Kamis, 22 Oktober 2015

Bunga Do’a


Aku membantu dalam lembab, berusaha meringankan kesakitan yang menyakiti bundaku tersayang. Kudorong tubuhku mengikuti arah aliran air dengan merah dicampurannya. Ramai pekik kekhawatiran dengan riuh ucapan suci dapat kutangkap dalam pendengaranku, ah bismillah
***
Bulan ke 1
Aku dipilih olehNya. Untuk keluarga kecil yang bahagia. Di rumah sederhana bercermin syurga, bermalaikat, dan bersenandung do’a.
Bulan ke 2
Aku berada di kehidupan awalku. Hanya berupa gumpalan daging juga darah. Allah memenangkan aku dalam kompetisi kehidupan, kompetisi untuk hidup dalam rahim sesosok perempuan cantik nan lembut. aku tersenyum tak sabar, kataNya ia dipanggil bunda. Bunda?
Bulan ke 3
Aku menikmati keadaan disini, nyaman pun menenangkan dengan elusan-elusan lembut. Hey, ada detak di tubuhku tanda nyawa telah mengisi. Lucu, membuat tubuh kecilku bergerak naik turun, membuat aku sedikit bergerak dalam ruang gelap yang lembab. Aku, bukan lagi segumpal daging yang tak berbentuk. Ada cabang aneh di beberapa bagian bawah dan samping, aku menyukainya. Karena dengan itu aku dapat menggapai dinding ruang sunyi ini lalu menghentak sedikit dengan balasan elusan yang sangat menenangkan kesepian dalam kesendiriankku disini. Bunda baik sekali
Bulan ke 4
            Telah lumayan lama aku menghabiskan tiap detikku dalam tubuh bunda. kini semakin sering bunda mengelus dinding gelap yang aku tempati, pelan penuh perasaan sayang, amat hati-hati takut mengusik lelap kala aku terbuai tidur. Aku ingin membalas dengan menggapai dinding itu. Ah, namun tak bisa kujangkau. Maaf, saat aku menendangmu bukan maksud hati ingin menyakiti dirimu, bunda. Hanya saja Cuma itu cara yang aku bisa untuk menggapaimu, membalas kasih cintamu.
            Ada yang bisa kugerakan lagi sekarang, kataNya namanya bibir dan kepala. Kadang jika bosan menyemai diri, kucoba menggerakkannya. Membuka dan menutup, menyenangkan. Bunda, disini tak sesepi yang lalu. Dengar, aku dapat mendengar detakmu. Sama seperti detakku namun punyamu lebih lambat, menenangkan sekali mengalun dalam kesunyian. Sesekali sayup-sayup suara dapat tertangkap pendengaranku, tak jelas tapi sangat merdu didengar. Suara bunda kah itu?   
Bulan ke 5
            Semakin lama disini semakin sempit ruang gerakku. Semakin sering lagi aku menendangmu. Maaf bunda, terkadang aku terkejut saat ada suara yang mengoyak lelapku dalam tidur. Karena sayup suara telah terdengar jelas sekarang. Suara lembut bunda dan suara berat ayah yang mengajakku bercakap, juga suara mereka kala membaca sesuatu yang terdengar merdu di telinga.
            “assalamualaikum sayang, ini ayah...”
            Suara berat ayah membangunkanku. Dinding ruang gelap ini terasa diusap olehnya. Aku tersenyum sambil berusaha membalasnya dengan tinju pelan. Ayah, rasakan tanganku yang kini telah dapat menggapaimu, menggapai bunda juga.
            “jadi anak solehah ya sayang, yang pinter, yang nurut ayah bunda, yang cantik kaya bundanya...”
            Bunda terdengar tertawa. Aku tersenyum. Lalu sayup-sayup suara bunda terdengar melantunkan bacaan-bacaan indah, kataNya bunda sedang membaca Al Quran. Indah sekali setiap lantunan yang terucap dari bibirnya, ada getaran yang berbeda di setiap huruf yang tersua. Akhirnya buatku mendayu dalam lelap yang senyap.
            Bulan ke 6
            Disini rasanya semakin sempit. Tubuhku kini hampir memenuhi ruang yang bunda punya. Maaf ya bunda? Setiap gerak yang kulakukan sepertinya juga ia rasakan. Kini sedikitnya aku dapat merasakan apa yang tengah bunda lakukan. Aku terbuai lelap kala bunda bergerak atau berjalan kesana kemari, rasanya seperti ayunan pengantar ridur. Aku terbangun saat bunda  berbaring meluruhkan lelahnya, kadang kucoba menghiburnya dengan tinju juga hentakan kecil, dan itu berhasil membuat bunda tertawa atau berkata “ada apa sayang”. Ah, bunda aku bahagia dengan kita yang seperti ini. Kapan aku dapat memandang wajahmu?
            Bulan ke 7
            Entah apa yang aku genggam, bentuknya panjang pun licin dirasa. Aku merasakan kedekatan yang lebih dengan bunda bila menggenggam itu. Kini rindu untuknya amat besar menyesaki dada. Entah berapa juta bahkan miliyaran detik kuhabiskan dalam tubuhnya, tanpa pernah sekalipun melihat rupanya. Aku ingin memandangnya dengan sayang, mengelusnya dengan kasih juga memeluknya penuh cinta. Dengan kata “bunda sayang kamu..” yang selalu bunda bisikan setiap harinya, rasa ingin tuk segera bertatap dengannya semakin mengebu. Aku sayang bunda juga...
