Kisah, Langkah, Da'wah
zahra sabilah
zahra sabilah
Adzan berkumandang
merdu, syahdunya bergelayut pada telinga-telinga manusia di akir lelap, adzan
subuh telah melangit membikin sebagian manusia bangkit. Aku menggeliat pelan,
mata kuperjapkan berkali-kali, mencoba membiasakan mata disilaukan cahaya lampu
kembali. Dari balik pintu suara ketuk dan teriakan ummi terdengar berbarengan.
“Teh
bangun, sholat.”
Aku
mengangguk walau tahu ummi tak bisa melihat anggukanku, rasanya suaraku belum
sanggup keluar dari tenggorokan untuk menyahut.
“Teteh,
Aa, keburu subuhnya habis, loh”.
Teriakan
ummi terdengar kembali, bukan lagi memanggil aku tapi juga Adib, adik lelakiku
yang sama gebluknya sepertiku.
“Iyaaaa....”
Aku
memaksa bangkit. Berat sekali meninggalkan empuknya kasur dan hangatnya selimut
di subuh berhawa gigil ini. Astagfirullah.
Air
wudhu menyapu kantukku kala kubasuh pada wajah tiga kali. Gigil dari telapak
kaki yang kupijakkan pada dinginnya lantai kamar mandi menjalar hingga ke ubun,
menghapus tuntas sisa-sisa kantuk yang tadi amat menahanku untuk mendirikan
sholat yang hanya dua rokaat. Lantunan sholawat samar-samar terdengar dari
pengeras suara masjid yang kira-kira berjarak lima ratus meter dari rumahku.
“Abi
kemana?”
Tanyaku
setelah menaruh lipatan mukena di lemari plastik sambil mencari sosok teduh
berjenggot, sejak tadi suara berat Abi berucap salam sepulang dari masjid belum
kudengar, padahal tak lagi terdengar
sholawatan dari pengeras suara masjid.
“ke
Cikande.”
Ummi
menjawab singkat lalu kembali meneruskan membaca Al-Ma’surat. Aku mengangguk.
Jawaban singkat ummi ‘ke Cikande’ secara tak langsung –untukku— telah
menerangkan tujuan Abi ke Cikande di gelapnya subuh yang dirundung gigil, Abi mau Liqo.
Tentang abi, ia berperawakan kecil, sebab – katanya— kala
belum lagi remaja kedua kakinya sempat lumpuh, menyebabkan kakinya terhambat
meninggi –tingginya sekarang kira-kira sama denganku. Wajahnya teduh dengan
janggut lebat yang beberapa helainya kini memutih. Alis matanya tebal dan tegas
khas orang-orang padang, kampung halaman Abi
nan jauh di mata. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum dengan deretan gigi
putih rapihnya, senyum yang mampu menghapus sangar wajahnya. Suaranya kecil,
sama sekali tak cerewet, sifat yang menurun padaku selain alis tebalku.
Kala shubuh belum lagi usai di akhir minggu, abi telah
bersiap. Terkadang abi kembali ke rumah terlebih dahulu, mengenakan jaket
hitam, memanggul tas yang lebih dahulu ia isi dengan Al-Qur’an dan buku
‘agenda’ coklat legendarisnya, buku dengan sampul coklat yang kertas-kertas putih
didalamnya telah ‘memaksa’ keluar. Ah, jika melihat buku ‘agenda’ milik Abi aku
seakan terhempas pada lima belas tahun silam, tahun kala aku bahagia
berimajinasi di buku-buku milik Abi, terkesan dewasa saja jika
imajinasi-imajinasi liarku tercurah diatas kertas-kertasnya. Jadi, hampir
seluruh buku milik Abi telah tergambar bentuk-bentuk abstrak hasil goresan
pensil oleh tanganku.
Kecuali hari minggu, abi bekerja sejak pagi baru beranjak
hingga maghrib sehabis senja. Jadi, ‘sebanarnya’ hari istirahat abi hanya di
hari minggu dan di tanggal merah yang tak seberapa di tiap bulan. Kenyataannya,
di hari yang harusnya digunakan abi untuk sejenak beristirahat tak digunakan
sebagai mana mestinya. Sehabis shubuh usai, abi mengendari motor bebek merahnya
melawan angin dipermulaan hari yang sering terasa menggigit, apalagi bila hujan
mengguyur di tengah derunya. Jarak dari rumah ke cikande kira-kira lima belas
kilo meter, menjadi tiga puluh kilo meter jika pulang-pergi.
Kira-kira, bila jam menunjuk angka delapan abi pulang,
dengan sambutan dari anak-anaknya yang menagih makanan –yang biasanya diakhiri dengusan
kekecewaan karena tak ditemukan apa-apa di tasnya. Abi pulang, ummi sudah
bersiap pergi, lalu abi juga ikut pergi. Setiap minggu pagi abi dan ummi menghadiri
pengajian rutin tiap minggu, meninggalkan aku –sebagai anak sulung—dengan
tugas-tugas rumah tangga yang bejibun.
Kau tahu? minggu adalah hari terkumpulnya tugas-tugas dari senin hingga sabtu.
Tentang ummi, ummi kini berumur emat puluh dua. Wajahnya bulat
dengan mata agak sipit. Kerudung lebar yang ummi kenakan membuat anggun tiap
geraknya, walau badan ummi tak bisa diakatakan kurus sebab telah melahirkan aku
dan ketiga adikku. Sifat yang sama antara aku dan ummi ialah kesukaan dalam
membaca, walau jenis buku yang kami baca tak selalu sama. Ummi menyukai
buku-buku ilmiah bertema dakwah, atau buku-buku biografi orang-orang sholeh.
Sedang aku menyukai novel berbagai genre dan komik-komik jepang, namun sesekali
juga aku membaca buku yang ummi sukai.
Bila dibandingkan dengan abi, ummi lebih aktif dalam
berda’wah. Ummi bercerita, sejak masih gadis ummi telah mengikuti tarbiyah,
dengan kesadaran sendiri tanpa disuruh samasekali. Ummi bukan seorang anak dari
keluarga yang mengedepankan nilai-nilai islam dalam keluarganya, bukan pula
seorang mahasiswi yang sudah diperkenalkan dengan tarbiyah pada masa itu. Ummi
–pada masa itu—adalah seorang gadis yang punya semangat akan nilai islam, yang
rindu pada keindahan islam yang tak sempat keluarganya berikan. Kini, ummi adalah
seorang ibu dari empat anak. Tak pernah berdiam di rumah untuk waktu lama, tak suka bergosip di bale-bale dengan ibu-ibu komplek, tak
ada ucap ‘tidak’ bila dipinta mengisi pengajian jika ummi bisa menghadirinya,
tak lelah memacu motor seorang diri ke rumah-rumah atau tempat untuk menghadiri
berbagai pengajian dan acara, selama tempat itu memberi ummi ilmu untuk kembali
ummi sampaikan kepada orang lain.
Punggung tangan ummi jauh lebih hitam dari wajahnya,
sebab sengatan matahari kala ummi bepergian mengendarai motor seorang diri.
Dengan lihai ummi memacu motornya tiap kali pergi ke suatu tempat, meninggalkan
aku dan adik-adikku di rumah, walau sesekali si bungsu ikut bila tak bisa
dirayu untuk tidak ikut, bukan apa-apa, ummi hanya kasihan membawa anaknya
panas-panasan dan ngebul-ngebulan
diatas motor. Aku ingat dulu, ketika aku baru memiliki dua adik ummi sudah
sering meninggalkan kami. Saat itu aku masih duduk di bangku SD dengan dua adik
yang berselang masing-masing satu tahun. Sepulang sekolah biasanya aku
mendapati kertas atau papan tulis kecil berisi tulisan yang memberi tahu bahwa
ummi tengah mengaji dimana, pulang jam berapa, dan pemberitahuan ada makanan
apa di dapur.
“teh,
ummi ngaji di Ciujung, pulang jam satu, di dapur ada sop sama ikan”
Pernah suatu hari aku dan adikku merasa amat sedih
ditinggal ummi. Waktu itu hujan deras mengguyur disertai kilat dan gemuruh
petir, di tengah ketakutan kami lampu tiba-tiba padam, membuat kami tak diberi
hiburan samasekali, bahkan dari televisi. Atap dapur kala itu masih berupa seng
yang menjadi amat bising bila dijatuhi rintik hujan, karena telah rapuh dan
tidak kuat menampung hujan tiba-tiba salah satu seng yang menjadi atap dapur
jatuh, mengagetkan tiga anak kecil yang tengah menati umminya pulang. Lalu menangislah
kami bertiga, kedua adikku menangis sejadi-jadinya, sedang aku sebagai kakanya
berusaha menahan tangis dengan amat susah payah, masih terasa bagaimana
sesaknya hingga sekarang.
Bisa dibilang ummi tak pernah menganggur barang satu
hari, bahkan di hari minggu seperti hari ini.
“teh, ayo ikut senam” ucap ummi sambil mengenakan kaos
kaki coklatnya. Jarum panjang dan pendek jam menunjuk angka enam, ummi telah
rapih dengan kerudung kaos berwarna donker dan celana lebar ‘setengah’ roknya,
bersiap mengikut senam rutin yang diadakan ibu-ibu PKK tiap minggu.
“Nggak ada sepatu, Mi”
Aku
beralasan.
“Ah, bilang aja teteh males....”
Aku tertawa. Tuh,
ummi tau.
“....Kemaren alesannya nggak ada kerudung, sekarang nggak
ada sepatu?”
“Yee..minggu kemaren emang kerudung teteh direndem semua,
kan ummi yang yang nyuruh.”
“Emang sepatu teteh sekarang kemana?”
“Tuh...”
aku menunjuk sepatu ketsku yang tengah bertengger diatasa pagar. “ Abis dicuci
tadi. Kan, ummi yang nyuruh.”
Ummi
menyerah mengajakku senam dengan berucap ‘dasar’ diakhir percakapan. Setelah
mengenakan sepatu senam, ummi bangkit beranjak pergi dengan berucap salam. Dari
dalam rumah aku sempat mendengar suara ummi samar-samar.
“Teteh udah gendut banget, tau......”
Aku segera bercermin.
Pagi
ini hari Minggu. Hari yang ramai-ramai dijadikan banyak keluarga untuk
bertamasya atau sekedar jalan-jalan di taman sekeluarga. Atau hari yang
dijadikan waktu untuk istirahat sehari penuh dengan malas-malasan menonton TV
dan tidur. Atau malah hari yang diisi beragam acara seharian. Keluargaku adalah
keluarga yang menjadikan hari minggu seperti pilihan terakhir.
Selesai senam, ummi mengganti baju dengan gamis cokelat
muda dan kerudung segi empat lebarnya yang berwarna sepadan, bersiap mengikuti
pengajian di salah satu sekolah islam terpadu yang setiap minggu rutin diadakan.
Dibonceg Abi yang telah kembali dari Cikande, ummi kembali pergi. Biasanya aku
tidak ikut, juga adik-adikku. Kami di rumah akan menunggu abi dan ummi dengan
harapan mereka membawa berbagai makanan sepulangnya dari sana. Bedanya
kepergian ummi dan abi adalah kepulangannya, abi tak akan membawa apa-apa, sedang
ummi akan membawa apa-apa, entah sisa atau memang pemberian dari teman ummi
yang baik hati. Dan benar saja.
“assalamu’alaykum....”
Mereka pulang. Aku dan adik-adikku yang tadinya sibuk
masing-masing berhamburan menuju pintu untuk menyambut kedatangan mereka,
bertanya ini-itu, memeriksa tas yang ummi bawa, mendapatkan makanan, lalu
saling berebutan.
“Teh, tadi pembicaranya ustad.....”
Ummi mulai bercerita. Aku mendengarkan
sambil melahap pisang goreng oleh-oleh ummi. Pisang goreng yang awalnya ada
enam kini tinggal satu, menjadi bahan rebutan adik-adikku.
“Bagus banget pembahasannya, tentang karakteristik
perilaku sahabat-sahabat Rosulullah....”
Aku menyimak
dengan seksama. Suara tangis terdengar, pisang yang tinggal satu menjadi sebab
adik bungsuku menangis. Ternyata pisang rebutan telah dilahap abi tanpa dosa.
Ummi masih bercerita dengan antusias, sesekali ditimpali oleh cerita abi. Aku
mengangguk-angguk menyimak.
“Mi, mau silaturrahmi ke rumah bu Ai mau nggak?.”
Tanya abi dari arah dapur. Percakapan kami tentang
pengajian tadi telah usai. Ummi yang kini bercerita tentang temannya
menghentikan ceritanya, mengiyakan ajakan abi sambil memakai kembali kaus
kakinya. Aku menelan potongan pisang goreng terakhir, menatap ummi dan abi yang
sudah siap pergi lagi. Kau tahu? dari
wajah mereka tak tampak sama sekali guratan lelah.
“Umi berangkat
ya teh, jagain adeknya jangan ditangisin. Assalamu’alaykum.”
Kembali
suara motor yang kuhapal derunya terdengar, semakin lama semakin kecil lalu
menghilang. Kutatap kepergian mereka hingga tak terlihat lagi. Berdo’a semoga
Allah melindungi tiap jengkal langkah mereka.
Teruntuk
abi dan ummi yang tak lelah pada langkah. Tak usah susah meninggalkan, sebab
kami tahu kalian alfa dalam tapak yang salah. Maaf, sebab sesekali kami malah
marah, ditinggal kalian yang kami tak tahu arah. Biar kami iring dengan do’a mengadah, semoga
sebelum hujan semesta kembali menelaah, dan semoga abi juga ummi selalu melulu
berdakwah, dibawah naung senyum sang Illah. Tetang kalian –dengan amat bangga—
aku berkisah.
Serang,
02 Februari 2015

