Kamis, 22 Oktober 2015

Bunga Do’a


Aku membantu dalam lembab, berusaha meringankan kesakitan yang menyakiti bundaku tersayang. Kudorong tubuhku mengikuti arah aliran air dengan merah dicampurannya. Ramai pekik kekhawatiran dengan riuh ucapan suci dapat kutangkap dalam pendengaranku, ah bismillah
***
Bulan ke 1
Aku dipilih olehNya. Untuk keluarga kecil yang bahagia. Di rumah sederhana bercermin syurga, bermalaikat, dan bersenandung do’a.
Bulan ke 2
Aku berada di kehidupan awalku. Hanya berupa gumpalan daging juga darah. Allah memenangkan aku dalam kompetisi kehidupan, kompetisi untuk hidup dalam rahim sesosok perempuan cantik nan lembut. aku tersenyum tak sabar, kataNya ia dipanggil bunda. Bunda?
Bulan ke 3
Aku menikmati keadaan disini, nyaman pun menenangkan dengan elusan-elusan lembut. Hey, ada detak di tubuhku tanda nyawa telah mengisi. Lucu, membuat tubuh kecilku bergerak naik turun, membuat aku sedikit bergerak dalam ruang gelap yang lembab. Aku, bukan lagi segumpal daging yang tak berbentuk. Ada cabang aneh di beberapa bagian bawah dan samping, aku menyukainya. Karena dengan itu aku dapat menggapai dinding ruang sunyi ini lalu menghentak sedikit dengan balasan elusan yang sangat menenangkan kesepian dalam kesendiriankku disini. Bunda baik sekali
Bulan ke 4
            Telah lumayan lama aku menghabiskan tiap detikku dalam tubuh bunda. kini semakin sering bunda mengelus dinding gelap yang aku tempati, pelan penuh perasaan sayang, amat hati-hati takut mengusik lelap kala aku terbuai tidur. Aku ingin membalas dengan menggapai dinding itu. Ah, namun tak bisa kujangkau. Maaf, saat aku menendangmu bukan maksud hati ingin menyakiti dirimu, bunda. Hanya saja Cuma itu cara yang aku bisa untuk menggapaimu, membalas kasih cintamu.
            Ada yang bisa kugerakan lagi sekarang, kataNya namanya bibir dan kepala. Kadang jika bosan menyemai diri, kucoba menggerakkannya. Membuka dan menutup, menyenangkan. Bunda, disini tak sesepi yang lalu. Dengar, aku dapat mendengar detakmu. Sama seperti detakku namun punyamu lebih lambat, menenangkan sekali mengalun dalam kesunyian. Sesekali sayup-sayup suara dapat tertangkap pendengaranku, tak jelas tapi sangat merdu didengar. Suara bunda kah itu?   
Bulan ke 5
            Semakin lama disini semakin sempit ruang gerakku. Semakin sering lagi aku menendangmu. Maaf bunda, terkadang aku terkejut saat ada suara yang mengoyak lelapku dalam tidur. Karena sayup suara telah terdengar jelas sekarang. Suara lembut bunda dan suara berat ayah yang mengajakku bercakap, juga suara mereka kala membaca sesuatu yang terdengar merdu di telinga.
            “assalamualaikum sayang, ini ayah...”
            Suara berat ayah membangunkanku. Dinding ruang gelap ini terasa diusap olehnya. Aku tersenyum sambil berusaha membalasnya dengan tinju pelan. Ayah, rasakan tanganku yang kini telah dapat menggapaimu, menggapai bunda juga.
            “jadi anak solehah ya sayang, yang pinter, yang nurut ayah bunda, yang cantik kaya bundanya...”
            Bunda terdengar tertawa. Aku tersenyum. Lalu sayup-sayup suara bunda terdengar melantunkan bacaan-bacaan indah, kataNya bunda sedang membaca Al Quran. Indah sekali setiap lantunan yang terucap dari bibirnya, ada getaran yang berbeda di setiap huruf yang tersua. Akhirnya buatku mendayu dalam lelap yang senyap.
            Bulan ke 6
            Disini rasanya semakin sempit. Tubuhku kini hampir memenuhi ruang yang bunda punya. Maaf ya bunda? Setiap gerak yang kulakukan sepertinya juga ia rasakan. Kini sedikitnya aku dapat merasakan apa yang tengah bunda lakukan. Aku terbuai lelap kala bunda bergerak atau berjalan kesana kemari, rasanya seperti ayunan pengantar ridur. Aku terbangun saat bunda  berbaring meluruhkan lelahnya, kadang kucoba menghiburnya dengan tinju juga hentakan kecil, dan itu berhasil membuat bunda tertawa atau berkata “ada apa sayang”. Ah, bunda aku bahagia dengan kita yang seperti ini. Kapan aku dapat memandang wajahmu?
            Bulan ke 7
            Entah apa yang aku genggam, bentuknya panjang pun licin dirasa. Aku merasakan kedekatan yang lebih dengan bunda bila menggenggam itu. Kini rindu untuknya amat besar menyesaki dada. Entah berapa juta bahkan miliyaran detik kuhabiskan dalam tubuhnya, tanpa pernah sekalipun melihat rupanya. Aku ingin memandangnya dengan sayang, mengelusnya dengan kasih juga memeluknya penuh cinta. Dengan kata “bunda sayang kamu..” yang selalu bunda bisikan setiap harinya, rasa ingin tuk segera bertatap dengannya semakin mengebu. Aku sayang bunda juga...
            kataNya waktuku disini masih disediakan lebih lagi. Belum waktunya aku mengakhiri kebersamaanku dengan bunda yang sedekat ini. Aku tak apa. Rindu memang, namun Allah tentu telah menyediakan waktu yang lebih tepat untuk aku melihat bunda, juga bunda melihat aku. Aku meninju lagi pelan.
            Bulan ke 8
            Aku diberi bunga tidur yang terasa nyata. Tentang bunda. Tentang kita, bunda. Tentang kesakitan bunda yang tiada terperi selama aku ‘menumpang’ dalam perutnya untuk memulai kehidupan. Kala aku mulai mengisi sebagai gumpalan kecil, bunda telah merasakan ketidak enakannya. Mual yang tak mengenal waktu pun pening yang tak terelakan. Berbulan kemudian perutnya membesar, memberat karena aku. ia tetap berharap besar dalam kesusahannya. Tetap berdoa untukku dalam sholat dengan kesulitannya. Tetap tersenyum menceritakan tentangku dalam lelahnya. Betapa sungguh kata apa yang tepat untuk memuji semua yang ia berikan untuk menjaga titipan dariNya.
            Allah memberiku gambaran sederhana, namun mengakar di hati kecilku. Nanti kala ku dilahirkan untuk memandang wajah bunda. kataNya, di hari itu tepat hari untuk bunda sedunia. Ah, betapa aku tak tersenyum bangga? Lihat saja bunda. Saat itu aku akan terlahir dengan sehat, tanpa kurang secuil pun, dengan tersungging senyum yang termanis. Dengan seizin Allah.
Bulan ke 9
            Aku mengulum ibu jariku, membunuh bosan juga resah. Bunda semakin sering lagi memanjakanku dengan usapan-usapan penuh rindu ingin sua, pun ayah yang semakin suka bercakap denganku lewat kalimat-kalimat guyonnya yang menggoda tawa.  
            Sebentar lagi waktuku menanggalkan nama ‘janin’ tiba. Ada kalanya aku merasa sedih juga bahagia. Sedih kala kami yang tak mungkin lagi sedekat ini, dua dalam satu. Bahagia untuk kami yang akan bersua tatap, berpeluk meluruhkan rindu, bercium mesra.  
            Aku memandang sekitar dengan lesu, tak ada gairah. Bukan karena bosan. Entah lah, rasanya ada sesuatu yang susah aku ungkapkan. Aku mengelus dinding bunda pelan, berhenti, memandang sesaat, lalu mulai mengelus lagi. Aku hentakan kaki pelan, mengiba elusan bunda. Tak ada balasan. Aku hentakkan lagi. Tetap tak ada. Aku bergeser sedikit, bergoyang sambil mengelus lagi. Akhirnya ada yang membalas. Bukan hanya bunda, ada banyak elusan sekarang. ah, geli.
            “cucu nenek tak mau diam ya, gerak mulu kaya ayahnya”
            Ayah tertawa. Hmm tadi itu nenek?
            “nanti jangan-jangan dia suka main bola lagi kaya ayahnya”
            Itu suara siapa lagi?
            “alhamdulillah berarti sehat anakku, ya to?”
            Aku menguping, walau tak memahami apa yang tengah ramai diperbincangkan. Aku kembali ke kebiasaan harianku setelah senyap hilangkan ramai. Mengulum ibu jari. Terlelap dalam.
***
            Ada yang bersinar diatas kepalaku. Semakin lama menyilaukan. Perlahan terbuka semakin membesar, sedikit demi sedikit. Air di sekitarku bergerak searah, ke lubang itu. Waktuku bersama bunda – yang sedekat ini – akhirnya berujung, berakhir. Aku masih membantu, mendorong tubuhku agar lewati lubang yang menyilaukan. Lendir dan air yang kemerahan ini sedikit banyak menolongku dan kesakitan bunda. Bunda terengah-engah, seakan udara tak banyak lagi. Sesekali lengkingan jeritan bunda berucap tasbih memekakan telinga. Ku pejamkan mata rapat-rapat.
            Seseorang membantu. Memegang kepala kecilku agak kasar. Lalu menarikku perlahan, memutar sedikit lalu menarik lagi. Kepala, tubuh, lalu kakiku satu persatu menerobos, melewati lubang menyilaukan. Dan, ah udara, suhu, suasana mengejutkanku!
            Aku menangis. Terkejut. Disini terlalu silau sampai pejaman mata tak sanggup kusibak. Mana bundaku? Aku menggeliyat di gendongan entah siapa, menangis. Aku masih berusaha menyibak kelopak mataku, ingin memandangnya. Setelah sepersekian menit aku mencari, ada rasa hangat yang tak asing menaungiku. Ada aroma khas yang menelisik penciumanku. Tanganku digenggam lalu terasa basah oleh hangatnya ciuman campuran air mata. Elusan halus ini...aku tahu! Ini bundaku, bunda terinduku! Aku memaksa menantang silau. Mengintip sedikit. Ada mata berbulu lentik yang basah. Aku terpejam. Mengintip lagi. Ada senyum melengkung indah. Aku membuka mata penuh. Wajah bunda dengan peluh yang membasahi wajahnya terekam pengelihatanku. Aku mencoba menggapainya. Pipi bunda kuelus. Aku tersenyum dengan terpejam. Allah, bunda cantik sekali.
  ***



17 Desember 2013



             



           



 
           



1 komentar: