Kardus dan Mas
Zahra Sabilah
Ruang gelap
beraroma lembab menyambut kedatanganku kala aku membuka pintu perlahan.
Tumpukan-tumpukan kardus yang mulai lapuk tak terawat pun debu di setiap sisi
benda menampakan ruangan ini telah lama tak tersentuh setidaknya untuk
dibersihkan. Aku berjalan perlahan sambil kaki menendang benda yang menghalangi
langkahku. Mataku tajam mengitari kardus-kardus yang tertumpuk berantakan di
gudang rumahku dulu. Mencari salah satunya yang bercoretkan nama kecilku, Lala.
Ah,
disana. Aku menemukan kardus yang kucari sedari tadi. Tintanya sedikit kabur
terlembabkan air, namun masih tereja namaku di sisi kanan paling bawah. Aku
tersenyum lega.
Hmmm,
kenangan-kenangan semasa SMA membubuhi kegiatanku kala melihat benda-benda yang
mengisi penuh kardus berdebu ini. Dari mulai plastik putih yang tetap saja serupa
tujuh tahun yang lalu saat saat sesorang memberiku coklat untuk kali pertama.
Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.
***
Bel
pulang terdengar nyaring. Membuat remaja-remaja yang telah lelah melahap
pelajaran bergumam lega, termasuk aku. kubereskan secepatnya buku-buku
berserakan di atas meja coklat penuh coretan nakal. Rasanya aku ingin segera
keluar dari kelas yang baunya saja masih tercium aroma angka matematika,
membuatku mual.
“Lala,
ke kantin yu”. Suara yang tak asing memanggilku dari arah pintu kelas. Aku
menengok kearahnya dan mengangguk mengiyakan, yang diiyakan malah menampakan
wajah memelas kelaparan. Aku tertawa melihat rupanya. Ia sahabatku, iyang
namanya.
Setelah
dianggap selesai membereskan buku-buku, aku berniat keluar. Satu langkah keluar
dari ruang kelas, wajahku seperti ada yang memerintah untuk berpaling ke arah
kiri. Aku menuruti, sedetik berlalu seorang dari kelas yang berbeda di ujung
sana pun keluar dan berpaling ke arahku. Seorang yang telah memilih berjanji
untuk ku. Ia tersenyum, terlihat manis sekali walau dari kejauhan. Kala itu
rasanya daun-daun berguguran mengindahkan tatapan antara aku dengannya. Serupa
dalam drama-drama televisi musik bagai mengalun lembut, menemani waktu yang
bagai terhenti untuk episode manis ini. Aku terdiam tergagap, mengangkat tangan
lalu melambai kearahnya. Argh...aku terlihat bodoh sekali saat itu. Iyang
menambah kebodohanku dengan tertawa menggoda.
Rayhan
berjalan menghampiri aku dan iyang. Ah, ku tak tau bagaimana rupa wajahku saat
itu.
“udah
mau pulang?” tanyanya dengan tetap tersenyum.
“iya.
eh..engh...engga engga aku mau ngater iyang ke kantin” jawabku tak karuan, aku
mengutuk kegelagapanku dalam hati.
Iyang
menyikutku pelan. Memberi sinyal padaku untuk tidak berlama-lama, namun
nampaknya malah Rayhan yang lebih mengerti gelagat sahabatku itu dibanding aku.
Rayhan membuka tas ransel yang sedari tadi ia peluk, mengeluarkan bungkusan
plastik berwarna putih lalu memberikannya padaku.
“buat
kamu. Kalo mau pulang kasih tau ya?”
Aku
meraih pemberian Rayhan dengan mengangguk tersenyum. Kini wajahku bersemu
sempurna.
***
Kembali
pada kegiatanku mengorek memoar dulu. Aku kembali mengaduk isi kardus ini. Debu
semakin bertebaran memaksa masuk hidungku. Aku lupa tak memakai masker
sebelumnya hingga rasanya sesak mulai menyerangku. Aku memandang sekeliling,
sekiranya ada jendela yang dapat aku buka untuk membiarkan udara masuk memenuhi
ruang apek ini. Tepat di sebelah tumpukan kardus kutemukan jendela tertutup
triplek lapuk. Segera kusingkirkan penutupnya tuk mengundang udara masuk
menemaniku bernafas di sini.
Ada
kertas tergulung terlihat diantara tumpukan benda-benda milikku. Aku lupa
kertas apa yang dulu pernah aku masukan. Segera kuraih dan kubuka dengan sangat
hati-hati. Memandang sebentar. Menutup mulut. Tersenyum.
