Selasa, 04 Maret 2014

Kardus dan Mas

Kardus dan Mas

Zahra Sabilah
Ruang gelap beraroma lembab menyambut kedatanganku kala aku membuka pintu perlahan. Tumpukan-tumpukan kardus yang mulai lapuk tak terawat pun debu di setiap sisi benda menampakan ruangan ini telah lama tak tersentuh setidaknya untuk dibersihkan. Aku berjalan perlahan sambil kaki menendang benda yang menghalangi langkahku. Mataku tajam mengitari kardus-kardus yang tertumpuk berantakan di gudang rumahku dulu. Mencari salah satunya yang bercoretkan nama kecilku, Lala.
                Ah, disana. Aku menemukan kardus yang kucari sedari tadi. Tintanya sedikit kabur terlembabkan air, namun masih tereja namaku di sisi kanan paling bawah. Aku tersenyum lega.
Hmmm, kenangan-kenangan semasa SMA membubuhi kegiatanku kala melihat benda-benda yang mengisi penuh kardus berdebu ini. Dari mulai plastik putih yang tetap saja serupa tujuh tahun yang lalu saat saat sesorang memberiku coklat untuk kali pertama. Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.

***
                Bel pulang terdengar nyaring. Membuat remaja-remaja yang telah lelah melahap pelajaran bergumam lega, termasuk aku. kubereskan secepatnya buku-buku berserakan di atas meja coklat penuh coretan nakal. Rasanya aku ingin segera keluar dari kelas yang baunya saja masih tercium aroma angka matematika, membuatku mual.
                “Lala, ke kantin yu”. Suara yang tak asing memanggilku dari arah pintu kelas. Aku menengok kearahnya dan mengangguk mengiyakan, yang diiyakan malah menampakan wajah memelas kelaparan. Aku tertawa melihat rupanya. Ia sahabatku, iyang namanya.
                Setelah dianggap selesai membereskan buku-buku, aku berniat keluar. Satu langkah keluar dari ruang kelas, wajahku seperti ada yang memerintah untuk berpaling ke arah kiri. Aku menuruti, sedetik berlalu seorang dari kelas yang berbeda di ujung sana pun keluar dan berpaling ke arahku. Seorang yang telah memilih berjanji untuk ku. Ia tersenyum, terlihat manis sekali walau dari kejauhan. Kala itu rasanya daun-daun berguguran mengindahkan tatapan antara aku dengannya. Serupa dalam drama-drama televisi musik bagai mengalun lembut, menemani waktu yang bagai terhenti untuk episode manis ini. Aku terdiam tergagap, mengangkat tangan lalu melambai kearahnya. Argh...aku terlihat bodoh sekali saat itu. Iyang menambah kebodohanku dengan tertawa menggoda.
                Rayhan berjalan menghampiri aku dan iyang. Ah, ku tak tau bagaimana rupa wajahku saat itu.
                “udah mau pulang?” tanyanya dengan tetap tersenyum.
                “iya. eh..engh...engga engga aku mau ngater iyang ke kantin” jawabku tak karuan, aku mengutuk kegelagapanku dalam hati.
                Iyang menyikutku pelan. Memberi sinyal padaku untuk tidak berlama-lama, namun nampaknya malah Rayhan yang lebih mengerti gelagat sahabatku itu dibanding aku. Rayhan membuka tas ransel yang sedari tadi ia peluk, mengeluarkan bungkusan plastik berwarna putih lalu memberikannya padaku.
                “buat kamu. Kalo mau pulang kasih tau ya?”
                Aku meraih pemberian Rayhan dengan mengangguk tersenyum. Kini wajahku bersemu sempurna.
                ***
                Kembali pada kegiatanku mengorek memoar dulu. Aku kembali mengaduk isi kardus ini. Debu semakin bertebaran memaksa masuk hidungku. Aku lupa tak memakai masker sebelumnya hingga rasanya sesak mulai menyerangku. Aku memandang sekeliling, sekiranya ada jendela yang dapat aku buka untuk membiarkan udara masuk memenuhi ruang apek ini. Tepat di sebelah tumpukan kardus kutemukan jendela tertutup triplek lapuk. Segera kusingkirkan penutupnya tuk mengundang udara masuk menemaniku bernafas di sini.
                Ada kertas tergulung terlihat diantara tumpukan benda-benda milikku. Aku lupa kertas apa yang dulu pernah aku masukan. Segera kuraih dan kubuka dengan sangat hati-hati. Memandang sebentar. Menutup mulut. Tersenyum.
***
                Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku memandang foto seseorang lama sekali untuk yang kesekian kali. Entah lah, sepertinya bosan tak tega menghampiriku kala melihat betapa antusiasnya mataku menatap setiap lekuk wajah yang tertangkap foto itu. Wajah dilembar foto ini menghadap samping, memperlihatkan dengan detailnya lekuk-lekuk bentuk wajah Rayhan. Dari dahi, alis, hidung, mulut, dagu, dan rambutnya. Semuanya kuanggap lukisan paling indah yang diberikan Tuhan untukku. Hmm, cinta membuatku berlebihan dalam segala hal.
                Aku mengurung diri di kamar seharian. Mengunci pintu, tak membiarkan siapapun mengganggu kekhusyuanku. Kekhusyuan menggambar wajah Rayhan diatas kertas putih dengan torehan tanganku sendiri. Dengan sedikit keterampilan menggambar yang kupunya aku berniat menggambar wajahnya lalu memberikan hasilnya sebagai hadiah.
                “bagus banget, La. Udah cepetan kasih ke dia”
                “tapi malu, tau”
                “ih ngapain malu. Gue yakin dia bakal suka sama gambar lo”
                “engh..tapi..”
                Iyang memaksaku memberikan hasil gambarku setelah kuperlihatkan padanya. Entah mengapa niatku memberikan hasil gambarku padanya tak dapat kurealisasikan dengan baik. Malu menjadi faktor utama ketidak beranianku. Aku tak yakin apakah Rayhan akan meyukai gambar dirinya yang aku buat.
                Seperti biasa, sepulang sekolah aku dan Rayhan mencuri waktu tuk saling tukar cerita atau hanya sekedar saling pandang.
                “Rayhan?”
                “hmm?”
                Rayhan menatapku dalam. Aku malah terpaku menerima tatapannya.
***

                Aku tertawa sendiri mengingat kejadian waktu itu. Akhirnya gambar yang kubuat tetap menjadi milikku. Tanpa pernah sempat memberikan padanya sebagai hadiah. Aku meghela nafas pelan. Seru sekali mengingat keluguan cinta yang kupunya dulu. Masa dimana cinta adalah hal terpenting dari segala hal lainnya, bahkan lebih penting dari keluargaku dulu.
                “bunda, lagi apa?”
                Aku menoleh. Malaikat kecilku terlihat berdiri di ambang pintu, bertanya dengan mulut penuh coklat. Wajah menggemaskan Kemal terlihat dinodai coklat yang ia makan sendiri. Aku terhibur melihatnya.
                “lagi liat barang-barang yang bunda punya dulu, kemal mau liat juga? ” aku menghampirinya. Mengusap wajahnya yang kotor, ia malah berlari menghampiri kardusku dan asik mengacak-ngacak isinya. Sesaat mengeluarkan benda berwarna coklat.
                “ini tas buat kemal ya bun?” aku menoleh.
                Ia terlihat memakai tas pundak bertali panjang yang kepanjangan. Talinya melilit tubuh kemal yang agak gempal. Pemandangan yang membuatku tertawa karena tingkahnya.
                “itu kan tas perempuan, sayang”
                aku mendekat. Wajah kemal terlihat mulai kesal karena tak sanggup melepaskan dirinya sendiri. Kubantu lepaskan tali tas yang melilitnya dengan perlahan.
                “kemal mau bantu ayah benelin kipas aja ya buuun...”
                Ia berlari. Seketika menghilang di balik pintu gudang setelah ‘selamat’ dari lilitan tali. Aku memandang kepergiannya dengan menggeleng. Cepat sekali apa-apa yang dilakukan anak seusianya. Aku menunduk, melihat apa yang aku pegang. Tas ini...
***
                Kakiku mulai terasa pegal karena telah berjalan kurang lebih satu jam lebih. Aku mengurut lututku pelan.
                “kamu cape?”
                Aku mengangguk “dikit”
                “yaudah kita cari tempat istirahat sekalian kita makan, aku laper”
                Ia tertawa dalam kata ‘laper’nya. Membuat aku mengangguk tersenyum. Ada desiran halus di relung hati yang aku punya kala ia menggenggam tanganku tuk ikuti langkahnya. Lucu sekali aku ini. Niatku pergi ditemani Rayhan ke tempat perbelanjaan ini adalah mencari tas buatku, namun karena terlalu bingung memilih diantara banyaknya tas disini kurasakan lelah lebih dahulu sebelum menemukan apa yang aku cari.
                 “jadi, ngga ada yang cocok nih?”
                Aku menggeleng.
                Rayhan mencubit pipiku kesal – atau tepatnya manja – dengan pelan. Aku pura-pura kesakitan mengelus pipiku yang tak sakit. Ia tertawa memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya, matanya yang sudah agak sipit semakin sipit saja. Manis sekali.
                “udah deh kita jalan-jalan aja, soal tas nanti aku beliin, ya?” ucapnya sambil melahap sate yang tadi kami pesan. Aku menggeleng.
                “eh ngga usah. Nanti sama temen aja aku nyari lagi”
                “kok sama temen?”
                “emang mau nganterin lagi?”
                “engga”
                “eeeh kok engga?”
