dengan teramat mulia. Yakni, disuakan dengan seorang pencari ridho sang tuan dari sebuah apel.
Ialah perempuan yang Allah jadikan rahimnya kelak naungan untuk seorang sholih.
 Yang dengan kasih sayangnya, seorang sholih itu tumbuh sebagai pribadi yang ridho sang ibunda adalah junjungannya.
Sebelum menggapai syurga, Allah menghadiahkan secuil syurga di dunianya. Sebab seberapa cintanya ia pada Dzat yang jiwanya berada dalam genggamNya.
Dialah si buta yang disebut ayahnya. Sebab matanya tak pernah ia arahkan pada hal yang Allah murka karenanya.
Dialah si bisu. Sebab mulutnya tak ia gunakan untuk berucap ungkap yang Allah murka karenanya.
Dialah si tuli. Sebab telinga yang tak ia mendengar kecuali semua yang Allah ridho atasnya.
Dialah si lumpuh. Sebab tak selangkahpun ia gunakan kaki kecuali ke tempat yang Allah ridho atasnya.
Dialah ummu abu hanifah, perempuan dengan semesta kesuciannya.
Wallahu’alam bissawab.



Zahra Sabilah
Serang, 26 Maret 2016

 


0 komentar:

Posting Komentar