            kataNya waktuku disini masih disediakan lebih lagi. Belum waktunya aku mengakhiri kebersamaanku dengan bunda yang sedekat ini. Aku tak apa. Rindu memang, namun Allah tentu telah menyediakan waktu yang lebih tepat untuk aku melihat bunda, juga bunda melihat aku. Aku meninju lagi pelan.
            Bulan ke 8
            Aku diberi bunga tidur yang terasa nyata. Tentang bunda. Tentang kita, bunda. Tentang kesakitan bunda yang tiada terperi selama aku ‘menumpang’ dalam perutnya untuk memulai kehidupan. Kala aku mulai mengisi sebagai gumpalan kecil, bunda telah merasakan ketidak enakannya. Mual yang tak mengenal waktu pun pening yang tak terelakan. Berbulan kemudian perutnya membesar, memberat karena aku. ia tetap berharap besar dalam kesusahannya. Tetap berdoa untukku dalam sholat dengan kesulitannya. Tetap tersenyum menceritakan tentangku dalam lelahnya. Betapa sungguh kata apa yang tepat untuk memuji semua yang ia berikan untuk menjaga titipan dariNya.
            Allah memberiku gambaran sederhana, namun mengakar di hati kecilku. Nanti kala ku dilahirkan untuk memandang wajah bunda. kataNya, di hari itu tepat hari untuk bunda sedunia. Ah, betapa aku tak tersenyum bangga? Lihat saja bunda. Saat itu aku akan terlahir dengan sehat, tanpa kurang secuil pun, dengan tersungging senyum yang termanis. Dengan seizin Allah.
Bulan ke 9
            Aku mengulum ibu jariku, membunuh bosan juga resah. Bunda semakin sering lagi memanjakanku dengan usapan-usapan penuh rindu ingin sua, pun ayah yang semakin suka bercakap denganku lewat kalimat-kalimat guyonnya yang menggoda tawa.  
            Sebentar lagi waktuku menanggalkan nama ‘janin’ tiba. Ada kalanya aku merasa sedih juga bahagia. Sedih kala kami yang tak mungkin lagi sedekat ini, dua dalam satu. Bahagia untuk kami yang akan bersua tatap, berpeluk meluruhkan rindu, bercium mesra.  
            Aku memandang sekitar dengan lesu, tak ada gairah. Bukan karena bosan. Entah lah, rasanya ada sesuatu yang susah aku ungkapkan. Aku mengelus dinding bunda pelan, berhenti, memandang sesaat, lalu mulai mengelus lagi. Aku hentakan kaki pelan, mengiba elusan bunda. Tak ada balasan. Aku hentakkan lagi. Tetap tak ada. Aku bergeser sedikit, bergoyang sambil mengelus lagi. Akhirnya ada yang membalas. Bukan hanya bunda, ada banyak elusan sekarang. ah, geli.
            “cucu nenek tak mau diam ya, gerak mulu kaya ayahnya”
            Ayah tertawa. Hmm tadi itu nenek?
            “nanti jangan-jangan dia suka main bola lagi kaya ayahnya”
            Itu suara siapa lagi?
            “alhamdulillah berarti sehat anakku, ya to?”
            Aku menguping, walau tak memahami apa yang tengah ramai diperbincangkan. Aku kembali ke kebiasaan harianku setelah senyap hilangkan ramai. Mengulum ibu jari. Terlelap dalam.
***
            Ada yang bersinar diatas kepalaku. Semakin lama menyilaukan. Perlahan terbuka semakin membesar, sedikit demi sedikit. Air di sekitarku bergerak searah, ke lubang itu. Waktuku bersama bunda – yang sedekat ini – akhirnya berujung, berakhir. Aku masih membantu, mendorong tubuhku agar lewati lubang yang menyilaukan. Lendir dan air yang kemerahan ini sedikit banyak menolongku dan kesakitan bunda. Bunda terengah-engah, seakan udara tak banyak lagi. Sesekali lengkingan jeritan bunda berucap tasbih memekakan telinga. Ku pejamkan mata rapat-rapat.
            Seseorang membantu. Memegang kepala kecilku agak kasar. Lalu menarikku perlahan, memutar sedikit lalu menarik lagi. Kepala, tubuh, lalu kakiku satu persatu menerobos, melewati lubang menyilaukan. Dan, ah udara, suhu, suasana mengejutkanku!
            Aku menangis. Terkejut. Disini terlalu silau sampai pejaman mata tak sanggup kusibak. Mana bundaku? Aku menggeliyat di gendongan entah siapa, menangis. Aku masih berusaha menyibak kelopak mataku, ingin memandangnya. Setelah sepersekian menit aku mencari, ada rasa hangat yang tak asing menaungiku. Ada aroma khas yang menelisik penciumanku. Tanganku digenggam lalu terasa basah oleh hangatnya ciuman campuran air mata. Elusan halus ini...aku tahu! Ini bundaku, bunda terinduku! Aku memaksa menantang silau. Mengintip sedikit. Ada mata berbulu lentik yang basah. Aku terpejam. Mengintip lagi. Ada senyum melengkung indah. Aku membuka mata penuh. Wajah bunda dengan peluh yang membasahi wajahnya terekam pengelihatanku. Aku mencoba menggapainya. Pipi bunda kuelus. Aku tersenyum dengan terpejam. Allah, bunda cantik sekali.
  ***



