Kuffah dilirik terik. Pada gurun,
pada gersang dahaga yang terkadang meradang.
Matahari mencipta fatamorgana. Pada
pandang diujung jalan, pada pasir yang berbisik kering.
Sesosok berjalan sedikit terseok.
Dahaga telak menguntai kerongkongan. Keajaiban Allah cipta lewat air yang
membelah dari padanya gurun yang menghampar bagai tak ada habisnya.
Juga pada sebuah apel yang tangkainya
tak mampu lagi menahannya jatuh, lalu mengambang melambai pada sungai. Ialah
Tsabit, lelaki berwajah teduh. Seakan bersamanya matahari diizinkan meredup
–Yang dihadapannya mengalir air dengan ambang sebuah apel.
Dahaga memuncak, sebuah apel
diangkat.
Dahaga mengelam, segigit apel
tertelan.
Apa salahnya mengigit apel jatuh yang
seakan tak bertuan? Ada.
Apel itu bertuhan. Sungai itu
bertuhan. Pemiliknya bertuhan. Dan penemunya bertuhan.
Sayang, Tsabit terlanjur menelan.
Terlanjur merasakan. Wajahnya menyesal sebab apel digenggamannya.
Apalah arti keridhoan untuk segigit
apel yang ditelan karena ditemukan? Baginya segala.
Lelah-lelah ia, sekiranya mencari
tuan dari apel di genggamnya.
Allah mengirim sebuah apel untuk alasan menyatukan dua
hamba yang meghamba padaNya, dengan caraNya.
Jauh di lain tempat, seorang wanita
menunduk dalam ketaatan. Bersujud sebab menghamba. Mengadah tangan tanpa
suruhan. Terpejam dalam keharuan sebab diberikan Tuhannya kehidupan yang
teramat membahagiakan.
Ia ditawan oleh keindahan lantun Al’Qur’an.
Ia dicandu oleh rindu akan syurga nirwana.
Apalah arti kebahagiaan semesta bila
di syurga untuknya keabadiaan yang membahagiakan?
Ialah perempuan yang ayah menyebut
dirinya buta, tuli, bisu, pun lumpuh.
Ialah perempuan yang Allah mengarang skenarionya
dengan teramat mulia. Yakni, disuakan dengan seorang pencari ridho sang tuan dari
sebuah apel.
Ialah perempuan yang Allah jadikan
rahimnya kelak naungan untuk seorang sholih.
Yang dengan kasih sayangnya, seorang sholih
itu tumbuh sebagai pribadi yang ridho sang ibunda adalah junjungannya.
Sebelum menggapai syurga, Allah
menghadiahkan secuil syurga di dunianya. Sebab seberapa cintanya ia pada Dzat
yang jiwanya berada dalam genggamNya.
Dialah si buta yang disebut ayahnya.
Sebab matanya tak pernah ia arahkan pada hal yang Allah murka karenanya.
Dialah si bisu. Sebab mulutnya tak ia
gunakan untuk berucap ungkap yang Allah murka karenanya.
Dialah si tuli. Sebab telinga yang
tak ia mendengar kecuali semua yang Allah ridho atasnya.
Dialah si lumpuh. Sebab tak
selangkahpun ia gunakan kaki kecuali ke tempat yang Allah ridho atasnya.
Dialah ummu abu hanifah, perempuan
dengan semesta kesuciannya.
Wallahu’alam bissawab.
Zahra Sabilah
Serang, 26 Maret 2016


0 komentar:
Posting Komentar