Sabtu, 20 Desember 2014

Ummi; satu ungkap, sesemesta





Sejenak semesta melunak. Memberikan sepoinya yang menina-bobokan siapa saja yang tertampar halus. Tak hujan, tak pula panas. Tak mendung, tak pula terik. Semesta memanjakanku dengan baiknya. Sebab sepertinya, Tuhan menyuruhnya begitu tuk teduhkanku yang tengah sUmmik meletakkan kata perkata untuk seorang yang seperti teduhnya semesta. Ummi, Ummi, Bunda, Mamah, Emak, Mimi.
Bagiku yang amat mengerti tentang memberi tuk berterimakasih.
Ummi, tiga huruf satu ucap. Tiga kata yang jika kuungkap tak ada habisnya untuk kuakhiri. Tiga kata yang ingin sekali kuberi semesta dengan segala keindahannya. Dengan eja i-b-u yang buatku ingin memberinya apa-apa yang ia ingin, bahkan yang belum ia inginkan, terlepas dari keterbatasanku pada materi pun waktu yang Tuhan beri.
Tapi kata-kata ini masih amat terlalu sederhana, kan?
Bagiku yang tersekat jauh, Ummi ialah rindu.
Yang apa-apa darinya selalu ku tunggu adanya. Barang sekedar pesan dengan melulu
bernada tanya. Sudah makan? Kapan pulang? Kenapa belum makan? Bagaimana kuliahnya?
Bagiku yang merindunya.
Ummi adalah mata yang memandangku dengan sayang di tiap kala, alis yang mengerut kala risau aku tak jua pulang, mulut yang berkasih kisah-kisah menggetarkan sebelum aku terjaga, ia adalah tangan yang menggenggam erat agar aku tak kemana-mana selain disampingnya, kaki yang mengikuti langkah-langkahku memijaki dunia, telinga yang menerka bahagia, sedih, kecewanya aku dengan sabarnya.
Bagiku yang selalu mengharu biru memaknai apapun, apalagi Ummi.
Ia adalah semua yang kubutuhkan. Ia adalah semua yang aku inginkan. Ummi adalah hadiah sebagai bahagiaku. Ummi adalah seorang yang tak bisa ku ganti. Bahkan, dengan semesta berikut galaksi-galaksi. Ummi ialah memori berjuta ‘byth’ tentangku, tentang aku yang terkadang malah sengaja menghapusnya kala aku larut pada hingar bingar kawan.
Bagiku Ummi ialah angan yang ingin kusua tiap kala. Sebab kala-kala yang aku lalui tanpanya serupa desauan angin, hanya lewat tanpa membekas, hingga kini. Selama ini.
Ummi kata yang selalu terungkap setelah Sang Maha Pencipta, kala kurindu lantaran dunia sementara menjauhkan, kala ku jatuh, kala ku butuh untuk apa-apa yang aku butuh dan kuingin, kala ku takut dunia yang tak baik terhadapku, kala ku sakit sebab kawan dan cinta.
Bagiku yang terlalu malu berucap rindu, Ummi ialah rindu.
Rindu malu-malu dari anakmu yang tak tahu malu. Yang sejujurnya amat ingin kuungkapkan dengan indah. Entah lewat gemerlap rasi-rasi di langit semesta yang ingin kutitah agar membentuk katamu. Pun entah dengan gumpalan awan yang ingin kugenggam agar mampu ku sketsa wajahmu. Namun, aku tahu kapasitas manusiaku, itu semua perkara Tuhan yang hanya bisa aku ungkap, tak mampu kuwujudkan.
Bagiku yang telah dewasa, Ummi ialah rindu.
Yang ku mau tapi malu timangnya, dekapnya, kecupnya kala usiaku jauh sebelum kini.
Jika saja Tuhan memberikan masing-masing manusia satu harapan yang dapat  dikabulkan. Aku akan pinta tuk samakan hari kala aku dan Ummi menutup kehidupan, sebab ia seorang nyata yang paling ku takuti hilangnya. Terlalu takut, bahkan untuk kubayang pejam matanya.
Kemenyerahanku buatku merindu lebih dalam. Kejatuhan buatku menjadi perindu paling baik. Kesendirianku jadikanku mengerti betapa cinta sejati ialah memberi, sebab orang-orang –terkecuali Ummi— hanya sekadar meminta. Sungguh, Tuhan boleh menghukumku, sebab terkadang, aku menaruh rindu pada Ummi, jika yang aku punya hanya air mata.  
Bagiku  yang tak selalu bisa memandang lelapnya, Ummi ialah rindu.
Yang ingin sekali kuberbaring di sampingnya sambil bercerita tentang betapa melelahkannya dunia.
Bagiku yang belum sempat mengerti mengapa Tuhan berkisah tentangku seperti ini.
Ummi ialah kerinduan tiada tara! Ketiada taraan yang digaris bawahi dan bernada seru, sebab memang tak lagi ada yang sanggup serupanya.
Dengan mengarang puitis ritmis ini aku memahami sebab mengapa satu hari di tanggal 22 nanti menjadi hari untuk Ummi di semesta, ialah karena pemalunya orang-orang dunia tuk nyatakan cinta pada masing Ummi jika sekedar sendiri. Maka, ditetapkanlah hari dimana orang-orang pemalu dapat mengungkapkan cintanya. Setidaknya, rasa malunya terkurangi dengan banyaknya orang melakukan hal yang serupa.     
Semoga memaknai Ummi hari ini, lewat sajak-sajak melankolis ini menghadirkan degup-degup rindu yang telah redup di relung hati masing-masing.
“rabbiharhuma kamaa robbayanii shoghiro.....”

Depok, 19 Desember 2014

23:41