Minggu, 12 Juni 2016

Menyukaimu adalah mengetik tentangmu, dengan amat detail


Memilih menyukaimu adalah membiarkan sakit tanpa diobati. Kita sama-sama saling bertatap, tapi kita tak sama-sama saling berharap. Menyukaimu ialah tertawa yang dipaksakan, kau melucu tentang perempuan bukan aku. Aku tertawa, kau pun tertawa. Aku terpaksa, kau tak terpaksa.    
Menyukaimu adalah mencoba sebisa mungkin menatap lingkar hitam bola matamu. Hilangkan gugup, sembunyikan kenyataan tentang sukaku. Menyukaimu adalah bersandiwara menjadi kawan, bahkan adik. Tak boleh lebih, kurang boleh. Sesekali menyukaimu adalah menjadi gampangan. Kapan kau butuh, kapan kau pinta, aku tak pernah alpa. Aku tak sanggup jual mahal.
Menyukaimu adalah mencarimu sebab rindu. Setelah ketemu, aku berlalu. Merindumu adalah menyapamu. Menyukaimu adalah mendengar cerita kasihmu, kekasihmu. Aku akan berpura-pura menggodamu hingga kau tersipu.  
Menyukaimu cukup hanya mengetik tentangmu, dengan amat detail.



Depok, 05 januari 2015

Rabu, 01 Juni 2016

Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?


Hai, sepi. Terimakasih telah memberi ruang untuk berbicara tanpa didengar siapa-siapa. Yang pada heningnya memberi kesenduan yang menawan, layaknya pohon di jantung hutan, merunduk dengan tari semilir –ranting bergoyang, daun melambai. Atau jeda sementara, dari riuh masalah dan pekak semesta, membuat pejaman sepuluh detik saja menentramkan.
Waktu benar-benar serius merubah tiap detiknya semakin cepat, atau aku saja yang melambat? Sepi datang seakan hanya sekelebat lewat, seperti tiap kilat sebelum gemuruh di masa penghujan.
Semoga sepi datang. Agar hening dirasa, seperti saat di rahim dulu, hanya terdengar degup halus jantung ibu. Dan bisakah sedikit lebih lama lagi?
Ada lelah yang dirasa dari tuntutan, peraturan dan kepura-puraan. Dan sepi menjadi salah satu jawaban; Untuk bersimpuh khusyu’, untuk air mata luruh, untuk bersiap menjelma perempuan baru.
Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?








Depok, 1 Juni 2016