Minggu, 29 Mei 2016

Laki-laki Sipit Berkacamata


Tak banyak yang berubah dari dirinya, laki-laki sipit berkacamata. Hanya badanya yang lebih berisi, selain itu, semua masih tetap sama dari dua tahun lalu. Rentang waktu yang cukup lama untuk dua orang yang dulu sehari tak bertemu saja rindu.
 Tak ada percakapan. Hanya kontak mata yang tak berarti apa-apa. Hanya salaman sebatas penghormatan sebagai teman yang sudah lama tak bersua. Hanya tanya basa-basi yang sangat tidak penting sekali. Jauh dari ekspektasi-ekspektasi liar yang memenuhi kepala; keromantisan, kegugupan, dan debar seperti dua tahun lalu. Semua terbang bersama angin sore pedesaan.
Aku wanita yang banyak salah sangka. Cinta yang paling kupuja adalah ketololan yang memalukan. Memaksakan manusia yang tak sempurna bak pangeran dari negeri dongeng, dia yang tampan, dia yang baik, dia yang memperdulikanku, dia yang hidup hanya untuk kesenanganku adalah kesalahan yang kini kutertawakan. Dewasa menjadi masa menertawakan kenangan masa lalu , juga waktu untuk menahan malu.
Bagaimana dulu bisa sebegitu polosnya?
Untung aku pelupa. Banyak kebodohan yang terlupa dimakan usia.
Laki-laki sipit berkacamata. Mengajarkan rasa malu sedalam-dalamnya, mengajarkan melihat laki-laki dari sisi yang paling kelam, dan mengajarkan menjadi perempuan bersalah selamanya.
Bukan sepenuhnya salah dia. Sebagian besar memang dari diri yang belum dewasa tapi menjalani cinta sok dewasa. Akhirnya ada satu kesimpulan, masa remaja itu menakutkan.
Walau akhirnya aku mencoba untuk berterimakasih. Tanpanya aku tak akan pernah bisa memulai untuk menulis cerita. Tanpanya aku tak akan miliki kecamuk rasa yang bisa kutuang dalam kata. Tanpanya aku tak akan pernah menjadi perempuan dewasa.


Depok, 29 Mei 2016



    

Sabtu, 28 Mei 2016

Menjadi dewasa, Sebuah Elegi Jati Diri



Menjadi dewasa adalah sebuah elegi — Berputar pada poros yang konstan. Membosankan. Tertawa hanya untuk lelucon-lelucon jorok dan nakal, bukan karena dibahagiakan dan membahagiakan seseorang. Menangis hanya untuk tersakiti. Merengek hanyalah bentuk dari kekalahan yang jelek. Kau marah disebut belum dewasa. Akhirnya, emosi adalah bagian permaianan menjadi dewasa. Saat menangis, tertawa, marah, kesal menjadi kepura-puraan yang mudah.
Kepribadian ganda? Semudah meniup dandelion untuk menjadi anai-anai. Nyatanya, berteman adalah saat-saat yang sangat tepat untuk memilih kepalsuan mana yang ingin dimainkan. Pemenangnya ialah ketika semua orang dengan mudahnya percaya.
Kepura-puraan tersulit adalah pura-pura itu sendiri, resiko terbesar menjadi dewasa. Pembohong? Selagi tak merugikan orang-orang yang percaya tak apa. Kadang bohong itu baik, apalagi berbohong pada diri sendiri untuk menyenangkan orang-orang sekitar. Hanya satu hal yang harus dikorbankan, jati diri yang asli.
Hanya mimpi yang menjadi tempatnya bertandang sesuka hati. Tak perlu takut dimusuhi, sebab sutradaranya adalah diri sendiri.
Yah, mungkin itu kata-kata dari diri yang terluka di tengah kehidupan yang menjengahkan. Saat dimana dirinya mulai berpura-pura, sebab rupa orang di sekitarnya telah lebih dulu berwarna-warna.






Depok, 28 Mei 2016