Rabu, 15 Oktober 2014

Aku dan Sajak Pemuda

Aku dan sajak pemuda
Zahra sabilah

Aku terduduk. Kaki kugoyang-goyang menggantung. Mataku liar membaca kisah-kisah jadul bersejarah. Aku pemuda dalam bisu. Aku berkata, lewat eja tangan. Mulutku ada dua, mulut serupa kebanyakan lainnya juga tangan kananku yang jarang serupa lainnya.
Biarkan kubersajak di bawah awan berwarna lembayung, bernama senja. Aku pemuda bisu bertangan bawel. Aku bukan penyair. Ah, itu terlalu ditinggi-tinggikan, kawan. Aku hanya pemuda dalam bisu.
Begini sajaknya, katanya.
Sekelumit lampau diriak kemoderenan metropolitan. Sekumpul kepala-kepala tak bertubuh, sebab tubuhnya samar diselubung karat nestapa. Mengapa karat? Sebab diacuhkan berlarut-larut. Tubuhnya berkarat pelbagai keruetan hidup.
Substansi nestapa mereka serupa, identik. Menggerogoti tubuh-tubuh yang sama-sama berkepala mendekati botak. Karena indonesia –kala itu – nyatanya berwujud gemulan internal berlarut-larut. Menjadikan alasan, bahkan mengalaskan pemuda tak lagi bisa berpura-pura bisu.
Indonesia raya. Awal kali nada mengenyuhkan tiap-tiap mereka, yang lantunannya sanggup mewakilkan tanah tumpahan darah. Indonesia raya, merdeka, merdeka.
 Kaum kolonialis sialan. Mencaplok rakus serupa tikus. Kaum putih bersandiwara bersih. Hitungan beratus tahun? Hah, dari moyang ke moyang dihipnotis mengenyangkan kuasa, hingga sendawanya busuk mayat kurang makan.
Tertindas, alasan pemuda berpeluh. Tertindas, alasan pemuda mengeluh. Tertindas, alasan pemuda bergerak shubuh. Tertindas, alasan pemuda bersumpah tangguh.
Secarik kerta digenggam, bersiap diteriakan. Sanubari-sanubari yang muak bersanding dengan kaum putih, seksama menunggu diperdengarkan. Seorang muda memberi secarik kertas pada yang tua. Lalu berucap tegas bak gelegar penyemangat.
Sumpah pemuda! Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Di dua puluh di bulan oktober menjadi awal peristiwa di tujuh belas di bulan agustus. Terlalu lama, memang. Namun, dalam kurun tujuh belas tahun lamanya semangat telah masak, mendidih memaksa tumpah. Jadi, pas sekali ramuan tahun yang Tuhan racik sedemikian rupa untuk indonesia, kawan.
Kakiku masih kugoyangkan. Kertas ditanganku kutimang-timang. Secarik ini sudah menjadi bukti otentik bahwa aku mengagumi negaraku, bukan? Lembayung hampir habis tergerus hitam. Pertanda Tuhan menghetikan ocehku. Aku pemuda di negri tumpahan darah. Mataku merah nyalang. Aku pemuda dalam bisu, tapi tanganku tidak.   
 


Mengingat hari sumpah pemuda yang ternyata sebentar lagi.