Kamis, 05 Maret 2015

Kisah, Langkah, Da'wah


Kisah, Langkah, Da'wah
zahra sabilah

Adzan berkumandang merdu, syahdunya bergelayut pada telinga-telinga manusia di akir lelap, adzan subuh telah melangit membikin sebagian manusia bangkit. Aku menggeliat pelan, mata kuperjapkan berkali-kali, mencoba membiasakan mata disilaukan cahaya lampu kembali. Dari balik pintu suara ketuk dan teriakan ummi terdengar berbarengan.
“Teh bangun, sholat.”
Aku mengangguk walau tahu ummi tak bisa melihat anggukanku, rasanya suaraku belum sanggup keluar dari tenggorokan untuk menyahut.
“Teteh, Aa, keburu subuhnya habis, loh”.
Teriakan ummi terdengar kembali, bukan lagi memanggil aku tapi juga Adib, adik lelakiku yang sama gebluknya sepertiku.
“Iyaaaa....”
Aku memaksa bangkit. Berat sekali meninggalkan empuknya kasur dan hangatnya selimut di subuh berhawa gigil ini. Astagfirullah.
Air wudhu menyapu kantukku kala kubasuh pada wajah tiga kali. Gigil dari telapak kaki yang kupijakkan pada dinginnya lantai kamar mandi menjalar hingga ke ubun, menghapus tuntas sisa-sisa kantuk yang tadi amat menahanku untuk mendirikan sholat yang hanya dua rokaat. Lantunan sholawat samar-samar terdengar dari pengeras suara masjid yang kira-kira berjarak lima ratus meter dari rumahku.
“Abi kemana?”
Tanyaku setelah menaruh lipatan mukena di lemari plastik sambil mencari sosok teduh berjenggot, sejak tadi suara berat Abi berucap salam sepulang dari masjid belum kudengar, padahal  tak lagi terdengar sholawatan dari pengeras suara masjid.
“ke Cikande.”
Ummi menjawab singkat lalu kembali meneruskan membaca Al-Ma’surat. Aku mengangguk. Jawaban singkat ummi ‘ke Cikande’ secara tak langsung –untukku— telah menerangkan tujuan Abi ke Cikande di gelapnya subuh yang dirundung gigil, Abi mau Liqo.
            Tentang abi, ia berperawakan kecil, sebab – katanya— kala belum lagi remaja kedua kakinya sempat lumpuh, menyebabkan kakinya terhambat meninggi –tingginya sekarang kira-kira sama denganku. Wajahnya teduh dengan janggut lebat yang beberapa helainya kini memutih. Alis matanya tebal dan tegas khas orang-orang padang, kampung halaman Abi nan jauh di mata. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum dengan deretan gigi putih rapihnya, senyum yang mampu menghapus sangar wajahnya. Suaranya kecil, sama sekali tak cerewet, sifat yang menurun padaku  selain alis tebalku.
            Kala shubuh belum lagi usai di akhir minggu, abi telah bersiap. Terkadang abi kembali ke rumah terlebih dahulu, mengenakan jaket hitam, memanggul tas yang lebih dahulu ia isi dengan Al-Qur’an dan buku ‘agenda’ coklat legendarisnya, buku dengan sampul coklat yang kertas-kertas putih didalamnya telah ‘memaksa’ keluar. Ah, jika melihat buku ‘agenda’ milik Abi aku seakan terhempas pada lima belas tahun silam, tahun kala aku bahagia berimajinasi di buku-buku milik Abi, terkesan dewasa saja jika imajinasi-imajinasi liarku tercurah diatas kertas-kertasnya. Jadi, hampir seluruh buku milik Abi telah tergambar bentuk-bentuk abstrak hasil goresan pensil oleh tanganku.
            Kecuali hari minggu, abi bekerja sejak pagi baru beranjak hingga maghrib sehabis senja. Jadi, ‘sebanarnya’ hari istirahat abi hanya di hari minggu dan di tanggal merah yang tak seberapa di tiap bulan. Kenyataannya, di hari yang harusnya digunakan abi untuk sejenak beristirahat tak digunakan sebagai mana mestinya. Sehabis shubuh usai, abi mengendari motor bebek merahnya melawan angin dipermulaan hari yang sering terasa menggigit, apalagi bila hujan mengguyur di tengah derunya. Jarak dari rumah ke cikande kira-kira lima belas kilo meter, menjadi tiga puluh kilo meter jika pulang-pergi.
            Kira-kira, bila jam menunjuk angka delapan abi pulang, dengan sambutan dari anak-anaknya yang menagih makanan –yang biasanya diakhiri dengusan kekecewaan karena tak ditemukan apa-apa di tasnya. Abi pulang, ummi sudah bersiap pergi, lalu abi juga ikut pergi. Setiap minggu pagi abi dan ummi menghadiri pengajian rutin tiap minggu, meninggalkan aku –sebagai anak sulung—dengan tugas-tugas rumah tangga yang bejibun. Kau tahu? minggu adalah hari terkumpulnya tugas-tugas dari senin hingga sabtu.
            Tentang ummi, ummi kini berumur emat puluh dua. Wajahnya bulat dengan mata agak sipit. Kerudung lebar yang ummi kenakan membuat anggun tiap geraknya, walau badan ummi tak bisa diakatakan kurus sebab telah melahirkan aku dan ketiga adikku. Sifat yang sama antara aku dan ummi ialah kesukaan dalam membaca, walau jenis buku yang kami baca tak selalu sama. Ummi menyukai buku-buku ilmiah bertema dakwah, atau buku-buku biografi orang-orang sholeh. Sedang aku menyukai novel berbagai genre dan komik-komik jepang, namun sesekali juga aku membaca buku yang ummi sukai.
            Bila dibandingkan dengan abi, ummi lebih aktif dalam berda’wah. Ummi bercerita, sejak masih gadis ummi telah mengikuti tarbiyah, dengan kesadaran sendiri tanpa disuruh samasekali. Ummi bukan seorang anak dari keluarga yang mengedepankan nilai-nilai islam dalam keluarganya, bukan pula seorang mahasiswi yang sudah diperkenalkan dengan tarbiyah pada masa itu. Ummi –pada masa itu—adalah seorang gadis yang punya semangat akan nilai islam, yang rindu pada keindahan islam yang tak sempat keluarganya berikan. Kini, ummi adalah seorang ibu dari empat anak. Tak pernah berdiam di rumah untuk  waktu lama, tak suka bergosip di bale-bale dengan ibu-ibu komplek, tak ada ucap ‘tidak’ bila dipinta mengisi pengajian jika ummi bisa menghadirinya, tak lelah memacu motor seorang diri ke rumah-rumah atau tempat untuk menghadiri berbagai pengajian dan acara, selama tempat itu memberi ummi ilmu untuk kembali ummi sampaikan kepada orang lain.
            Punggung tangan ummi jauh lebih hitam dari wajahnya, sebab sengatan matahari kala ummi bepergian mengendarai motor seorang diri. Dengan lihai ummi memacu motornya tiap kali pergi ke suatu tempat, meninggalkan aku dan adik-adikku di rumah, walau sesekali si bungsu ikut bila tak bisa dirayu untuk tidak ikut, bukan apa-apa, ummi hanya kasihan membawa anaknya panas-panasan dan ngebul-ngebulan diatas motor. Aku ingat dulu, ketika aku baru memiliki dua adik ummi sudah sering meninggalkan kami. Saat itu aku masih duduk di bangku SD dengan dua adik yang berselang masing-masing satu tahun. Sepulang sekolah biasanya aku mendapati kertas atau papan tulis kecil berisi tulisan yang memberi tahu bahwa ummi tengah mengaji dimana, pulang jam berapa, dan pemberitahuan ada makanan apa di dapur.
“teh, ummi ngaji di Ciujung, pulang jam satu, di dapur ada sop sama ikan”
            Pernah suatu hari aku dan adikku merasa amat sedih ditinggal ummi. Waktu itu hujan deras mengguyur disertai kilat dan gemuruh petir, di tengah ketakutan kami lampu tiba-tiba padam, membuat kami tak diberi hiburan samasekali, bahkan dari televisi. Atap dapur kala itu masih berupa seng yang menjadi amat bising bila dijatuhi rintik hujan, karena telah rapuh dan tidak kuat menampung hujan tiba-tiba salah satu seng yang menjadi atap dapur jatuh, mengagetkan tiga anak kecil yang tengah menati umminya pulang. Lalu menangislah kami bertiga, kedua adikku menangis sejadi-jadinya, sedang aku sebagai kakanya berusaha menahan tangis dengan amat susah payah, masih terasa bagaimana sesaknya hingga sekarang.
            Bisa dibilang ummi tak pernah menganggur barang satu hari, bahkan di hari minggu seperti hari ini.
            “teh, ayo ikut senam” ucap ummi sambil mengenakan kaos kaki coklatnya. Jarum panjang dan pendek jam menunjuk angka enam, ummi telah rapih dengan kerudung kaos berwarna donker dan celana lebar ‘setengah’ roknya, bersiap mengikut senam rutin yang diadakan ibu-ibu PKK tiap minggu.
            “Nggak ada sepatu, Mi”
Aku beralasan.
            “Ah, bilang aja teteh males....”
            Aku tertawa. Tuh, ummi tau.
            “....Kemaren alesannya nggak ada kerudung, sekarang nggak ada sepatu?”
            “Yee..minggu kemaren emang kerudung teteh direndem semua, kan ummi yang yang nyuruh.”
            “Emang sepatu teteh sekarang kemana?”
“Tuh...” aku menunjuk sepatu ketsku yang tengah bertengger diatasa pagar. “ Abis dicuci tadi. Kan, ummi yang nyuruh.”
Ummi menyerah mengajakku senam dengan berucap ‘dasar’ diakhir percakapan. Setelah mengenakan sepatu senam, ummi bangkit beranjak pergi dengan berucap salam. Dari dalam rumah aku sempat mendengar suara ummi samar-samar.
            “Teteh udah gendut banget, tau......”
            Aku segera bercermin.