***
Untuk
pertama kalinya dalam hidupku. Aku memandang foto seseorang lama sekali untuk
yang kesekian kali. Entah lah, sepertinya bosan tak tega menghampiriku kala
melihat betapa antusiasnya mataku menatap setiap lekuk wajah yang tertangkap
foto itu. Wajah dilembar foto ini menghadap samping, memperlihatkan dengan detailnya
lekuk-lekuk bentuk wajah Rayhan. Dari dahi, alis, hidung, mulut, dagu, dan
rambutnya. Semuanya kuanggap lukisan paling indah yang diberikan Tuhan untukku.
Hmm, cinta membuatku berlebihan dalam segala hal.
Aku
mengurung diri di kamar seharian. Mengunci pintu, tak membiarkan siapapun
mengganggu kekhusyuanku. Kekhusyuan menggambar wajah Rayhan diatas kertas putih
dengan torehan tanganku sendiri. Dengan sedikit keterampilan menggambar yang
kupunya aku berniat menggambar wajahnya lalu memberikan hasilnya sebagai
hadiah.
“bagus
banget, La. Udah cepetan kasih ke dia”
“tapi
malu, tau”
“ih
ngapain malu. Gue yakin dia bakal suka sama gambar lo”
“engh..tapi..”
Iyang
memaksaku memberikan hasil gambarku setelah kuperlihatkan padanya. Entah
mengapa niatku memberikan hasil gambarku padanya tak dapat kurealisasikan
dengan baik. Malu menjadi faktor utama ketidak beranianku. Aku tak yakin apakah
Rayhan akan meyukai gambar dirinya yang aku buat.
Seperti
biasa, sepulang sekolah aku dan Rayhan mencuri waktu tuk saling tukar cerita
atau hanya sekedar saling pandang.
“Rayhan?”
“hmm?”
Rayhan
menatapku dalam. Aku malah terpaku menerima tatapannya.
***
Aku
tertawa sendiri mengingat kejadian waktu itu. Akhirnya gambar yang kubuat tetap
menjadi milikku. Tanpa pernah sempat memberikan padanya sebagai hadiah. Aku
meghela nafas pelan. Seru sekali mengingat keluguan cinta yang kupunya dulu.
Masa dimana cinta adalah hal terpenting dari segala hal lainnya, bahkan lebih
penting dari keluargaku dulu.
“bunda,
lagi apa?”
Aku
menoleh. Malaikat kecilku terlihat berdiri di ambang pintu, bertanya dengan
mulut penuh coklat. Wajah menggemaskan Kemal terlihat dinodai coklat yang ia
makan sendiri. Aku terhibur melihatnya.
“lagi
liat barang-barang yang bunda punya dulu, kemal mau liat juga? ” aku
menghampirinya. Mengusap wajahnya yang kotor, ia malah berlari menghampiri
kardusku dan asik mengacak-ngacak isinya. Sesaat mengeluarkan benda berwarna
coklat.
“ini
tas buat kemal ya bun?” aku menoleh.
Ia
terlihat memakai tas pundak bertali panjang yang kepanjangan. Talinya melilit
tubuh kemal yang agak gempal. Pemandangan yang membuatku tertawa karena
tingkahnya.
“itu
kan tas perempuan, sayang”
aku
mendekat. Wajah kemal terlihat mulai kesal karena tak sanggup melepaskan
dirinya sendiri. Kubantu lepaskan tali tas yang melilitnya dengan perlahan.
“kemal
mau bantu ayah benelin kipas aja ya buuun...”
Ia
berlari. Seketika menghilang di balik pintu gudang setelah ‘selamat’ dari
lilitan tali. Aku memandang kepergiannya dengan menggeleng. Cepat sekali
apa-apa yang dilakukan anak seusianya. Aku menunduk, melihat apa yang aku
pegang. Tas ini...
***
Kakiku
mulai terasa pegal karena telah berjalan kurang lebih satu jam lebih. Aku
mengurut lututku pelan.
“kamu
cape?”
Aku
mengangguk “dikit”
“yaudah
kita cari tempat istirahat sekalian kita makan, aku laper”
Ia
tertawa dalam kata ‘laper’nya. Membuat aku mengangguk tersenyum. Ada desiran
halus di relung hati yang aku punya kala ia menggenggam tanganku tuk ikuti
langkahnya. Lucu sekali aku ini. Niatku pergi ditemani Rayhan ke tempat
perbelanjaan ini adalah mencari tas buatku, namun karena terlalu bingung
memilih diantara banyaknya tas disini kurasakan lelah lebih dahulu sebelum
menemukan apa yang aku cari.
