Aku
membantu dalam lembab, berusaha meringankan kesakitan yang menyakiti bundaku
tersayang. Kudorong tubuhku mengikuti arah aliran air dengan merah
dicampurannya. Ramai pekik kekhawatiran dengan riuh ucapan suci dapat kutangkap
dalam pendengaranku, ah bismillah.
***
Bulan ke 1
Aku dipilih olehNya. Untuk keluarga kecil yang
bahagia. Di rumah sederhana bercermin syurga, bermalaikat, dan bersenandung
do’a.
Bulan ke 2
Aku berada di kehidupan awalku. Hanya berupa gumpalan
daging juga darah. Allah memenangkan aku dalam kompetisi kehidupan, kompetisi
untuk hidup dalam rahim sesosok perempuan cantik nan lembut. aku tersenyum tak sabar, kataNya ia
dipanggil bunda. Bunda?
Bulan ke 3
Aku menikmati keadaan disini, nyaman pun menenangkan
dengan elusan-elusan lembut. Hey, ada detak di tubuhku tanda nyawa telah
mengisi. Lucu, membuat tubuh kecilku bergerak naik turun, membuat aku sedikit
bergerak dalam ruang gelap yang lembab. Aku, bukan lagi segumpal daging yang
tak berbentuk. Ada cabang aneh di beberapa bagian bawah dan samping, aku
menyukainya. Karena dengan itu aku dapat menggapai dinding ruang sunyi ini lalu
menghentak sedikit dengan balasan elusan yang sangat menenangkan kesepian dalam
kesendiriankku disini. Bunda baik sekali
Bulan ke 4
Telah lumayan lama aku menghabiskan
tiap detikku dalam tubuh bunda. kini semakin sering bunda mengelus dinding
gelap yang aku tempati, pelan penuh perasaan sayang, amat hati-hati takut
mengusik lelap kala aku terbuai tidur. Aku ingin membalas dengan menggapai
dinding itu. Ah, namun tak bisa kujangkau. Maaf, saat aku menendangmu bukan
maksud hati ingin menyakiti dirimu, bunda. Hanya saja Cuma itu cara yang aku
bisa untuk menggapaimu, membalas kasih cintamu.
Ada yang bisa kugerakan lagi
sekarang, kataNya namanya bibir dan kepala. Kadang jika bosan menyemai diri,
kucoba menggerakkannya. Membuka dan menutup, menyenangkan. Bunda, disini tak
sesepi yang lalu. Dengar, aku dapat mendengar detakmu. Sama seperti detakku
namun punyamu lebih lambat, menenangkan sekali mengalun dalam kesunyian.
Sesekali sayup-sayup suara dapat tertangkap pendengaranku, tak jelas tapi
sangat merdu didengar. Suara bunda kah
itu?
Bulan
ke 5
Semakin lama disini semakin sempit
ruang gerakku. Semakin sering lagi aku menendangmu. Maaf bunda, terkadang aku
terkejut saat ada suara yang mengoyak lelapku dalam tidur. Karena sayup suara
telah terdengar jelas sekarang. Suara lembut bunda dan suara berat ayah yang
mengajakku bercakap, juga suara mereka kala membaca sesuatu yang terdengar
merdu di telinga.
“assalamualaikum sayang, ini
ayah...”
Suara berat ayah membangunkanku.
Dinding ruang gelap ini terasa diusap olehnya. Aku tersenyum sambil berusaha
membalasnya dengan tinju pelan. Ayah, rasakan tanganku yang kini telah dapat
menggapaimu, menggapai bunda juga.
“jadi anak solehah ya sayang, yang
pinter, yang nurut ayah bunda, yang cantik kaya bundanya...”
Bunda terdengar tertawa. Aku
tersenyum. Lalu sayup-sayup suara bunda terdengar melantunkan bacaan-bacaan
indah, kataNya bunda sedang membaca Al Quran. Indah sekali setiap lantunan yang
terucap dari bibirnya, ada getaran yang berbeda di setiap huruf yang tersua.
Akhirnya buatku mendayu dalam lelap yang senyap.
Bulan ke 6
Disini rasanya semakin sempit.
Tubuhku kini hampir memenuhi ruang yang bunda punya. Maaf ya bunda? Setiap gerak yang kulakukan sepertinya juga ia
rasakan. Kini sedikitnya aku dapat merasakan apa yang tengah bunda lakukan. Aku
terbuai lelap kala bunda bergerak atau berjalan kesana kemari, rasanya seperti
ayunan pengantar ridur. Aku terbangun saat bunda berbaring meluruhkan lelahnya, kadang kucoba
menghiburnya dengan tinju juga hentakan kecil, dan itu berhasil membuat bunda
tertawa atau berkata “ada apa sayang”. Ah, bunda aku bahagia dengan kita yang
seperti ini. Kapan aku dapat memandang
wajahmu?
Bulan ke 7
Entah apa yang aku genggam,
bentuknya panjang pun licin dirasa. Aku merasakan kedekatan yang lebih dengan
bunda bila menggenggam itu. Kini rindu untuknya amat besar menyesaki dada. Entah
berapa juta bahkan miliyaran detik kuhabiskan dalam tubuhnya, tanpa pernah
sekalipun melihat rupanya. Aku ingin memandangnya dengan sayang, mengelusnya
dengan kasih juga memeluknya penuh cinta. Dengan kata “bunda sayang kamu..”
yang selalu bunda bisikan setiap harinya, rasa ingin tuk segera bertatap
dengannya semakin mengebu. Aku sayang
bunda juga...
kataNya waktuku disini masih
disediakan lebih lagi. Belum waktunya aku mengakhiri kebersamaanku dengan bunda
yang sedekat ini. Aku tak apa. Rindu memang, namun Allah tentu telah
menyediakan waktu yang lebih tepat untuk aku melihat bunda, juga bunda melihat
aku. Aku meninju lagi pelan.
