Sejenak semesta
melunak. Memberikan sepoinya yang menina-bobokan siapa saja yang tertampar
halus. Tak hujan, tak pula panas. Tak mendung, tak pula terik. Semesta
memanjakanku dengan baiknya. Sebab sepertinya, Tuhan menyuruhnya begitu tuk
teduhkanku yang tengah sUmmik meletakkan kata perkata untuk seorang yang
seperti teduhnya semesta. Ummi, Ummi, Bunda, Mamah, Emak, Mimi.
Bagiku yang amat
mengerti tentang memberi tuk berterimakasih.
Ummi, tiga huruf
satu ucap. Tiga kata yang jika kuungkap tak ada habisnya untuk kuakhiri. Tiga
kata yang ingin sekali kuberi semesta dengan segala keindahannya. Dengan eja
i-b-u yang buatku ingin memberinya apa-apa yang ia ingin, bahkan yang belum ia
inginkan, terlepas dari keterbatasanku pada materi pun waktu yang Tuhan beri.
Tapi kata-kata ini
masih amat terlalu sederhana, kan?
Bagiku yang
tersekat jauh, Ummi ialah rindu.
Yang apa-apa
darinya selalu ku tunggu adanya. Barang sekedar pesan dengan melulu
bernada tanya.
Sudah makan? Kapan pulang? Kenapa belum makan? Bagaimana kuliahnya?
Bagiku yang
merindunya.
Ummi adalah mata
yang memandangku dengan sayang di tiap kala, alis yang mengerut kala risau aku
tak jua pulang, mulut yang berkasih kisah-kisah menggetarkan sebelum aku
terjaga, ia adalah tangan yang menggenggam erat agar aku tak kemana-mana selain
disampingnya, kaki yang mengikuti langkah-langkahku memijaki dunia, telinga
yang menerka bahagia, sedih, kecewanya aku dengan sabarnya.
Bagiku yang selalu
mengharu biru memaknai apapun, apalagi Ummi.
Ia adalah semua
yang kubutuhkan. Ia adalah semua yang aku inginkan. Ummi adalah hadiah sebagai
bahagiaku. Ummi adalah seorang yang tak bisa ku ganti. Bahkan, dengan semesta
berikut galaksi-galaksi. Ummi ialah memori berjuta ‘byth’ tentangku, tentang
aku yang terkadang malah sengaja menghapusnya kala aku larut pada hingar bingar
kawan.
Bagiku Ummi ialah
angan yang ingin kusua tiap kala. Sebab kala-kala yang aku lalui tanpanya
serupa desauan angin, hanya lewat tanpa membekas, hingga kini. Selama ini.
Ummi kata yang
selalu terungkap setelah Sang Maha Pencipta, kala kurindu lantaran dunia
sementara menjauhkan, kala ku jatuh, kala ku butuh untuk apa-apa yang aku butuh
dan kuingin, kala ku takut dunia yang tak baik terhadapku, kala ku sakit sebab
kawan dan cinta.
Bagiku yang terlalu
malu berucap rindu, Ummi ialah rindu.
Rindu malu-malu
dari anakmu yang tak tahu malu. Yang sejujurnya amat ingin kuungkapkan dengan
indah. Entah lewat gemerlap rasi-rasi di langit semesta yang ingin kutitah agar
membentuk katamu. Pun entah dengan gumpalan awan yang ingin kugenggam agar
mampu ku sketsa wajahmu. Namun, aku tahu kapasitas manusiaku, itu semua perkara
Tuhan yang hanya bisa aku ungkap, tak mampu kuwujudkan.
Bagiku yang telah
dewasa, Ummi ialah rindu.
Yang ku mau tapi
malu timangnya, dekapnya, kecupnya kala usiaku jauh sebelum kini.
Jika saja Tuhan
memberikan masing-masing manusia satu harapan yang dapat dikabulkan. Aku akan pinta tuk samakan hari
kala aku dan Ummi menutup kehidupan, sebab ia seorang nyata yang paling ku
takuti hilangnya. Terlalu takut, bahkan untuk kubayang pejam matanya.
Kemenyerahanku
buatku merindu lebih dalam. Kejatuhan buatku menjadi perindu paling baik. Kesendirianku
jadikanku mengerti betapa cinta sejati ialah memberi, sebab orang-orang
–terkecuali Ummi— hanya sekadar meminta. Sungguh, Tuhan boleh menghukumku,
sebab terkadang, aku menaruh rindu pada Ummi, jika yang aku punya hanya air
mata.
Bagiku yang tak selalu bisa memandang lelapnya, Ummi
ialah rindu.
Yang ingin sekali
kuberbaring di sampingnya sambil bercerita tentang betapa melelahkannya dunia.
Bagiku yang belum
sempat mengerti mengapa Tuhan berkisah tentangku seperti ini.
Ummi ialah
kerinduan tiada tara! Ketiada taraan yang digaris bawahi dan bernada
seru, sebab memang tak lagi ada yang sanggup serupanya.
Dengan mengarang
puitis ritmis ini aku memahami sebab mengapa satu hari di tanggal 22 nanti
menjadi hari untuk Ummi di semesta, ialah karena pemalunya orang-orang dunia
tuk nyatakan cinta pada masing Ummi jika sekedar sendiri. Maka, ditetapkanlah
hari dimana orang-orang pemalu dapat mengungkapkan cintanya. Setidaknya, rasa
malunya terkurangi dengan banyaknya orang melakukan hal yang serupa.
Semoga memaknai Ummi
hari ini, lewat sajak-sajak melankolis ini menghadirkan degup-degup rindu yang
telah redup di relung hati masing-masing.
“rabbiharhuma
kamaa robbayanii shoghiro.....”
Depok, 19
Desember 2014
23:41