                “dih, katanya mau sama temen?” Wajah jahilnya mulai menampakan diri. Satu alis terangkat dengan bantuan senyuman nakal.
                Aku membalas tak kalah nakal. “iya, temen cowok, weeee”
                rayhan tertawa, aku juga. Lirikan-lirikan para pengunjung lainnya terasa menghujam ke arah aku dan dia. Aku tak ambil pusing, begitu pun Rayhan yang kini genggamnya malah tengah membungkus tanganku. Hangat.   
                Malam mulai beranjak larut. Dua makhluk yang hatinya dipenuhi nikmatnya rasa mulai bersiap pulang. Rasanya langit kala itu masih menaungi aku dengannya dalam genggam bersama. Semesta serupa mendukung lewat langit yang ia taburi gemintang berkilau. Semakin terasa saja dunai milikku, juga Rayhan.
                Sesuai janjinya beberapa bulan selanjutnya kiriman datang atas namaku. Tas coklat lucu bersemayam di dalam bungkusannya. Juga hatiku.
***  
                Aku mematung sesaat, berfikir. Ku masukan kembali tas dan benda-benda ‘kenangan’ ke dalam kardus. Menutupnya lalu berjanji tak akan membukanya lagi.
                “de lagi ngapain?” pertanyaan sama, namun berbeda suara membuatku menoleh lagi. Seseorang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Alis matanya tebal hampir saling berpautan antara kanan dan kiri. Hidung mancung. rahang yang menampilkan ketegasan, namun ada mata yang memberikan ketenangan. Ia adalah teman, kakak sekaligus kekasihku. Dia suamiku.
                “lagi beresin gudang, mas” kujawab sekenanya sambil tangan masih memasukan beberapa benda ke kardus. Ia mendekat. Melihat gerak-gerikku tanpa berkedip. Aku salah tingkah dibuatnya.
                “jangan ngeliat kaya gitu toh, mas. Kan malu”. Ucapku manyun, ia tertawa.
                “kamu ini masih malu aja sama suamimu sendiri, de...de...”
                Aku tersenyum. Medekatinya lalu mengusap dahinya yang kotor. Sambil memandang mataku ia melingkarkan tangannya memeluk pinggangku.
                “kamu itu satu-satunya yang bisa bikin aku salah tingkah, mas. Bahkan sampai saat ini”
                Kusandarkan kepalaku di dadanya yang nyaman. aroma tubuhnya masih sama seperti saat pertama aku ada di dekapnya, juga kehangatan yang ia bagi tetap sehangat beberapa tahun yang lalu. Ia bukan Rayhan, bukan. Ia adalah lelaki yang mampu buatku lupa akan segala rasa yang kurasakan dulu. Cinta dan sakit. Ia selalu bisa membuatku jatuh cinta, lagi dan lagi setiap harinya. Semudah membalikan telapak tangan ia bangun kepercayaan akan aku dan dia yang dijodohkan tuhan. Ia membawaku ke jalan yang dibenarkan Tuhan. Ia yang dengan gampangnya merubah fikiranku – dulu – bahwa aku hanya bisa jatuh cinta dengan masa laluku, semudah ini. Semudah saat ia mengucapkan akad di hari yang paling membuatku bahagia, pernikahan kami.
                “bunda sama ayah lagi ngapain?” suara kemal ‘mengganggu’ keromantisan aku dan mas imam di gudang. Kami tertawa.
                Mas, aku jatuh cinta padamu di hari pertama kurasakan patah hati.


22 januari 2014


0 komentar:

Posting Komentar