20 Mei 2017 , 03:30 WIB
Senyum tak bosan-bosannya
kusunggingkan kepada orang yang sama-sama tengah riuh bersuka cita. Bersalaman,
berpelukan sembari menangis bahagia kuualang bersama orang-orang yang merasa
sama. Entah berapa kali potretku tertangkap dengan berbagai gaya. Bersama
keluarga, teman, tak terkecuali sendirian.
“Salsabila....”
Aku menoleh ke asal suara.
Seseorang yang amat kukenal suaranya berdiri dengan tersenyum. Seseorang yang
beberapa tahun ini buatku menunduk dalam degup malu.
“Barakallah atas kelulusannya....” katanya.
****
27
September 2013, 01:20 WIB
Terik
telah sepenuhnya melangit. Teduh hanya disisakan di bawah rindang pepohonan,
sayangnya pepohonan di Depok hanya sedikit yang rimbun. Asap-asap mengepul, menggemul
ke atas langit dan lubang-lubang hidung
yang tak sempat ditutupi. Angkot berjejal berantakan di jalan beraspal yang tak
seberapa luasnya. Mencari penumpang barang satu-dua dengan teriakan mengalahkan
deru mobilnya sendiri. Kepalaku tambah pening.
Kerudung
kaos yang kukenakan tak lagi nyaman kukenakan sebab keringat telah diserapnya
setelah tiga jam perjalanan yang dibayangi terik matahari. Kukibas kipas kecil
yang tadi kubeli dengan mengangkat sedikit ujung kerudung bagian bawah. Ah...,Depok
kurang ramah.
Setelah
membayar angkot untuk kali terakhir aku berjalan melewati jalan kecil beraspal.
Sendirian menggendong dan menjenjeng tas yang tak bisa dibilang ringan.
Melangkah menuju sebuah kampus yang ayah pilihkan untukku. Kampus yang tak
samasekali masuk dalam deretan nama-nama kampus yang kucita-citakan, bahkan
terlintas di pikiranku. Samasekali ngga!
****
9
September 2013, 07:45 WIB
Kupatut diri di
depan cermin berulang kali. Sesekali menjinjit agar terlihat dari kepala hingga
ke dada. Aku menggeleng kencang.
“Ngga
cocok sama gue, Ca. Sumpah deh!”
Ica,
teman sekamarku di asrama yang sama-sama tengah bersiap masuk kuliah memperhatikan kerudung lebar yang kukenakan.
Mengitariku lalu tertawa kecil.
“Cocok kok, Bil..., Cuma sedikit acak-acakkan
aja”
Aku
membenarkan ucapan Ica setelah sekali lagi melihat ke cermin. kudekati Ica
dengan wajahku tepat dihadapnnya. “Benerin...”.
Ica
mengangguk tersenyum. Kuperhatikan Ica saat ia tengah merapihkan kerudungku.
Ica sangat cocok mengenakan kerudung lebarnya yang berwarna sepadan dengan
gamis lebar yang ia kenakan. Ditambah lagi perangai Ica yang santun, menambah
nlai keanggunan yang ia miliki. Itu sih
Ica! Lah, aku?
Baru-baru
ini aku benar-benar memakai kerudung seharian, apalagi kerudung selebar ini.
Sebelumnya –saat SMA—aku hanya mengenakan penutup kepala selama berada dalam
lingkungan sekolah, selebihnya rambut hitam panjangku adalah suatu kebanggaan
untuk kuperlihatkan.
Kemarin
aku dinasihati habis-habisan oleh Ica, karena tak sengaja ku confirm ajakan Ica berteman di Facebook.
Aku lupa, di laman Facebook hampir semua foto-foto yang kuunggah memamerkan
rambut panjangku. Pantas saja saat itu Ica beristigfar berulang kali. Aku hanya
bisa nyengir malu. Katanya perempuan diberi kewajiban untuk menutupi
kepalanya hingga ke dada. Aku sih
sudah tau, hanya saja baru kali itu aku mendengar langsung ayatnya. Ica membaca
artinyanya sebelum kami tidur. Ada beberapa ayat yang Ica bacakan yang
membuatku berfikir sesaat. Kemana saja aku selama ini hingga baru mengetahui?
