Kamis, 22 Oktober 2015

Pemikir dan Peramu*




Ada idealisme terhidang dari pemikir-pemikir ulung, dari penyuara kata berdasar ‘ketertarikan’. Yang nyata berkontribusi di sela-sela kesibukan sendiri. Lantas terhidang tertuju insan-insan yang lahap kunyahan dari tiap suapan pengetahuan.
Lewat temu sehabis salam dan senyum, retrorika kata sederhana bermetamorfosa menjadi frosa indah penggugah, hingga sesekali kerah disentuh menunjukan betapa kami bangga mendengar ramuan penguras ketidak-tahuan kami hari itu.
Meski begitu, pemikir ulung tak menjaraki ‘ketertahuan’ nya dengan Sabda sang Maha Mengetahui barang sekelumit atom dalam kumpulan elektron. Ialah ayat yang mengakhiri tiap kerat pegetahuan yang teramat berserat.
Kenapa berserat?
Berserat sebab pengetahuan tak terbatas pendapat  satu-dua orang keras kepala. Sesekali perlu rasanya mengembalikan tanya kepada Sang Pemberi kemampuan kita untuk bertanya, agar dijawab lewat ayat lain yang belum sempat diranahi oleh para peramu macam kita.
Anggukan hadir mengikuti ritme keterpahaman akan apa-apa yang diajarkan, untuk kami yang terduduk manis di deretan baris –yang semakin kebelakang, terkadang semakin tak ditenggeri pemahaman.
Gelengan tak alpa merautkan ketidakpahaman di tengah penyampaian, secara klasik mengangkat tangan tinggi-tinggi mencoba mengambil alih semua perhatian dalam satu ketukan detik. Bertanya setelah dipersilahkan.
Lantas pemikir ulung sekaligus peramu ilmu sigap mengambil ancang-ancang untuk mendeteksi pertanyaan dengan menatap si penanyanya. Mengangguk, tersenyum, menghela nafas, dan menjawab tanpa kelupaan dengan diawali
“Sesuai Firman Allah surat sekian dan ayat sekian, Allah berfirman....”
Sekiranya karena kami mengangguk karena teramat mengerti, bumi mendapati dirinya lindu tanpa disadari. Kami terlalu memahami sebab dijejali pemaparan berdasar logika. Efek domino menjalar pada masing-masing kepala. Satu mengangguk, sejurus kemudian semua mengangguk, mengerti atau pura-pura mendalami.
Setelah digugah sebagian kami mengunggah dari balik panggung. Memperdengarkan pada telinga-telinga berkerak gelak. Mencatat lewat bayangan teknologi segi panjang di tiap masing bola  mata.
Ialah tadi implementasi baik dari kebaikan yang terkadang diputarbalikkan. Bila diteriakkan betapa belajar itu suatu keharusan, orang ogah sebab telinganya gerah. Nyatanya yang ogah selalu berteriak orang pintar gegabah.
Bagi para pemakai tuxedo picik. Pengetahuan mengajarkan meretas hukum. Bukan siapa menyalahkan siapa, namun begitu nyatanya. Hingga akhirnya hukum diciptakan bukan untuk dipatuhi, namun diciptakan untuk digunakan secara canggih.
Di satu tegap batang ada cabang mengakar. Serupa pengetahuan yang mengakar pada tiap kepala yang berbeda. Menghasilkan konsep yang tak selalu sama.
Tinggal bagaiamana seorang memeperalat pengetahuan tanpa lebih dulu menertawakan etika berkeTuhanan. Semacam para pemikir dan peramu disini yang membisiki kami dengan frosa garapan Tuhan.