Bulan ke 8
Aku diberi bunga tidur yang terasa
nyata. Tentang bunda. Tentang kita, bunda. Tentang kesakitan bunda yang tiada
terperi selama aku ‘menumpang’ dalam perutnya untuk memulai kehidupan. Kala aku
mulai mengisi sebagai gumpalan kecil, bunda telah merasakan ketidak enakannya.
Mual yang tak mengenal waktu pun pening yang tak terelakan. Berbulan kemudian
perutnya membesar, memberat karena aku. ia tetap berharap besar dalam
kesusahannya. Tetap berdoa untukku dalam sholat dengan kesulitannya. Tetap
tersenyum menceritakan tentangku dalam lelahnya. Betapa sungguh kata apa yang
tepat untuk memuji semua yang ia berikan untuk menjaga titipan dariNya.
Allah memberiku gambaran sederhana,
namun mengakar di hati kecilku. Nanti kala ku dilahirkan untuk memandang wajah
bunda. kataNya, di hari itu tepat hari untuk bunda sedunia. Ah, betapa aku tak
tersenyum bangga? Lihat saja bunda. Saat itu aku akan terlahir dengan sehat,
tanpa kurang secuil pun, dengan tersungging senyum yang termanis. Dengan seizin
Allah.
Bulan
ke 9
Aku
mengulum ibu jariku, membunuh bosan juga resah. Bunda semakin sering lagi memanjakanku
dengan usapan-usapan penuh rindu ingin sua, pun ayah yang semakin suka bercakap
denganku lewat kalimat-kalimat guyonnya yang menggoda tawa.
Sebentar lagi waktuku menanggalkan
nama ‘janin’ tiba. Ada kalanya aku merasa sedih juga bahagia. Sedih kala kami
yang tak mungkin lagi sedekat ini, dua dalam satu. Bahagia untuk kami yang akan
bersua tatap, berpeluk meluruhkan rindu, bercium mesra.
Aku memandang sekitar dengan lesu,
tak ada gairah. Bukan karena bosan. Entah lah, rasanya ada sesuatu yang susah
aku ungkapkan. Aku mengelus dinding bunda pelan, berhenti, memandang sesaat,
lalu mulai mengelus lagi. Aku hentakan kaki pelan, mengiba elusan bunda. Tak
ada balasan. Aku hentakkan lagi. Tetap tak ada. Aku bergeser sedikit, bergoyang
sambil mengelus lagi. Akhirnya ada yang membalas. Bukan hanya bunda, ada banyak
elusan sekarang. ah, geli.
“cucu
nenek tak mau diam ya, gerak mulu kaya ayahnya”
Ayah tertawa. Hmm tadi itu nenek?
“nanti
jangan-jangan dia suka main bola lagi kaya ayahnya”
Itu
suara siapa lagi?
“alhamdulillah berarti sehat anakku,
ya to?”
Aku menguping, walau tak memahami
apa yang tengah ramai diperbincangkan. Aku kembali ke kebiasaan harianku
setelah senyap hilangkan ramai. Mengulum ibu jari. Terlelap dalam.
***
Ada yang bersinar diatas kepalaku.
Semakin lama menyilaukan. Perlahan terbuka semakin membesar, sedikit demi
sedikit. Air di sekitarku bergerak searah, ke lubang itu. Waktuku bersama bunda
– yang sedekat ini – akhirnya berujung, berakhir. Aku masih membantu, mendorong
tubuhku agar lewati lubang yang menyilaukan. Lendir dan air yang kemerahan ini
sedikit banyak menolongku dan kesakitan bunda. Bunda terengah-engah, seakan
udara tak banyak lagi. Sesekali lengkingan jeritan bunda berucap tasbih memekakan
telinga. Ku pejamkan mata rapat-rapat.
Seseorang membantu. Memegang kepala
kecilku agak kasar. Lalu menarikku perlahan, memutar sedikit lalu menarik lagi.
Kepala, tubuh, lalu kakiku satu persatu menerobos, melewati lubang menyilaukan.
Dan, ah udara, suhu, suasana
mengejutkanku!
Aku menangis. Terkejut. Disini
terlalu silau sampai pejaman mata tak sanggup kusibak. Mana bundaku? Aku menggeliyat di gendongan entah siapa, menangis.
Aku masih berusaha menyibak kelopak mataku, ingin memandangnya. Setelah
sepersekian menit aku mencari, ada rasa hangat yang tak asing menaungiku. Ada
aroma khas yang menelisik penciumanku. Tanganku digenggam lalu terasa basah
oleh hangatnya ciuman campuran air mata. Elusan halus ini...aku tahu! Ini
bundaku, bunda terinduku! Aku memaksa menantang silau. Mengintip sedikit. Ada
mata berbulu lentik yang basah. Aku terpejam. Mengintip lagi. Ada senyum
melengkung indah. Aku membuka mata penuh. Wajah bunda dengan peluh yang
membasahi wajahnya terekam pengelihatanku. Aku mencoba menggapainya. Pipi bunda
kuelus. Aku tersenyum dengan terpejam. Allah,
bunda cantik sekali.
***
17 Desember 2013



