Kamis, 21 April 2016

Perempuan Tahu Malu



Tuan, aku ialah kepandiran yang kucipta.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Kita adalah kontradiksi yang aku maknai sendiri. Ibarat semesta, kau buminya, aku serpihan meteorit yg telah menerobos paksa atmosfermu.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Penuh hipokrit bila dengan pura-pura aku tak mengintip malu-malu dari jarak yang tak bisa disebut dekat.

Tuan, apalah aku. Perempuan tahu malu.
Yang ketika aku mengetik elegi ini, kau bahkan tengah melangit dengan takzim. Berdoa.
Meminta agar Tuhan memberimu kebaikan sebanyak hujan.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Yang dengannya aku dituntut perihal menjaga prestise seorang wanita -MALU-

Rabu, 20 April 2016

Pui-tis Ekonomi-tis

“Dahulu, dengan dua mata masing-masing, kita beradu, melihat binar bahagia atau malah embun di pelupuk mata. Jika ucap tak sanggup bersuara, mata bisa jadi isyarat penggantinya.
Dengan mulut yang melulu bersuara, kita bercerita tentang semesta yang padanya kita bermanja, kita masih suka berkisah tentang dunia dari atas pohon-pohon yang kita panjat, kita lebih suka bersapa dengan suara, walau hanya serupa bisik tak berisik.
Dengan tangan yang selalu mengenggam, kita bergandeng bersisian. Menggenggam untuk bersalam, menggenggam untuk membangkitkan, menggenggam untuk beramah-tamah. Kita miliki tangan untuk mengusap halus kepala-kepala yang tertunduk. Menepuk pundak-pundak yang setara dengan perut. Mengadah tangan selaras dengan dagu, meminta khusyu’ kepada Dzat yang jiwa kita di genggamNya.
kita bahagia, sesederhana berkedip tiap sepersekian detik. Sebab menginginkan sesuatu tak serumit, tak sememaksa, tak sesering kini. Kita bahagia, sesederhana angin membantu gugur daun-daun. Sebab belum nyata pemikiran rumit semisal pra-klasik, klasik, sosialis, juga neoklasik yang dihamba kaum kapitalis, kita masih alfa mengeja kata-kata kaku serapan. Kita bahagia, sesederhana benih dandelion yang beterbangan bila tak sengaja tertiup. Sebab kita belum dijamah konsep-konsep matrealistis, menyekap diri pada bayang bahagia semu.
Kita bahagia, sebab negri  sederhana. Nafsu tak rakus memperalat, yang menjadikan manusia bukan lagi manusia.”
“Sekarang, mata-mata tak sempat lagi beradu, bayang kawan di jernih bola mata terganti terang layar segi panjang. Pening bukan alasan untuk berhenti memandang, kita beralasan sedang berkawan pada ratusan, bahkan ribuan orang.
Mulut tak lagi sering bersuara, ucap antara manusia kalah dengan cicitan burung berlagu. Kita lugu nyata, namun liar maya.
Pada tiap genggam-genggam tangan, bukan lagi bertaut tangan kawan. Kita lebih nyaman berkata tanpa suara, menerka sedih, bahagia lewat huruf-huruf bereja rasa, kita mengetik dengan genggaman layar segi panjang. Kita meratap pada kalimat yang sengaja dibuat, berharap senyum sekaligus dekap, walau sekadar gambar wajah berbentuk bulat-bulat. Senyum dan sedih hanya berupa kurung buka dan tutup.
Teknologi menggerus degup bahagia kala temu, memotong sungging senyum ketika tak lagi bercerita kisah konyol berhadapan, menyekat dekap tak lagi erat, sebab kita memilih bersekat jarak. Manusia-manusia berpacu dalam waktu yang dibilang tak cukup melulu, merakit perangkat-perangkat mekanik pelik, mencipta layar segi empat bertambah pintar, sedang manusia bertambah bodoh.
Kini, tak peduli batasan yang coba batasi kemauan, padahal kepuasan tak berbatas rasa puas. Hingga akhirnya banyak manusia-manusia terbelenggu dalam tanya ‘bagaimana’ menghapus dahaga pemuas dengan jerat muslihat. Lantas Konsep-konsep yang ramai digadang-gadang para ahli kapitalis berseru lantang, menitik beratkan pada keuntungan sendiri, bebas terlepas dari sekat batas norma, bahkan agama.”  

Langit seakan hendak diajak beradu, siapa yang lebih tinggi ia pantas bertitel juara. Gedung-gedung memang sengaja dibuat sebisa mungkin mencakar langit. Bertingkat-tingkat, beruang-ruang, berpundak-pundak untuk satu-dua manusia. Semakin tinggi diantara yang tinggi semakin besar degup bangga bertabuh sombong. Namun, menunduklah setara tanah. Rumah tak be-ruang didiami empat-lima manusia. Sekali lagi, menunduklah setara tanah, lelap lelah mereka beralas tanah.  
“itu adalah perang sunyi, alih-alih yang mati adalah seorang tentara, namun nyantanya anak-anak kecil lah yang mati. Itu adalah perang dunia ke tiga, dengan interest sebagai salah satu senjatanya.”



Selasa, 19 April 2016

Laki-laki di Depan Meja: bag 2




Pagi mengulang kembali. Membangunkan kehidupan dari mati sementara selama lelap. Pagi itu seperti pagi biasanya, bising lalu lalang, riuh orang-orang berseragam, dan wangi daun rimbun yang tumbuh di jalan setapak sekolahan. Aku mulai terbiasa.
Bel berbunyi tepat saat kumasuki bingkai pintu kelas. Kusenyumi orang-orang yang menyambutku hangat, lalu duduk di bangku kedua baris kedua, di samping seorang teman berkacamata.
Semua terjadi seperti biasanya. Guru masuk, mengabsen satu-satu, menerangkan, menjawab jika ditanya, dan pergi dengan tak lupa memberi tugas sebelumnya. Bel berbunyi lagi, waktunya istirahat.
Lalu aku akan bergabung dengan teman-teman asyikku. Bercerita laki-laki ini dan itu, perempuan ini dan itu, dan berkarouke ria diiringi musik dari handphone nexian querty milik teman yang paling ngehits saat itu. Aku ingat sekali lagu yang terlalu sering aku nyanyikan, Last Child-Pedih.
Semua seperti biasa hingga laki-laki itu masuk ke dalam cerita. Dia laki-laki yang kemarin sempat kuceritakan, laki-laki di depan meja.
Dia menghampiri kami. Mengobrol dengan temanku. Karena tak ada kerjaan aku ikut mendengarkan. Selesai mengobrol dengan temanku ia menghadap ke arahku, memulai obrolan dengan sesekali mencoba melucu. Seperti biasa aku hanya bisa tertawa. Dia bercerita banyak hal tentangnya, tanpa aku tanya. Dia bertanya tentangku yang kujawab sekenanya. Pada ujung percakapan dia kembali bertanya.
                “boleh minta nomor hp kamu?” tanyanya.
                Aku mengangguk walau sedikit ragu. Saat itu aku belum terlalu tertarik untuk berbalas pesan dengan seseorang. Walau pada akhirnya aku mengeja nomorku untuknya, karena tidak enak bila kutolak, toh itu cuma nomor handphone.
Malam itu satu sms masuk. Nomor baru. Aku membacanya dan bisa kutebak siapa yang mengirimnya, yap! laki-laki itu. Aku lupa apa yang kami obrolkan malam itu. Yang pasti setelah beberapa kali berbalas pesan aku mulai bosan. Dia seru sekali bila mengobrol secara langsung, tapi tidak ketika beralas sms. Malam itu juga kebetulan ada film yang seru di TV hingga aku lupa kalu aku belum membalas pesannya.
Satu sms masuk. Suara getar handphone sedikit terdengar. Ternyata nomor laki-laki itu. Karena malas aku tidak membukanya dan meneruskan menonton. Dua sms masuk, aku masih tidak peduli. Tiga sms masuk. Aku mulai sedikit kesal dan menjauhkan handphoneku dengan manaruhnya agak jauh. Walau begitu getarnya masih terdengar. Empat sms masuk, lima sms masuk, enam sms masuk, tujuh sms masuk, delapan sms masuk, Sembilan sms masuk, sepuluh sms masuk…..
Aku tak habis pikir. Itu semua pesan dari laki-laki itu! Kuraih handphoneku yang masih terus menerima pesan dengan terpaksa. Itu sms ke dua puluh tujuh! Aku yang kesal mulai geleng-geleng kepala. Lalu tertawa sendiri sambil terus memegang handphone yang terus bergetar. Pada akhirnya, sms darinya berhenti kuterima, mugkin dia bosan sebab samasekali tak kubalas. Empat puluh sms masuk!
Esoknya kami membahasnya. Dia bilang sedang banyak pulsa, aku bilang aku telah tidur lelap. Kami sama-sama berbohong dan sama-sama tertawa.
Dia selalu tak biasa.



Depok, 4 April 2016


Senin, 18 April 2016

Laki-laki di Depan Meja



Mendung. Langit merundung kelabu. Hawa dingin menembus paksa sweater coklat yang sengaja kukenakan. Langit berencana menurunkan hujan, namun nyatanya hujan enggan turun, atau belum. Lalu hanya rintik halus yang mengenai wajahku –yang langsung mengering seiring angin di atas motor yang menerpa wajahku. Dingin.
Kucium punggung tangan Ibu, melambai ke arahnya, melihat laju motornya menjauh sambil berjalan buru-buru memasuki gerbang sekolah. Hari itu ujian akhir semester.
Ada empat barisan kelas di sudut paling belakang sekolah, kelasku di barisan ke dua. Bukan kelas biasanya. Kelas itu hanya berlaku saat ujian. Di tiap meja ada kertas segi empat yang menempel di sisi kanannya, menjelaskan siapa yang harus duduk di meja itu. Aku duduk di barisan paling belakang dekat dinding. Terkadang aku berterimakasih sebab Ibu memberiku nama dengan awalan abjad Z. setidaknya saat ujian –walau aku tidak pernah mencontek- aku bisa tenang dan santai tanpa harus mendapat tatapan mengerikan dari pengawas ujian.
Yang ingin kuceritakan bukan tentang ujian ini –walau memang karena ujian itu cerita ini ada- tapi tentang seseorang, yap! seorang laki-laki. Laki-laki yang duduk tepat di depan mejaku.
Dia tipikal laki-laki yang suka bercerita walau tak pernah kupinta untuk bercerita. Dia suka sekali bertanya walau aku jarang balik bertanya padanya. Dia suka mencoba menjadi lucu di hadapanku, dan yang kulakukan hanya tertawa. Dia pemberani, terlalu pemberani.
Aku duduk. Mengeluarkan ringkasan yang kubuat malam hari dan mengulang membacanya. Lalu bel berbunyi bersamaan dengan masuknya laki-laki itu dari bingkai pintu. Dia duduk di depan mejaku, menghadap ke arahku. Tersenyum.
“sini ringkasannya, aku nyontek” katanya.
Aku memandangnya lalu menggeleng tertawa. bukannya pelit atau takut nilainya lebih bagus dari nilaiku. Itu murni karena aku tak suka dengan orang yang mencontek. Serius. Tapi dia tetap mengataiku pelit.
Pengawas masuk. Buru-buru kumasukkan ringkasanku. Mengeluarkan kartu ujian, papan ujian, dan tempat pensil. Aku terkejut. Pensilku tidak ada.
Aku memandang sekeliling, menanyai teman di samping mejaku, meminjam pensil. Tak ada yang membawa dua pensil. Aku panik, yang lain sudah mulai mengerjakan soalnya. Argh, Aku memandang kearah laki-laki itu, walau aku tahu dia tak akan punya dua pensil.
Dan benar, dia hanya punya satu pensil yang ia bawa bersama papan ujian, tanpa tas.
                “ngga ada pensil?” tanyanya.
                Aku menggeleng.
                “bentar…”
Laki-laki itu berbalik mengambil pensilnya. Itu pensil 2B yang masih baru karena baru dua hari dipakai ujian. Pensil biasa, tidak ada yang istimewa. Dia memegang pensil itu dengan dua tangan, masing-masing tangan memegang ujung pensil dan……trek! Pensil itu ia patahkan menjadi dua bagian sama panjang. Dia memberiku pensil yang runcing, sedang dia bagian yang tumpul. Dia tersenyum, berdiri lalu berjalan mencari serutan pensil di meja paling depan. Aku melongo.
Dia kembali duduk. tidak menoleh ke arahku. Pensil sebagian yang ia serut ujung patahannya ia gunakan untuk mengerjakan soal.
Aku ingin tertawa tapi ini kan ruang ujian.
Kutoel bahunya dengan pensil pemberiannya. Berucap terimakasih. Bukan untuk pensilnya, sungguh. itu ungkap terimakasihku karena telah memberiku sepotong pensil dengan caranya.
Terimakasih, Wan, sampai kini.

Depok, 4 April 2015







Rabu, 06 April 2016

Perempuan yang Menungguku Pulang


Depok, Maret 2016
Angkot berangka 106 melaju pelan, membelah  keramaian jalan Depok di pagi menjelang siang. Di jalan beraspal mobil mengular, sedang motor mencari celah untuk terus melaju diantaranya. Suara klakson sahut menyahut, ditimpali dengan teriakan sang sopir. Ditambah lagi semesta samasekali tak bersahabat, rasanya matahari dan angin tengah bersengkokol untuk libur sementara waktu. Kubuka jendela di belakangku selebar-lebarnya, mempersilahkan angin untuk masuk agar mengenaiku. Nihil.
Kuurut kening pelan sambil memejamkan mata, mencoba mengurangi pening yang ada. Dalam pejam bayang seseorang tertayang, Salma.
****
Jakarta, November 2011
Saat itu, sedetik masuk ke gedung berpintu kaca, aroma teramat khas menyeruak masuk penciumanku, membuat hidungku sedikit agak terganggu. Lorong-lorong bernuansa putih mendominasi, suara-suara roda dan suara seperti kaleng terdengar sesekali. ketika memasuki tempat ini tadi, rasanya aura asing menjalar masuk ke tubuh. Tempat yang tembok dan lantainya lebih dingin dari tempat lainnya, Rumah sakit.
 “Assalamu’alaykum” salah satu bangsal kumasuki. Memandang sekeliling ruang serba putih lalu tersenyum kearah perempuan yang tengah terbaring di salah satu ranjang. Salma terpejam. Tidur.
Matanya terpejam dalam, lentik bulu matanya sesekali bergerak mengikuti kelopak. refleks karena alam bawah sadarnya tengah menyelam hingga dasar mimpi. Bibir tipisnya serupa orang yang tengah mengalami dehidrasi, kering dan pucat. Di punggung tangan sebelah kanannya menempel balutan plester putih, menahan jarum infus yang mengalirkan cairan obat agar masuk ke darahnya.  Salma Hafifah, nama perempuan terpejam itu, yang nantinya tiap terlintas di bayang ingin melulu kutemui, lalu kudekapi.
            “Sakit apa, Bi?”
            Aku bertanya, padahal baru saja diberitahu sejelas-jelasnya. Aku hanya sulit mencerna perkataan Abi barusan. Ummi berdiri disampingnya, memandangku dengan tatap menyiratkan kerapuhan. Nampak terlihat dari kilatan bening di matanya.
“leukemia, Gung. Kanker darah”
Aku mematung sejenak. Tidak menunjukan ekspresi kaget yang berlebihan, biasa saja, seperti halnya kau mendengar saudaramu terkena demam yang parah, namun dalam waktu yang lama. Semua penyakit ada obatnya, kan?
*****
Jakarta, Juni 2012
Setelah tiga kali pindah rumah sakit. Mulai saat itu, untuk waktu yang amat lama Salma akan menjalani pengobatannya di rumah sakit khusus kanker, Dharmais.
Salma memulai kemoterapinya. Selang bening mulai mengalirkan cairan putih ke pembuluh darahnya. Memberikan gempuran besar-besaran terhadap sel-sel kanker yang membelah seenaknya, juga pada sel-sel sehat di darahnya. Ia terlihat pucat. Entah apa yang tubuhnya rasakan, tapi aku bisa sedikit meresapi kesakitannya. Mungkin sepersekian nol koma persen.
Setelahnya ia mual. Tubuhnya lemah. Ia mulai muntah. Cairan yang tengah menggempur sel-sel kanker di dalam membuatnya kacau di luar. Kalau sudah seperti itu mau tak mau Salma harus diopname satu atau dua hari. Allah…apa yang bisa aku lakukan lagi selain berdo’a?
Usianya baru belasan tahun. Masih teramat muda. Tapi hatinya sedewasa-dewasanya orang dewasa, tapi tubuhnya sekuat-kuatnya orang kuat. Tingkahnya serupa anak seumurnya, tapi ucapnya mendewasakan, menyabarkan, pun menguatkan untuk dirinya juga orang-orang yang memperhatikannya. Fisiknya memang divonis sakit, tapi jiwanya tidak. Dengar tawa lepasnya, dengar cerita serunya, dengar canda hebohnya, kau bahkan tak akan menyangka jika dokter sudah memperkirakan hingga kapan tubuhnya sanggup bertahan.
Salma kesakitan –lagi— bukan ketika jarum menembus kulit lengannya, tapi setelahnya, ketika cairan yang disuntikkan di punggung tangannya mulai masuk ke pembuluh darah, bercampur menyatu lalu ikut mengalir ke seluruh tubuh. Lengannya panas, serasa terbakar di dalam. Tapi dia tetap Salma, setelahnya semua seakan baik-baik saja. Mengeluh dan mengalah bukan caranya menunjukan lelah.
*****
Serang-Rumah, Februari 2013       
Ternyata demam samasekali tak bisa disamakan dengan leukemia.
            Siang itu aku terhenyak di tengah tawa. Canda kami berubah canggung. Segenggam rambut ada di tangan kanan adik bungsuku, Haykal. Bukan sisa potongan rambut yang sengaja dipotong, apalagi rambut boneka. Bukan. Itu rambut asli. Rambut yang tercabut dengan mudahnya dari kulit kepala Salma. Rambut Salma mulai rontok.
            Kau tahu apa yang terlintas dipikiranku saat itu? Tak percaya. Apa yang diperbuat penyakit ini kepada Salma? Apa yang dilakukan selama ini oleh dokter-dokter yang tiap minggunya kami datangi? Atau, apa yang kemoterapi telah rubah setelah hampir tiap minggu Salma menahan sakit ketika cairan keras itu bercampur darahnya? Aku dikacaukan sedih.
Sedang Salma? Dia masih sanggup tertawa, seakan hanya dengan tertawa saja leukemia yang tengah mendera lenyap tak meninggalkan sisa. Ia masih memiliki wajah ceria, walau ketika relaps wajah cerianya dimendungi rona pucat. Ia masih punya sejuta cerita untuk diungkapkan, perihal sakitnya, teman sesama penyandang leukimea, bahkan aku. Kakaknya.
Cerita yang buatku selalu ingin bercerita juga. Tentang duniaku kepadanya, sampai sekarang, walau kesempatan itu terlalu cepat tiada.
“Salma tau, Salma lagi diuji sama Allah. Dosa Salma lagi dihapus pelan-pelan sama Allah”
Aku menatapnya dalam. Terlalu pelan, Ma. Gumamku. Untuk dosa seorang gadis berusia lima belas tahun, dosa sebesar apa yang harus dihapus? Hingga satu-satunya jalan menghapusnya hanyalah lewat sel-sel kejam yang bermetastasis di darahnya.
Saat ini aku bahkan percaya Salma tak miliki dosa lagi.
****

Jakarta, juli 2014
Itu perjalanan kesekian kalinya. Perjalanan menuju Dharmais untuk kembali menjalani kemoterapi. Salma mulai terlihat berbeda. Badannya menjadi lebih gemuk, akibat efek dari obat-obatan yang selama itu ia terima, di tangannya banyak luka kecil kehitaman bekas berbagai macam jarum suntikan, jarum yang tangannya telah kebal merasakan runcing ujungnya.
Kepala yang tak lagi berambut ia tutupi dengan kerudung kaos hitamnya. Beberapa hari sebelumnya Salma meminta rambut sebahunya dipotong habis, mengingat rambutnya sudah benar-benar mengalami kerontokan. Masker menutupi wajahnya sebagian. Bukan menghindari menularnya leukemia ke orang lain, tapi menghindari ditulari penyakit oleh orang di sekitarnya. Sebab flu sedikit saja butuh waktu lama untuk mengenyahkannya.
Aku duduk disampingnya. Memandanginya sebentar lalu menerawang, tanpa disadari ketakutan muncul dalam benak. Pertanyaan menakutkan diawali kata ‘kalau’ memenuhi kepalaku. Saat itu aku buru-buru meminta maaf dalam hati, kepada diri sendiri. Meminta maaf sebab sempat meragukan adanya kesembuhan.
*****
Serang-Rumah, 24 Januari 2015
Siang itu Salma relaps. Tubuhnya lemas dan mual hebat. Kepalanya pening hingga ia memilih untuk berbaring sepanjang hari. Ia nyeri luar biasa di sekitar dada dan perut, terlihat dari kerasnya Salma memukul-mukul perutnya. Nafasnya sengal, seakan oksigen tak sudi masuk ke rongga pernapasannya. Nafasnya serupa orang yang tengah cegukan, di tiap hirupan mengeluarkan bunyi yang menggambarkan kepayahan. Lalu jebol lah pertahanannya yang selama itu ia tahan. Ia menangis terisak. Ya Allah
Kalut mengatmosfer kami sekeluarga.
Ummi menjadi sandaran Salma untuk berbaring. Memijiti kepala juga perut Salma, berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa sakit yang tengah dirasakan gadisnya. gadis kecil yang melulu ingin ia dengar tawanya, bukan lenguh sakitnya, gadis kecil yang ia tunggu sembuhnya, gadis kecil yang ia ingin lihat dewasanya. Jika ada alat yang bisa menampilkan derajat kesedihan seseorang, aku yakin saat itu Ummi berada ditingkat teratas.
Seharian itu Salma tak lepas dari pengawasanku, juga Abi dan Ummi. Bergantian kami memijiti perut Salma yang membengkak. Aku memandang Salma keseluruhan. Tubuh, tangan, perut, kaki, juga wajah cantiknya, ya Allah….bahkan sudah membengkak hampir seluruhnya.
“Astagfirullah….ya Allah, sakit….ampuni Salma….” Ungkapnya terbata. Ummi menangis tertahan. Abi membuang pandangannya. Aku menatap ketiganya sendu.
*****
Serang-Rumah, 25 Januari 2015
Riuh ramai samar-samar terdengar dari luar. Semesta kembali memulai cerita. Pagi itu tak terdengar lagi suara tangisan Salma seperti kemarin. Salma kembali seperti Salma biasanya. Aku menatapnya lega, sambil berusaha untuk tidak membayangkan ketakutan yang akan terjadi kedepannya.
Sayang, apa yang kutakutkan terjadi.
Ia yang kuat kesakitan lagi. Adikku yang cantik itu menangis lagi. Anak gadis Abi Ummi yang selama sakitnya tak sedetikpun kehilangan harapannya untuk sembuh itu memukul-mukul perutnya lagi. Teteh untuk kedua adik kecil yang selalu merindukan menjadi bidadari syurga itu sulit bernafas lagi.
Jakarta- Dharmais, 26 Januari 2015
Salma dibawa ke UGD. Selang infusan dipasang di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan obat dari kantung infus yang digantung pada besi tinggi. Alat pembantu pernafasan berwarna hijau dipasang untuk membantunya bernafas.
Jakarta-Dharmais, 27 Januari 2015
Setelah sempat pulang ke rumah aku kembali ke Dharmais. Keadaan Salma mengalami kemunduran. Di dadanya sudah banyak tertempel alat serupa kabel yang entah namanya apa. Aku mendekati Salma yang tengah mengeluarkan kata dengan terbata.
“Ummi, Abi, Aa…udah ya ikhlasin Salma. Sakit…Salma sakit….astagfirullah”
Deg. Dadaku seperti dihimpit benda keras. Sesak. Ummi mulai menangis sesegukan lagi, abi yang selama itu megontrol tangisnya tak sanggup lagi membendungnya. Abi kalah oleh air mata. Aku mematung. Salma terpejam.
“bi peluk Salmanya…” suaraku bergetar. Abi menurut, dipeluknya Salma dengan memangkunya. Tak lama Salma membuka matanya, memandang aneh apa-apa yang di sekitarnya.
            “kok Salma masih disini? Syurga itu enak bi. Salma mau disitu”
Jakarta-Dharmais, 28 Januari 2015
Salma bangun. Seperti kemarin tak terjadi apa-apa, wajahnya cerah. Aku berucap syukur ternyata apa yang aku takutkan sudah terlewati. Aku sedikit bercakap dengannya sambil menyantap sarapan. Sayang, lagi-lagi itu tak bertahan lama.
Salma kejang. Tubuhnya mengejang tak terkendali. Setelah beberapa menit, tubuh Salma yang sebelumnya kaku –saat kejang—kini sudah melemas. Tak bergerak. Terpejam.
*****
Serang, Maret 2016
Langit senja berarak datang. Lukisan mega berkanvas oranye perlahan mendominasi langit sore. Semilir angin lembut menggaung di telinga. Hamparan rumput di sekitarku menari dengan angin sebagai musiknya.
Aku mengunjungi Salma, perempuan yang menungguku pulang. Yang kini berada di peraduannya menunggu syurga. Kutitip ia pada makhluk-makhluk langit yang kuyakin akan menjaganya, melebihi ketika keluargaku menjaganya.
Salma Hafifah. Inspirasi terakbar dalam semestaku sekarang. Tak peduli seberapa jahatnya leukemia menyakitinya, ia tak pernah menyalahkan Dzat yang memberinya penyakit itu.
“Allah tahu apa yang terbaik untuk Salma.…” ungkapnya, kala Ia masih menjelma makhluk dunia.  Sekarang? Ia menjelma bidadari nirwana, seperti cita-citanya.
Ah, Salma...Aa rindu sekali...