Depok, 20 Mei 2015

*Dosen STEI Sebi

Rabu, 10 Juni 2015

Adalah




Memilih menyukaimu adalah membiarkan sakit tanpa diobati.
Kita sama-sama saling bertatap, tapi kita tak sama-sama saling berharap.
Menyukaimu adalah tertawa yang dipaksakan, kau melucu tentang perempuan bukan aku. Aku tertawa, kau pun tertawa. Aku terpaksa, kau tak terpaksa.    
Menyukaimu adalah mencoba sebisa mungkin menatap lingkar coklat bola matamu. Hilangkan gugup, sembunyikan kenyataan tentang sukaku.
Menyukaimu adalah bersandiwara menjadi kawan, bahkan adik. Tak boleh lebih, kurang boleh.
Sesekali menyukaimu adalah menjadi gampangan. Kapan kau butuh, kapan kau pinta, aku tak pernah alpa. Aku tak sanggup jual mahal.
Menyukaimu adalah mencarimu sebab rindu. Setelah ketemu, aku berlalu. Merindumu adalah menyapamu.
Menyukaimu adalah mendengar cerita kasihmu, kekasihmu. Aku akan berpura-pura menggodamu hingga kau tersipu. Ingin rasanya aku pergi melihat sipu malumu, sebab di depanku tapi bukan karenaku.
Menyukaimu adalah mengetik tentangmu, dengan amat detail.


Depok, 05 januari 2015


Kamis, 05 Maret 2015

Kisah, Langkah, Da'wah


Kisah, Langkah, Da'wah
zahra sabilah

Adzan berkumandang merdu, syahdunya bergelayut pada telinga-telinga manusia di akir lelap, adzan subuh telah melangit membikin sebagian manusia bangkit. Aku menggeliat pelan, mata kuperjapkan berkali-kali, mencoba membiasakan mata disilaukan cahaya lampu kembali. Dari balik pintu suara ketuk dan teriakan ummi terdengar berbarengan.
“Teh bangun, sholat.”
Aku mengangguk walau tahu ummi tak bisa melihat anggukanku, rasanya suaraku belum sanggup keluar dari tenggorokan untuk menyahut.
“Teteh, Aa, keburu subuhnya habis, loh”.
Teriakan ummi terdengar kembali, bukan lagi memanggil aku tapi juga Adib, adik lelakiku yang sama gebluknya sepertiku.
“Iyaaaa....”
Aku memaksa bangkit. Berat sekali meninggalkan empuknya kasur dan hangatnya selimut di subuh berhawa gigil ini. Astagfirullah.
Air wudhu menyapu kantukku kala kubasuh pada wajah tiga kali. Gigil dari telapak kaki yang kupijakkan pada dinginnya lantai kamar mandi menjalar hingga ke ubun, menghapus tuntas sisa-sisa kantuk yang tadi amat menahanku untuk mendirikan sholat yang hanya dua rokaat. Lantunan sholawat samar-samar terdengar dari pengeras suara masjid yang kira-kira berjarak lima ratus meter dari rumahku.
“Abi kemana?”
Tanyaku setelah menaruh lipatan mukena di lemari plastik sambil mencari sosok teduh berjenggot, sejak tadi suara berat Abi berucap salam sepulang dari masjid belum kudengar, padahal  tak lagi terdengar sholawatan dari pengeras suara masjid.
“ke Cikande.”
Ummi menjawab singkat lalu kembali meneruskan membaca Al-Ma’surat. Aku mengangguk. Jawaban singkat ummi ‘ke Cikande’ secara tak langsung –untukku— telah menerangkan tujuan Abi ke Cikande di gelapnya subuh yang dirundung gigil, Abi mau Liqo.
            Tentang abi, ia berperawakan kecil, sebab – katanya— kala belum lagi remaja kedua kakinya sempat lumpuh, menyebabkan kakinya terhambat meninggi –tingginya sekarang kira-kira sama denganku. Wajahnya teduh dengan janggut lebat yang beberapa helainya kini memutih. Alis matanya tebal dan tegas khas orang-orang padang, kampung halaman Abi nan jauh di mata. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum dengan deretan gigi putih rapihnya, senyum yang mampu menghapus sangar wajahnya. Suaranya kecil, sama sekali tak cerewet, sifat yang menurun padaku  selain alis tebalku.
            Kala shubuh belum lagi usai di akhir minggu, abi telah bersiap. Terkadang abi kembali ke rumah terlebih dahulu, mengenakan jaket hitam, memanggul tas yang lebih dahulu ia isi dengan Al-Qur’an dan buku ‘agenda’ coklat legendarisnya, buku dengan sampul coklat yang kertas-kertas putih didalamnya telah ‘memaksa’ keluar. Ah, jika melihat buku ‘agenda’ milik Abi aku seakan terhempas pada lima belas tahun silam, tahun kala aku bahagia berimajinasi di buku-buku milik Abi, terkesan dewasa saja jika imajinasi-imajinasi liarku tercurah diatas kertas-kertasnya. Jadi, hampir seluruh buku milik Abi telah tergambar bentuk-bentuk abstrak hasil goresan pensil oleh tanganku.
            Kecuali hari minggu, abi bekerja sejak pagi baru beranjak hingga maghrib sehabis senja. Jadi, ‘sebanarnya’ hari istirahat abi hanya di hari minggu dan di tanggal merah yang tak seberapa di tiap bulan. Kenyataannya, di hari yang harusnya digunakan abi untuk sejenak beristirahat tak digunakan sebagai mana mestinya. Sehabis shubuh usai, abi mengendari motor bebek merahnya melawan angin dipermulaan hari yang sering terasa menggigit, apalagi bila hujan mengguyur di tengah derunya. Jarak dari rumah ke cikande kira-kira lima belas kilo meter, menjadi tiga puluh kilo meter jika pulang-pergi.
            Kira-kira, bila jam menunjuk angka delapan abi pulang, dengan sambutan dari anak-anaknya yang menagih makanan –yang biasanya diakhiri dengusan kekecewaan karena tak ditemukan apa-apa di tasnya. Abi pulang, ummi sudah bersiap pergi, lalu abi juga ikut pergi. Setiap minggu pagi abi dan ummi menghadiri pengajian rutin tiap minggu, meninggalkan aku –sebagai anak sulung—dengan tugas-tugas rumah tangga yang bejibun. Kau tahu? minggu adalah hari terkumpulnya tugas-tugas dari senin hingga sabtu.
