Rabu, 01 Juni 2016

Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?


Hai, sepi. Terimakasih telah memberi ruang untuk berbicara tanpa didengar siapa-siapa. Yang pada heningnya memberi kesenduan yang menawan, layaknya pohon di jantung hutan, merunduk dengan tari semilir –ranting bergoyang, daun melambai. Atau jeda sementara, dari riuh masalah dan pekak semesta, membuat pejaman sepuluh detik saja menentramkan.
Waktu benar-benar serius merubah tiap detiknya semakin cepat, atau aku saja yang melambat? Sepi datang seakan hanya sekelebat lewat, seperti tiap kilat sebelum gemuruh di masa penghujan.
Semoga sepi datang. Agar hening dirasa, seperti saat di rahim dulu, hanya terdengar degup halus jantung ibu. Dan bisakah sedikit lebih lama lagi?
Ada lelah yang dirasa dari tuntutan, peraturan dan kepura-puraan. Dan sepi menjadi salah satu jawaban; Untuk bersimpuh khusyu’, untuk air mata luruh, untuk bersiap menjelma perempuan baru.
Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?








Depok, 1 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar