Rabu, 06 April 2016

Perempuan yang Menungguku Pulang


Depok, Maret 2016
Angkot berangka 106 melaju pelan, membelah  keramaian jalan Depok di pagi menjelang siang. Di jalan beraspal mobil mengular, sedang motor mencari celah untuk terus melaju diantaranya. Suara klakson sahut menyahut, ditimpali dengan teriakan sang sopir. Ditambah lagi semesta samasekali tak bersahabat, rasanya matahari dan angin tengah bersengkokol untuk libur sementara waktu. Kubuka jendela di belakangku selebar-lebarnya, mempersilahkan angin untuk masuk agar mengenaiku. Nihil.
Kuurut kening pelan sambil memejamkan mata, mencoba mengurangi pening yang ada. Dalam pejam bayang seseorang tertayang, Salma.
****
Jakarta, November 2011
Saat itu, sedetik masuk ke gedung berpintu kaca, aroma teramat khas menyeruak masuk penciumanku, membuat hidungku sedikit agak terganggu. Lorong-lorong bernuansa putih mendominasi, suara-suara roda dan suara seperti kaleng terdengar sesekali. ketika memasuki tempat ini tadi, rasanya aura asing menjalar masuk ke tubuh. Tempat yang tembok dan lantainya lebih dingin dari tempat lainnya, Rumah sakit.
 “Assalamu’alaykum” salah satu bangsal kumasuki. Memandang sekeliling ruang serba putih lalu tersenyum kearah perempuan yang tengah terbaring di salah satu ranjang. Salma terpejam. Tidur.
Matanya terpejam dalam, lentik bulu matanya sesekali bergerak mengikuti kelopak. refleks karena alam bawah sadarnya tengah menyelam hingga dasar mimpi. Bibir tipisnya serupa orang yang tengah mengalami dehidrasi, kering dan pucat. Di punggung tangan sebelah kanannya menempel balutan plester putih, menahan jarum infus yang mengalirkan cairan obat agar masuk ke darahnya.  Salma Hafifah, nama perempuan terpejam itu, yang nantinya tiap terlintas di bayang ingin melulu kutemui, lalu kudekapi.
            “Sakit apa, Bi?”
            Aku bertanya, padahal baru saja diberitahu sejelas-jelasnya. Aku hanya sulit mencerna perkataan Abi barusan. Ummi berdiri disampingnya, memandangku dengan tatap menyiratkan kerapuhan. Nampak terlihat dari kilatan bening di matanya.
“leukemia, Gung. Kanker darah”
Aku mematung sejenak. Tidak menunjukan ekspresi kaget yang berlebihan, biasa saja, seperti halnya kau mendengar saudaramu terkena demam yang parah, namun dalam waktu yang lama. Semua penyakit ada obatnya, kan?
*****
Jakarta, Juni 2012
Setelah tiga kali pindah rumah sakit. Mulai saat itu, untuk waktu yang amat lama Salma akan menjalani pengobatannya di rumah sakit khusus kanker, Dharmais.
Salma memulai kemoterapinya. Selang bening mulai mengalirkan cairan putih ke pembuluh darahnya. Memberikan gempuran besar-besaran terhadap sel-sel kanker yang membelah seenaknya, juga pada sel-sel sehat di darahnya. Ia terlihat pucat. Entah apa yang tubuhnya rasakan, tapi aku bisa sedikit meresapi kesakitannya. Mungkin sepersekian nol koma persen.
Setelahnya ia mual. Tubuhnya lemah. Ia mulai muntah. Cairan yang tengah menggempur sel-sel kanker di dalam membuatnya kacau di luar. Kalau sudah seperti itu mau tak mau Salma harus diopname satu atau dua hari. Allah…apa yang bisa aku lakukan lagi selain berdo’a?
Usianya baru belasan tahun. Masih teramat muda. Tapi hatinya sedewasa-dewasanya orang dewasa, tapi tubuhnya sekuat-kuatnya orang kuat. Tingkahnya serupa anak seumurnya, tapi ucapnya mendewasakan, menyabarkan, pun menguatkan untuk dirinya juga orang-orang yang memperhatikannya. Fisiknya memang divonis sakit, tapi jiwanya tidak. Dengar tawa lepasnya, dengar cerita serunya, dengar canda hebohnya, kau bahkan tak akan menyangka jika dokter sudah memperkirakan hingga kapan tubuhnya sanggup bertahan.
Salma kesakitan –lagi— bukan ketika jarum menembus kulit lengannya, tapi setelahnya, ketika cairan yang disuntikkan di punggung tangannya mulai masuk ke pembuluh darah, bercampur menyatu lalu ikut mengalir ke seluruh tubuh. Lengannya panas, serasa terbakar di dalam. Tapi dia tetap Salma, setelahnya semua seakan baik-baik saja. Mengeluh dan mengalah bukan caranya menunjukan lelah.
*****
Serang-Rumah, Februari 2013       
Ternyata demam samasekali tak bisa disamakan dengan leukemia.
            Siang itu aku terhenyak di tengah tawa. Canda kami berubah canggung. Segenggam rambut ada di tangan kanan adik bungsuku, Haykal. Bukan sisa potongan rambut yang sengaja dipotong, apalagi rambut boneka. Bukan. Itu rambut asli. Rambut yang tercabut dengan mudahnya dari kulit kepala Salma. Rambut Salma mulai rontok.
            Kau tahu apa yang terlintas dipikiranku saat itu? Tak percaya. Apa yang diperbuat penyakit ini kepada Salma? Apa yang dilakukan selama ini oleh dokter-dokter yang tiap minggunya kami datangi? Atau, apa yang kemoterapi telah rubah setelah hampir tiap minggu Salma menahan sakit ketika cairan keras itu bercampur darahnya? Aku dikacaukan sedih.
Sedang Salma? Dia masih sanggup tertawa, seakan hanya dengan tertawa saja leukemia yang tengah mendera lenyap tak meninggalkan sisa. Ia masih memiliki wajah ceria, walau ketika relaps wajah cerianya dimendungi rona pucat. Ia masih punya sejuta cerita untuk diungkapkan, perihal sakitnya, teman sesama penyandang leukimea, bahkan aku. Kakaknya.
Cerita yang buatku selalu ingin bercerita juga. Tentang duniaku kepadanya, sampai sekarang, walau kesempatan itu terlalu cepat tiada.
“Salma tau, Salma lagi diuji sama Allah. Dosa Salma lagi dihapus pelan-pelan sama Allah”
Aku menatapnya dalam. Terlalu pelan, Ma. Gumamku. Untuk dosa seorang gadis berusia lima belas tahun, dosa sebesar apa yang harus dihapus? Hingga satu-satunya jalan menghapusnya hanyalah lewat sel-sel kejam yang bermetastasis di darahnya.
Saat ini aku bahkan percaya Salma tak miliki dosa lagi.
****

