Jumat, 05 Agustus 2016

Perjalanan; memilih pergi atau pulang.



Perjalanan,
Adalah tentang jarak yang harus ditempuh, waktu yang mesti diburu, dan riuh. Atau tentang perkenalan sekaligus perpisahannya, panas kemudian dinginnya, bau-bau kendaraan dan wewangian para penumpang.
Khalayalan melayang. Tanpa suara berbicara pada bayang di jendela. Sesekali mencoba menatap mata sendiri dalam pantulan, menyadari bola mata yang lebih jarang dipandang dibanding memandang bola mata keluarga, teman, atau kamu.

Seberapa jauh, seberapa lama, seberapa mahal, perjalanan hanya untuk dua; memilih pergi atau pulang.

Adalah tentang pergi. Sebab tuntutan adalah titah yang harus dituruti, menyisakan perpisahan untuk orang-orang yang ditinggalkan dan meninggalkan.  
Juga tentang pulang. Ketika kesepian tinggal satu-satunya teman, atau kerinduan sesaknya sudah bukan kepalang. Pulang adalah kebutuhan. Tiga kali dalam sebulan, laiknya obat.

Atau kamu, alasan aku menyabarkan jauh. Sekedar untuk  menjinakkan rindu yang bertepuk sebelah tangan.





Depok, 05 Agustus 2016

Minggu, 12 Juni 2016

Menyukaimu adalah mengetik tentangmu, dengan amat detail


Memilih menyukaimu adalah membiarkan sakit tanpa diobati. Kita sama-sama saling bertatap, tapi kita tak sama-sama saling berharap. Menyukaimu ialah tertawa yang dipaksakan, kau melucu tentang perempuan bukan aku. Aku tertawa, kau pun tertawa. Aku terpaksa, kau tak terpaksa.    
Menyukaimu adalah mencoba sebisa mungkin menatap lingkar hitam bola matamu. Hilangkan gugup, sembunyikan kenyataan tentang sukaku. Menyukaimu adalah bersandiwara menjadi kawan, bahkan adik. Tak boleh lebih, kurang boleh. Sesekali menyukaimu adalah menjadi gampangan. Kapan kau butuh, kapan kau pinta, aku tak pernah alpa. Aku tak sanggup jual mahal.
Menyukaimu adalah mencarimu sebab rindu. Setelah ketemu, aku berlalu. Merindumu adalah menyapamu. Menyukaimu adalah mendengar cerita kasihmu, kekasihmu. Aku akan berpura-pura menggodamu hingga kau tersipu.  
Menyukaimu cukup hanya mengetik tentangmu, dengan amat detail.



Depok, 05 januari 2015

Rabu, 01 Juni 2016

Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?


Hai, sepi. Terimakasih telah memberi ruang untuk berbicara tanpa didengar siapa-siapa. Yang pada heningnya memberi kesenduan yang menawan, layaknya pohon di jantung hutan, merunduk dengan tari semilir –ranting bergoyang, daun melambai. Atau jeda sementara, dari riuh masalah dan pekak semesta, membuat pejaman sepuluh detik saja menentramkan.
Waktu benar-benar serius merubah tiap detiknya semakin cepat, atau aku saja yang melambat? Sepi datang seakan hanya sekelebat lewat, seperti tiap kilat sebelum gemuruh di masa penghujan.
Semoga sepi datang. Agar hening dirasa, seperti saat di rahim dulu, hanya terdengar degup halus jantung ibu. Dan bisakah sedikit lebih lama lagi?
Ada lelah yang dirasa dari tuntutan, peraturan dan kepura-puraan. Dan sepi menjadi salah satu jawaban; Untuk bersimpuh khusyu’, untuk air mata luruh, untuk bersiap menjelma perempuan baru.
Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?








Depok, 1 Juni 2016

Minggu, 29 Mei 2016

Laki-laki Sipit Berkacamata


Tak banyak yang berubah dari dirinya, laki-laki sipit berkacamata. Hanya badanya yang lebih berisi, selain itu, semua masih tetap sama dari dua tahun lalu. Rentang waktu yang cukup lama untuk dua orang yang dulu sehari tak bertemu saja rindu.
 Tak ada percakapan. Hanya kontak mata yang tak berarti apa-apa. Hanya salaman sebatas penghormatan sebagai teman yang sudah lama tak bersua. Hanya tanya basa-basi yang sangat tidak penting sekali. Jauh dari ekspektasi-ekspektasi liar yang memenuhi kepala; keromantisan, kegugupan, dan debar seperti dua tahun lalu. Semua terbang bersama angin sore pedesaan.
Aku wanita yang banyak salah sangka. Cinta yang paling kupuja adalah ketololan yang memalukan. Memaksakan manusia yang tak sempurna bak pangeran dari negeri dongeng, dia yang tampan, dia yang baik, dia yang memperdulikanku, dia yang hidup hanya untuk kesenanganku adalah kesalahan yang kini kutertawakan. Dewasa menjadi masa menertawakan kenangan masa lalu , juga waktu untuk menahan malu.
Bagaimana dulu bisa sebegitu polosnya?
Untung aku pelupa. Banyak kebodohan yang terlupa dimakan usia.
Laki-laki sipit berkacamata. Mengajarkan rasa malu sedalam-dalamnya, mengajarkan melihat laki-laki dari sisi yang paling kelam, dan mengajarkan menjadi perempuan bersalah selamanya.
Bukan sepenuhnya salah dia. Sebagian besar memang dari diri yang belum dewasa tapi menjalani cinta sok dewasa. Akhirnya ada satu kesimpulan, masa remaja itu menakutkan.
Walau akhirnya aku mencoba untuk berterimakasih. Tanpanya aku tak akan pernah bisa memulai untuk menulis cerita. Tanpanya aku tak akan miliki kecamuk rasa yang bisa kutuang dalam kata. Tanpanya aku tak akan pernah menjadi perempuan dewasa.


Depok, 29 Mei 2016



    

Sabtu, 28 Mei 2016

Menjadi dewasa, Sebuah Elegi Jati Diri



Menjadi dewasa adalah sebuah elegi — Berputar pada poros yang konstan. Membosankan. Tertawa hanya untuk lelucon-lelucon jorok dan nakal, bukan karena dibahagiakan dan membahagiakan seseorang. Menangis hanya untuk tersakiti. Merengek hanyalah bentuk dari kekalahan yang jelek. Kau marah disebut belum dewasa. Akhirnya, emosi adalah bagian permaianan menjadi dewasa. Saat menangis, tertawa, marah, kesal menjadi kepura-puraan yang mudah.
Kepribadian ganda? Semudah meniup dandelion untuk menjadi anai-anai. Nyatanya, berteman adalah saat-saat yang sangat tepat untuk memilih kepalsuan mana yang ingin dimainkan. Pemenangnya ialah ketika semua orang dengan mudahnya percaya.
Kepura-puraan tersulit adalah pura-pura itu sendiri, resiko terbesar menjadi dewasa. Pembohong? Selagi tak merugikan orang-orang yang percaya tak apa. Kadang bohong itu baik, apalagi berbohong pada diri sendiri untuk menyenangkan orang-orang sekitar. Hanya satu hal yang harus dikorbankan, jati diri yang asli.
Hanya mimpi yang menjadi tempatnya bertandang sesuka hati. Tak perlu takut dimusuhi, sebab sutradaranya adalah diri sendiri.
Yah, mungkin itu kata-kata dari diri yang terluka di tengah kehidupan yang menjengahkan. Saat dimana dirinya mulai berpura-pura, sebab rupa orang di sekitarnya telah lebih dulu berwarna-warna.






Depok, 28 Mei 2016


Kamis, 21 April 2016

Perempuan Tahu Malu



Tuan, aku ialah kepandiran yang kucipta.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Kita adalah kontradiksi yang aku maknai sendiri. Ibarat semesta, kau buminya, aku serpihan meteorit yg telah menerobos paksa atmosfermu.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Penuh hipokrit bila dengan pura-pura aku tak mengintip malu-malu dari jarak yang tak bisa disebut dekat.

Tuan, apalah aku. Perempuan tahu malu.
Yang ketika aku mengetik elegi ini, kau bahkan tengah melangit dengan takzim. Berdoa.
Meminta agar Tuhan memberimu kebaikan sebanyak hujan.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Yang dengannya aku dituntut perihal menjaga prestise seorang wanita -MALU-

Rabu, 20 April 2016

Pui-tis Ekonomi-tis

“Dahulu, dengan dua mata masing-masing, kita beradu, melihat binar bahagia atau malah embun di pelupuk mata. Jika ucap tak sanggup bersuara, mata bisa jadi isyarat penggantinya.
Dengan mulut yang melulu bersuara, kita bercerita tentang semesta yang padanya kita bermanja, kita masih suka berkisah tentang dunia dari atas pohon-pohon yang kita panjat, kita lebih suka bersapa dengan suara, walau hanya serupa bisik tak berisik.
Dengan tangan yang selalu mengenggam, kita bergandeng bersisian. Menggenggam untuk bersalam, menggenggam untuk membangkitkan, menggenggam untuk beramah-tamah. Kita miliki tangan untuk mengusap halus kepala-kepala yang tertunduk. Menepuk pundak-pundak yang setara dengan perut. Mengadah tangan selaras dengan dagu, meminta khusyu’ kepada Dzat yang jiwa kita di genggamNya.
kita bahagia, sesederhana berkedip tiap sepersekian detik. Sebab menginginkan sesuatu tak serumit, tak sememaksa, tak sesering kini. Kita bahagia, sesederhana angin membantu gugur daun-daun. Sebab belum nyata pemikiran rumit semisal pra-klasik, klasik, sosialis, juga neoklasik yang dihamba kaum kapitalis, kita masih alfa mengeja kata-kata kaku serapan. Kita bahagia, sesederhana benih dandelion yang beterbangan bila tak sengaja tertiup. Sebab kita belum dijamah konsep-konsep matrealistis, menyekap diri pada bayang bahagia semu.
Kita bahagia, sebab negri  sederhana. Nafsu tak rakus memperalat, yang menjadikan manusia bukan lagi manusia.”
“Sekarang, mata-mata tak sempat lagi beradu, bayang kawan di jernih bola mata terganti terang layar segi panjang. Pening bukan alasan untuk berhenti memandang, kita beralasan sedang berkawan pada ratusan, bahkan ribuan orang.
Mulut tak lagi sering bersuara, ucap antara manusia kalah dengan cicitan burung berlagu. Kita lugu nyata, namun liar maya.
Pada tiap genggam-genggam tangan, bukan lagi bertaut tangan kawan. Kita lebih nyaman berkata tanpa suara, menerka sedih, bahagia lewat huruf-huruf bereja rasa, kita mengetik dengan genggaman layar segi panjang. Kita meratap pada kalimat yang sengaja dibuat, berharap senyum sekaligus dekap, walau sekadar gambar wajah berbentuk bulat-bulat. Senyum dan sedih hanya berupa kurung buka dan tutup.
Teknologi menggerus degup bahagia kala temu, memotong sungging senyum ketika tak lagi bercerita kisah konyol berhadapan, menyekat dekap tak lagi erat, sebab kita memilih bersekat jarak. Manusia-manusia berpacu dalam waktu yang dibilang tak cukup melulu, merakit perangkat-perangkat mekanik pelik, mencipta layar segi empat bertambah pintar, sedang manusia bertambah bodoh.
Kini, tak peduli batasan yang coba batasi kemauan, padahal kepuasan tak berbatas rasa puas. Hingga akhirnya banyak manusia-manusia terbelenggu dalam tanya ‘bagaimana’ menghapus dahaga pemuas dengan jerat muslihat. Lantas Konsep-konsep yang ramai digadang-gadang para ahli kapitalis berseru lantang, menitik beratkan pada keuntungan sendiri, bebas terlepas dari sekat batas norma, bahkan agama.”  

Langit seakan hendak diajak beradu, siapa yang lebih tinggi ia pantas bertitel juara. Gedung-gedung memang sengaja dibuat sebisa mungkin mencakar langit. Bertingkat-tingkat, beruang-ruang, berpundak-pundak untuk satu-dua manusia. Semakin tinggi diantara yang tinggi semakin besar degup bangga bertabuh sombong. Namun, menunduklah setara tanah. Rumah tak be-ruang didiami empat-lima manusia. Sekali lagi, menunduklah setara tanah, lelap lelah mereka beralas tanah.  
“itu adalah perang sunyi, alih-alih yang mati adalah seorang tentara, namun nyantanya anak-anak kecil lah yang mati. Itu adalah perang dunia ke tiga, dengan interest sebagai salah satu senjatanya.”