Maaf, Ra
Wajahnya yang pucat dibanjiri peluh yang
mengalir dari dahinya, mengikuti lekuk wajah lalu terdiam tertahan di dagu
runcingnya sebelum menghujam tanah yang kering kehausan. Didekapnya dada dengan
sebelah tangan dengan tangan lainnya menopang tubuhnya yang lelah tersakiti
rasa sesak menohok. Tak ada yang melihat, bahkan sang kekasih yang sedari lalu
duduk manis menunggu minuman yang lelaki sakit itu tawarkan. Ia bersembunyi di
balik raksasanya pohon di taman kota. Menyembuyikan desis kesakitannya dengan
nafas tersengal-sengal. Minuman dingin yang dibawanya kotor bermandikan tanah
dengan sedikit rerumputan mati, tak sengaja jatuh saat tiba-tiba tangannya tak
kuat menggenggam lagi. Hingga akhirnya waktu mengakhiri siksanya dalam hitungan
menit.
“kenapa lama?” tanya seorang wanita berbulu
mata lentik yang sedari tadi menanti kedatangannya.
Lelaki itu tersenyum lalu menjawab sekenanya
“nunggu kembalian sayang, maaf”
Ia duduk lalu menyodorkan minuman yang
sebelumnya telah ia bersihkan dengan sapu tangan. Wanita itu tersenyum manja,
berterimakasih dengan meletakkan kepalanya bersandar di bahu sang kekasih hati
yang setia menemani hingga bertahun lamanya. Wanita itu tak meyadari bahwa
jantung sang kekasihnya tak lagi berdetak sesempurna seperti saat pertama
dimana ia bersandar didadanya. Lelaki itu merahasiakannya.
***
Rayhan menunduk dalam, wajahnya menyampaikan
semburat kalut dengan kerutan di dahinya. Bagaimana
mungkin? Padahal menghirup rokok barang sebatang pun tak pernah ia lakukan.
Lalu dari mana penyakit ini mengintainya bahkan lebih dulu sebelum ia sendiri
mengetahuinya. Jantung ini!?
Rayhan teringat rekaman memori seminggu
kemarin di rumah sakit besar ternama di Jakarta. Saat akhirnya ia mendapatkan
jawaban dari banyaknya sesak di dada yang ia rasakan beberapa bulan terakhir.
Berlama-lama di ruangan putih itu terasa semakin menyempit, membuat pusing.
Aroma disana semakin lama membuatnya mual. Saat itu ia tak mau berlama-lama
disana, terlihat dari mimiknya yang tak tenang memandang sekitar.
“ini
peyakit jantung koroner...”
Ia
merasa dirinya meleleh. Didengarnya sang dokter pribadinya dengan kehati-hatian
di setiap kalimatnya.
“....kamu
akan mudah kelelahan, dadamu akan merasakan kira-kira selama 20 menit, dan kamu
bisa pingsan dengan tiba-tiba karena adanya gangguan irama jantung”
“saya
bisa sembuh dok?”
“hmm
risiko penyakit jantung bisa diobati kalau anda
melakukan perubahan pola hidup sehat termasuk rutin berolahraga, stop rokok dan
kopi serta hindari stres yang menjadi risiko pemicu timbulnya serangan jantung...."
“dan ada satu lagi...”
Rayhan memandang dokter suryo dalam.
“kamu juga punya.....”
Seminggu yang lalu Rayhan pulang lunglai.
Tidak meratapi hanya sekedar menyadari bahwa saat ini ia merasa manusia
pesakitan yang rentan, rentan jantungnya berhenti berdetak. Rayhan menangis
untuk pertama kali sebagai laki-laki.
***
“kamu ngga apa-apa?” zaira
memandang kekasihnya khawatir, mengelus wajahnya lembut, membiarkan rayhan
terobati dengan sentuhan halus dari telapak tangannya. Yang disentuh tersenyum
dipaksakan, meski sudah ia usahakan untuk tersenyum sewajarya.
“ngga apa-apa sayang, cuma
sedikit ngga enak badan”
“kita pulang” ajak zaira
menggandeng lengan rayhan cepat.
Rayhan berhenti menahan zaira
“eh kok pulang? Filmnya udah mau mulai kan”
“pokoknya kamu harus pulang
ray, istirahat!”
“aku kan udah bilang ngga
apa-apa ra. Kamu berlebihan deh”
“kamu bilang aku berlebihan?
Lihat muka kamu pucat ray, tangan kamu juga basah”
“ra....”
“jangan buat aku marah” ucapa
zaira. Menghentikan pembelaannya. Ia tak mau membuat wanitanya marah, tak mau.
Hingga akhirnya ia mengikuti langkah zaira tanpa kata, tanpa tanya. Dalam sunyi
ia menggenggam tangan zaira erat. Tak apa
jika aku yang menanggung kesakitan ini tuhan, setidaknya jangan Kau perihkan
lagi dengannya wanita baik yang
menanggung sakit ini, pinta rayhan dengan pengharapan dalam.
Zaira menatap jalan aspal
berfikir. Ada rasa ganjil yang ia tangkap dari rayhan lelakinya. Sedikitnya
telah tiga kali ia dapati rayhan berpeluh padahal cuaca tak lagi panas, bahkan
hujan sekalipun. Juga keanehan tatapan rayhan yang kadang memandang kosong
dengan sinar matanya yang redup. Tanpa dirasa kepalanya menggeleng berusaha
menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi menggelayuti kepalanya. Rayhan baik-baik saja, akan baik-baik saja.
***
Rayhan hilang kesadaran,
terjatuh di atas trotoar jalan yang ramai lalu lalang dengan kaki-kaki pengejar
waktu. Membuat tatapan semua orang tertuju kepadanya, membuat teriakan kecil
dari orang-orang yang melihatnya lunglai berdebam di aspal. Seorang bapak
berumuran empat puluhan dengan anak remajanya yang baik hati menawarkan untuk
membawanya ke rumah sakit terdekat. Dengan kesadaran seperempat nyawa ia sempat
mengucapkan terimakasih sebelum sang bapak dan anaknya izin pulang karena ada
urusan.
Handphonenya bergetar,
menandakan satu panggilan. Dengan lemah ia raih handphonennya dalam tas di atas
meja samping ranjang tidurnya.
Zaira memanggil...
Bingung ingin berbohong apa
lagi pada zaira, rayhan sengaja membiarkan getaran handphonenya berlama-lama
menemaninnya. Hingga akhirnya terdiam tanda zaira menyerah memanggil rayhan
untuk yang kesekian kalinya. Ia lega pun tak tega bila setelah ini ia akan
terus berusaha menjauh menjaga jarak, terus berucap khayal yang tak nyata pada
kekasih yang selalu bisa mempercayainya, bahkan pada dustanya. Ini harus diakhiri.
***
To : zaira
Besok malem kita ketemu ya di
tempat biasa
From : Rayhan
31/12/2013
Rayhan mengirim pesan singkat
kepada kekasihnya. Dalam dadanya ada keyakinan untuk mengakhiri keterikatan
dirinya dengan Zaira, perempuan yang sangat ia cintai bahkan saat ia berusaha
untuk melupakannya. Keegoisan dalam hatinya tentu ia rasakan nyata, namun siapa
yang tega melihat tangis seseorang yang selalu ia jaga bahkan dari air mata?
Saat nanti Rayhan akan terbaring tanpa bisa berbuat apa-apa memandang Zaira yang layu mengetahui sakitnya. Oh
bahkan ia lebih tak tega pada kekasihya lebih dari pada dirinya.
Sedang di lain tempat siluet
perempuan menekuk lutut memandang kelamnya malam. Sesekali menunduk memikirkan
seseorang yang tengah memikirkannya juga. Hmm...mereka saling beradu memikirkan.
Satu pesan masuk membuat siluet itu bergerak
meraih sesuatu yang tadi bergetar memanggilnya. Ia berjalan ketempat cahaya
membias. senyumnya terlihat melengkung sempurna, sesempurna bulan purnama yang
riuh teriakan jangkrik mencari pasangan.
Dalam gelap itu. Dua manusia saling suka
berbeda rasa. Sang lelaki menahan gejolak hatinya yang memaki diri sendiri atas
keputusan menyakitkan, sedang sang perempuan bersorak girang tak sabar menunggu
malam digerus fajar mentari. Mereka tak tahu ada skenario yang telah Tuhan
rencanakan untuk mereka esok, skenario yang tersusun dengan alur menyedihkan.
***
Rayhan mencengkram dadanya
kuat. Peluh sudah lagi membanjiri wajah manisnya. Tak ada keluh, hanya desisan
pelan menyatakan kesakitan. Pengelihatannya seketika kabur, kakinya mati rasa.
Rayhan beringsut ke pojok kamar, menyandarkan diri terduduk. Kakinya ia peluk,
wajahnya ia benamkan tertunduk. Menangis sambil berdoa pelan.
Waktu sudah terhabisi
sepersekian jam untuk rasa sakitnya. Rayhan lega penglihatannya jelas melihat.
Ia berusaha bangkit, sakit barusan telah menjadi teman di setiap harinya. Ketakutannya
adalah kala detaknya tiba-tiba menghilang tak menemaninya lagi sebelum sempat
berucap kasih pada orang terkasihnya. Tubuhnya
sudah mulai lelah menampung perih itu sendirian, namun dirinya sendiri tak bisa
membantu. Tak mau ia membagi perihnya untuk orang lain, ia tak tega.