            Tentang ummi, ummi kini berumur emat puluh dua. Wajahnya bulat dengan mata agak sipit. Kerudung lebar yang ummi kenakan membuat anggun tiap geraknya, walau badan ummi tak bisa diakatakan kurus sebab telah melahirkan aku dan ketiga adikku. Sifat yang sama antara aku dan ummi ialah kesukaan dalam membaca, walau jenis buku yang kami baca tak selalu sama. Ummi menyukai buku-buku ilmiah bertema dakwah, atau buku-buku biografi orang-orang sholeh. Sedang aku menyukai novel berbagai genre dan komik-komik jepang, namun sesekali juga aku membaca buku yang ummi sukai.
            Bila dibandingkan dengan abi, ummi lebih aktif dalam berda’wah. Ummi bercerita, sejak masih gadis ummi telah mengikuti tarbiyah, dengan kesadaran sendiri tanpa disuruh samasekali. Ummi bukan seorang anak dari keluarga yang mengedepankan nilai-nilai islam dalam keluarganya, bukan pula seorang mahasiswi yang sudah diperkenalkan dengan tarbiyah pada masa itu. Ummi –pada masa itu—adalah seorang gadis yang punya semangat akan nilai islam, yang rindu pada keindahan islam yang tak sempat keluarganya berikan. Kini, ummi adalah seorang ibu dari empat anak. Tak pernah berdiam di rumah untuk  waktu lama, tak suka bergosip di bale-bale dengan ibu-ibu komplek, tak ada ucap ‘tidak’ bila dipinta mengisi pengajian jika ummi bisa menghadirinya, tak lelah memacu motor seorang diri ke rumah-rumah atau tempat untuk menghadiri berbagai pengajian dan acara, selama tempat itu memberi ummi ilmu untuk kembali ummi sampaikan kepada orang lain.
            Punggung tangan ummi jauh lebih hitam dari wajahnya, sebab sengatan matahari kala ummi bepergian mengendarai motor seorang diri. Dengan lihai ummi memacu motornya tiap kali pergi ke suatu tempat, meninggalkan aku dan adik-adikku di rumah, walau sesekali si bungsu ikut bila tak bisa dirayu untuk tidak ikut, bukan apa-apa, ummi hanya kasihan membawa anaknya panas-panasan dan ngebul-ngebulan diatas motor. Aku ingat dulu, ketika aku baru memiliki dua adik ummi sudah sering meninggalkan kami. Saat itu aku masih duduk di bangku SD dengan dua adik yang berselang masing-masing satu tahun. Sepulang sekolah biasanya aku mendapati kertas atau papan tulis kecil berisi tulisan yang memberi tahu bahwa ummi tengah mengaji dimana, pulang jam berapa, dan pemberitahuan ada makanan apa di dapur.
“teh, ummi ngaji di Ciujung, pulang jam satu, di dapur ada sop sama ikan”
            Pernah suatu hari aku dan adikku merasa amat sedih ditinggal ummi. Waktu itu hujan deras mengguyur disertai kilat dan gemuruh petir, di tengah ketakutan kami lampu tiba-tiba padam, membuat kami tak diberi hiburan samasekali, bahkan dari televisi. Atap dapur kala itu masih berupa seng yang menjadi amat bising bila dijatuhi rintik hujan, karena telah rapuh dan tidak kuat menampung hujan tiba-tiba salah satu seng yang menjadi atap dapur jatuh, mengagetkan tiga anak kecil yang tengah menati umminya pulang. Lalu menangislah kami bertiga, kedua adikku menangis sejadi-jadinya, sedang aku sebagai kakanya berusaha menahan tangis dengan amat susah payah, masih terasa bagaimana sesaknya hingga sekarang.
            Bisa dibilang ummi tak pernah menganggur barang satu hari, bahkan di hari minggu seperti hari ini.
            “teh, ayo ikut senam” ucap ummi sambil mengenakan kaos kaki coklatnya. Jarum panjang dan pendek jam menunjuk angka enam, ummi telah rapih dengan kerudung kaos berwarna donker dan celana lebar ‘setengah’ roknya, bersiap mengikut senam rutin yang diadakan ibu-ibu PKK tiap minggu.
            “Nggak ada sepatu, Mi”
Aku beralasan.
            “Ah, bilang aja teteh males....”
            Aku tertawa. Tuh, ummi tau.
            “....Kemaren alesannya nggak ada kerudung, sekarang nggak ada sepatu?”
            “Yee..minggu kemaren emang kerudung teteh direndem semua, kan ummi yang yang nyuruh.”
            “Emang sepatu teteh sekarang kemana?”
“Tuh...” aku menunjuk sepatu ketsku yang tengah bertengger diatasa pagar. “ Abis dicuci tadi. Kan, ummi yang nyuruh.”
Ummi menyerah mengajakku senam dengan berucap ‘dasar’ diakhir percakapan. Setelah mengenakan sepatu senam, ummi bangkit beranjak pergi dengan berucap salam. Dari dalam rumah aku sempat mendengar suara ummi samar-samar.
            “Teteh udah gendut banget, tau......”
            Aku segera bercermin.

Pagi ini hari Minggu. Hari yang ramai-ramai dijadikan banyak keluarga untuk bertamasya atau sekedar jalan-jalan di taman sekeluarga. Atau hari yang dijadikan waktu untuk istirahat sehari penuh dengan malas-malasan menonton TV dan tidur. Atau malah hari yang diisi beragam acara seharian. Keluargaku adalah keluarga yang menjadikan hari minggu seperti pilihan terakhir.
            Selesai senam, ummi mengganti baju dengan gamis cokelat muda dan kerudung segi empat lebarnya yang berwarna sepadan, bersiap mengikuti pengajian di salah satu sekolah islam terpadu yang setiap minggu rutin diadakan. Dibonceg Abi yang telah kembali dari Cikande, ummi kembali pergi. Biasanya aku tidak ikut, juga adik-adikku. Kami di rumah akan menunggu abi dan ummi dengan harapan mereka membawa berbagai makanan sepulangnya dari sana. Bedanya kepergian ummi dan abi adalah kepulangannya, abi tak akan membawa apa-apa, sedang ummi akan membawa apa-apa, entah sisa atau memang pemberian dari teman ummi yang baik hati. Dan benar saja.
            “assalamu’alaykum....”
            Mereka pulang. Aku dan adik-adikku yang tadinya sibuk masing-masing berhamburan menuju pintu untuk menyambut kedatangan mereka, bertanya ini-itu, memeriksa tas yang ummi bawa, mendapatkan makanan, lalu saling berebutan.
            “Teh, tadi pembicaranya ustad.....”
            Ummi mulai bercerita. Aku mendengarkan sambil melahap pisang goreng oleh-oleh ummi. Pisang goreng yang awalnya ada enam kini tinggal satu, menjadi bahan rebutan adik-adikku.
            “Bagus banget pembahasannya, tentang karakteristik perilaku sahabat-sahabat Rosulullah....”
              Aku menyimak dengan seksama. Suara tangis terdengar, pisang yang tinggal satu menjadi sebab adik bungsuku menangis. Ternyata pisang rebutan telah dilahap abi tanpa dosa. Ummi masih bercerita dengan antusias, sesekali ditimpali oleh cerita abi. Aku mengangguk-angguk menyimak.
            “Mi, mau silaturrahmi ke rumah bu Ai mau nggak?.”
            Tanya abi dari arah dapur. Percakapan kami tentang pengajian tadi telah usai. Ummi yang kini bercerita tentang temannya menghentikan ceritanya, mengiyakan ajakan abi sambil memakai kembali kaus kakinya. Aku menelan potongan pisang goreng terakhir, menatap ummi dan abi yang sudah siap pergi lagi. Kau tahu? dari wajah mereka tak tampak sama sekali guratan lelah.
            “Umi berangkat ya teh, jagain adeknya jangan ditangisin. Assalamu’alaykum.”
Kembali suara motor yang kuhapal derunya terdengar, semakin lama semakin kecil lalu menghilang. Kutatap kepergian mereka hingga tak terlihat lagi. Berdo’a semoga Allah melindungi tiap jengkal langkah mereka.

Teruntuk abi dan ummi yang tak lelah pada langkah. Tak usah susah meninggalkan, sebab kami tahu kalian alfa dalam tapak yang salah. Maaf, sebab sesekali kami malah marah, ditinggal kalian yang kami tak tahu arah.  Biar kami iring dengan do’a mengadah, semoga sebelum hujan semesta kembali menelaah, dan semoga abi juga ummi selalu melulu berdakwah, dibawah naung senyum sang Illah. Tetang kalian –dengan amat bangga— aku berkisah.
           
             
Serang, 02 Februari 2015

  






Sabtu, 20 Desember 2014

Ummi; satu ungkap, sesemesta





Sejenak semesta melunak. Memberikan sepoinya yang menina-bobokan siapa saja yang tertampar halus. Tak hujan, tak pula panas. Tak mendung, tak pula terik. Semesta memanjakanku dengan baiknya. Sebab sepertinya, Tuhan menyuruhnya begitu tuk teduhkanku yang tengah sUmmik meletakkan kata perkata untuk seorang yang seperti teduhnya semesta. Ummi, Ummi, Bunda, Mamah, Emak, Mimi.
Bagiku yang amat mengerti tentang memberi tuk berterimakasih.
Ummi, tiga huruf satu ucap. Tiga kata yang jika kuungkap tak ada habisnya untuk kuakhiri. Tiga kata yang ingin sekali kuberi semesta dengan segala keindahannya. Dengan eja i-b-u yang buatku ingin memberinya apa-apa yang ia ingin, bahkan yang belum ia inginkan, terlepas dari keterbatasanku pada materi pun waktu yang Tuhan beri.
Tapi kata-kata ini masih amat terlalu sederhana, kan?
Bagiku yang tersekat jauh, Ummi ialah rindu.
Yang apa-apa darinya selalu ku tunggu adanya. Barang sekedar pesan dengan melulu
bernada tanya. Sudah makan? Kapan pulang? Kenapa belum makan? Bagaimana kuliahnya?
Bagiku yang merindunya.
Ummi adalah mata yang memandangku dengan sayang di tiap kala, alis yang mengerut kala risau aku tak jua pulang, mulut yang berkasih kisah-kisah menggetarkan sebelum aku terjaga, ia adalah tangan yang menggenggam erat agar aku tak kemana-mana selain disampingnya, kaki yang mengikuti langkah-langkahku memijaki dunia, telinga yang menerka bahagia, sedih, kecewanya aku dengan sabarnya.
Bagiku yang selalu mengharu biru memaknai apapun, apalagi Ummi.
Ia adalah semua yang kubutuhkan. Ia adalah semua yang aku inginkan. Ummi adalah hadiah sebagai bahagiaku. Ummi adalah seorang yang tak bisa ku ganti. Bahkan, dengan semesta berikut galaksi-galaksi. Ummi ialah memori berjuta ‘byth’ tentangku, tentang aku yang terkadang malah sengaja menghapusnya kala aku larut pada hingar bingar kawan.
Bagiku Ummi ialah angan yang ingin kusua tiap kala. Sebab kala-kala yang aku lalui tanpanya serupa desauan angin, hanya lewat tanpa membekas, hingga kini. Selama ini.
Ummi kata yang selalu terungkap setelah Sang Maha Pencipta, kala kurindu lantaran dunia sementara menjauhkan, kala ku jatuh, kala ku butuh untuk apa-apa yang aku butuh dan kuingin, kala ku takut dunia yang tak baik terhadapku, kala ku sakit sebab kawan dan cinta.
Bagiku yang terlalu malu berucap rindu, Ummi ialah rindu.
Rindu malu-malu dari anakmu yang tak tahu malu. Yang sejujurnya amat ingin kuungkapkan dengan indah. Entah lewat gemerlap rasi-rasi di langit semesta yang ingin kutitah agar membentuk katamu. Pun entah dengan gumpalan awan yang ingin kugenggam agar mampu ku sketsa wajahmu. Namun, aku tahu kapasitas manusiaku, itu semua perkara Tuhan yang hanya bisa aku ungkap, tak mampu kuwujudkan.
Bagiku yang telah dewasa, Ummi ialah rindu.
Yang ku mau tapi malu timangnya, dekapnya, kecupnya kala usiaku jauh sebelum kini.
Jika saja Tuhan memberikan masing-masing manusia satu harapan yang dapat  dikabulkan. Aku akan pinta tuk samakan hari kala aku dan Ummi menutup kehidupan, sebab ia seorang nyata yang paling ku takuti hilangnya. Terlalu takut, bahkan untuk kubayang pejam matanya.
Kemenyerahanku buatku merindu lebih dalam. Kejatuhan buatku menjadi perindu paling baik. Kesendirianku jadikanku mengerti betapa cinta sejati ialah memberi, sebab orang-orang –terkecuali Ummi— hanya sekadar meminta. Sungguh, Tuhan boleh menghukumku, sebab terkadang, aku menaruh rindu pada Ummi, jika yang aku punya hanya air mata.  
Bagiku  yang tak selalu bisa memandang lelapnya, Ummi ialah rindu.
Yang ingin sekali kuberbaring di sampingnya sambil bercerita tentang betapa melelahkannya dunia.
Bagiku yang belum sempat mengerti mengapa Tuhan berkisah tentangku seperti ini.
Ummi ialah kerinduan tiada tara! Ketiada taraan yang digaris bawahi dan bernada seru, sebab memang tak lagi ada yang sanggup serupanya.
Dengan mengarang puitis ritmis ini aku memahami sebab mengapa satu hari di tanggal 22 nanti menjadi hari untuk Ummi di semesta, ialah karena pemalunya orang-orang dunia tuk nyatakan cinta pada masing Ummi jika sekedar sendiri. Maka, ditetapkanlah hari dimana orang-orang pemalu dapat mengungkapkan cintanya. Setidaknya, rasa malunya terkurangi dengan banyaknya orang melakukan hal yang serupa.     
Semoga memaknai Ummi hari ini, lewat sajak-sajak melankolis ini menghadirkan degup-degup rindu yang telah redup di relung hati masing-masing.
“rabbiharhuma kamaa robbayanii shoghiro.....”

Depok, 19 Desember 2014

23:41

Senin, 10 November 2014

Sajak Bertanya pada Tulisan




Sajak bertanya pada tulisan
Mengapa tak kau sudahi mengarang ku?
Eja tak berbentuk, makna menguap tak berdecak
Aku bertanya pada sajak lewat tulisan
Mengapa kau sebut tulisanku sajak?
Hanya karena abstrak susunan kata perkata
Sajak terpaku, sajak tertunduk
Sajak menggerutu, sajak menggeram
Sebelum  titik menyelesaikan tulisanku, aku bertanya
Maukah membantuku mengakhiri tulisanku?
Sajak gagu, aku layu
Senja sudah merenda langit sekarang,  pertanda waktu tengah menghabisi sisa-sisa hangat sebelum gigil kelam  nanti
Tulisanmu belumlah sempurna, sajak bersuara dari sunyi
Aku mengiyakan, sajak meneriakan sisanya
Filosofi sajak yang bertanya!

