Rabu, 15 Oktober 2014

Aku dan Sajak Pemuda

Aku dan sajak pemuda
Zahra sabilah

Aku terduduk. Kaki kugoyang-goyang menggantung. Mataku liar membaca kisah-kisah jadul bersejarah. Aku pemuda dalam bisu. Aku berkata, lewat eja tangan. Mulutku ada dua, mulut serupa kebanyakan lainnya juga tangan kananku yang jarang serupa lainnya.
Biarkan kubersajak di bawah awan berwarna lembayung, bernama senja. Aku pemuda bisu bertangan bawel. Aku bukan penyair. Ah, itu terlalu ditinggi-tinggikan, kawan. Aku hanya pemuda dalam bisu.
Begini sajaknya, katanya.
Sekelumit lampau diriak kemoderenan metropolitan. Sekumpul kepala-kepala tak bertubuh, sebab tubuhnya samar diselubung karat nestapa. Mengapa karat? Sebab diacuhkan berlarut-larut. Tubuhnya berkarat pelbagai keruetan hidup.
Substansi nestapa mereka serupa, identik. Menggerogoti tubuh-tubuh yang sama-sama berkepala mendekati botak. Karena indonesia –kala itu – nyatanya berwujud gemulan internal berlarut-larut. Menjadikan alasan, bahkan mengalaskan pemuda tak lagi bisa berpura-pura bisu.
Indonesia raya. Awal kali nada mengenyuhkan tiap-tiap mereka, yang lantunannya sanggup mewakilkan tanah tumpahan darah. Indonesia raya, merdeka, merdeka.
 Kaum kolonialis sialan. Mencaplok rakus serupa tikus. Kaum putih bersandiwara bersih. Hitungan beratus tahun? Hah, dari moyang ke moyang dihipnotis mengenyangkan kuasa, hingga sendawanya busuk mayat kurang makan.
Tertindas, alasan pemuda berpeluh. Tertindas, alasan pemuda mengeluh. Tertindas, alasan pemuda bergerak shubuh. Tertindas, alasan pemuda bersumpah tangguh.
Secarik kerta digenggam, bersiap diteriakan. Sanubari-sanubari yang muak bersanding dengan kaum putih, seksama menunggu diperdengarkan. Seorang muda memberi secarik kertas pada yang tua. Lalu berucap tegas bak gelegar penyemangat.
Sumpah pemuda! Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Di dua puluh di bulan oktober menjadi awal peristiwa di tujuh belas di bulan agustus. Terlalu lama, memang. Namun, dalam kurun tujuh belas tahun lamanya semangat telah masak, mendidih memaksa tumpah. Jadi, pas sekali ramuan tahun yang Tuhan racik sedemikian rupa untuk indonesia, kawan.
Kakiku masih kugoyangkan. Kertas ditanganku kutimang-timang. Secarik ini sudah menjadi bukti otentik bahwa aku mengagumi negaraku, bukan? Lembayung hampir habis tergerus hitam. Pertanda Tuhan menghetikan ocehku. Aku pemuda di negri tumpahan darah. Mataku merah nyalang. Aku pemuda dalam bisu, tapi tanganku tidak.   
 


Mengingat hari sumpah pemuda yang ternyata sebentar lagi.


Rabu, 24 September 2014

Tanya?


Tanya?

Megapa hujan begitu teduh?
Mengapa hujan terlalu ramai?
Mengapa kita kehujanan, Pa?
Tak ada jawaban,
Satu-satu gelas plastik dipindah,
Satu-satu botol-botol dipindah
Gelegar mengagetkan anak bergenggam mainan lusuh
Menciutkan hati serupa sendiri
Lelaki tua didepannya masih sama, memungut.
Sang anak didebar pertanyaan
Mengapa? Bagaimana? Kapan?
Sesuatu diperutnya bersuara, ia lapar
Satu-satu ia menyamai gesit lelaki tua
Hingga penuh ‘kereseknya’ hampir serupanya, lantas timbang berwujud uang
Lelaki tua tersenyum,
“semua telah terjawab kan, Nak?”

Depok, 01 Mei 2014
 


Selasa, 13 Mei 2014

Maaf, Ra

Maaf, Ra

Wajahnya yang pucat dibanjiri peluh yang mengalir dari dahinya, mengikuti lekuk wajah lalu terdiam tertahan di dagu runcingnya sebelum menghujam tanah yang kering kehausan. Didekapnya dada dengan sebelah tangan dengan tangan lainnya menopang tubuhnya yang lelah tersakiti rasa sesak menohok. Tak ada yang melihat, bahkan sang kekasih yang sedari lalu duduk manis menunggu minuman yang lelaki sakit itu tawarkan. Ia bersembunyi di balik raksasanya pohon di taman kota. Menyembuyikan desis kesakitannya dengan nafas tersengal-sengal. Minuman dingin yang dibawanya kotor bermandikan tanah dengan sedikit rerumputan mati, tak sengaja jatuh saat tiba-tiba tangannya tak kuat menggenggam lagi. Hingga akhirnya waktu mengakhiri siksanya dalam hitungan menit.
“kenapa lama?” tanya seorang wanita berbulu mata lentik yang sedari tadi menanti kedatangannya.
Lelaki itu tersenyum lalu menjawab sekenanya “nunggu kembalian sayang, maaf”
Ia duduk lalu menyodorkan minuman yang sebelumnya telah ia bersihkan dengan sapu tangan. Wanita itu tersenyum manja, berterimakasih dengan meletakkan kepalanya bersandar di bahu sang kekasih hati yang setia menemani hingga bertahun lamanya. Wanita itu tak meyadari bahwa jantung sang kekasihnya tak lagi berdetak sesempurna seperti saat pertama dimana ia bersandar didadanya. Lelaki itu merahasiakannya.
***
Rayhan menunduk dalam, wajahnya menyampaikan semburat kalut dengan kerutan di dahinya. Bagaimana mungkin? Padahal menghirup rokok barang sebatang pun tak pernah ia lakukan. Lalu dari mana penyakit ini mengintainya bahkan lebih dulu sebelum ia sendiri mengetahuinya. Jantung ini!?
Rayhan teringat rekaman memori seminggu kemarin di rumah sakit besar ternama di Jakarta. Saat akhirnya ia mendapatkan jawaban dari banyaknya sesak di dada yang ia rasakan beberapa bulan terakhir. Berlama-lama di ruangan putih itu terasa semakin menyempit, membuat pusing. Aroma disana semakin lama membuatnya mual. Saat itu ia tak mau berlama-lama disana, terlihat dari mimiknya yang tak tenang memandang sekitar.
“ini peyakit jantung koroner...”
Ia merasa dirinya meleleh. Didengarnya sang dokter pribadinya dengan kehati-hatian di setiap  kalimatnya.
“....kamu akan mudah kelelahan, dadamu akan merasakan kira-kira selama 20 menit, dan kamu bisa pingsan dengan tiba-tiba karena adanya gangguan irama jantung” 
“saya bisa sembuh dok?”
“hmm risiko penyakit jantung bisa diobati kalau anda melakukan perubahan pola hidup sehat termasuk rutin berolahraga, stop rokok dan kopi serta hindari stres yang menjadi risiko pemicu timbulnya serangan jantung...."
 “dan ada satu lagi...”
Rayhan memandang dokter suryo dalam.
“kamu juga punya.....”
Seminggu yang lalu Rayhan pulang lunglai. Tidak meratapi hanya sekedar menyadari bahwa saat ini ia merasa manusia pesakitan yang rentan, rentan jantungnya berhenti berdetak. Rayhan menangis untuk pertama kali sebagai laki-laki.
***
“kamu ngga apa-apa?” zaira memandang kekasihnya khawatir, mengelus wajahnya lembut, membiarkan rayhan terobati dengan sentuhan halus dari telapak tangannya. Yang disentuh tersenyum dipaksakan, meski sudah ia usahakan untuk tersenyum sewajarya.
“ngga apa-apa sayang, cuma sedikit ngga enak badan”
“kita pulang” ajak zaira menggandeng lengan rayhan cepat.
Rayhan berhenti menahan zaira “eh kok pulang? Filmnya udah mau mulai kan”
“pokoknya kamu harus pulang ray, istirahat!”
“aku kan udah bilang ngga apa-apa ra. Kamu berlebihan deh”
“kamu bilang aku berlebihan? Lihat muka kamu pucat ray, tangan kamu juga basah”
“ra....”
“jangan buat aku marah” ucapa zaira. Menghentikan pembelaannya. Ia tak mau membuat wanitanya marah, tak mau. Hingga akhirnya ia mengikuti langkah zaira tanpa kata, tanpa tanya. Dalam sunyi ia menggenggam tangan zaira erat. Tak apa jika aku yang menanggung kesakitan ini tuhan, setidaknya jangan Kau perihkan lagi dengannya wanita baik  yang menanggung sakit ini, pinta rayhan dengan pengharapan dalam.
Zaira menatap jalan aspal berfikir. Ada rasa ganjil yang ia tangkap dari rayhan lelakinya. Sedikitnya telah tiga kali ia dapati rayhan berpeluh padahal cuaca tak lagi panas, bahkan hujan sekalipun. Juga keanehan tatapan rayhan yang kadang memandang kosong dengan sinar matanya yang redup. Tanpa dirasa kepalanya menggeleng berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi menggelayuti kepalanya. Rayhan baik-baik saja, akan baik-baik saja.
***
Rayhan hilang kesadaran, terjatuh di atas trotoar jalan yang ramai lalu lalang dengan kaki-kaki pengejar waktu. Membuat tatapan semua orang tertuju kepadanya, membuat teriakan kecil dari orang-orang yang melihatnya lunglai berdebam di aspal. Seorang bapak berumuran empat puluhan dengan anak remajanya yang baik hati menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Dengan kesadaran seperempat nyawa ia sempat mengucapkan terimakasih sebelum sang bapak dan anaknya izin pulang karena ada urusan.
Handphonenya bergetar, menandakan satu panggilan. Dengan lemah ia raih handphonennya dalam tas di atas meja samping ranjang tidurnya.
Zaira memanggil...
Bingung ingin berbohong apa lagi pada zaira, rayhan sengaja membiarkan getaran handphonenya berlama-lama menemaninnya. Hingga akhirnya terdiam tanda zaira menyerah memanggil rayhan untuk yang kesekian kalinya. Ia lega pun tak tega bila setelah ini ia akan terus berusaha menjauh menjaga jarak, terus berucap khayal yang tak nyata pada kekasih yang selalu bisa mempercayainya, bahkan pada dustanya. Ini harus diakhiri.
***
To : zaira
Besok malem kita ketemu ya di tempat biasa
From : Rayhan
31/12/2013
Rayhan mengirim pesan singkat kepada kekasihnya. Dalam dadanya ada keyakinan untuk mengakhiri keterikatan dirinya dengan Zaira, perempuan yang sangat ia cintai bahkan saat ia berusaha untuk melupakannya. Keegoisan dalam hatinya tentu ia rasakan nyata, namun siapa yang tega melihat tangis seseorang yang selalu ia jaga bahkan dari air mata? Saat nanti Rayhan akan terbaring tanpa bisa berbuat apa-apa memandang  Zaira yang layu mengetahui sakitnya. Oh bahkan ia lebih tak tega pada kekasihya lebih dari pada dirinya.
Sedang di lain tempat siluet perempuan menekuk lutut memandang kelamnya malam. Sesekali menunduk memikirkan seseorang yang tengah memikirkannya juga. Hmm...mereka saling beradu memikirkan.   Satu pesan masuk membuat siluet itu bergerak meraih sesuatu yang tadi bergetar memanggilnya. Ia berjalan ketempat cahaya membias. senyumnya terlihat melengkung sempurna, sesempurna bulan purnama yang riuh teriakan jangkrik mencari pasangan.
Dalam gelap itu. Dua manusia saling suka berbeda rasa. Sang lelaki menahan gejolak hatinya yang memaki diri sendiri atas keputusan menyakitkan, sedang sang perempuan bersorak girang tak sabar menunggu malam digerus fajar mentari. Mereka tak tahu ada skenario yang telah Tuhan rencanakan untuk mereka esok, skenario yang tersusun dengan alur menyedihkan.
***
Rayhan mencengkram dadanya kuat. Peluh sudah lagi membanjiri wajah manisnya. Tak ada keluh, hanya desisan pelan menyatakan kesakitan. Pengelihatannya seketika kabur, kakinya mati rasa. Rayhan beringsut ke pojok kamar, menyandarkan diri terduduk. Kakinya ia peluk, wajahnya ia benamkan tertunduk. Menangis sambil berdoa pelan.
Waktu sudah terhabisi sepersekian jam untuk rasa sakitnya. Rayhan lega penglihatannya jelas melihat. Ia berusaha bangkit, sakit barusan telah menjadi teman di setiap harinya. Ketakutannya adalah kala detaknya tiba-tiba menghilang tak menemaninya lagi sebelum sempat berucap kasih pada orang terkasihnya.  Tubuhnya sudah mulai lelah menampung perih itu sendirian, namun dirinya sendiri tak bisa membantu. Tak mau ia membagi perihnya untuk orang lain, ia tak tega.
Gelap mulai menggusur habis langit oranye. Menaungi keseluruhan hamparan di atas kehidupan. riuh sahut-sahutan terompet menggemakan suara bising yang memekakan telinga. Panggung-panggung berdiri kokoh menantang langit malam, walau kadang tak sedikit yang bergoyang mengikuti hembusannya. Acara-acara televisi menampilkan artis-artis yang menyerukan kalimat dengan ejaan sama ‘selamat tahun baru’ berulang kali dengan taburan lulucon dan musik masa kini. Beberapa keluarga berkumpul sambil tertawa, tak ketinggalan para pemuda-pemudi saling bergandeng mesra di sepanjang jalan menuju tempat bergemul meriah.
Sakit itu kembali.
***
Zaira memandang jam tangannya sambil bersenandung. Sudah lama ia tak bertatap muka dengan mata teduh lelakinya pun sudah lama ia tak mendapat kehangatan dekapnya. Zaira merindukannnya, sangat rindu. Adakalanya dulu, saat rindu datang menghantam paksa perasaannya dan Rayhan tak sanggup memenuhi permintaan suanya ia hanya bisa menangis sendiri di tengah sunyi. Merasakan sesaknya rindu sendiri. Sangat menyakitkan untuk dia yang bagai dicandu Rayhan. Rayhan seperti narkoba baginya.
Di dalam perjalanan zaira memandang keluar jendela, cemas. Sudah telat setengah jam waktu yang dijanjikan rayhan untuknya. Mobil yang ia tumpangi terperangkap di tengah ribuan mobil yang berisi orang cemas seperti dirinya, berharap mobil yang ditumpangi bisa terbang membelah kerumunan kacau ini. Ah, sedang Rayhan tak sekalipun mengangkat teleponnya. Juga tak ada balas ketikan untuk puluhan pesan yang Zaira kirim. Kenapa dengan handphone Rayhan? atau...lebih tepatnya, kenapa dengan Rayhan? Zaira semakin cemas.
Akhirnya setelah berterimakasih kepada gadis yang memberinya tumpangan gratis, Zaira sampai di tempat yang ia dan Rayhan janjikan. Sebuah taman hijau disamping sungai buatan. Tak ada lelakinya, yang ada hanya bunyi gemericik air mengisi kesunyian disini. tak ada kerumunan, karena tempat ini bukan pusat berkumpulnya orang-orang yang menunggu tepat tengah malam. Gadis manis itu menghela nafas berat, apakah Rayhan tak datang?
“ra...”
Seseorang memanggil. Suara rayhan.
Zaira menoleh.
“maaf..”
Angin berhembus menemani desiran darah yang mengalir dalam diri Zaira. Darahnya bagai mengalir deras melewati jantungnya, membuat degup tak beraturan. Suara Rayhan tadi bagai pemacu darah Zaira kalang kabut.
  “ eh engh Rayhan, kamu dateng dari mana? Maaf, aku telat tadi kena macet. Oh ya, kenapa kamu tak mengangkat teleponku? Padahal....”
“maaaf...”
Ucapan Zaira terpotong.
“maaf ra...”
Zaira tak mengerti.
“maaf untuk apa, Han?”
Yang ditanya hanya menggeleng menunduk. Mengangkat wajahnya sebentar lalu memandang wajah perempuannya dalam. Zaira heran dengan tatapan Rayhan yang tak biasa. Serupa tatapan-tatapan sayu di film-film yang berakhir kematian. Tatapan penuh arti, tatapan yang diartikan meminta izin tuk pergi.
 Tidak mungkin! Bukankah Rayhan mengajaknya bersua karena rindu? Ya, rindu.
Tapi mengapa rasanya? Ah, Zaira takut kenyataannya.
Zaira mulai menangis. Tak dapat dipungkiri jika ia semakin memaksa tak akan ada yang pergi ia malah semakin yakin Rayhan berniat untuk pergi  meninggalkannya. Ia mulai menangis. Wajahnya ia benamkan dibalik kedua tangan, badanya mulai bergerak mengikuti seguk tangisnya. Tangis tak bersuara.
Hangat.
Lelakinya tengah mendekapnya erat, mengelus rambutnya lembut. Berucap ‘jangan menangis’ hampir tanpa suara. Dingin malam semakin mendekap, angin berhembus membuat pepohonan menari seirama. Dalam dekap mereka cahaya menyilaukan terpancar, lurus horizontal menembus awan, lantas menghilang.
Sepasang remaja menatap heran dari balik pepohonan rimbun, memandang keganjilan di hadapan mereka. Seorang perempuan berdiri sambil menangis sendiri, kedua tangannya layaknya seseorang yang sedang mendekap berhadapan. Mereka saling pandang tak paham, lalu berlalu pergi dengan bergidik ngeri.