Gelap mulai menggusur habis
langit oranye. Menaungi keseluruhan hamparan di atas kehidupan. riuh
sahut-sahutan terompet menggemakan suara bising yang memekakan telinga.
Panggung-panggung berdiri kokoh menantang langit malam, walau kadang tak
sedikit yang bergoyang mengikuti hembusannya. Acara-acara televisi menampilkan
artis-artis yang menyerukan kalimat dengan ejaan sama ‘selamat tahun baru’ berulang
kali dengan taburan lulucon dan musik masa kini. Beberapa keluarga berkumpul
sambil tertawa, tak ketinggalan para pemuda-pemudi saling bergandeng mesra di
sepanjang jalan menuju tempat bergemul meriah.
Sakit itu kembali.
***
Zaira memandang jam tangannya
sambil bersenandung. Sudah lama ia tak bertatap muka dengan mata teduh
lelakinya pun sudah lama ia tak mendapat kehangatan dekapnya. Zaira
merindukannnya, sangat rindu. Adakalanya dulu, saat rindu datang menghantam
paksa perasaannya dan Rayhan tak sanggup memenuhi permintaan suanya ia hanya
bisa menangis sendiri di tengah sunyi. Merasakan sesaknya rindu sendiri. Sangat
menyakitkan untuk dia yang bagai dicandu Rayhan. Rayhan seperti narkoba
baginya.
Di dalam perjalanan zaira
memandang keluar jendela, cemas. Sudah telat setengah jam waktu yang dijanjikan
rayhan untuknya. Mobil yang ia tumpangi terperangkap di tengah ribuan mobil
yang berisi orang cemas seperti dirinya, berharap mobil yang ditumpangi bisa
terbang membelah kerumunan kacau ini. Ah, sedang Rayhan tak sekalipun
mengangkat teleponnya. Juga tak ada balas ketikan untuk puluhan pesan yang
Zaira kirim. Kenapa dengan handphone Rayhan? atau...lebih tepatnya, kenapa
dengan Rayhan? Zaira semakin cemas.
Akhirnya setelah
berterimakasih kepada gadis yang memberinya tumpangan gratis, Zaira sampai di
tempat yang ia dan Rayhan janjikan. Sebuah taman hijau disamping sungai buatan.
Tak ada lelakinya, yang ada hanya bunyi gemericik air mengisi kesunyian disini.
tak ada kerumunan, karena tempat ini bukan pusat berkumpulnya orang-orang yang
menunggu tepat tengah malam. Gadis manis itu menghela nafas berat, apakah Rayhan tak datang?
“ra...”
Seseorang memanggil. Suara
rayhan.
Zaira menoleh.
“maaf..”
Angin berhembus menemani
desiran darah yang mengalir dalam diri Zaira. Darahnya bagai mengalir deras
melewati jantungnya, membuat degup tak beraturan. Suara Rayhan tadi bagai
pemacu darah Zaira kalang kabut.
“ eh engh Rayhan, kamu dateng dari mana?
Maaf, aku telat tadi kena macet. Oh ya, kenapa kamu tak mengangkat teleponku?
Padahal....”
“maaaf...”
Ucapan Zaira terpotong.
“maaf ra...”
Zaira tak mengerti.
“maaf untuk apa, Han?”
Yang ditanya hanya menggeleng
menunduk. Mengangkat wajahnya sebentar lalu memandang wajah perempuannya dalam.
Zaira heran dengan tatapan Rayhan yang tak biasa. Serupa tatapan-tatapan sayu
di film-film yang berakhir kematian. Tatapan penuh arti, tatapan yang diartikan
meminta izin tuk pergi.
Tidak
mungkin! Bukankah Rayhan mengajaknya bersua karena rindu? Ya, rindu.
Tapi mengapa rasanya? Ah, Zaira takut kenyataannya.
Zaira mulai menangis. Tak
dapat dipungkiri jika ia semakin memaksa tak akan ada yang pergi ia malah
semakin yakin Rayhan berniat untuk pergi
meninggalkannya. Ia mulai menangis. Wajahnya ia benamkan dibalik kedua
tangan, badanya mulai bergerak mengikuti seguk tangisnya. Tangis tak bersuara.
Hangat.
Lelakinya tengah mendekapnya
erat, mengelus rambutnya lembut. Berucap ‘jangan menangis’ hampir tanpa suara. Dingin
malam semakin mendekap, angin berhembus membuat pepohonan menari seirama. Dalam
dekap mereka cahaya menyilaukan terpancar, lurus horizontal menembus awan,
lantas menghilang.
Sepasang remaja menatap heran
dari balik pepohonan rimbun, memandang keganjilan di hadapan mereka. Seorang perempuan
berdiri sambil menangis sendiri, kedua tangannya layaknya seseorang yang sedang
mendekap berhadapan. Mereka saling pandang tak paham, lalu berlalu pergi dengan
bergidik ngeri.
Depok, 2 april 2014