Pagi ini hari Minggu. Hari yang ramai-ramai dijadikan banyak keluarga untuk bertamasya atau sekedar jalan-jalan di taman sekeluarga. Atau hari yang dijadikan waktu untuk istirahat sehari penuh dengan malas-malasan menonton TV dan tidur. Atau malah hari yang diisi beragam acara seharian. Keluargaku adalah keluarga yang menjadikan hari minggu seperti pilihan terakhir.
            Selesai senam, ummi mengganti baju dengan gamis cokelat muda dan kerudung segi empat lebarnya yang berwarna sepadan, bersiap mengikuti pengajian di salah satu sekolah islam terpadu yang setiap minggu rutin diadakan. Dibonceg Abi yang telah kembali dari Cikande, ummi kembali pergi. Biasanya aku tidak ikut, juga adik-adikku. Kami di rumah akan menunggu abi dan ummi dengan harapan mereka membawa berbagai makanan sepulangnya dari sana. Bedanya kepergian ummi dan abi adalah kepulangannya, abi tak akan membawa apa-apa, sedang ummi akan membawa apa-apa, entah sisa atau memang pemberian dari teman ummi yang baik hati. Dan benar saja.
            “assalamu’alaykum....”
            Mereka pulang. Aku dan adik-adikku yang tadinya sibuk masing-masing berhamburan menuju pintu untuk menyambut kedatangan mereka, bertanya ini-itu, memeriksa tas yang ummi bawa, mendapatkan makanan, lalu saling berebutan.
            “Teh, tadi pembicaranya ustad.....”
            Ummi mulai bercerita. Aku mendengarkan sambil melahap pisang goreng oleh-oleh ummi. Pisang goreng yang awalnya ada enam kini tinggal satu, menjadi bahan rebutan adik-adikku.
            “Bagus banget pembahasannya, tentang karakteristik perilaku sahabat-sahabat Rosulullah....”
              Aku menyimak dengan seksama. Suara tangis terdengar, pisang yang tinggal satu menjadi sebab adik bungsuku menangis. Ternyata pisang rebutan telah dilahap abi tanpa dosa. Ummi masih bercerita dengan antusias, sesekali ditimpali oleh cerita abi. Aku mengangguk-angguk menyimak.
            “Mi, mau silaturrahmi ke rumah bu Ai mau nggak?.”
            Tanya abi dari arah dapur. Percakapan kami tentang pengajian tadi telah usai. Ummi yang kini bercerita tentang temannya menghentikan ceritanya, mengiyakan ajakan abi sambil memakai kembali kaus kakinya. Aku menelan potongan pisang goreng terakhir, menatap ummi dan abi yang sudah siap pergi lagi. Kau tahu? dari wajah mereka tak tampak sama sekali guratan lelah.
            “Umi berangkat ya teh, jagain adeknya jangan ditangisin. Assalamu’alaykum.”
Kembali suara motor yang kuhapal derunya terdengar, semakin lama semakin kecil lalu menghilang. Kutatap kepergian mereka hingga tak terlihat lagi. Berdo’a semoga Allah melindungi tiap jengkal langkah mereka.

Teruntuk abi dan ummi yang tak lelah pada langkah. Tak usah susah meninggalkan, sebab kami tahu kalian alfa dalam tapak yang salah. Maaf, sebab sesekali kami malah marah, ditinggal kalian yang kami tak tahu arah.  Biar kami iring dengan do’a mengadah, semoga sebelum hujan semesta kembali menelaah, dan semoga abi juga ummi selalu melulu berdakwah, dibawah naung senyum sang Illah. Tetang kalian –dengan amat bangga— aku berkisah.
           
             
Serang, 02 Februari 2015