Depok, 2 april 2014

  



Aku Mengingatmu



Langit berputar, sepertinya aku gila.
Hey, saat bersandar di dinding aku mengingatmu
Saat aku mengarang berbagai cerita,
aku mengingatmu
saat aku mulai terpejam,
aku mengingatmu
saat kuhembuskan nafas pelan,
aku sedang mengingatmu
saat aku menggigit kuku ku karena bosan,
aku mengingatmu
saat angin berhembus ke arahku,
aku mengingatmu
saat aku lelah berlari,
aku mengingatmu
saat aku menangis bukan karena mu,
aku mengingatmu
saat aku bilang aku melupakanmu,
aku mengingatmu
saat aku tertawa karena lelaki lain,
aku mengingatmu
saat aku mendengarkan musik hingga terpejam,
aku mengingatmu
saat kugoyangkan kaki di bangku yang tinggi,
aku mengingatmu
di hari hujan,
aku mengingatmu
di tiap rintik yang mengalir di jendela,
aku mengingatmu
saat aku tertawa hingga keluar air mata,
aku mengingatmu
saat ku bentuk wajahmu di dinding dengan jariku,
aku mengingatmu
di tiap langkah-langkah ku,
aku mengingatmu
saat hujan menyentuh wajahku,
aku mengingatmu
saat aku tak lagi melihatmu,
aku benar-benar mengingatmu.














Rabu, 02 April 2014

Genangan dan Perempuan


Perempuan  itu  berjalan  lambat,  raut  wajahnya  sepucat  sisa  rembulan  di  shubuh itu  dengan bercak  merah  di  beberapa  bagian,  rambutnya  yang  kecoklatan  terurai  berantakan,  bergelombang  layak  ombak  yang  terkena  amuk  badai,  make  up  yang sejatinya  diperuntukan  untuk  mempercantik  wajah  malahnya  terkesan  menimbun  aura kecantikannya,  kecantikan  yang  ia  kutuk  setiap  harinya  kala  cermin  dengan gamblangnya  berucap  tanpa  berpikir  lagi  ‘kamu cantik’.
Ia  tak suka,  bahkan  saat  dimana  ia  berada  di  mahanya  kemarahan  tanpa menunggu  sedetik  pun  cermin  yang  mengatakan  ‘kamu cantik’  tersisa  tinggal  serpihan  tak tumpul  dengan  dia  sebagai  bayang  perempuan  yang  tengah  mengenggam  tongkat  golf.
Rintik  menghujam  pijakan  lalu  menghilang,  menyisakan  noda  lingkaran berantakan  di  sekitarnya.  Di  jalan-jalan  yang  berlubang  sudah  berganti  nama  menjadi genangan,  perempuan  itu  terseyum  bercermin  di  dalamnya.  Di  genangan  air  keruh  ini bayangnya  bergoyang-goyang  lucu,  tak  menampilkan  warna,  tak  menampilkan   kecantikannya.  Ia   merendahkan  tubuhnya,  memeluk  lututnya  di  hadapan  genangan  yang  ia  suka.
Beberapa  jam  yang  lalu  ia  tak  tampak  sekacau  ini.  Rambutnya  bergelombang layak  ombak  di  laut  malam  yang  tenang,  berkilau  jika  tersinari  sinar  bulan,  wajahnya sempurna dengan lukisan make up yang menambah kecantikannya dalam hitungan mata, gaunnya mungil berwarna biru langit, berhias permata-permata putih seumpama awan yang melengkapi. Ia terduduk di remang ruang penuh jejal tatapan lelaki.
“kamu cantik.....” ucap lelaki berjas rapih, tatapannya tak lagi dapat dipungkiri tengah menikmati sajian mulus yang terhidang apik di hadapannya. Bau alkohol menyeruak keluar, bersatu dengan udara sekitar yang sudah terlebih dahulu beraroma uang, perempuan, dan seks.
Lampu sedikit berpendar, alunan musik mulai memekakan, tapi malah jadi alasan orang-orang disini tuk menghentak seirama di lantai. Bergoyang, berteriak, membebaskan apa pun yang sesak, mengekspresikan apa pun yang pantas, menyerapah apa pun dan siapa pun.
Perempuan itu membuat jarak. Bergeser sambil menutup hidung yang belum biasa akan aroma sehari-hari yang ia endus. Tangannya takut-takut ia lepas dari genggam besar lelaki berjas, membalik badan berniat menghilang di kerumunan.
“hey, mau kemana!” lelaki berjas itu meledak murka, sebagai seorang yang kiranya tak pernah tidak dituruti kemauannya . Sebagian orang yang sebelumnya tak peduli menatap ke satu arah suara, menghasilkan gamang sepersekian detik. Lelaki itu berdiri menunjukan wajah kuasanya, tangannya terkepal tapi tak menggenggam apa-apa, nafasnya memburu.
Lalu, ditemani musik menghentak, aroma alkohol, uang, perempuan, dan seks, teriakan-teriakan takut, dan segala keriuhan ruang remang itu. Sumpah serapah mengalir tanpa bendung, berucap berkali-kali ‘kamu cantik’ dengan tekanan amarah dan dera tinjuan tertuju perempuan malang itu.
Belum murkanya mereda dua lelaki besar memisahkan mereka dengan paksa dari gemulan sakit hati dan sakit tubuh.
“jangan sok suci lo! Cantik-cantik sok suci, cuih..”
Perempuan itu memejamkan mata. Berusaha menganggap biasa apa yang sedetik lalu terjadi, dipuja dengan cacian, hatinya tinggal keping seperti cermin-cerminnya di rumah. Namun, tak biasanya keping ini tajam di ujungnya, menggores sedikit demi sedikit, meninggalkan luka menganga, menyisakan kepedihan yang amat. Perempuan itu berubah kacau.
Ia kembali ke memoar beberapa tahun silam, membuatnya menggeleng tanpa ada pertanyaaan kala ia tak tahu jawabannya. Betapa pongah kiranya ia karena cantik semenjak rambutnya yang lurus dan hitam diikat masing-masing di atas telinganya. Betapa angkuhnya ia lantaran ibu-ibu yang tengah menggosip bahkan menyempatkan untuk memuji kecantikannya, betapa congkaknya kala di setiap sekolah ia dimahkotai ‘putri’, di kelilingi pangeran-pangeran yang semua berharap dapat bersanding dengan titel ‘ratu dan raja’.
Mungkin, salah satu dari mereka pernah memandang langit dengan hati yang tinggal keping – sama sepertinya saat ini – memejamkan mata, mengempulkan udara dalam-dalam di rongga dadanya, lantas berteriak mengutuk perempuan itu kencang. Mungkin.
 Atau dia adalah reankarnasi dari binatang hina, hingga saat ini kala ia bereankarnasi menjadi manusia sempurna ia tetap dianggap hina. Atau kemungkinan selanjutnya adalah karma dari perbuatan perempuan yang melahirkannya.
Ruang remang tinggal sepi, pendar lampu warna-warni hanya menghibur lantai, tumpahan dan remahan sisa kegilaan malam tengah dienyahkan dengan sapu dan lap. Semprotan-semprotan harum di setiap sisi ruang menyembunyikan aroma memualkan, yang dipastikan hanya akan bertahan hingga malam selanjutnya. Satu titik di timur semakin meluaskan keharusannya menerangkan dunia. Shubuh.
Perempuan itu masih terduduk dan tertunduk di tempat yang sama. Memandang kekosongan. Ia tahu setelah dewasa kecantikannya tak sekedar dipuja, ia dihina. Bahkan saat ia tak melakukan apa pun! Ia tersenyum sendiri, sesekali mengeluarkan tawa tertahan, tangannya menggapai-gapai yang tak ada, lalu tiba-tiba punggungnya bergetar, ia sesegukan.
Lantai menghantarkan dingin ke kedua kaki jenjangnya, ia beringsut ke pojok ruang yang terhampar karpet. Tak ada yang mau menyuruhnya pergi, tak ada yang sebegitu tega. Ia terpejam sambil mendengar denting jam. Menurutnya itu lebih menenangkan ketimbang menegak beberapa gelas kecil alkohol. Ia suka mendengar denting jam yang setiap detik  tak pernah absen menemani kesendiriannya, begitu setia denting pada waktu yang telah ditentukan, dan ia hanya berhenti ketika energinya benar-benar habis. Tapi, tetap setia menanti diberi energi.
Dengan  penuh  usaha  yang  ia  kumpulkan  di  kedua  tangannya,  ia  topang badannya  untuk  bangkit. Sesekali ia jatuh lagi bedebam di karpet persia berlukis bunga saling bertautan. Kakinya  lemas  seakan seseorang sebelumnya telah menyetrum  dengan tegangan  serupa  stungun. High heels dua puluh centi menyulitkannya bangkit. tanpa berfikir lama ia lepas dan ia lempar hingga menimbulkan suara berisik lantaran tepat mendarat di meja bundar yang masih menopang gelas-gelas berisi sisa bir, wiskey dan segala jenis alkohol memuakan berwarna serupa air mani. Sekali lagi, ia membuat keping-keping.
Kembali padanya yang tengah menatap genangan sambil tersenyum. Kini tangannya mulai menggengam dengan menyisakan jari telunjuk serupa menunjuk. Perlahan jari dan genangan ia satukan,  menimbulkan lingkaran yang semakin lama membesar, lalu hilang sebelum sampai di sisi genangan. Ia tertawa saat wajahnya yang terpantul bergoyang-goyang. Rambut gelombangnya kini benar-benar serupa tsunami, terhembus angin shubuh.
Pemandangan amat aneh, perempuan penuh make up dengan gaun birunya bertingkah selayaknya anak kecil berusia tiga tahun. Berjongkok memperlihatkan kaki jenjangnya yang sedikit kotor, sesekali menatap lurus memperlihatkan wajah cantiknya walau terkotori make up dan darah.
Tak dipungkiri tingkahnya lebih menunjukan ia tak waras. Tawa dan tangis bergantian dikeluarkannya, terkadang berbarengan, menangis tapi tertawa, tertawa tapi menangis. orang tak habis pikir, betapa dengan cantiknya ia lebih cocok menjadi model atau artis pemain sinetron beratus episode. Semua menggeleng tak tahu jawabannya.
Perempuan itu tak ambil peduli, lebih tepatnya tak bisa peduli. Ia terus berfikir betapa sukanya ia dengan genangan, betapa nyamannya ia melihat cerminan wajahnya tanpa ada ‘cantik’ di pantulannya, betapa lucunya melihat dirinya bergoyang-goyang. Ia suka.
Mungkin, jawaban yang paling tepat mengapa nasib perempuan ini terlalu jelek adalah karma, karma karena seorang yang melahirkannya, yang ia panggil mama. Bertahun silam, saat rambutnya masih diikat di atas telinganya, saat ia belum sepenuhnya mengerti mengapa setiap hari mamanya menghukum kakanya, mengomeli dengan kata-kata yang tak ia mengerti, menampar, memukul dan adegan-adegan yang tak pernah dilakukan mama padanya. Ia dengan suruhan mama mengambil tongkat golf di lemari pojok ruang tamu, berlari dan memberikannya pada mama. Mama sekali lagi memukul kaka.
Ia baru menyadari kenyataan bahwa kakanya berbeda, kenyataan yang membuat ia serupa mama. Hingga akhirnya papa membawa kaka menghilang di balik pintu saat hujan menghujam deras, tanpa pernah ada kata pulang.
Hujan menderas. Noda lingkaran basah membesar, perlahan jalan tertutupi sempurna oleh hujan. Genangan yang dijadikan cermin oleh perempuan itu tak dapat lagi memantulkan bentuk wajahnya, terlampau keruh dan berkecipak. gigil menggigit tubuhnya yang telah dimandikan hujan. Namun, rautnya malah menunjukan ekspresi kegeraman yang tertahan.
Ia mulai berteriak mencaci, menunjuk kehampaan, menertawakan kekosongan, menangisi kesunyian. Sesekali ia berjongkok menghadap genangan, lalu kembali mencaci karena tak ada pantulan yang ia suka. Orang-orang mulai berbalik dari kasihan menjadi cacian, kelakuannya mengusik ketenangan.
“dasar pelacur gila!” umpat pria berkepala plontos dengan gamblangnya. Sepeda motor hitamnya terpaksa berhenti mendadak di hadapan perempuan itu, menghasilkan suara decit hasil gesekan ban dan aspal yang terbasuh rinai.
Perempuan itu ‘sempat’ memandangnya.  Layaknya bercermin di mata pria berkepala plontos ia menatap matanya dalam. Lantas berteriak garang.
“dasar botak gila! Gue bukan pelacur, gue perempuan baik-baik hahaaha...hhh...hh.” tertawanya disiram tangis tak berair mata. Pria itu memilih pergi dengan gelengan pelan, geram di rongga dadanya dibiarkan hilang dihembus angin dari atas motor hitamnya. Semakin bertambah saja orang gila di dunia!
Mereka yang berlalu lalang tak bisa mengerti. Tak tersedia lagi palu untuk mengetuk hati-hati mereka yang sekeras batu, hujan seharusnya bukan membasuh tubuh mereka, sejatinya lebih cocok membasuh hati-hati meraka yang terbakar ego masing-masing.
Orang-orang menilainya perempuan kotor. Hingga hardik tak habisnya menunjuk pada diri perempuan malang itu. Dari bocah-bocah kecil yang tak lagi polos tentang hal porno sampai nenek-nenek keriput bekas pelacur jalanan, semua tak tahu bahwa perempuan yang mereka hardik bahkan lebih suci, bahkan sangat suci karena ia mempertahankan kesuciannya di dunia kotor. Hanya sayang, tak ada tangan yang merangkul dan menggenggam di ketakutan alam bawah sadarnya, tak ada ucap yang memanggil tuk kembali pulang pada kenyataan. Tak ada sama sekali, bahkan genangan yang ia suka.
Hingga genangan mengering
Bahkan tak ada....
   
  



 Depok, 02 april 2014

  

Rabu, 26 Maret 2014

Diatas jalan, Dibawah Pohon Rindang



Siang ini langit begitu teduh, sebab mentari tak kuasa menyingkirkan gulungan awan yang saling bergemul satu dengan lainnya, menyatu lalu perlahan merubah rupanya menjadi agak kelam. Aku berjalan menyendiri, melewati deretan pepohonan rindang yang tengah menggugurkan dedauan keringnya. Sesekali kuseka salah satu daun yang jatuh tepat di atas kepalaku, memainkannya sebentar lalu membiarkannya terbang tertiup angin dari telapak tanganku.
Setitik air terasa menghujam wajahku, rintik telah mengawali hujan di siang teduh ini. Aku sedikit mempercepat langkahku untuk segera pulang, mungkin hanya sampai disini aku dapat memutar kenangan usang tentangnya. Esok aku akan kembali lalu seperti ini, lagi dan lagi selama yang aku mau.

######

Disitu, di bangku panjang di tengah taman itu untuk pertama kalinya aku “dipertemukan” tuhan dengannya. Hari itu aku tengah jenuh mengikuti mata kuliah yang memang membosankan. Tanpa tujuan yang jelas kakiku melangkah membelah jalan aspal, memandang apa saja yang aku lalui. Kupeluk lenganku berusaha mengurangi dingin di pagi mendung itu, setelah terasa lama kaki kulangkahkan aku mengedarkan pandangan mencari tempat untuk aku membuang lelah. Ditengah jalan dibawah pepohonan rindang kutemukan bangku kayu panjang tak terduduki.
Seseorang duduk disampingku, sedikit menggangguku karena gitarnya sesekali mengenai pundakku. Aku berniat beranjak pergi namun terhenti saat suaranya menahanku.
“hey, mau mendengar aku bernyanyi?”
Aku menoleh, ia tersenyum. Ah tuhan wajahnya ternyata sangat manis.
“hmm baik, aku harap suaramu tak mengecewakan” aku mencoba seasyik mungkin saat itu. Entah mengapa aku tak menolaknya, seperti aku telah mengenalnya dekat.
Ia mulai bernyanyi, wajahnya sungguh menawan. Rambut agak gondrongnya sesekali ia kibaskan karena menutupi mata teduhnya. Kepalanya terangguk-angguk mengikuti alunan nada yang ia nyanyikan, tangannya memetik senar gitar begitu lincahnya seakan ia terlahir untuk itu. Sambil bernyanyi ia memandang ke arahku penuh makna. Ia buatku malu dan suka...
Langit sudah mulai digelapkan tuhan, pemutaran memori tentangnya hari ini kurasa cukup. Aku bangkit dari bangku kayu panjang kenangan yang sudah mulai lapuk dimakan waktu. Aku akan kembali dengan kenangan lainnya, esok atau lusa.

######

Hari ini jalan “kenangan” ramai, karena hari ini adalah hari dimana kebanyakan orang mengistirahatkan kegiatannya dari jenuhnya bekerja atau belajar. Aku mengayun lagkah kakiku menyusuri bagian-bagian kecil tempat yang ingin aku ingat. Aku memandang kearah salah satu pohon besar yang berdiri kokoh disamping jalan, pohon tertua diantara deretan pohon-pohon lainnya.
      “siapa namamu? namaku sandi”. Ia memperkenalkan dirinya setelah kami tanpa sengaja bertemu untuk ke sekian kali.
      “aku sera”
      “kamu suka menyanyi?”
      Aku menggeleng, dalam hal menyanyi aku tahu aku lah orang yang paling payah.
      “bisa bermain gitar?”
      Aku menggeleng lagi, lebih kencang.
      “eem..mau mendengar aku bernyanyi lagi?”
      Aku menggeleng menggodanya.
      “tidak?”
      “haha bercanda aku senang mendengarmu bernyanyi”
      Dia tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutku halus, aku gugup.
      “lagu apa yang mau kamu dengar?”
      Aku sedikit berpikir, aku ingat bahwa saat itu adalah hari ulang tahunku yang ke 19. Mungkin akan lucu jika dia menyanyikan lagu ulang tahun untukku.
      “lagu selamat ulang tahun..”
      Ia mengerutkan dahinya “hari ini hari ulang tahunmu?”
Aku mengangguk, ia pun mengangguk setuju. Segera ia keluarkan gitar yang selalu menemaninya dari tas gitar yang juga selalu bertengger di pundaknya. Kami mencari tempat duduk disekitar sini namun sayangnya tak ada yang bisa kami duduki. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ia memutuskan untuk bersandar di salah satu pohon yang paling besar. Kaki kirinya ia lipat kebelakang juga bersandar pada pohon itu. Ia mulai menyanyi, untukku..
“selamat ulang tahun aku ucapkan, selamat sejahtera sehat sentosa....”
aku tertawa, dia pun ikut tertawa.

######

Langit menangis sepanjang hari, tak heran jalanan sepi ditinggal para pejalan yang enggan berdingin kehujanan. Hanya aku pagi ini yang dengan hebatnya melawan dingin di sepanjang jalan tanpa jaket bahkan payung. Tubuhku sudah menggigil sejak keluar dari rumah kecilku, entah mengapa perasaan ini membuat kakiku melangkah tanpa berpikir tentang tubuh yang dibawanya.
 Hujan hari itu mengerikan karena petir terdengar menggelegar beberapa kali. Kupercepat langkahku setelah keluar dari kampus menuju rumah yang kubayangkan nyaman dengan kehangatannya, aku kedinginan sekarang. Melewati jalan dengan banyak pohon rindang yang menjulang membuat aku semakin takut, pikirku  petir akan menyambar pepohonan yang tinggi, seperti pepohonan disini. Saat langkahku kuubah menjadi lari kilat malah semakin menjadi, bak bumi yang sedang difoto blitznya menyilaukan dan petir pun menggelegar memekakan telinga. Reflek aku berjongkok menutup kedua telinga, aku merasa sangat ciut dalam ketakutanku.
“apa yang kamu lakukan?”
Aku menoleh keasal suara, sandi berdiri dibelakangku dengan tas gitarnya dan payung. Melihatnya aku malah menangis, ia terlihat bingung.
“eh hey kenapa menangis? A...aaku tak membuatmu takutkan?”
Ia berjalan lalu ikut berjongkok dihadapanku, payungnya ia sodorkan kepadaku. Ia memandangku kasihan, ia terlihat bingung dengan apa yang harusnya ia lakukan. Tangannya terangkat seperti ingin mengusap air mataku tapi tak dilakukannya.
“aku bingung apa yang harus aku lakukan saat perempuan menangis ra”
Aku mengangkat kepalaku lalu memandangnya. Wajahnya memang terlihat sangat kebingungan dengan alis yang mengkerut lucu, kali ini aku malah tertawa.
“wajahmu kenapa begitu saat bingung, sandi” ucapku tertawa sambil mengusap air mata yang tersisa.
“ah kamu membuat aku bingung tau” jawabnya dengan tawa juga.
Tangannya mengacak-ngacak rambutku pelan, dengan tatapan tulus ia menatapku dalam lalu tiba-tiba memelukku erat. Payung yang ia bawa jatuh disampingku, membuat kami sama-sama basah kehujanan.
“jangan menangis lagi...”
Aku berhenti melangkah, menatap jalan dihadapanku. Aku mulai menangis sendiri sesegukan disitu, wajahku kututup dengan kedua telapak tangan. aku rindu kamu san, sangat rindu.

######

“kenapa tiba-tiba?” aku bertanya padanya, suaraku serak menahan tangis.
“bukan tiba-tiba, ra. Aku memang ingin pergi jauh sebelum aku bertemu denganmu”
Aku marah.
“dan kenapa kamu tidak memberi tau aku? Atau memang aku, aku...ah kamu jahat, san.....”
“....bahkan aku tidak dianggap penting bagimu?”
“bukan itu, please jangan berpikir begitu ra”
Aku mulai menangis, aku sangat takut saat itu. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatiku sehingga membuat aku marah mendengar ia akan pergi, meninggalkanku.
“sera, aku tak mau melihatmu menangis apalagi jika karena aku”
Ia terlihat bingung dengan wajah yang sama saat aku menangis kehujanan dulu, namun bedanya kali ini tak ada tawa. Ia mengepal tangannya kuat, entah menahan gejolak apa di hatinya.
“maaf, sungguh ser aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan dengan perempuan...”
“....entah aku harus memberitahumu atau tidak, aku harus bilang apa saat aku memberitahumu, entah penting kah untukmu aku membicarakan ini. Aku bingung ra! Aku tak pandai tentang perempuan”
Aku menatap wajahnya, Ya tuhan san itu kah yang kamu pikirkan? Tanpa memikirkan lagi rasa maluku aku memeluknya. Aroma khas tubuhnya membuatku nyaman, hangat tubuhnya sedikit terbagi menghangatkan ketakutanku, rambut agak gondrongnya menutupi sebagian wajahku diatas pundaknya. Aku semakin membenamkan wajahku padanya, nyaman.
sudah berapa menit aku melakukan adegan berpelukan dengannya disaksikan orang-orang yang lalu lalang. Aku tak ambil pusing, begitupun dia.
“sandi..” ucapku hampir berbisik.
“hmm?”
Aku mengeratkan pelukanku.
“kenangan kita belum sempurna, kau tau?”
“benarkah? Kurang apa menurutmu?”
Kami melepasakan pelukan kami masing-masing.
“eem....sebuah pengakuan, pengakuan yang membuat kamu terbayang kenangan ini selama kamu pergi jauh dariku. Kamu tak kan melupakanku kau tau?”
Dia tersenyum penasaran “pengakuan apa, sera?”
Aku agak menjauh darinya, dua langkah kebelakang lalu menatap langit sore waktu itu. Senja ini terlukis sempurna oleh tuhan, awan yang terbias serpihan cahaya mentari sore merubah warnanya menjadi oranye kemerahan. Kuas tuhan menyapu langit dengan mega yang begitu detail indahnya, bak langit syurga yang tuhan berikan sebentar untuk menghibur makhluknya.
“aku menyukaimu sandi....”  
######

Sesering waktu yang tak henti-hentinya memakan detik demi detik, aku masih disini walau terkadang kuakui jenuh. Namun, apalah kita jika sang rindu tak jua bisa berganti pada seorang yang lain. Kuambil gitar yang belum lama menemaniku lalu mulai memetiknya perlahan, walau belum sepenuhnya kukuasai aku sudah mengerti tentang bagaimana mencari nada-nada yang pas untuk mengiringi sebuah lagu.
Suara gitar menemaniku dibangku panjang kayu ini, bermain gitar seperti ini sedikitnya dapat menguras rinduku tidak dengan air mata. Mataku kupejamkan agar dapat merasakan tiap nada yang gitar ini hasilkan, mendayu ditengah bisu.
Sandi, aku menunggumu untuk membuat lagi guratan-guratan kenangan tentang aku dan kamu. Aku percaya kamu karena di dalam dirimu telah aku goreskan pengakuan tulus yang akan buatmu kembali untukku.
San, aku masih disini di tempat yang tetap sama saat kita pertama berjumpa. Diatas jalan, dibawah pohon rindang.
“maukah aku nyanyikan lagu?”
Suara itu, Sandi?


17 november 2013




Selasa, 04 Maret 2014

Kardus dan Mas

Kardus dan Mas

Zahra Sabilah
Ruang gelap beraroma lembab menyambut kedatanganku kala aku membuka pintu perlahan. Tumpukan-tumpukan kardus yang mulai lapuk tak terawat pun debu di setiap sisi benda menampakan ruangan ini telah lama tak tersentuh setidaknya untuk dibersihkan. Aku berjalan perlahan sambil kaki menendang benda yang menghalangi langkahku. Mataku tajam mengitari kardus-kardus yang tertumpuk berantakan di gudang rumahku dulu. Mencari salah satunya yang bercoretkan nama kecilku, Lala.
                Ah, disana. Aku menemukan kardus yang kucari sedari tadi. Tintanya sedikit kabur terlembabkan air, namun masih tereja namaku di sisi kanan paling bawah. Aku tersenyum lega.
Hmmm, kenangan-kenangan semasa SMA membubuhi kegiatanku kala melihat benda-benda yang mengisi penuh kardus berdebu ini. Dari mulai plastik putih yang tetap saja serupa tujuh tahun yang lalu saat saat sesorang memberiku coklat untuk kali pertama. Aku tersenyum sambil menggeleng pelan.

***
                Bel pulang terdengar nyaring. Membuat remaja-remaja yang telah lelah melahap pelajaran bergumam lega, termasuk aku. kubereskan secepatnya buku-buku berserakan di atas meja coklat penuh coretan nakal. Rasanya aku ingin segera keluar dari kelas yang baunya saja masih tercium aroma angka matematika, membuatku mual.
                “Lala, ke kantin yu”. Suara yang tak asing memanggilku dari arah pintu kelas. Aku menengok kearahnya dan mengangguk mengiyakan, yang diiyakan malah menampakan wajah memelas kelaparan. Aku tertawa melihat rupanya. Ia sahabatku, iyang namanya.
                Setelah dianggap selesai membereskan buku-buku, aku berniat keluar. Satu langkah keluar dari ruang kelas, wajahku seperti ada yang memerintah untuk berpaling ke arah kiri. Aku menuruti, sedetik berlalu seorang dari kelas yang berbeda di ujung sana pun keluar dan berpaling ke arahku. Seorang yang telah memilih berjanji untuk ku. Ia tersenyum, terlihat manis sekali walau dari kejauhan. Kala itu rasanya daun-daun berguguran mengindahkan tatapan antara aku dengannya. Serupa dalam drama-drama televisi musik bagai mengalun lembut, menemani waktu yang bagai terhenti untuk episode manis ini. Aku terdiam tergagap, mengangkat tangan lalu melambai kearahnya. Argh...aku terlihat bodoh sekali saat itu. Iyang menambah kebodohanku dengan tertawa menggoda.
                Rayhan berjalan menghampiri aku dan iyang. Ah, ku tak tau bagaimana rupa wajahku saat itu.
                “udah mau pulang?” tanyanya dengan tetap tersenyum.
                “iya. eh..engh...engga engga aku mau ngater iyang ke kantin” jawabku tak karuan, aku mengutuk kegelagapanku dalam hati.
                Iyang menyikutku pelan. Memberi sinyal padaku untuk tidak berlama-lama, namun nampaknya malah Rayhan yang lebih mengerti gelagat sahabatku itu dibanding aku. Rayhan membuka tas ransel yang sedari tadi ia peluk, mengeluarkan bungkusan plastik berwarna putih lalu memberikannya padaku.
                “buat kamu. Kalo mau pulang kasih tau ya?”
                Aku meraih pemberian Rayhan dengan mengangguk tersenyum. Kini wajahku bersemu sempurna.
                ***
                Kembali pada kegiatanku mengorek memoar dulu. Aku kembali mengaduk isi kardus ini. Debu semakin bertebaran memaksa masuk hidungku. Aku lupa tak memakai masker sebelumnya hingga rasanya sesak mulai menyerangku. Aku memandang sekeliling, sekiranya ada jendela yang dapat aku buka untuk membiarkan udara masuk memenuhi ruang apek ini. Tepat di sebelah tumpukan kardus kutemukan jendela tertutup triplek lapuk. Segera kusingkirkan penutupnya tuk mengundang udara masuk menemaniku bernafas di sini.
                Ada kertas tergulung terlihat diantara tumpukan benda-benda milikku. Aku lupa kertas apa yang dulu pernah aku masukan. Segera kuraih dan kubuka dengan sangat hati-hati. Memandang sebentar. Menutup mulut. Tersenyum.
***
                Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku memandang foto seseorang lama sekali untuk yang kesekian kali. Entah lah, sepertinya bosan tak tega menghampiriku kala melihat betapa antusiasnya mataku menatap setiap lekuk wajah yang tertangkap foto itu. Wajah dilembar foto ini menghadap samping, memperlihatkan dengan detailnya lekuk-lekuk bentuk wajah Rayhan. Dari dahi, alis, hidung, mulut, dagu, dan rambutnya. Semuanya kuanggap lukisan paling indah yang diberikan Tuhan untukku. Hmm, cinta membuatku berlebihan dalam segala hal.
                Aku mengurung diri di kamar seharian. Mengunci pintu, tak membiarkan siapapun mengganggu kekhusyuanku. Kekhusyuan menggambar wajah Rayhan diatas kertas putih dengan torehan tanganku sendiri. Dengan sedikit keterampilan menggambar yang kupunya aku berniat menggambar wajahnya lalu memberikan hasilnya sebagai hadiah.
                “bagus banget, La. Udah cepetan kasih ke dia”
                “tapi malu, tau”
                “ih ngapain malu. Gue yakin dia bakal suka sama gambar lo”
                “engh..tapi..”
                Iyang memaksaku memberikan hasil gambarku setelah kuperlihatkan padanya. Entah mengapa niatku memberikan hasil gambarku padanya tak dapat kurealisasikan dengan baik. Malu menjadi faktor utama ketidak beranianku. Aku tak yakin apakah Rayhan akan meyukai gambar dirinya yang aku buat.
                Seperti biasa, sepulang sekolah aku dan Rayhan mencuri waktu tuk saling tukar cerita atau hanya sekedar saling pandang.
                “Rayhan?”
                “hmm?”
                Rayhan menatapku dalam. Aku malah terpaku menerima tatapannya.
***