“jadi, ngga ada yang cocok nih?”
Aku
menggeleng.
Rayhan
mencubit pipiku kesal – atau tepatnya manja – dengan pelan. Aku pura-pura
kesakitan mengelus pipiku yang tak sakit. Ia tertawa memperlihatkan deretan
gigi-gigi putihnya, matanya yang sudah agak sipit semakin sipit saja. Manis
sekali.
“udah
deh kita jalan-jalan aja, soal tas
nanti aku beliin, ya?” ucapnya sambil melahap sate yang tadi kami pesan. Aku
menggeleng.
“eh
ngga usah. Nanti sama temen aja aku nyari lagi”
“kok
sama temen?”
“emang
mau nganterin lagi?”
“engga”
“eeeh
kok engga?”
“dih,
katanya mau sama temen?” Wajah jahilnya mulai menampakan diri. Satu alis terangkat
dengan bantuan senyuman nakal.
Aku membalas tak kalah nakal. “iya,
temen cowok, weeee”
rayhan
tertawa, aku juga. Lirikan-lirikan para pengunjung lainnya terasa menghujam ke
arah aku dan dia. Aku tak ambil pusing, begitu pun Rayhan yang kini genggamnya
malah tengah membungkus tanganku. Hangat.
Malam
mulai beranjak larut. Dua makhluk yang hatinya dipenuhi nikmatnya rasa mulai
bersiap pulang. Rasanya langit kala itu masih menaungi aku dengannya dalam
genggam bersama. Semesta serupa mendukung lewat langit yang ia taburi gemintang
berkilau. Semakin terasa saja dunai milikku, juga Rayhan.
Sesuai
janjinya beberapa bulan selanjutnya kiriman datang atas namaku. Tas coklat lucu
bersemayam di dalam bungkusannya. Juga hatiku.
***
Aku
mematung sesaat, berfikir. Ku masukan kembali tas dan benda-benda ‘kenangan’ ke
dalam kardus. Menutupnya lalu berjanji tak akan membukanya lagi.
“de
lagi ngapain?” pertanyaan sama, namun berbeda suara membuatku menoleh lagi.
Seseorang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Alis matanya tebal hampir
saling berpautan antara kanan dan kiri. Hidung mancung. rahang yang menampilkan
ketegasan, namun ada mata yang memberikan ketenangan. Ia adalah teman, kakak
sekaligus kekasihku. Dia suamiku.
“lagi
beresin gudang, mas” kujawab sekenanya sambil tangan masih memasukan beberapa
benda ke kardus. Ia mendekat. Melihat gerak-gerikku tanpa berkedip. Aku salah
tingkah dibuatnya.
“jangan
ngeliat kaya gitu toh, mas. Kan malu”. Ucapku manyun, ia tertawa.
“kamu
ini masih malu aja sama suamimu sendiri, de...de...”
Aku
tersenyum. Medekatinya lalu mengusap dahinya yang kotor. Sambil memandang
mataku ia melingkarkan tangannya memeluk pinggangku.
“kamu
itu satu-satunya yang bisa bikin aku salah tingkah, mas. Bahkan sampai saat
ini”
Kusandarkan
kepalaku di dadanya yang nyaman. aroma tubuhnya masih sama seperti saat pertama
aku ada di dekapnya, juga kehangatan yang ia bagi tetap sehangat beberapa tahun
yang lalu. Ia bukan Rayhan, bukan. Ia adalah lelaki yang mampu buatku lupa akan
segala rasa yang kurasakan dulu. Cinta dan sakit. Ia selalu bisa membuatku
jatuh cinta, lagi dan lagi setiap harinya. Semudah membalikan telapak tangan ia
bangun kepercayaan akan aku dan dia yang dijodohkan tuhan. Ia membawaku ke
jalan yang dibenarkan Tuhan. Ia yang dengan gampangnya merubah fikiranku – dulu
– bahwa aku hanya bisa jatuh cinta dengan masa laluku, semudah ini. Semudah
saat ia mengucapkan akad di hari yang paling membuatku bahagia, pernikahan
kami.
“bunda
sama ayah lagi ngapain?” suara kemal ‘mengganggu’ keromantisan aku dan mas imam
di gudang. Kami tertawa.
Mas,
aku jatuh cinta padamu di hari pertama kurasakan patah hati.
22 januari 2014

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar