Aku
dan sajak pemuda
Zahra sabilah
Aku terduduk. Kaki kugoyang-goyang menggantung. Mataku liar
membaca kisah-kisah jadul bersejarah. Aku pemuda dalam bisu. Aku berkata, lewat
eja tangan. Mulutku ada dua, mulut serupa kebanyakan lainnya juga tangan kananku
yang jarang serupa lainnya.
Biarkan kubersajak di bawah awan berwarna lembayung, bernama
senja. Aku pemuda bisu bertangan bawel. Aku bukan penyair. Ah, itu terlalu
ditinggi-tinggikan, kawan. Aku hanya pemuda dalam bisu.
Begini sajaknya, katanya.
Sekelumit lampau diriak kemoderenan metropolitan. Sekumpul
kepala-kepala tak bertubuh, sebab tubuhnya samar diselubung karat nestapa. Mengapa
karat? Sebab diacuhkan berlarut-larut. Tubuhnya berkarat pelbagai keruetan
hidup.
Substansi nestapa mereka serupa, identik. Menggerogoti
tubuh-tubuh yang sama-sama berkepala mendekati botak. Karena indonesia –kala
itu – nyatanya berwujud gemulan internal berlarut-larut. Menjadikan alasan,
bahkan mengalaskan pemuda tak lagi bisa berpura-pura bisu.
Indonesia raya. Awal kali nada mengenyuhkan tiap-tiap mereka,
yang lantunannya sanggup mewakilkan tanah tumpahan darah. Indonesia raya, merdeka, merdeka.
Kaum kolonialis sialan.
Mencaplok rakus serupa tikus. Kaum putih bersandiwara bersih. Hitungan beratus
tahun? Hah, dari moyang ke moyang dihipnotis mengenyangkan kuasa, hingga
sendawanya busuk mayat kurang makan.
Tertindas, alasan pemuda berpeluh. Tertindas, alasan pemuda
mengeluh. Tertindas, alasan pemuda bergerak shubuh. Tertindas, alasan pemuda
bersumpah tangguh.
Secarik kerta digenggam, bersiap diteriakan. Sanubari-sanubari
yang muak bersanding dengan kaum putih, seksama menunggu diperdengarkan. Seorang
muda memberi secarik kertas pada yang tua. Lalu berucap tegas bak gelegar
penyemangat.
Sumpah pemuda! Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Di dua puluh di bulan oktober menjadi awal peristiwa di tujuh
belas di bulan agustus. Terlalu lama, memang. Namun, dalam kurun tujuh belas
tahun lamanya semangat telah masak, mendidih memaksa tumpah. Jadi, pas sekali
ramuan tahun yang Tuhan racik sedemikian rupa untuk indonesia, kawan.
Kakiku masih kugoyangkan. Kertas ditanganku kutimang-timang.
Secarik ini sudah menjadi bukti otentik bahwa aku mengagumi negaraku, bukan? Lembayung
hampir habis tergerus hitam. Pertanda Tuhan menghetikan ocehku. Aku pemuda di
negri tumpahan darah. Mataku merah nyalang. Aku pemuda dalam bisu, tapi
tanganku tidak.
Mengingat hari sumpah pemuda yang
ternyata sebentar lagi.