Depok, 01 oktober 2014

  

Rabu, 15 Oktober 2014

Aku dan Sajak Pemuda

Aku dan sajak pemuda
Zahra sabilah

Aku terduduk. Kaki kugoyang-goyang menggantung. Mataku liar membaca kisah-kisah jadul bersejarah. Aku pemuda dalam bisu. Aku berkata, lewat eja tangan. Mulutku ada dua, mulut serupa kebanyakan lainnya juga tangan kananku yang jarang serupa lainnya.
Biarkan kubersajak di bawah awan berwarna lembayung, bernama senja. Aku pemuda bisu bertangan bawel. Aku bukan penyair. Ah, itu terlalu ditinggi-tinggikan, kawan. Aku hanya pemuda dalam bisu.
Begini sajaknya, katanya.
Sekelumit lampau diriak kemoderenan metropolitan. Sekumpul kepala-kepala tak bertubuh, sebab tubuhnya samar diselubung karat nestapa. Mengapa karat? Sebab diacuhkan berlarut-larut. Tubuhnya berkarat pelbagai keruetan hidup.
Substansi nestapa mereka serupa, identik. Menggerogoti tubuh-tubuh yang sama-sama berkepala mendekati botak. Karena indonesia –kala itu – nyatanya berwujud gemulan internal berlarut-larut. Menjadikan alasan, bahkan mengalaskan pemuda tak lagi bisa berpura-pura bisu.
Indonesia raya. Awal kali nada mengenyuhkan tiap-tiap mereka, yang lantunannya sanggup mewakilkan tanah tumpahan darah. Indonesia raya, merdeka, merdeka.
 Kaum kolonialis sialan. Mencaplok rakus serupa tikus. Kaum putih bersandiwara bersih. Hitungan beratus tahun? Hah, dari moyang ke moyang dihipnotis mengenyangkan kuasa, hingga sendawanya busuk mayat kurang makan.
Tertindas, alasan pemuda berpeluh. Tertindas, alasan pemuda mengeluh. Tertindas, alasan pemuda bergerak shubuh. Tertindas, alasan pemuda bersumpah tangguh.
Secarik kerta digenggam, bersiap diteriakan. Sanubari-sanubari yang muak bersanding dengan kaum putih, seksama menunggu diperdengarkan. Seorang muda memberi secarik kertas pada yang tua. Lalu berucap tegas bak gelegar penyemangat.
Sumpah pemuda! Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Di dua puluh di bulan oktober menjadi awal peristiwa di tujuh belas di bulan agustus. Terlalu lama, memang. Namun, dalam kurun tujuh belas tahun lamanya semangat telah masak, mendidih memaksa tumpah. Jadi, pas sekali ramuan tahun yang Tuhan racik sedemikian rupa untuk indonesia, kawan.
Kakiku masih kugoyangkan. Kertas ditanganku kutimang-timang. Secarik ini sudah menjadi bukti otentik bahwa aku mengagumi negaraku, bukan? Lembayung hampir habis tergerus hitam. Pertanda Tuhan menghetikan ocehku. Aku pemuda di negri tumpahan darah. Mataku merah nyalang. Aku pemuda dalam bisu, tapi tanganku tidak.   
 


Mengingat hari sumpah pemuda yang ternyata sebentar lagi.


Rabu, 24 September 2014

Tanya?


Tanya?

Megapa hujan begitu teduh?
Mengapa hujan terlalu ramai?
Mengapa kita kehujanan, Pa?
Tak ada jawaban,
Satu-satu gelas plastik dipindah,
Satu-satu botol-botol dipindah
Gelegar mengagetkan anak bergenggam mainan lusuh
Menciutkan hati serupa sendiri
Lelaki tua didepannya masih sama, memungut.
Sang anak didebar pertanyaan
Mengapa? Bagaimana? Kapan?
Sesuatu diperutnya bersuara, ia lapar
Satu-satu ia menyamai gesit lelaki tua
Hingga penuh ‘kereseknya’ hampir serupanya, lantas timbang berwujud uang
Lelaki tua tersenyum,
“semua telah terjawab kan, Nak?”

Depok, 01 Mei 2014