                Aku tertawa sendiri mengingat kejadian waktu itu. Akhirnya gambar yang kubuat tetap menjadi milikku. Tanpa pernah sempat memberikan padanya sebagai hadiah. Aku meghela nafas pelan. Seru sekali mengingat keluguan cinta yang kupunya dulu. Masa dimana cinta adalah hal terpenting dari segala hal lainnya, bahkan lebih penting dari keluargaku dulu.
                “bunda, lagi apa?”
                Aku menoleh. Malaikat kecilku terlihat berdiri di ambang pintu, bertanya dengan mulut penuh coklat. Wajah menggemaskan Kemal terlihat dinodai coklat yang ia makan sendiri. Aku terhibur melihatnya.
                “lagi liat barang-barang yang bunda punya dulu, kemal mau liat juga? ” aku menghampirinya. Mengusap wajahnya yang kotor, ia malah berlari menghampiri kardusku dan asik mengacak-ngacak isinya. Sesaat mengeluarkan benda berwarna coklat.
                “ini tas buat kemal ya bun?” aku menoleh.
                Ia terlihat memakai tas pundak bertali panjang yang kepanjangan. Talinya melilit tubuh kemal yang agak gempal. Pemandangan yang membuatku tertawa karena tingkahnya.
                “itu kan tas perempuan, sayang”
                aku mendekat. Wajah kemal terlihat mulai kesal karena tak sanggup melepaskan dirinya sendiri. Kubantu lepaskan tali tas yang melilitnya dengan perlahan.
                “kemal mau bantu ayah benelin kipas aja ya buuun...”
                Ia berlari. Seketika menghilang di balik pintu gudang setelah ‘selamat’ dari lilitan tali. Aku memandang kepergiannya dengan menggeleng. Cepat sekali apa-apa yang dilakukan anak seusianya. Aku menunduk, melihat apa yang aku pegang. Tas ini...
***
                Kakiku mulai terasa pegal karena telah berjalan kurang lebih satu jam lebih. Aku mengurut lututku pelan.
                “kamu cape?”
                Aku mengangguk “dikit”
                “yaudah kita cari tempat istirahat sekalian kita makan, aku laper”
                Ia tertawa dalam kata ‘laper’nya. Membuat aku mengangguk tersenyum. Ada desiran halus di relung hati yang aku punya kala ia menggenggam tanganku tuk ikuti langkahnya. Lucu sekali aku ini. Niatku pergi ditemani Rayhan ke tempat perbelanjaan ini adalah mencari tas buatku, namun karena terlalu bingung memilih diantara banyaknya tas disini kurasakan lelah lebih dahulu sebelum menemukan apa yang aku cari.
                 “jadi, ngga ada yang cocok nih?”
                Aku menggeleng.
                Rayhan mencubit pipiku kesal – atau tepatnya manja – dengan pelan. Aku pura-pura kesakitan mengelus pipiku yang tak sakit. Ia tertawa memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya, matanya yang sudah agak sipit semakin sipit saja. Manis sekali.
                “udah deh kita jalan-jalan aja, soal tas nanti aku beliin, ya?” ucapnya sambil melahap sate yang tadi kami pesan. Aku menggeleng.
                “eh ngga usah. Nanti sama temen aja aku nyari lagi”
                “kok sama temen?”
                “emang mau nganterin lagi?”
                “engga”
                “eeeh kok engga?”
                “dih, katanya mau sama temen?” Wajah jahilnya mulai menampakan diri. Satu alis terangkat dengan bantuan senyuman nakal.
                Aku membalas tak kalah nakal. “iya, temen cowok, weeee”
                rayhan tertawa, aku juga. Lirikan-lirikan para pengunjung lainnya terasa menghujam ke arah aku dan dia. Aku tak ambil pusing, begitu pun Rayhan yang kini genggamnya malah tengah membungkus tanganku. Hangat.   
                Malam mulai beranjak larut. Dua makhluk yang hatinya dipenuhi nikmatnya rasa mulai bersiap pulang. Rasanya langit kala itu masih menaungi aku dengannya dalam genggam bersama. Semesta serupa mendukung lewat langit yang ia taburi gemintang berkilau. Semakin terasa saja dunai milikku, juga Rayhan.
                Sesuai janjinya beberapa bulan selanjutnya kiriman datang atas namaku. Tas coklat lucu bersemayam di dalam bungkusannya. Juga hatiku.
***  
                Aku mematung sesaat, berfikir. Ku masukan kembali tas dan benda-benda ‘kenangan’ ke dalam kardus. Menutupnya lalu berjanji tak akan membukanya lagi.
                “de lagi ngapain?” pertanyaan sama, namun berbeda suara membuatku menoleh lagi. Seseorang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Alis matanya tebal hampir saling berpautan antara kanan dan kiri. Hidung mancung. rahang yang menampilkan ketegasan, namun ada mata yang memberikan ketenangan. Ia adalah teman, kakak sekaligus kekasihku. Dia suamiku.
                “lagi beresin gudang, mas” kujawab sekenanya sambil tangan masih memasukan beberapa benda ke kardus. Ia mendekat. Melihat gerak-gerikku tanpa berkedip. Aku salah tingkah dibuatnya.
                “jangan ngeliat kaya gitu toh, mas. Kan malu”. Ucapku manyun, ia tertawa.
                “kamu ini masih malu aja sama suamimu sendiri, de...de...”
                Aku tersenyum. Medekatinya lalu mengusap dahinya yang kotor. Sambil memandang mataku ia melingkarkan tangannya memeluk pinggangku.
                “kamu itu satu-satunya yang bisa bikin aku salah tingkah, mas. Bahkan sampai saat ini”
                Kusandarkan kepalaku di dadanya yang nyaman. aroma tubuhnya masih sama seperti saat pertama aku ada di dekapnya, juga kehangatan yang ia bagi tetap sehangat beberapa tahun yang lalu. Ia bukan Rayhan, bukan. Ia adalah lelaki yang mampu buatku lupa akan segala rasa yang kurasakan dulu. Cinta dan sakit. Ia selalu bisa membuatku jatuh cinta, lagi dan lagi setiap harinya. Semudah membalikan telapak tangan ia bangun kepercayaan akan aku dan dia yang dijodohkan tuhan. Ia membawaku ke jalan yang dibenarkan Tuhan. Ia yang dengan gampangnya merubah fikiranku – dulu – bahwa aku hanya bisa jatuh cinta dengan masa laluku, semudah ini. Semudah saat ia mengucapkan akad di hari yang paling membuatku bahagia, pernikahan kami.
                “bunda sama ayah lagi ngapain?” suara kemal ‘mengganggu’ keromantisan aku dan mas imam di gudang. Kami tertawa.
                Mas, aku jatuh cinta padamu di hari pertama kurasakan patah hati.


22 januari 2014