Jakarta, juli 2014
Itu perjalanan kesekian kalinya. Perjalanan menuju Dharmais untuk kembali menjalani kemoterapi. Salma mulai terlihat berbeda. Badannya menjadi lebih gemuk, akibat efek dari obat-obatan yang selama itu ia terima, di tangannya banyak luka kecil kehitaman bekas berbagai macam jarum suntikan, jarum yang tangannya telah kebal merasakan runcing ujungnya.
Kepala yang tak lagi berambut ia tutupi dengan kerudung kaos hitamnya. Beberapa hari sebelumnya Salma meminta rambut sebahunya dipotong habis, mengingat rambutnya sudah benar-benar mengalami kerontokan. Masker menutupi wajahnya sebagian. Bukan menghindari menularnya leukemia ke orang lain, tapi menghindari ditulari penyakit oleh orang di sekitarnya. Sebab flu sedikit saja butuh waktu lama untuk mengenyahkannya.
Aku duduk disampingnya. Memandanginya sebentar lalu menerawang, tanpa disadari ketakutan muncul dalam benak. Pertanyaan menakutkan diawali kata ‘kalau’ memenuhi kepalaku. Saat itu aku buru-buru meminta maaf dalam hati, kepada diri sendiri. Meminta maaf sebab sempat meragukan adanya kesembuhan.
*****
Serang-Rumah, 24 Januari 2015
Siang itu Salma relaps. Tubuhnya lemas dan mual hebat. Kepalanya pening hingga ia memilih untuk berbaring sepanjang hari. Ia nyeri luar biasa di sekitar dada dan perut, terlihat dari kerasnya Salma memukul-mukul perutnya. Nafasnya sengal, seakan oksigen tak sudi masuk ke rongga pernapasannya. Nafasnya serupa orang yang tengah cegukan, di tiap hirupan mengeluarkan bunyi yang menggambarkan kepayahan. Lalu jebol lah pertahanannya yang selama itu ia tahan. Ia menangis terisak. Ya Allah
Kalut mengatmosfer kami sekeluarga.
Ummi menjadi sandaran Salma untuk berbaring. Memijiti kepala juga perut Salma, berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa sakit yang tengah dirasakan gadisnya. gadis kecil yang melulu ingin ia dengar tawanya, bukan lenguh sakitnya, gadis kecil yang ia tunggu sembuhnya, gadis kecil yang ia ingin lihat dewasanya. Jika ada alat yang bisa menampilkan derajat kesedihan seseorang, aku yakin saat itu Ummi berada ditingkat teratas.
Seharian itu Salma tak lepas dari pengawasanku, juga Abi dan Ummi. Bergantian kami memijiti perut Salma yang membengkak. Aku memandang Salma keseluruhan. Tubuh, tangan, perut, kaki, juga wajah cantiknya, ya Allah….bahkan sudah membengkak hampir seluruhnya.
“Astagfirullah….ya Allah, sakit….ampuni Salma….” Ungkapnya terbata. Ummi menangis tertahan. Abi membuang pandangannya. Aku menatap ketiganya sendu.
*****
Serang-Rumah, 25 Januari 2015
Riuh ramai samar-samar terdengar dari luar. Semesta kembali memulai cerita. Pagi itu tak terdengar lagi suara tangisan Salma seperti kemarin. Salma kembali seperti Salma biasanya. Aku menatapnya lega, sambil berusaha untuk tidak membayangkan ketakutan yang akan terjadi kedepannya.
Sayang, apa yang kutakutkan terjadi.
Ia yang kuat kesakitan lagi. Adikku yang cantik itu menangis lagi. Anak gadis Abi Ummi yang selama sakitnya tak sedetikpun kehilangan harapannya untuk sembuh itu memukul-mukul perutnya lagi. Teteh untuk kedua adik kecil yang selalu merindukan menjadi bidadari syurga itu sulit bernafas lagi.
Jakarta- Dharmais, 26 Januari 2015
Salma dibawa ke UGD. Selang infusan dipasang di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan obat dari kantung infus yang digantung pada besi tinggi. Alat pembantu pernafasan berwarna hijau dipasang untuk membantunya bernafas.
Jakarta-Dharmais, 27 Januari 2015
Setelah sempat pulang ke rumah aku kembali ke Dharmais. Keadaan Salma mengalami kemunduran. Di dadanya sudah banyak tertempel alat serupa kabel yang entah namanya apa. Aku mendekati Salma yang tengah mengeluarkan kata dengan terbata.
“Ummi, Abi, Aa…udah ya ikhlasin Salma. Sakit…Salma sakit….astagfirullah”
Deg. Dadaku seperti dihimpit benda keras. Sesak. Ummi mulai menangis sesegukan lagi, abi yang selama itu megontrol tangisnya tak sanggup lagi membendungnya. Abi kalah oleh air mata. Aku mematung. Salma terpejam.
“bi peluk Salmanya…” suaraku bergetar. Abi menurut, dipeluknya Salma dengan memangkunya. Tak lama Salma membuka matanya, memandang aneh apa-apa yang di sekitarnya.
            “kok Salma masih disini? Syurga itu enak bi. Salma mau disitu”
Jakarta-Dharmais, 28 Januari 2015
Salma bangun. Seperti kemarin tak terjadi apa-apa, wajahnya cerah. Aku berucap syukur ternyata apa yang aku takutkan sudah terlewati. Aku sedikit bercakap dengannya sambil menyantap sarapan. Sayang, lagi-lagi itu tak bertahan lama.
Salma kejang. Tubuhnya mengejang tak terkendali. Setelah beberapa menit, tubuh Salma yang sebelumnya kaku –saat kejang—kini sudah melemas. Tak bergerak. Terpejam.
*****
Serang, Maret 2016
Langit senja berarak datang. Lukisan mega berkanvas oranye perlahan mendominasi langit sore. Semilir angin lembut menggaung di telinga. Hamparan rumput di sekitarku menari dengan angin sebagai musiknya.
Aku mengunjungi Salma, perempuan yang menungguku pulang. Yang kini berada di peraduannya menunggu syurga. Kutitip ia pada makhluk-makhluk langit yang kuyakin akan menjaganya, melebihi ketika keluargaku menjaganya.
Salma Hafifah. Inspirasi terakbar dalam semestaku sekarang. Tak peduli seberapa jahatnya leukemia menyakitinya, ia tak pernah menyalahkan Dzat yang memberinya penyakit itu.
“Allah tahu apa yang terbaik untuk Salma.…” ungkapnya, kala Ia masih menjelma makhluk dunia.  Sekarang? Ia menjelma bidadari nirwana, seperti cita-citanya.
Ah, Salma...Aa rindu sekali...



 






             









0 komentar:

Posting Komentar