Rabu, 01 Juni 2016

Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?


Hai, sepi. Terimakasih telah memberi ruang untuk berbicara tanpa didengar siapa-siapa. Yang pada heningnya memberi kesenduan yang menawan, layaknya pohon di jantung hutan, merunduk dengan tari semilir –ranting bergoyang, daun melambai. Atau jeda sementara, dari riuh masalah dan pekak semesta, membuat pejaman sepuluh detik saja menentramkan.
Waktu benar-benar serius merubah tiap detiknya semakin cepat, atau aku saja yang melambat? Sepi datang seakan hanya sekelebat lewat, seperti tiap kilat sebelum gemuruh di masa penghujan.
Semoga sepi datang. Agar hening dirasa, seperti saat di rahim dulu, hanya terdengar degup halus jantung ibu. Dan bisakah sedikit lebih lama lagi?
Ada lelah yang dirasa dari tuntutan, peraturan dan kepura-puraan. Dan sepi menjadi salah satu jawaban; Untuk bersimpuh khusyu’, untuk air mata luruh, untuk bersiap menjelma perempuan baru.
Dan bisakah sepi sedikit lama lagi?








Depok, 1 Juni 2016

Minggu, 29 Mei 2016

Laki-laki Sipit Berkacamata


Tak banyak yang berubah dari dirinya, laki-laki sipit berkacamata. Hanya badanya yang lebih berisi, selain itu, semua masih tetap sama dari dua tahun lalu. Rentang waktu yang cukup lama untuk dua orang yang dulu sehari tak bertemu saja rindu.
 Tak ada percakapan. Hanya kontak mata yang tak berarti apa-apa. Hanya salaman sebatas penghormatan sebagai teman yang sudah lama tak bersua. Hanya tanya basa-basi yang sangat tidak penting sekali. Jauh dari ekspektasi-ekspektasi liar yang memenuhi kepala; keromantisan, kegugupan, dan debar seperti dua tahun lalu. Semua terbang bersama angin sore pedesaan.
Aku wanita yang banyak salah sangka. Cinta yang paling kupuja adalah ketololan yang memalukan. Memaksakan manusia yang tak sempurna bak pangeran dari negeri dongeng, dia yang tampan, dia yang baik, dia yang memperdulikanku, dia yang hidup hanya untuk kesenanganku adalah kesalahan yang kini kutertawakan. Dewasa menjadi masa menertawakan kenangan masa lalu , juga waktu untuk menahan malu.
Bagaimana dulu bisa sebegitu polosnya?
Untung aku pelupa. Banyak kebodohan yang terlupa dimakan usia.
Laki-laki sipit berkacamata. Mengajarkan rasa malu sedalam-dalamnya, mengajarkan melihat laki-laki dari sisi yang paling kelam, dan mengajarkan menjadi perempuan bersalah selamanya.
Bukan sepenuhnya salah dia. Sebagian besar memang dari diri yang belum dewasa tapi menjalani cinta sok dewasa. Akhirnya ada satu kesimpulan, masa remaja itu menakutkan.
Walau akhirnya aku mencoba untuk berterimakasih. Tanpanya aku tak akan pernah bisa memulai untuk menulis cerita. Tanpanya aku tak akan miliki kecamuk rasa yang bisa kutuang dalam kata. Tanpanya aku tak akan pernah menjadi perempuan dewasa.


Depok, 29 Mei 2016



    

Sabtu, 28 Mei 2016

Menjadi dewasa, Sebuah Elegi Jati Diri



Menjadi dewasa adalah sebuah elegi — Berputar pada poros yang konstan. Membosankan. Tertawa hanya untuk lelucon-lelucon jorok dan nakal, bukan karena dibahagiakan dan membahagiakan seseorang. Menangis hanya untuk tersakiti. Merengek hanyalah bentuk dari kekalahan yang jelek. Kau marah disebut belum dewasa. Akhirnya, emosi adalah bagian permaianan menjadi dewasa. Saat menangis, tertawa, marah, kesal menjadi kepura-puraan yang mudah.
Kepribadian ganda? Semudah meniup dandelion untuk menjadi anai-anai. Nyatanya, berteman adalah saat-saat yang sangat tepat untuk memilih kepalsuan mana yang ingin dimainkan. Pemenangnya ialah ketika semua orang dengan mudahnya percaya.
Kepura-puraan tersulit adalah pura-pura itu sendiri, resiko terbesar menjadi dewasa. Pembohong? Selagi tak merugikan orang-orang yang percaya tak apa. Kadang bohong itu baik, apalagi berbohong pada diri sendiri untuk menyenangkan orang-orang sekitar. Hanya satu hal yang harus dikorbankan, jati diri yang asli.
Hanya mimpi yang menjadi tempatnya bertandang sesuka hati. Tak perlu takut dimusuhi, sebab sutradaranya adalah diri sendiri.
Yah, mungkin itu kata-kata dari diri yang terluka di tengah kehidupan yang menjengahkan. Saat dimana dirinya mulai berpura-pura, sebab rupa orang di sekitarnya telah lebih dulu berwarna-warna.






