Hai, sepi. Terimakasih telah memberi
ruang untuk berbicara tanpa didengar siapa-siapa. Yang pada heningnya memberi
kesenduan yang menawan, layaknya pohon di jantung hutan, merunduk dengan tari
semilir –ranting bergoyang, daun melambai. Atau jeda sementara, dari riuh masalah
dan pekak semesta, membuat pejaman sepuluh detik saja menentramkan.
Waktu benar-benar serius merubah
tiap detiknya semakin cepat, atau aku
saja yang melambat? Sepi datang seakan hanya sekelebat lewat, seperti tiap
kilat sebelum gemuruh di masa penghujan.
Semoga sepi datang. Agar hening
dirasa, seperti saat di rahim dulu, hanya terdengar degup halus jantung ibu. Dan bisakah sedikit lebih lama lagi?
Ada lelah yang dirasa dari
tuntutan, peraturan dan kepura-puraan. Dan sepi menjadi salah satu jawaban;
Untuk bersimpuh khusyu’, untuk air mata luruh, untuk bersiap menjelma perempuan
baru.
Dan
bisakah sepi sedikit lama lagi?
Depok,
1 Juni 2016


0 komentar:
Posting Komentar