Kamis, 22 Oktober 2015

00:40 WIB



20 Mei 2017 , 03:30 WIB
Senyum tak bosan-bosannya kusunggingkan kepada orang yang sama-sama tengah riuh bersuka cita. Bersalaman, berpelukan sembari menangis bahagia kuualang bersama orang-orang yang merasa sama. Entah berapa kali potretku tertangkap dengan berbagai gaya. Bersama keluarga, teman, tak terkecuali sendirian.
“Salsabila....”
Aku menoleh ke asal suara. Seseorang yang amat kukenal suaranya berdiri dengan tersenyum. Seseorang yang beberapa tahun ini buatku menunduk dalam degup malu.
“Barakallah atas kelulusannya....” katanya.
****
27 September 2013, 01:20 WIB
Terik telah sepenuhnya melangit. Teduh hanya disisakan di bawah rindang pepohonan, sayangnya pepohonan di Depok hanya sedikit yang rimbun. Asap-asap mengepul, menggemul ke atas langit  dan lubang-lubang hidung yang tak sempat ditutupi. Angkot berjejal berantakan di jalan beraspal yang tak seberapa luasnya. Mencari penumpang barang satu-dua dengan teriakan mengalahkan deru mobilnya sendiri. Kepalaku tambah pening.
Kerudung kaos yang kukenakan tak lagi nyaman kukenakan sebab keringat telah diserapnya setelah tiga jam perjalanan yang dibayangi terik matahari. Kukibas kipas kecil yang tadi kubeli dengan mengangkat sedikit ujung kerudung bagian bawah. Ah...,Depok kurang ramah.
Setelah membayar angkot untuk kali terakhir aku berjalan melewati jalan kecil beraspal. Sendirian menggendong dan menjenjeng tas yang tak bisa dibilang ringan. Melangkah menuju sebuah kampus yang ayah pilihkan untukku. Kampus yang tak samasekali masuk dalam deretan nama-nama kampus yang kucita-citakan, bahkan terlintas di pikiranku. Samasekali ngga!
****
9 September 2013, 07:45 WIB
            Kupatut diri di depan cermin berulang kali. Sesekali menjinjit agar terlihat dari kepala hingga ke dada. Aku menggeleng kencang.
“Ngga cocok sama gue, Ca. Sumpah deh!”
Ica, teman sekamarku di asrama yang sama-sama tengah bersiap masuk kuliah  memperhatikan kerudung lebar yang kukenakan. Mengitariku lalu tertawa kecil.
 “Cocok kok, Bil..., Cuma sedikit acak-acakkan aja”
Aku membenarkan ucapan Ica setelah sekali lagi melihat ke cermin. kudekati Ica dengan wajahku tepat dihadapnnya. “Benerin...”.
Ica mengangguk tersenyum. Kuperhatikan Ica saat ia tengah merapihkan kerudungku. Ica sangat cocok mengenakan kerudung lebarnya yang berwarna sepadan dengan gamis lebar yang ia kenakan. Ditambah lagi perangai Ica yang santun, menambah nlai keanggunan yang ia miliki. Itu sih Ica! Lah, aku?
Baru-baru ini aku benar-benar memakai kerudung seharian, apalagi kerudung selebar ini. Sebelumnya –saat SMA—aku hanya mengenakan penutup kepala selama berada dalam lingkungan sekolah, selebihnya rambut hitam panjangku adalah suatu kebanggaan untuk kuperlihatkan.
Kemarin aku dinasihati habis-habisan oleh Ica, karena tak sengaja ku confirm ajakan Ica berteman di Facebook. Aku lupa, di laman Facebook hampir semua foto-foto yang kuunggah memamerkan rambut panjangku. Pantas saja saat itu Ica beristigfar berulang kali. Aku hanya bisa nyengir malu.  Katanya perempuan diberi kewajiban untuk menutupi kepalanya hingga ke dada. Aku sih sudah tau, hanya saja baru kali itu aku mendengar langsung ayatnya. Ica membaca artinyanya sebelum kami tidur. Ada beberapa ayat yang Ica bacakan yang membuatku berfikir sesaat. Kemana saja aku selama ini hingga baru mengetahui?
 “Kamu tahu ngga siksa untuk perempuan yang memperlihatkan rambutnya?” Ica bertanya di tengah-tengah ceritanya. Aku menggeleng.
“Dia di gantung dengan rambutnya di tengah kobaran api....”
Aku tersikap. Ica menerusakan ceritanya sambil menerawang kosong  “Otaknya sampai mendidih....”
Aku bergidik ngeri. Malam itu kuhapus semua foto-foto tak berkerudungku di semua laman sosial media.
****
3 Januari 2014, 20:50 WIB
            Aku menatap dinding dengan tatapan kosong. Al Qur’an masih kugenggam setelah tadi selesai kubaca beserta artinya. Pipiku lembab sebab ada lelehan air mata disana. Bibir kugigit pelan. Menahan tangis walau buatku meringis. Sejak dulu aku penyuka kata berbentuk sajak. Berpuluh buku puisi telah kulahap habis, juga kata-kata puitis di sosial media yang kugandrungi tiap hari. Aku salah bila telah bangga memperkenalkan diri sebagai perundung puisi, padahal ada satu buku yang belum aku ranahi tiap indah kata-perkatanya. Buku yang tengah kugenggam ini.
            Bodoh sekali manusia,  pikirku. Teramat banyak rasanya orang-orang yang menutup mata untuk sekedar membaca ayat perayat di tiap harinya, bahkan hidupnya. Apalagi merenungi artinya? Aku menggeleng sendiri. Sedikit sekali pastinya.
            Aku kembali membuka tiap lembar al-Qur’an hati-hati, takut membuat lipatan kecil di kertas cream bercetak huruf-huruf arab ini. Diujung kanan atas tertulis Al-Hijr. Aku mulai membaca dari ayat ke 16.
Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya.
            Indah! Kata-perkatanya disusun amat indah, bahkan artinya. Bintang memang selalu tampak indah bila dipandang. Siapapun pasti mengangguk menyetujui. Ya, sebab Allah sendiri yang membuat perasaan kita mengakui keindahannya. Jika saja Allah tak membuat begitu, betapa pun terang dan banyak kerlip bintang akan tetap tak terasa indah.  Aku tersenyum memandang langit dari teras kamar. Bintang bertabur dengan pendar menawan. Gugusannya membentuk rasi yang pernah kulihat di buku ensiklopedia.
Angin malam berhembus, menusuk halus kulit walau telah kubalut sweater. Rupanya angin menyuruhku untuk segera berselimut. Aku menurut.
****
2 Juli 2014, 10:30 WIB
“Berubah lo, Sabil....”
Aku menoleh ke samping kanan. Nihla telah menyamakan langkahnya denganku, berusaha berjalan bersisian di jalan setapak menuju kelas. Aku tertawa pelan mendengar ucapan Nihla. Nihla, teman sekelasku yang rasanya tak lagi dekat seperti semester pertama dulu. Aku baru menyadarinya.
“Berubah gimana? Kagak ah” Aku mengelak. Padahal aku sadar, pelan-pelan memang aku mulai berubah. Perubahan yang tak nyana menghadirkan jarak diantara kami.
“Ngga kayak dulu aja...” Nihla memandangku, lalu mencubit piku pelan.
 “....tapi bagus kok, lo tambah cantik heheh....”
            Aku dibuatnya tersenyum sipu. Bukan hanya Nihla, teman-temanku yang lain berujar sama dengan Nihla. Penasaran, aku berhenti di depan kaca jendela yang panjangnya hampir seukuran tinggiku. Bayangku terpantul disana. Seorang gadis dengan jilbab lebar pink polos, disisi kiri bahunya nampak kemilau bros –berbentuk kembang—keperakan. Dress panjang yang juga berwarna pink dipadukan dengan blazer bernuansa merah marun. Tak ketinggalan manset marun mengintip dari balik lengan bajunya.
Aku masih asyik bercermin sampai akirnya menyadari ada seseorang yang memandang sekilas dari balik jendela. Aku yang malu segera menunduk dalam dan berlalu pergi, juga laki-laki di balik jendela itu.
****
22 Juni 2016, 16:35 WIB
            Semilir sejuk menghembus halus aku yang tengah bersila di atas rumput hijau lapangan kampus. Sesekali satu-dua helai rumput mati mampir di pangkuku, menjadikanya salah satu fokusku untuk kujadikan mainan di tengah rapat yang membosankan.
            “Gimana ukhti, setuju dengan pendapat saya?”
            Suara laki-laki yang tadi pelan sekarang terdengar lebih kencang. Aku mendongak, meninggalkan tatapku dari rumput-rumput mati kearah pemilik suara. Aku heran,  pemilik suara tengah menatapku, juga orang-orang yang ada di rapat sore ini. Astagfirullah, aku ngelamun.
            “Eh...eh iya....” aku tergagap. Aku malu tak tau menjawab apa, aku malu karena tak memperhatikan dia saat bicara.
Dan sejujurnya, aku malu karena ditatap si pemilik suara. Laki-laki yang kusuka. Seseorang di balik jendela.
            Namanya Rayhan, laki-laki yang pernah kudekati di awal  aku kuliah disini. Di saat aku belum mengetahui bahwa pacaran itu tak ada dalam Islam. Malu rasanya bila teringat bagaimana dulu aku bersikap di depannya, berusaha selalu mendapat perhatian darinya, berangan tentangnya, dan selalu mencari alasan untuk bisa mengirim pesan kepadanya. Hingga suatu hari, aku mendapat sindiran halus langsung darinya, lewat pesan balasan.
Ukhti....tahu kah burung merak? Ia memang cantik, tetapi ia telah mengantongi rasa congkak karena betapa sering ia mendongak agar dilirik. Ukhti, tahu kah angsa? Hingga kini ia berhasil mengantongi predikat menawan karena betapa sering ia menundukkan pandangan dan bersikap anggun rupawan.
Berkat pesan itu aku menangis semalaman. Malu.
****
3 Maret 2017
Kepalaku pening karena terlalu lama menatap layar segi empat di pangkuan. Sekarang angka di bagian bawah kiri laptop menunjukan pukul 0:00. Tepat lima jam aku samasekali tak bergeming di depan layar, membaca tiap huruf yang terketik di lembar elektronik ini. Besok adalah hari yang teramat penting bagiku, sidang skripsi!
            Sungguh, rasanya waktu telah diputar olehNya dengan teramat cepat. Sehingga tak terasa aku telah ada di penghujung masa mahasiswaku. klise memang, bila di awal aku tidak respect menjalankan aktivitas seorang mahasiswa di kampus ini, sekarang aku merasa berat bila harus segera meninggalkan kampus mungil ini. Kampus yang bukan saja mengisahkan kisah hijrah seorang Salsabila, namun justru mengarang kisah hijrahnya sedemikian rupa.
            “Belom tidur juga dari tadi, Bil?”
            Aku menggeleng. Ica masuk ke kamar setelah selesai mengerjakan skripsinya di kamar sebelah. Bersiap untuk tidur.
            “Eh iya, Bil..., tadi sore aku kan bukber sama anak-anak kelas....” ica berujar, tak jadi membaringkan tubuhnya di kasur, ia malah mendekat dengan duduk di sampingku.
            “....Pas udahan aku kebagian ngeberesin sampah-sampah makanan. Nah, disana ada Rayhan sama si Iman lagi ngobrol serius. Ngga sengaja aku ngedenger mereka ngobrol...”
            Deg! Jantungku berdegup kencang mendengar nama Rayhan. “terus?”
            “...mereka ngobrolin tentang ngelamar-lamar gitu...”
            Aku menelan ludah. “Lamar?”
            “Iya, aku sih yakin yang mau ngelamar itu si Rayhan. Abis aku ngedenger omongan Rayhan yang bilang mau ngucapin selamat langsung ke akhwat itu dulu di hari wisudanya sebelum dateng ke rumahnya....”
            Pukul 00:40 WIB, degupku tambah tak karuan.














Depok, 23 Mei 2015
1:02




















0 komentar:

Posting Komentar