Kamis, 22 Oktober 2015

Pemikir dan Peramu*




Ada idealisme terhidang dari pemikir-pemikir ulung, dari penyuara kata berdasar ‘ketertarikan’. Yang nyata berkontribusi di sela-sela kesibukan sendiri. Lantas terhidang tertuju insan-insan yang lahap kunyahan dari tiap suapan pengetahuan.
Lewat temu sehabis salam dan senyum, retrorika kata sederhana bermetamorfosa menjadi frosa indah penggugah, hingga sesekali kerah disentuh menunjukan betapa kami bangga mendengar ramuan penguras ketidak-tahuan kami hari itu.
Meski begitu, pemikir ulung tak menjaraki ‘ketertahuan’ nya dengan Sabda sang Maha Mengetahui barang sekelumit atom dalam kumpulan elektron. Ialah ayat yang mengakhiri tiap kerat pegetahuan yang teramat berserat.
Kenapa berserat?
Berserat sebab pengetahuan tak terbatas pendapat  satu-dua orang keras kepala. Sesekali perlu rasanya mengembalikan tanya kepada Sang Pemberi kemampuan kita untuk bertanya, agar dijawab lewat ayat lain yang belum sempat diranahi oleh para peramu macam kita.
Anggukan hadir mengikuti ritme keterpahaman akan apa-apa yang diajarkan, untuk kami yang terduduk manis di deretan baris –yang semakin kebelakang, terkadang semakin tak ditenggeri pemahaman.
Gelengan tak alpa merautkan ketidakpahaman di tengah penyampaian, secara klasik mengangkat tangan tinggi-tinggi mencoba mengambil alih semua perhatian dalam satu ketukan detik. Bertanya setelah dipersilahkan.
Lantas pemikir ulung sekaligus peramu ilmu sigap mengambil ancang-ancang untuk mendeteksi pertanyaan dengan menatap si penanyanya. Mengangguk, tersenyum, menghela nafas, dan menjawab tanpa kelupaan dengan diawali
“Sesuai Firman Allah surat sekian dan ayat sekian, Allah berfirman....”
Sekiranya karena kami mengangguk karena teramat mengerti, bumi mendapati dirinya lindu tanpa disadari. Kami terlalu memahami sebab dijejali pemaparan berdasar logika. Efek domino menjalar pada masing-masing kepala. Satu mengangguk, sejurus kemudian semua mengangguk, mengerti atau pura-pura mendalami.
Setelah digugah sebagian kami mengunggah dari balik panggung. Memperdengarkan pada telinga-telinga berkerak gelak. Mencatat lewat bayangan teknologi segi panjang di tiap masing bola  mata.
Ialah tadi implementasi baik dari kebaikan yang terkadang diputarbalikkan. Bila diteriakkan betapa belajar itu suatu keharusan, orang ogah sebab telinganya gerah. Nyatanya yang ogah selalu berteriak orang pintar gegabah.
Bagi para pemakai tuxedo picik. Pengetahuan mengajarkan meretas hukum. Bukan siapa menyalahkan siapa, namun begitu nyatanya. Hingga akhirnya hukum diciptakan bukan untuk dipatuhi, namun diciptakan untuk digunakan secara canggih.
Di satu tegap batang ada cabang mengakar. Serupa pengetahuan yang mengakar pada tiap kepala yang berbeda. Menghasilkan konsep yang tak selalu sama.
Tinggal bagaiamana seorang memeperalat pengetahuan tanpa lebih dulu menertawakan etika berkeTuhanan. Semacam para pemikir dan peramu disini yang membisiki kami dengan frosa garapan Tuhan.






Depok, 20 Mei 2015

*Dosen STEI Sebi

0 komentar:

Posting Komentar