Rabu, 20 April 2016

Pui-tis Ekonomi-tis

“Dahulu, dengan dua mata masing-masing, kita beradu, melihat binar bahagia atau malah embun di pelupuk mata. Jika ucap tak sanggup bersuara, mata bisa jadi isyarat penggantinya.
Dengan mulut yang melulu bersuara, kita bercerita tentang semesta yang padanya kita bermanja, kita masih suka berkisah tentang dunia dari atas pohon-pohon yang kita panjat, kita lebih suka bersapa dengan suara, walau hanya serupa bisik tak berisik.
Dengan tangan yang selalu mengenggam, kita bergandeng bersisian. Menggenggam untuk bersalam, menggenggam untuk membangkitkan, menggenggam untuk beramah-tamah. Kita miliki tangan untuk mengusap halus kepala-kepala yang tertunduk. Menepuk pundak-pundak yang setara dengan perut. Mengadah tangan selaras dengan dagu, meminta khusyu’ kepada Dzat yang jiwa kita di genggamNya.
kita bahagia, sesederhana berkedip tiap sepersekian detik. Sebab menginginkan sesuatu tak serumit, tak sememaksa, tak sesering kini. Kita bahagia, sesederhana angin membantu gugur daun-daun. Sebab belum nyata pemikiran rumit semisal pra-klasik, klasik, sosialis, juga neoklasik yang dihamba kaum kapitalis, kita masih alfa mengeja kata-kata kaku serapan. Kita bahagia, sesederhana benih dandelion yang beterbangan bila tak sengaja tertiup. Sebab kita belum dijamah konsep-konsep matrealistis, menyekap diri pada bayang bahagia semu.
Kita bahagia, sebab negri  sederhana. Nafsu tak rakus memperalat, yang menjadikan manusia bukan lagi manusia.”
“Sekarang, mata-mata tak sempat lagi beradu, bayang kawan di jernih bola mata terganti terang layar segi panjang. Pening bukan alasan untuk berhenti memandang, kita beralasan sedang berkawan pada ratusan, bahkan ribuan orang.
Mulut tak lagi sering bersuara, ucap antara manusia kalah dengan cicitan burung berlagu. Kita lugu nyata, namun liar maya.
Pada tiap genggam-genggam tangan, bukan lagi bertaut tangan kawan. Kita lebih nyaman berkata tanpa suara, menerka sedih, bahagia lewat huruf-huruf bereja rasa, kita mengetik dengan genggaman layar segi panjang. Kita meratap pada kalimat yang sengaja dibuat, berharap senyum sekaligus dekap, walau sekadar gambar wajah berbentuk bulat-bulat. Senyum dan sedih hanya berupa kurung buka dan tutup.
Teknologi menggerus degup bahagia kala temu, memotong sungging senyum ketika tak lagi bercerita kisah konyol berhadapan, menyekat dekap tak lagi erat, sebab kita memilih bersekat jarak. Manusia-manusia berpacu dalam waktu yang dibilang tak cukup melulu, merakit perangkat-perangkat mekanik pelik, mencipta layar segi empat bertambah pintar, sedang manusia bertambah bodoh.
Kini, tak peduli batasan yang coba batasi kemauan, padahal kepuasan tak berbatas rasa puas. Hingga akhirnya banyak manusia-manusia terbelenggu dalam tanya ‘bagaimana’ menghapus dahaga pemuas dengan jerat muslihat. Lantas Konsep-konsep yang ramai digadang-gadang para ahli kapitalis berseru lantang, menitik beratkan pada keuntungan sendiri, bebas terlepas dari sekat batas norma, bahkan agama.”  

Langit seakan hendak diajak beradu, siapa yang lebih tinggi ia pantas bertitel juara. Gedung-gedung memang sengaja dibuat sebisa mungkin mencakar langit. Bertingkat-tingkat, beruang-ruang, berpundak-pundak untuk satu-dua manusia. Semakin tinggi diantara yang tinggi semakin besar degup bangga bertabuh sombong. Namun, menunduklah setara tanah. Rumah tak be-ruang didiami empat-lima manusia. Sekali lagi, menunduklah setara tanah, lelap lelah mereka beralas tanah.  
“itu adalah perang sunyi, alih-alih yang mati adalah seorang tentara, namun nyantanya anak-anak kecil lah yang mati. Itu adalah perang dunia ke tiga, dengan interest sebagai salah satu senjatanya.”



0 komentar:

Posting Komentar