17 Desember 2013



             



           



 
           



00:40 WIB



20 Mei 2017 , 03:30 WIB
Senyum tak bosan-bosannya kusunggingkan kepada orang yang sama-sama tengah riuh bersuka cita. Bersalaman, berpelukan sembari menangis bahagia kuualang bersama orang-orang yang merasa sama. Entah berapa kali potretku tertangkap dengan berbagai gaya. Bersama keluarga, teman, tak terkecuali sendirian.
“Salsabila....”
Aku menoleh ke asal suara. Seseorang yang amat kukenal suaranya berdiri dengan tersenyum. Seseorang yang beberapa tahun ini buatku menunduk dalam degup malu.
“Barakallah atas kelulusannya....” katanya.
****
27 September 2013, 01:20 WIB
Terik telah sepenuhnya melangit. Teduh hanya disisakan di bawah rindang pepohonan, sayangnya pepohonan di Depok hanya sedikit yang rimbun. Asap-asap mengepul, menggemul ke atas langit  dan lubang-lubang hidung yang tak sempat ditutupi. Angkot berjejal berantakan di jalan beraspal yang tak seberapa luasnya. Mencari penumpang barang satu-dua dengan teriakan mengalahkan deru mobilnya sendiri. Kepalaku tambah pening.
Kerudung kaos yang kukenakan tak lagi nyaman kukenakan sebab keringat telah diserapnya setelah tiga jam perjalanan yang dibayangi terik matahari. Kukibas kipas kecil yang tadi kubeli dengan mengangkat sedikit ujung kerudung bagian bawah. Ah...,Depok kurang ramah.
Setelah membayar angkot untuk kali terakhir aku berjalan melewati jalan kecil beraspal. Sendirian menggendong dan menjenjeng tas yang tak bisa dibilang ringan. Melangkah menuju sebuah kampus yang ayah pilihkan untukku. Kampus yang tak samasekali masuk dalam deretan nama-nama kampus yang kucita-citakan, bahkan terlintas di pikiranku. Samasekali ngga!
****
9 September 2013, 07:45 WIB
            Kupatut diri di depan cermin berulang kali. Sesekali menjinjit agar terlihat dari kepala hingga ke dada. Aku menggeleng kencang.
“Ngga cocok sama gue, Ca. Sumpah deh!”
Ica, teman sekamarku di asrama yang sama-sama tengah bersiap masuk kuliah  memperhatikan kerudung lebar yang kukenakan. Mengitariku lalu tertawa kecil.
 “Cocok kok, Bil..., Cuma sedikit acak-acakkan aja”
Aku membenarkan ucapan Ica setelah sekali lagi melihat ke cermin. kudekati Ica dengan wajahku tepat dihadapnnya. “Benerin...”.
Ica mengangguk tersenyum. Kuperhatikan Ica saat ia tengah merapihkan kerudungku. Ica sangat cocok mengenakan kerudung lebarnya yang berwarna sepadan dengan gamis lebar yang ia kenakan. Ditambah lagi perangai Ica yang santun, menambah nlai keanggunan yang ia miliki. Itu sih Ica! Lah, aku?
Baru-baru ini aku benar-benar memakai kerudung seharian, apalagi kerudung selebar ini. Sebelumnya –saat SMA—aku hanya mengenakan penutup kepala selama berada dalam lingkungan sekolah, selebihnya rambut hitam panjangku adalah suatu kebanggaan untuk kuperlihatkan.
Kemarin aku dinasihati habis-habisan oleh Ica, karena tak sengaja ku confirm ajakan Ica berteman di Facebook. Aku lupa, di laman Facebook hampir semua foto-foto yang kuunggah memamerkan rambut panjangku. Pantas saja saat itu Ica beristigfar berulang kali. Aku hanya bisa nyengir malu.  Katanya perempuan diberi kewajiban untuk menutupi kepalanya hingga ke dada. Aku sih sudah tau, hanya saja baru kali itu aku mendengar langsung ayatnya. Ica membaca artinyanya sebelum kami tidur. Ada beberapa ayat yang Ica bacakan yang membuatku berfikir sesaat. Kemana saja aku selama ini hingga baru mengetahui?
 “Kamu tahu ngga siksa untuk perempuan yang memperlihatkan rambutnya?” Ica bertanya di tengah-tengah ceritanya. Aku menggeleng.
“Dia di gantung dengan rambutnya di tengah kobaran api....”
Aku tersikap. Ica menerusakan ceritanya sambil menerawang kosong  “Otaknya sampai mendidih....”
Aku bergidik ngeri. Malam itu kuhapus semua foto-foto tak berkerudungku di semua laman sosial media.
****
3 Januari 2014, 20:50 WIB
            Aku menatap dinding dengan tatapan kosong. Al Qur’an masih kugenggam setelah tadi selesai kubaca beserta artinya. Pipiku lembab sebab ada lelehan air mata disana. Bibir kugigit pelan. Menahan tangis walau buatku meringis. Sejak dulu aku penyuka kata berbentuk sajak. Berpuluh buku puisi telah kulahap habis, juga kata-kata puitis di sosial media yang kugandrungi tiap hari. Aku salah bila telah bangga memperkenalkan diri sebagai perundung puisi, padahal ada satu buku yang belum aku ranahi tiap indah kata-perkatanya. Buku yang tengah kugenggam ini.
            Bodoh sekali manusia,  pikirku. Teramat banyak rasanya orang-orang yang menutup mata untuk sekedar membaca ayat perayat di tiap harinya, bahkan hidupnya. Apalagi merenungi artinya? Aku menggeleng sendiri. Sedikit sekali pastinya.
            Aku kembali membuka tiap lembar al-Qur’an hati-hati, takut membuat lipatan kecil di kertas cream bercetak huruf-huruf arab ini. Diujung kanan atas tertulis Al-Hijr. Aku mulai membaca dari ayat ke 16.
Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya.
            Indah! Kata-perkatanya disusun amat indah, bahkan artinya. Bintang memang selalu tampak indah bila dipandang. Siapapun pasti mengangguk menyetujui. Ya, sebab Allah sendiri yang membuat perasaan kita mengakui keindahannya. Jika saja Allah tak membuat begitu, betapa pun terang dan banyak kerlip bintang akan tetap tak terasa indah.  Aku tersenyum memandang langit dari teras kamar. Bintang bertabur dengan pendar menawan. Gugusannya membentuk rasi yang pernah kulihat di buku ensiklopedia.
Angin malam berhembus, menusuk halus kulit walau telah kubalut sweater. Rupanya angin menyuruhku untuk segera berselimut. Aku menurut.
****
2 Juli 2014, 10:30 WIB
“Berubah lo, Sabil....”
Aku menoleh ke samping kanan. Nihla telah menyamakan langkahnya denganku, berusaha berjalan bersisian di jalan setapak menuju kelas. Aku tertawa pelan mendengar ucapan Nihla. Nihla, teman sekelasku yang rasanya tak lagi dekat seperti semester pertama dulu. Aku baru menyadarinya.
“Berubah gimana? Kagak ah” Aku mengelak. Padahal aku sadar, pelan-pelan memang aku mulai berubah. Perubahan yang tak nyana menghadirkan jarak diantara kami.
“Ngga kayak dulu aja...” Nihla memandangku, lalu mencubit piku pelan.
 “....tapi bagus kok, lo tambah cantik heheh....”
            Aku dibuatnya tersenyum sipu. Bukan hanya Nihla, teman-temanku yang lain berujar sama dengan Nihla. Penasaran, aku berhenti di depan kaca jendela yang panjangnya hampir seukuran tinggiku. Bayangku terpantul disana. Seorang gadis dengan jilbab lebar pink polos, disisi kiri bahunya nampak kemilau bros –berbentuk kembang—keperakan. Dress panjang yang juga berwarna pink dipadukan dengan blazer bernuansa merah marun. Tak ketinggalan manset marun mengintip dari balik lengan bajunya.
Aku masih asyik bercermin sampai akirnya menyadari ada seseorang yang memandang sekilas dari balik jendela. Aku yang malu segera menunduk dalam dan berlalu pergi, juga laki-laki di balik jendela itu.
****
22 Juni 2016, 16:35 WIB
            Semilir sejuk menghembus halus aku yang tengah bersila di atas rumput hijau lapangan kampus. Sesekali satu-dua helai rumput mati mampir di pangkuku, menjadikanya salah satu fokusku untuk kujadikan mainan di tengah rapat yang membosankan.
            “Gimana ukhti, setuju dengan pendapat saya?”
            Suara laki-laki yang tadi pelan sekarang terdengar lebih kencang. Aku mendongak, meninggalkan tatapku dari rumput-rumput mati kearah pemilik suara. Aku heran,  pemilik suara tengah menatapku, juga orang-orang yang ada di rapat sore ini. Astagfirullah, aku ngelamun.
            “Eh...eh iya....” aku tergagap. Aku malu tak tau menjawab apa, aku malu karena tak memperhatikan dia saat bicara.
Dan sejujurnya, aku malu karena ditatap si pemilik suara. Laki-laki yang kusuka. Seseorang di balik jendela.
            Namanya Rayhan, laki-laki yang pernah kudekati di awal  aku kuliah disini. Di saat aku belum mengetahui bahwa pacaran itu tak ada dalam Islam. Malu rasanya bila teringat bagaimana dulu aku bersikap di depannya, berusaha selalu mendapat perhatian darinya, berangan tentangnya, dan selalu mencari alasan untuk bisa mengirim pesan kepadanya. Hingga suatu hari, aku mendapat sindiran halus langsung darinya, lewat pesan balasan.
Ukhti....tahu kah burung merak? Ia memang cantik, tetapi ia telah mengantongi rasa congkak karena betapa sering ia mendongak agar dilirik. Ukhti, tahu kah angsa? Hingga kini ia berhasil mengantongi predikat menawan karena betapa sering ia menundukkan pandangan dan bersikap anggun rupawan.
Berkat pesan itu aku menangis semalaman. Malu.
****
3 Maret 2017
Kepalaku pening karena terlalu lama menatap layar segi empat di pangkuan. Sekarang angka di bagian bawah kiri laptop menunjukan pukul 0:00. Tepat lima jam aku samasekali tak bergeming di depan layar, membaca tiap huruf yang terketik di lembar elektronik ini. Besok adalah hari yang teramat penting bagiku, sidang skripsi!
            Sungguh, rasanya waktu telah diputar olehNya dengan teramat cepat. Sehingga tak terasa aku telah ada di penghujung masa mahasiswaku. klise memang, bila di awal aku tidak respect menjalankan aktivitas seorang mahasiswa di kampus ini, sekarang aku merasa berat bila harus segera meninggalkan kampus mungil ini. Kampus yang bukan saja mengisahkan kisah hijrah seorang Salsabila, namun justru mengarang kisah hijrahnya sedemikian rupa.
            “Belom tidur juga dari tadi, Bil?”
            Aku menggeleng. Ica masuk ke kamar setelah selesai mengerjakan skripsinya di kamar sebelah. Bersiap untuk tidur.
            “Eh iya, Bil..., tadi sore aku kan bukber sama anak-anak kelas....” ica berujar, tak jadi membaringkan tubuhnya di kasur, ia malah mendekat dengan duduk di sampingku.
            “....Pas udahan aku kebagian ngeberesin sampah-sampah makanan. Nah, disana ada Rayhan sama si Iman lagi ngobrol serius. Ngga sengaja aku ngedenger mereka ngobrol...”
            Deg! Jantungku berdegup kencang mendengar nama Rayhan. “terus?”
            “...mereka ngobrolin tentang ngelamar-lamar gitu...”
            Aku menelan ludah. “Lamar?”
            “Iya, aku sih yakin yang mau ngelamar itu si Rayhan. Abis aku ngedenger omongan Rayhan yang bilang mau ngucapin selamat langsung ke akhwat itu dulu di hari wisudanya sebelum dateng ke rumahnya....”
            Pukul 00:40 WIB, degupku tambah tak karuan.














Depok, 23 Mei 2015
1:02




















Pemikir dan Peramu*




Ada idealisme terhidang dari pemikir-pemikir ulung, dari penyuara kata berdasar ‘ketertarikan’. Yang nyata berkontribusi di sela-sela kesibukan sendiri. Lantas terhidang tertuju insan-insan yang lahap kunyahan dari tiap suapan pengetahuan.
Lewat temu sehabis salam dan senyum, retrorika kata sederhana bermetamorfosa menjadi frosa indah penggugah, hingga sesekali kerah disentuh menunjukan betapa kami bangga mendengar ramuan penguras ketidak-tahuan kami hari itu.
Meski begitu, pemikir ulung tak menjaraki ‘ketertahuan’ nya dengan Sabda sang Maha Mengetahui barang sekelumit atom dalam kumpulan elektron. Ialah ayat yang mengakhiri tiap kerat pegetahuan yang teramat berserat.
Kenapa berserat?
Berserat sebab pengetahuan tak terbatas pendapat  satu-dua orang keras kepala. Sesekali perlu rasanya mengembalikan tanya kepada Sang Pemberi kemampuan kita untuk bertanya, agar dijawab lewat ayat lain yang belum sempat diranahi oleh para peramu macam kita.
Anggukan hadir mengikuti ritme keterpahaman akan apa-apa yang diajarkan, untuk kami yang terduduk manis di deretan baris –yang semakin kebelakang, terkadang semakin tak ditenggeri pemahaman.
Gelengan tak alpa merautkan ketidakpahaman di tengah penyampaian, secara klasik mengangkat tangan tinggi-tinggi mencoba mengambil alih semua perhatian dalam satu ketukan detik. Bertanya setelah dipersilahkan.
Lantas pemikir ulung sekaligus peramu ilmu sigap mengambil ancang-ancang untuk mendeteksi pertanyaan dengan menatap si penanyanya. Mengangguk, tersenyum, menghela nafas, dan menjawab tanpa kelupaan dengan diawali
“Sesuai Firman Allah surat sekian dan ayat sekian, Allah berfirman....”
Sekiranya karena kami mengangguk karena teramat mengerti, bumi mendapati dirinya lindu tanpa disadari. Kami terlalu memahami sebab dijejali pemaparan berdasar logika. Efek domino menjalar pada masing-masing kepala. Satu mengangguk, sejurus kemudian semua mengangguk, mengerti atau pura-pura mendalami.
Setelah digugah sebagian kami mengunggah dari balik panggung. Memperdengarkan pada telinga-telinga berkerak gelak. Mencatat lewat bayangan teknologi segi panjang di tiap masing bola  mata.
Ialah tadi implementasi baik dari kebaikan yang terkadang diputarbalikkan. Bila diteriakkan betapa belajar itu suatu keharusan, orang ogah sebab telinganya gerah. Nyatanya yang ogah selalu berteriak orang pintar gegabah.
Bagi para pemakai tuxedo picik. Pengetahuan mengajarkan meretas hukum. Bukan siapa menyalahkan siapa, namun begitu nyatanya. Hingga akhirnya hukum diciptakan bukan untuk dipatuhi, namun diciptakan untuk digunakan secara canggih.
Di satu tegap batang ada cabang mengakar. Serupa pengetahuan yang mengakar pada tiap kepala yang berbeda. Menghasilkan konsep yang tak selalu sama.
Tinggal bagaiamana seorang memeperalat pengetahuan tanpa lebih dulu menertawakan etika berkeTuhanan. Semacam para pemikir dan peramu disini yang membisiki kami dengan frosa garapan Tuhan.






Depok, 20 Mei 2015

*Dosen STEI Sebi

Rabu, 10 Juni 2015

Adalah




Memilih menyukaimu adalah membiarkan sakit tanpa diobati.
Kita sama-sama saling bertatap, tapi kita tak sama-sama saling berharap.
Menyukaimu adalah tertawa yang dipaksakan, kau melucu tentang perempuan bukan aku. Aku tertawa, kau pun tertawa. Aku terpaksa, kau tak terpaksa.    
Menyukaimu adalah mencoba sebisa mungkin menatap lingkar coklat bola matamu. Hilangkan gugup, sembunyikan kenyataan tentang sukaku.
Menyukaimu adalah bersandiwara menjadi kawan, bahkan adik. Tak boleh lebih, kurang boleh.
Sesekali menyukaimu adalah menjadi gampangan. Kapan kau butuh, kapan kau pinta, aku tak pernah alpa. Aku tak sanggup jual mahal.
Menyukaimu adalah mencarimu sebab rindu. Setelah ketemu, aku berlalu. Merindumu adalah menyapamu.
Menyukaimu adalah mendengar cerita kasihmu, kekasihmu. Aku akan berpura-pura menggodamu hingga kau tersipu. Ingin rasanya aku pergi melihat sipu malumu, sebab di depanku tapi bukan karenaku.
Menyukaimu adalah mengetik tentangmu, dengan amat detail.


Depok, 05 januari 2015


Kamis, 05 Maret 2015

Kisah, Langkah, Da'wah


Kisah, Langkah, Da'wah
zahra sabilah

Adzan berkumandang merdu, syahdunya bergelayut pada telinga-telinga manusia di akir lelap, adzan subuh telah melangit membikin sebagian manusia bangkit. Aku menggeliat pelan, mata kuperjapkan berkali-kali, mencoba membiasakan mata disilaukan cahaya lampu kembali. Dari balik pintu suara ketuk dan teriakan ummi terdengar berbarengan.
“Teh bangun, sholat.”
Aku mengangguk walau tahu ummi tak bisa melihat anggukanku, rasanya suaraku belum sanggup keluar dari tenggorokan untuk menyahut.
“Teteh, Aa, keburu subuhnya habis, loh”.
Teriakan ummi terdengar kembali, bukan lagi memanggil aku tapi juga Adib, adik lelakiku yang sama gebluknya sepertiku.
“Iyaaaa....”
Aku memaksa bangkit. Berat sekali meninggalkan empuknya kasur dan hangatnya selimut di subuh berhawa gigil ini. Astagfirullah.
Air wudhu menyapu kantukku kala kubasuh pada wajah tiga kali. Gigil dari telapak kaki yang kupijakkan pada dinginnya lantai kamar mandi menjalar hingga ke ubun, menghapus tuntas sisa-sisa kantuk yang tadi amat menahanku untuk mendirikan sholat yang hanya dua rokaat. Lantunan sholawat samar-samar terdengar dari pengeras suara masjid yang kira-kira berjarak lima ratus meter dari rumahku.
“Abi kemana?”
Tanyaku setelah menaruh lipatan mukena di lemari plastik sambil mencari sosok teduh berjenggot, sejak tadi suara berat Abi berucap salam sepulang dari masjid belum kudengar, padahal  tak lagi terdengar sholawatan dari pengeras suara masjid.
“ke Cikande.”
Ummi menjawab singkat lalu kembali meneruskan membaca Al-Ma’surat. Aku mengangguk. Jawaban singkat ummi ‘ke Cikande’ secara tak langsung –untukku— telah menerangkan tujuan Abi ke Cikande di gelapnya subuh yang dirundung gigil, Abi mau Liqo.
            Tentang abi, ia berperawakan kecil, sebab – katanya— kala belum lagi remaja kedua kakinya sempat lumpuh, menyebabkan kakinya terhambat meninggi –tingginya sekarang kira-kira sama denganku. Wajahnya teduh dengan janggut lebat yang beberapa helainya kini memutih. Alis matanya tebal dan tegas khas orang-orang padang, kampung halaman Abi nan jauh di mata. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum dengan deretan gigi putih rapihnya, senyum yang mampu menghapus sangar wajahnya. Suaranya kecil, sama sekali tak cerewet, sifat yang menurun padaku  selain alis tebalku.
            Kala shubuh belum lagi usai di akhir minggu, abi telah bersiap. Terkadang abi kembali ke rumah terlebih dahulu, mengenakan jaket hitam, memanggul tas yang lebih dahulu ia isi dengan Al-Qur’an dan buku ‘agenda’ coklat legendarisnya, buku dengan sampul coklat yang kertas-kertas putih didalamnya telah ‘memaksa’ keluar. Ah, jika melihat buku ‘agenda’ milik Abi aku seakan terhempas pada lima belas tahun silam, tahun kala aku bahagia berimajinasi di buku-buku milik Abi, terkesan dewasa saja jika imajinasi-imajinasi liarku tercurah diatas kertas-kertasnya. Jadi, hampir seluruh buku milik Abi telah tergambar bentuk-bentuk abstrak hasil goresan pensil oleh tanganku.
            Kecuali hari minggu, abi bekerja sejak pagi baru beranjak hingga maghrib sehabis senja. Jadi, ‘sebanarnya’ hari istirahat abi hanya di hari minggu dan di tanggal merah yang tak seberapa di tiap bulan. Kenyataannya, di hari yang harusnya digunakan abi untuk sejenak beristirahat tak digunakan sebagai mana mestinya. Sehabis shubuh usai, abi mengendari motor bebek merahnya melawan angin dipermulaan hari yang sering terasa menggigit, apalagi bila hujan mengguyur di tengah derunya. Jarak dari rumah ke cikande kira-kira lima belas kilo meter, menjadi tiga puluh kilo meter jika pulang-pergi.
            Kira-kira, bila jam menunjuk angka delapan abi pulang, dengan sambutan dari anak-anaknya yang menagih makanan –yang biasanya diakhiri dengusan kekecewaan karena tak ditemukan apa-apa di tasnya. Abi pulang, ummi sudah bersiap pergi, lalu abi juga ikut pergi. Setiap minggu pagi abi dan ummi menghadiri pengajian rutin tiap minggu, meninggalkan aku –sebagai anak sulung—dengan tugas-tugas rumah tangga yang bejibun. Kau tahu? minggu adalah hari terkumpulnya tugas-tugas dari senin hingga sabtu.
            Tentang ummi, ummi kini berumur emat puluh dua. Wajahnya bulat dengan mata agak sipit. Kerudung lebar yang ummi kenakan membuat anggun tiap geraknya, walau badan ummi tak bisa diakatakan kurus sebab telah melahirkan aku dan ketiga adikku. Sifat yang sama antara aku dan ummi ialah kesukaan dalam membaca, walau jenis buku yang kami baca tak selalu sama. Ummi menyukai buku-buku ilmiah bertema dakwah, atau buku-buku biografi orang-orang sholeh. Sedang aku menyukai novel berbagai genre dan komik-komik jepang, namun sesekali juga aku membaca buku yang ummi sukai.
            Bila dibandingkan dengan abi, ummi lebih aktif dalam berda’wah. Ummi bercerita, sejak masih gadis ummi telah mengikuti tarbiyah, dengan kesadaran sendiri tanpa disuruh samasekali. Ummi bukan seorang anak dari keluarga yang mengedepankan nilai-nilai islam dalam keluarganya, bukan pula seorang mahasiswi yang sudah diperkenalkan dengan tarbiyah pada masa itu. Ummi –pada masa itu—adalah seorang gadis yang punya semangat akan nilai islam, yang rindu pada keindahan islam yang tak sempat keluarganya berikan. Kini, ummi adalah seorang ibu dari empat anak. Tak pernah berdiam di rumah untuk  waktu lama, tak suka bergosip di bale-bale dengan ibu-ibu komplek, tak ada ucap ‘tidak’ bila dipinta mengisi pengajian jika ummi bisa menghadirinya, tak lelah memacu motor seorang diri ke rumah-rumah atau tempat untuk menghadiri berbagai pengajian dan acara, selama tempat itu memberi ummi ilmu untuk kembali ummi sampaikan kepada orang lain.
            Punggung tangan ummi jauh lebih hitam dari wajahnya, sebab sengatan matahari kala ummi bepergian mengendarai motor seorang diri. Dengan lihai ummi memacu motornya tiap kali pergi ke suatu tempat, meninggalkan aku dan adik-adikku di rumah, walau sesekali si bungsu ikut bila tak bisa dirayu untuk tidak ikut, bukan apa-apa, ummi hanya kasihan membawa anaknya panas-panasan dan ngebul-ngebulan diatas motor. Aku ingat dulu, ketika aku baru memiliki dua adik ummi sudah sering meninggalkan kami. Saat itu aku masih duduk di bangku SD dengan dua adik yang berselang masing-masing satu tahun. Sepulang sekolah biasanya aku mendapati kertas atau papan tulis kecil berisi tulisan yang memberi tahu bahwa ummi tengah mengaji dimana, pulang jam berapa, dan pemberitahuan ada makanan apa di dapur.
“teh, ummi ngaji di Ciujung, pulang jam satu, di dapur ada sop sama ikan”
            Pernah suatu hari aku dan adikku merasa amat sedih ditinggal ummi. Waktu itu hujan deras mengguyur disertai kilat dan gemuruh petir, di tengah ketakutan kami lampu tiba-tiba padam, membuat kami tak diberi hiburan samasekali, bahkan dari televisi. Atap dapur kala itu masih berupa seng yang menjadi amat bising bila dijatuhi rintik hujan, karena telah rapuh dan tidak kuat menampung hujan tiba-tiba salah satu seng yang menjadi atap dapur jatuh, mengagetkan tiga anak kecil yang tengah menati umminya pulang. Lalu menangislah kami bertiga, kedua adikku menangis sejadi-jadinya, sedang aku sebagai kakanya berusaha menahan tangis dengan amat susah payah, masih terasa bagaimana sesaknya hingga sekarang.
            Bisa dibilang ummi tak pernah menganggur barang satu hari, bahkan di hari minggu seperti hari ini.
            “teh, ayo ikut senam” ucap ummi sambil mengenakan kaos kaki coklatnya. Jarum panjang dan pendek jam menunjuk angka enam, ummi telah rapih dengan kerudung kaos berwarna donker dan celana lebar ‘setengah’ roknya, bersiap mengikut senam rutin yang diadakan ibu-ibu PKK tiap minggu.
            “Nggak ada sepatu, Mi”
Aku beralasan.
            “Ah, bilang aja teteh males....”
            Aku tertawa. Tuh, ummi tau.
            “....Kemaren alesannya nggak ada kerudung, sekarang nggak ada sepatu?”
            “Yee..minggu kemaren emang kerudung teteh direndem semua, kan ummi yang yang nyuruh.”
            “Emang sepatu teteh sekarang kemana?”
“Tuh...” aku menunjuk sepatu ketsku yang tengah bertengger diatasa pagar. “ Abis dicuci tadi. Kan, ummi yang nyuruh.”
Ummi menyerah mengajakku senam dengan berucap ‘dasar’ diakhir percakapan. Setelah mengenakan sepatu senam, ummi bangkit beranjak pergi dengan berucap salam. Dari dalam rumah aku sempat mendengar suara ummi samar-samar.
            “Teteh udah gendut banget, tau......”
            Aku segera bercermin.