“Kamu tahu ngga siksa untuk perempuan yang
memperlihatkan rambutnya?” Ica bertanya di tengah-tengah ceritanya. Aku
menggeleng.
“Dia
di gantung dengan rambutnya di tengah kobaran api....”
Aku
tersikap. Ica menerusakan ceritanya sambil menerawang kosong “Otaknya sampai mendidih....”
Aku
bergidik ngeri. Malam itu kuhapus semua foto-foto tak berkerudungku di semua
laman sosial media.
****
3
Januari 2014, 20:50 WIB
Aku menatap dinding dengan tatapan kosong. Al Qur’an
masih kugenggam setelah tadi selesai kubaca beserta artinya. Pipiku lembab
sebab ada lelehan air mata disana. Bibir kugigit pelan. Menahan tangis walau
buatku meringis. Sejak dulu aku penyuka kata berbentuk sajak. Berpuluh buku
puisi telah kulahap habis, juga kata-kata puitis di sosial media yang
kugandrungi tiap hari. Aku salah bila telah bangga memperkenalkan diri sebagai
perundung puisi, padahal ada satu buku yang belum aku ranahi tiap indah
kata-perkatanya. Buku yang tengah kugenggam ini.
Bodoh sekali manusia, pikirku. Teramat banyak rasanya
orang-orang yang menutup mata untuk sekedar membaca ayat perayat di tiap
harinya, bahkan hidupnya. Apalagi
merenungi artinya? Aku menggeleng sendiri. Sedikit sekali pastinya.
Aku kembali membuka tiap lembar al-Qur’an hati-hati,
takut membuat lipatan kecil di kertas cream
bercetak huruf-huruf arab ini. Diujung kanan atas tertulis Al-Hijr. Aku
mulai membaca dari ayat ke 16.
Dan
sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya
terasa indah bagi orang yang memandangnya.
Indah! Kata-perkatanya disusun amat indah, bahkan
artinya. Bintang memang selalu tampak indah bila dipandang. Siapapun pasti
mengangguk menyetujui. Ya, sebab Allah sendiri yang membuat perasaan kita
mengakui keindahannya. Jika saja Allah tak membuat begitu, betapa pun terang
dan banyak kerlip bintang akan tetap tak terasa indah. Aku tersenyum memandang langit dari teras
kamar. Bintang bertabur dengan pendar menawan. Gugusannya membentuk rasi yang
pernah kulihat di buku ensiklopedia.
Angin
malam berhembus, menusuk halus kulit walau telah kubalut sweater. Rupanya angin
menyuruhku untuk segera berselimut. Aku menurut.
****
2
Juli 2014, 10:30 WIB
“Berubah
lo, Sabil....”
Aku
menoleh ke samping kanan. Nihla telah menyamakan langkahnya denganku, berusaha berjalan
bersisian di jalan setapak menuju kelas. Aku tertawa pelan mendengar ucapan
Nihla. Nihla, teman sekelasku yang rasanya tak lagi dekat seperti semester
pertama dulu. Aku baru menyadarinya.
“Berubah
gimana? Kagak ah” Aku mengelak. Padahal
aku sadar, pelan-pelan memang aku mulai berubah. Perubahan yang tak nyana
menghadirkan jarak diantara kami.
“Ngga
kayak dulu aja...” Nihla memandangku, lalu mencubit piku pelan.
“....tapi bagus kok, lo tambah cantik
heheh....”
Aku dibuatnya tersenyum sipu. Bukan hanya Nihla,
teman-temanku yang lain berujar sama dengan Nihla. Penasaran, aku berhenti di
depan kaca jendela yang panjangnya hampir seukuran tinggiku. Bayangku terpantul
disana. Seorang gadis dengan jilbab lebar pink
polos, disisi kiri bahunya nampak kemilau bros –berbentuk kembang—keperakan.
Dress panjang yang juga berwarna pink dipadukan dengan blazer bernuansa merah
marun. Tak ketinggalan manset marun mengintip dari balik lengan bajunya.
Aku
masih asyik bercermin sampai akirnya menyadari ada seseorang yang memandang
sekilas dari balik jendela. Aku yang malu segera menunduk dalam dan berlalu pergi,
juga laki-laki di balik jendela itu.
