“Dahulu, dengan dua mata
masing-masing, kita beradu, melihat binar bahagia atau malah embun di pelupuk
mata. Jika ucap tak sanggup bersuara, mata bisa jadi isyarat penggantinya.
Dengan mulut yang melulu
bersuara, kita bercerita tentang semesta yang padanya kita bermanja, kita masih
suka berkisah tentang dunia dari atas pohon-pohon yang kita panjat, kita lebih
suka bersapa dengan suara, walau hanya serupa bisik tak berisik.
Dengan tangan yang selalu mengenggam,
kita bergandeng bersisian. Menggenggam untuk bersalam, menggenggam untuk membangkitkan,
menggenggam untuk beramah-tamah. Kita miliki tangan untuk mengusap halus
kepala-kepala yang tertunduk. Menepuk pundak-pundak yang setara dengan perut.
Mengadah tangan selaras dengan dagu, meminta khusyu’ kepada Dzat yang jiwa kita
di genggamNya.
kita bahagia, sesederhana
berkedip tiap sepersekian detik. Sebab menginginkan sesuatu tak serumit, tak
sememaksa, tak sesering kini. Kita bahagia, sesederhana angin membantu gugur
daun-daun. Sebab belum nyata pemikiran rumit semisal pra-klasik, klasik,
sosialis, juga neoklasik yang dihamba kaum kapitalis, kita masih alfa mengeja
kata-kata kaku serapan. Kita bahagia, sesederhana benih dandelion yang
beterbangan bila tak sengaja tertiup. Sebab kita belum dijamah konsep-konsep
matrealistis, menyekap diri pada bayang bahagia semu.
Kita bahagia, sebab negri sederhana. Nafsu tak rakus memperalat, yang
menjadikan manusia bukan lagi manusia.”
“Sekarang, mata-mata tak sempat lagi
beradu, bayang kawan di jernih bola mata terganti terang layar segi panjang. Pening
bukan alasan untuk berhenti memandang, kita beralasan sedang berkawan pada
ratusan, bahkan ribuan orang.
Mulut tak lagi sering bersuara, ucap
antara manusia kalah dengan cicitan burung berlagu. Kita lugu nyata, namun liar
maya.
Pada tiap genggam-genggam tangan,
bukan lagi bertaut tangan kawan. Kita lebih nyaman berkata tanpa suara, menerka
sedih, bahagia lewat huruf-huruf bereja rasa, kita mengetik dengan genggaman
layar segi panjang. Kita meratap pada kalimat yang sengaja dibuat, berharap
senyum sekaligus dekap, walau sekadar gambar wajah berbentuk bulat-bulat.
Senyum dan sedih hanya berupa kurung buka dan tutup.
Teknologi menggerus degup bahagia
kala temu, memotong sungging senyum ketika tak lagi bercerita kisah konyol
berhadapan, menyekat dekap tak lagi erat, sebab kita memilih bersekat jarak.
Manusia-manusia berpacu dalam waktu yang dibilang tak cukup melulu, merakit
perangkat-perangkat mekanik pelik, mencipta layar segi empat bertambah pintar,
sedang manusia bertambah bodoh.
Kini, tak peduli batasan yang
coba batasi kemauan, padahal kepuasan tak berbatas rasa puas. Hingga akhirnya
banyak manusia-manusia terbelenggu dalam tanya ‘bagaimana’ menghapus dahaga
pemuas dengan jerat muslihat. Lantas Konsep-konsep yang ramai digadang-gadang para
ahli kapitalis berseru lantang, menitik beratkan pada keuntungan sendiri, bebas
terlepas dari sekat batas norma, bahkan agama.”
Langit seakan hendak diajak
beradu, siapa yang lebih tinggi ia pantas bertitel juara. Gedung-gedung memang
sengaja dibuat sebisa mungkin mencakar langit. Bertingkat-tingkat,
beruang-ruang, berpundak-pundak untuk satu-dua manusia. Semakin tinggi diantara
yang tinggi semakin besar degup bangga bertabuh sombong. Namun, menunduklah
setara tanah. Rumah tak be-ruang didiami empat-lima manusia. Sekali lagi,
menunduklah setara tanah, lelap lelah mereka beralas tanah.
“itu adalah perang
sunyi, alih-alih yang mati adalah seorang tentara, namun nyantanya anak-anak
kecil lah yang mati. Itu adalah perang dunia ke tiga, dengan interest sebagai
salah satu senjatanya.”

0 komentar:
Posting Komentar