Depok, 28 Mei 2016


Kamis, 21 April 2016

Perempuan Tahu Malu



Tuan, aku ialah kepandiran yang kucipta.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Kita adalah kontradiksi yang aku maknai sendiri. Ibarat semesta, kau buminya, aku serpihan meteorit yg telah menerobos paksa atmosfermu.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Penuh hipokrit bila dengan pura-pura aku tak mengintip malu-malu dari jarak yang tak bisa disebut dekat.

Tuan, apalah aku. Perempuan tahu malu.
Yang ketika aku mengetik elegi ini, kau bahkan tengah melangit dengan takzim. Berdoa.
Meminta agar Tuhan memberimu kebaikan sebanyak hujan.

Apalah aku. Perempuan tahu malu.
Yang dengannya aku dituntut perihal menjaga prestise seorang wanita -MALU-

Rabu, 20 April 2016

Pui-tis Ekonomi-tis

“Dahulu, dengan dua mata masing-masing, kita beradu, melihat binar bahagia atau malah embun di pelupuk mata. Jika ucap tak sanggup bersuara, mata bisa jadi isyarat penggantinya.
Dengan mulut yang melulu bersuara, kita bercerita tentang semesta yang padanya kita bermanja, kita masih suka berkisah tentang dunia dari atas pohon-pohon yang kita panjat, kita lebih suka bersapa dengan suara, walau hanya serupa bisik tak berisik.
Dengan tangan yang selalu mengenggam, kita bergandeng bersisian. Menggenggam untuk bersalam, menggenggam untuk membangkitkan, menggenggam untuk beramah-tamah. Kita miliki tangan untuk mengusap halus kepala-kepala yang tertunduk. Menepuk pundak-pundak yang setara dengan perut. Mengadah tangan selaras dengan dagu, meminta khusyu’ kepada Dzat yang jiwa kita di genggamNya.
kita bahagia, sesederhana berkedip tiap sepersekian detik. Sebab menginginkan sesuatu tak serumit, tak sememaksa, tak sesering kini. Kita bahagia, sesederhana angin membantu gugur daun-daun. Sebab belum nyata pemikiran rumit semisal pra-klasik, klasik, sosialis, juga neoklasik yang dihamba kaum kapitalis, kita masih alfa mengeja kata-kata kaku serapan. Kita bahagia, sesederhana benih dandelion yang beterbangan bila tak sengaja tertiup. Sebab kita belum dijamah konsep-konsep matrealistis, menyekap diri pada bayang bahagia semu.
Kita bahagia, sebab negri  sederhana. Nafsu tak rakus memperalat, yang menjadikan manusia bukan lagi manusia.”
“Sekarang, mata-mata tak sempat lagi beradu, bayang kawan di jernih bola mata terganti terang layar segi panjang. Pening bukan alasan untuk berhenti memandang, kita beralasan sedang berkawan pada ratusan, bahkan ribuan orang.
Mulut tak lagi sering bersuara, ucap antara manusia kalah dengan cicitan burung berlagu. Kita lugu nyata, namun liar maya.
Pada tiap genggam-genggam tangan, bukan lagi bertaut tangan kawan. Kita lebih nyaman berkata tanpa suara, menerka sedih, bahagia lewat huruf-huruf bereja rasa, kita mengetik dengan genggaman layar segi panjang. Kita meratap pada kalimat yang sengaja dibuat, berharap senyum sekaligus dekap, walau sekadar gambar wajah berbentuk bulat-bulat. Senyum dan sedih hanya berupa kurung buka dan tutup.
Teknologi menggerus degup bahagia kala temu, memotong sungging senyum ketika tak lagi bercerita kisah konyol berhadapan, menyekat dekap tak lagi erat, sebab kita memilih bersekat jarak. Manusia-manusia berpacu dalam waktu yang dibilang tak cukup melulu, merakit perangkat-perangkat mekanik pelik, mencipta layar segi empat bertambah pintar, sedang manusia bertambah bodoh.
Kini, tak peduli batasan yang coba batasi kemauan, padahal kepuasan tak berbatas rasa puas. Hingga akhirnya banyak manusia-manusia terbelenggu dalam tanya ‘bagaimana’ menghapus dahaga pemuas dengan jerat muslihat. Lantas Konsep-konsep yang ramai digadang-gadang para ahli kapitalis berseru lantang, menitik beratkan pada keuntungan sendiri, bebas terlepas dari sekat batas norma, bahkan agama.”  

Langit seakan hendak diajak beradu, siapa yang lebih tinggi ia pantas bertitel juara. Gedung-gedung memang sengaja dibuat sebisa mungkin mencakar langit. Bertingkat-tingkat, beruang-ruang, berpundak-pundak untuk satu-dua manusia. Semakin tinggi diantara yang tinggi semakin besar degup bangga bertabuh sombong. Namun, menunduklah setara tanah. Rumah tak be-ruang didiami empat-lima manusia. Sekali lagi, menunduklah setara tanah, lelap lelah mereka beralas tanah.  
“itu adalah perang sunyi, alih-alih yang mati adalah seorang tentara, namun nyantanya anak-anak kecil lah yang mati. Itu adalah perang dunia ke tiga, dengan interest sebagai salah satu senjatanya.”



Selasa, 19 April 2016

Laki-laki di Depan Meja: bag 2




Pagi mengulang kembali. Membangunkan kehidupan dari mati sementara selama lelap. Pagi itu seperti pagi biasanya, bising lalu lalang, riuh orang-orang berseragam, dan wangi daun rimbun yang tumbuh di jalan setapak sekolahan. Aku mulai terbiasa.
Bel berbunyi tepat saat kumasuki bingkai pintu kelas. Kusenyumi orang-orang yang menyambutku hangat, lalu duduk di bangku kedua baris kedua, di samping seorang teman berkacamata.
Semua terjadi seperti biasanya. Guru masuk, mengabsen satu-satu, menerangkan, menjawab jika ditanya, dan pergi dengan tak lupa memberi tugas sebelumnya. Bel berbunyi lagi, waktunya istirahat.
Lalu aku akan bergabung dengan teman-teman asyikku. Bercerita laki-laki ini dan itu, perempuan ini dan itu, dan berkarouke ria diiringi musik dari handphone nexian querty milik teman yang paling ngehits saat itu. Aku ingat sekali lagu yang terlalu sering aku nyanyikan, Last Child-Pedih.
Semua seperti biasa hingga laki-laki itu masuk ke dalam cerita. Dia laki-laki yang kemarin sempat kuceritakan, laki-laki di depan meja.
Dia menghampiri kami. Mengobrol dengan temanku. Karena tak ada kerjaan aku ikut mendengarkan. Selesai mengobrol dengan temanku ia menghadap ke arahku, memulai obrolan dengan sesekali mencoba melucu. Seperti biasa aku hanya bisa tertawa. Dia bercerita banyak hal tentangnya, tanpa aku tanya. Dia bertanya tentangku yang kujawab sekenanya. Pada ujung percakapan dia kembali bertanya.
                “boleh minta nomor hp kamu?” tanyanya.
                Aku mengangguk walau sedikit ragu. Saat itu aku belum terlalu tertarik untuk berbalas pesan dengan seseorang. Walau pada akhirnya aku mengeja nomorku untuknya, karena tidak enak bila kutolak, toh itu cuma nomor handphone.
Malam itu satu sms masuk. Nomor baru. Aku membacanya dan bisa kutebak siapa yang mengirimnya, yap! laki-laki itu. Aku lupa apa yang kami obrolkan malam itu. Yang pasti setelah beberapa kali berbalas pesan aku mulai bosan. Dia seru sekali bila mengobrol secara langsung, tapi tidak ketika beralas sms. Malam itu juga kebetulan ada film yang seru di TV hingga aku lupa kalu aku belum membalas pesannya.
Satu sms masuk. Suara getar handphone sedikit terdengar. Ternyata nomor laki-laki itu. Karena malas aku tidak membukanya dan meneruskan menonton. Dua sms masuk, aku masih tidak peduli. Tiga sms masuk. Aku mulai sedikit kesal dan menjauhkan handphoneku dengan manaruhnya agak jauh. Walau begitu getarnya masih terdengar. Empat sms masuk, lima sms masuk, enam sms masuk, tujuh sms masuk, delapan sms masuk, Sembilan sms masuk, sepuluh sms masuk…..
Aku tak habis pikir. Itu semua pesan dari laki-laki itu! Kuraih handphoneku yang masih terus menerima pesan dengan terpaksa. Itu sms ke dua puluh tujuh! Aku yang kesal mulai geleng-geleng kepala. Lalu tertawa sendiri sambil terus memegang handphone yang terus bergetar. Pada akhirnya, sms darinya berhenti kuterima, mugkin dia bosan sebab samasekali tak kubalas. Empat puluh sms masuk!
Esoknya kami membahasnya. Dia bilang sedang banyak pulsa, aku bilang aku telah tidur lelap. Kami sama-sama berbohong dan sama-sama tertawa.
Dia selalu tak biasa.



Depok, 4 April 2016


Senin, 18 April 2016

Laki-laki di Depan Meja



Mendung. Langit merundung kelabu. Hawa dingin menembus paksa sweater coklat yang sengaja kukenakan. Langit berencana menurunkan hujan, namun nyatanya hujan enggan turun, atau belum. Lalu hanya rintik halus yang mengenai wajahku –yang langsung mengering seiring angin di atas motor yang menerpa wajahku. Dingin.
Kucium punggung tangan Ibu, melambai ke arahnya, melihat laju motornya menjauh sambil berjalan buru-buru memasuki gerbang sekolah. Hari itu ujian akhir semester.
Ada empat barisan kelas di sudut paling belakang sekolah, kelasku di barisan ke dua. Bukan kelas biasanya. Kelas itu hanya berlaku saat ujian. Di tiap meja ada kertas segi empat yang menempel di sisi kanannya, menjelaskan siapa yang harus duduk di meja itu. Aku duduk di barisan paling belakang dekat dinding. Terkadang aku berterimakasih sebab Ibu memberiku nama dengan awalan abjad Z. setidaknya saat ujian –walau aku tidak pernah mencontek- aku bisa tenang dan santai tanpa harus mendapat tatapan mengerikan dari pengawas ujian.
Yang ingin kuceritakan bukan tentang ujian ini –walau memang karena ujian itu cerita ini ada- tapi tentang seseorang, yap! seorang laki-laki. Laki-laki yang duduk tepat di depan mejaku.
Dia tipikal laki-laki yang suka bercerita walau tak pernah kupinta untuk bercerita. Dia suka sekali bertanya walau aku jarang balik bertanya padanya. Dia suka mencoba menjadi lucu di hadapanku, dan yang kulakukan hanya tertawa. Dia pemberani, terlalu pemberani.
Aku duduk. Mengeluarkan ringkasan yang kubuat malam hari dan mengulang membacanya. Lalu bel berbunyi bersamaan dengan masuknya laki-laki itu dari bingkai pintu. Dia duduk di depan mejaku, menghadap ke arahku. Tersenyum.
“sini ringkasannya, aku nyontek” katanya.
Aku memandangnya lalu menggeleng tertawa. bukannya pelit atau takut nilainya lebih bagus dari nilaiku. Itu murni karena aku tak suka dengan orang yang mencontek. Serius. Tapi dia tetap mengataiku pelit.
Pengawas masuk. Buru-buru kumasukkan ringkasanku. Mengeluarkan kartu ujian, papan ujian, dan tempat pensil. Aku terkejut. Pensilku tidak ada.
Aku memandang sekeliling, menanyai teman di samping mejaku, meminjam pensil. Tak ada yang membawa dua pensil. Aku panik, yang lain sudah mulai mengerjakan soalnya. Argh, Aku memandang kearah laki-laki itu, walau aku tahu dia tak akan punya dua pensil.
Dan benar, dia hanya punya satu pensil yang ia bawa bersama papan ujian, tanpa tas.
                “ngga ada pensil?” tanyanya.
                Aku menggeleng.
                “bentar…”
Laki-laki itu berbalik mengambil pensilnya. Itu pensil 2B yang masih baru karena baru dua hari dipakai ujian. Pensil biasa, tidak ada yang istimewa. Dia memegang pensil itu dengan dua tangan, masing-masing tangan memegang ujung pensil dan……trek! Pensil itu ia patahkan menjadi dua bagian sama panjang. Dia memberiku pensil yang runcing, sedang dia bagian yang tumpul. Dia tersenyum, berdiri lalu berjalan mencari serutan pensil di meja paling depan. Aku melongo.
Dia kembali duduk. tidak menoleh ke arahku. Pensil sebagian yang ia serut ujung patahannya ia gunakan untuk mengerjakan soal.
Aku ingin tertawa tapi ini kan ruang ujian.
Kutoel bahunya dengan pensil pemberiannya. Berucap terimakasih. Bukan untuk pensilnya, sungguh. itu ungkap terimakasihku karena telah memberiku sepotong pensil dengan caranya.
Terimakasih, Wan, sampai kini.

Depok, 4 April 2015