****
22
Juni 2016, 16:35 WIB
Semilir sejuk menghembus halus aku yang tengah bersila di
atas rumput hijau lapangan kampus. Sesekali satu-dua helai rumput mati mampir
di pangkuku, menjadikanya salah satu fokusku untuk kujadikan mainan di tengah
rapat yang membosankan.
“Gimana
ukhti, setuju dengan pendapat saya?”
Suara laki-laki yang tadi pelan sekarang terdengar lebih
kencang. Aku mendongak, meninggalkan tatapku dari rumput-rumput mati kearah
pemilik suara. Aku heran, pemilik suara
tengah menatapku, juga orang-orang yang ada di rapat sore ini. Astagfirullah, aku ngelamun.
“Eh...eh iya....” aku tergagap. Aku malu tak tau menjawab
apa, aku malu karena tak memperhatikan dia saat bicara.
Dan sejujurnya, aku
malu karena ditatap si pemilik suara. Laki-laki yang kusuka. Seseorang di balik
jendela.
Namanya Rayhan, laki-laki yang pernah kudekati di
awal aku kuliah disini. Di saat aku
belum mengetahui bahwa pacaran itu tak ada dalam Islam. Malu rasanya bila
teringat bagaimana dulu aku bersikap di depannya, berusaha selalu mendapat
perhatian darinya, berangan tentangnya, dan selalu mencari alasan untuk bisa
mengirim pesan kepadanya. Hingga suatu hari, aku mendapat sindiran halus
langsung darinya, lewat pesan balasan.
Ukhti....tahu kah burung merak?
Ia memang cantik, tetapi ia telah mengantongi rasa congkak karena betapa sering
ia mendongak agar dilirik. Ukhti, tahu kah angsa? Hingga kini ia berhasil
mengantongi predikat menawan karena betapa sering ia menundukkan pandangan dan
bersikap anggun rupawan.
Berkat pesan itu aku menangis semalaman. Malu.
****
3
Maret 2017
Kepalaku
pening karena terlalu lama menatap layar segi empat di pangkuan. Sekarang angka
di bagian bawah kiri laptop menunjukan pukul 0:00. Tepat lima jam aku
samasekali tak bergeming di depan layar, membaca tiap huruf yang terketik di
lembar elektronik ini. Besok adalah hari yang teramat penting bagiku, sidang
skripsi!
Sungguh, rasanya waktu telah diputar olehNya dengan
teramat cepat. Sehingga tak terasa aku telah ada di penghujung masa
mahasiswaku. klise memang, bila di awal aku tidak respect menjalankan aktivitas seorang mahasiswa di kampus ini,
sekarang aku merasa berat bila harus segera meninggalkan kampus mungil ini.
Kampus yang bukan saja mengisahkan kisah hijrah seorang Salsabila, namun justru
mengarang kisah hijrahnya sedemikian rupa.
“Belom
tidur juga dari tadi, Bil?”
Aku
menggeleng. Ica masuk ke kamar setelah selesai mengerjakan skripsinya di kamar
sebelah. Bersiap untuk tidur.
“Eh iya, Bil..., tadi sore aku kan bukber sama anak-anak kelas....” ica berujar, tak jadi
membaringkan tubuhnya di kasur, ia malah mendekat dengan duduk di sampingku.
“....Pas udahan
aku kebagian ngeberesin sampah-sampah makanan. Nah, disana ada Rayhan sama si Iman lagi ngobrol serius. Ngga sengaja
aku ngedenger mereka ngobrol...”
Deg!
Jantungku berdegup kencang mendengar nama Rayhan. “terus?”
“...mereka
ngobrolin tentang ngelamar-lamar gitu...”
Aku
menelan ludah. “Lamar?”
“Iya,
aku sih yakin yang mau ngelamar itu
si Rayhan. Abis aku ngedenger omongan Rayhan yang bilang mau ngucapin selamat
langsung ke akhwat itu dulu di hari wisudanya sebelum dateng ke rumahnya....”
Pukul
00:40 WIB, degupku tambah tak karuan.
Depok, 23 Mei
2015
1:02


0 komentar:
Posting Komentar