Ada idealisme terhidang dari pemikir-pemikir ulung, dari penyuara kata
berdasar ‘ketertarikan’. Yang nyata berkontribusi di sela-sela kesibukan
sendiri. Lantas terhidang tertuju insan-insan yang lahap kunyahan dari tiap
suapan pengetahuan.
Lewat temu sehabis salam dan senyum, retrorika kata sederhana bermetamorfosa menjadi frosa indah
penggugah, hingga sesekali kerah disentuh menunjukan betapa kami bangga
mendengar ramuan penguras ketidak-tahuan kami hari itu.
Meski begitu, pemikir ulung tak menjaraki ‘ketertahuan’ nya dengan Sabda
sang Maha Mengetahui barang sekelumit atom dalam kumpulan elektron. Ialah ayat
yang mengakhiri tiap kerat pegetahuan yang teramat berserat.
Kenapa berserat?
Berserat sebab pengetahuan tak terbatas pendapat satu-dua orang keras kepala. Sesekali perlu
rasanya mengembalikan tanya kepada Sang Pemberi kemampuan kita untuk bertanya,
agar dijawab lewat ayat lain yang belum sempat diranahi oleh para peramu macam
kita.
Anggukan hadir mengikuti ritme keterpahaman akan apa-apa yang diajarkan,
untuk kami yang terduduk manis di deretan baris –yang semakin kebelakang,
terkadang semakin tak ditenggeri pemahaman.
Gelengan tak alpa merautkan ketidakpahaman di tengah penyampaian, secara
klasik mengangkat tangan tinggi-tinggi mencoba mengambil alih semua perhatian
dalam satu ketukan detik. Bertanya setelah dipersilahkan.
Lantas pemikir ulung sekaligus peramu ilmu sigap mengambil ancang-ancang untuk
mendeteksi pertanyaan dengan menatap si penanyanya. Mengangguk, tersenyum, menghela
nafas, dan menjawab tanpa kelupaan dengan diawali
“Sesuai Firman Allah surat sekian dan ayat sekian, Allah berfirman....”
Sekiranya karena kami mengangguk karena teramat mengerti, bumi mendapati
dirinya lindu tanpa disadari. Kami
terlalu memahami sebab dijejali pemaparan berdasar logika. Efek domino menjalar pada masing-masing kepala. Satu mengangguk,
sejurus kemudian semua mengangguk, mengerti atau pura-pura mendalami.
Setelah digugah sebagian kami mengunggah dari balik panggung. Memperdengarkan
pada telinga-telinga berkerak gelak. Mencatat lewat bayangan teknologi segi
panjang di tiap masing bola mata.
Ialah tadi implementasi baik dari kebaikan yang terkadang
diputarbalikkan. Bila diteriakkan betapa belajar itu suatu keharusan, orang
ogah sebab telinganya gerah. Nyatanya yang ogah selalu berteriak orang pintar
gegabah.
Bagi para pemakai tuxedo picik. Pengetahuan mengajarkan meretas hukum.
Bukan siapa menyalahkan siapa, namun begitu nyatanya. Hingga akhirnya hukum diciptakan
bukan untuk dipatuhi, namun diciptakan untuk digunakan secara canggih.
Di satu tegap batang ada cabang mengakar. Serupa pengetahuan yang
mengakar pada tiap kepala yang berbeda. Menghasilkan konsep yang tak selalu
sama.
Tinggal bagaiamana seorang memeperalat pengetahuan tanpa lebih dulu
menertawakan etika berkeTuhanan. Semacam para pemikir dan peramu disini yang
membisiki kami dengan frosa garapan Tuhan.
Depok, 20 Mei 2015
*Dosen STEI Sebi


0 komentar:
Posting Komentar