Pagi ini hari Minggu. Hari yang ramai-ramai dijadikan banyak keluarga untuk bertamasya atau sekedar jalan-jalan di taman sekeluarga. Atau hari yang dijadikan waktu untuk istirahat sehari penuh dengan malas-malasan menonton TV dan tidur. Atau malah hari yang diisi beragam acara seharian. Keluargaku adalah keluarga yang menjadikan hari minggu seperti pilihan terakhir.
            Selesai senam, ummi mengganti baju dengan gamis cokelat muda dan kerudung segi empat lebarnya yang berwarna sepadan, bersiap mengikuti pengajian di salah satu sekolah islam terpadu yang setiap minggu rutin diadakan. Dibonceg Abi yang telah kembali dari Cikande, ummi kembali pergi. Biasanya aku tidak ikut, juga adik-adikku. Kami di rumah akan menunggu abi dan ummi dengan harapan mereka membawa berbagai makanan sepulangnya dari sana. Bedanya kepergian ummi dan abi adalah kepulangannya, abi tak akan membawa apa-apa, sedang ummi akan membawa apa-apa, entah sisa atau memang pemberian dari teman ummi yang baik hati. Dan benar saja.
            “assalamu’alaykum....”
            Mereka pulang. Aku dan adik-adikku yang tadinya sibuk masing-masing berhamburan menuju pintu untuk menyambut kedatangan mereka, bertanya ini-itu, memeriksa tas yang ummi bawa, mendapatkan makanan, lalu saling berebutan.
            “Teh, tadi pembicaranya ustad.....”
            Ummi mulai bercerita. Aku mendengarkan sambil melahap pisang goreng oleh-oleh ummi. Pisang goreng yang awalnya ada enam kini tinggal satu, menjadi bahan rebutan adik-adikku.
            “Bagus banget pembahasannya, tentang karakteristik perilaku sahabat-sahabat Rosulullah....”
              Aku menyimak dengan seksama. Suara tangis terdengar, pisang yang tinggal satu menjadi sebab adik bungsuku menangis. Ternyata pisang rebutan telah dilahap abi tanpa dosa. Ummi masih bercerita dengan antusias, sesekali ditimpali oleh cerita abi. Aku mengangguk-angguk menyimak.
            “Mi, mau silaturrahmi ke rumah bu Ai mau nggak?.”
            Tanya abi dari arah dapur. Percakapan kami tentang pengajian tadi telah usai. Ummi yang kini bercerita tentang temannya menghentikan ceritanya, mengiyakan ajakan abi sambil memakai kembali kaus kakinya. Aku menelan potongan pisang goreng terakhir, menatap ummi dan abi yang sudah siap pergi lagi. Kau tahu? dari wajah mereka tak tampak sama sekali guratan lelah.
            “Umi berangkat ya teh, jagain adeknya jangan ditangisin. Assalamu’alaykum.”
Kembali suara motor yang kuhapal derunya terdengar, semakin lama semakin kecil lalu menghilang. Kutatap kepergian mereka hingga tak terlihat lagi. Berdo’a semoga Allah melindungi tiap jengkal langkah mereka.

Teruntuk abi dan ummi yang tak lelah pada langkah. Tak usah susah meninggalkan, sebab kami tahu kalian alfa dalam tapak yang salah. Maaf, sebab sesekali kami malah marah, ditinggal kalian yang kami tak tahu arah.  Biar kami iring dengan do’a mengadah, semoga sebelum hujan semesta kembali menelaah, dan semoga abi juga ummi selalu melulu berdakwah, dibawah naung senyum sang Illah. Tetang kalian –dengan amat bangga— aku berkisah.
           
             
Serang, 02 Februari 2015