Selasa, 13 Mei 2014

Maaf, Ra

Maaf, Ra

Wajahnya yang pucat dibanjiri peluh yang mengalir dari dahinya, mengikuti lekuk wajah lalu terdiam tertahan di dagu runcingnya sebelum menghujam tanah yang kering kehausan. Didekapnya dada dengan sebelah tangan dengan tangan lainnya menopang tubuhnya yang lelah tersakiti rasa sesak menohok. Tak ada yang melihat, bahkan sang kekasih yang sedari lalu duduk manis menunggu minuman yang lelaki sakit itu tawarkan. Ia bersembunyi di balik raksasanya pohon di taman kota. Menyembuyikan desis kesakitannya dengan nafas tersengal-sengal. Minuman dingin yang dibawanya kotor bermandikan tanah dengan sedikit rerumputan mati, tak sengaja jatuh saat tiba-tiba tangannya tak kuat menggenggam lagi. Hingga akhirnya waktu mengakhiri siksanya dalam hitungan menit.
“kenapa lama?” tanya seorang wanita berbulu mata lentik yang sedari tadi menanti kedatangannya.
Lelaki itu tersenyum lalu menjawab sekenanya “nunggu kembalian sayang, maaf”
Ia duduk lalu menyodorkan minuman yang sebelumnya telah ia bersihkan dengan sapu tangan. Wanita itu tersenyum manja, berterimakasih dengan meletakkan kepalanya bersandar di bahu sang kekasih hati yang setia menemani hingga bertahun lamanya. Wanita itu tak meyadari bahwa jantung sang kekasihnya tak lagi berdetak sesempurna seperti saat pertama dimana ia bersandar didadanya. Lelaki itu merahasiakannya.
***
Rayhan menunduk dalam, wajahnya menyampaikan semburat kalut dengan kerutan di dahinya. Bagaimana mungkin? Padahal menghirup rokok barang sebatang pun tak pernah ia lakukan. Lalu dari mana penyakit ini mengintainya bahkan lebih dulu sebelum ia sendiri mengetahuinya. Jantung ini!?
Rayhan teringat rekaman memori seminggu kemarin di rumah sakit besar ternama di Jakarta. Saat akhirnya ia mendapatkan jawaban dari banyaknya sesak di dada yang ia rasakan beberapa bulan terakhir. Berlama-lama di ruangan putih itu terasa semakin menyempit, membuat pusing. Aroma disana semakin lama membuatnya mual. Saat itu ia tak mau berlama-lama disana, terlihat dari mimiknya yang tak tenang memandang sekitar.
“ini peyakit jantung koroner...”
Ia merasa dirinya meleleh. Didengarnya sang dokter pribadinya dengan kehati-hatian di setiap  kalimatnya.
“....kamu akan mudah kelelahan, dadamu akan merasakan kira-kira selama 20 menit, dan kamu bisa pingsan dengan tiba-tiba karena adanya gangguan irama jantung” 
“saya bisa sembuh dok?”
“hmm risiko penyakit jantung bisa diobati kalau anda melakukan perubahan pola hidup sehat termasuk rutin berolahraga, stop rokok dan kopi serta hindari stres yang menjadi risiko pemicu timbulnya serangan jantung...."
 “dan ada satu lagi...”
Rayhan memandang dokter suryo dalam.
“kamu juga punya.....”
Seminggu yang lalu Rayhan pulang lunglai. Tidak meratapi hanya sekedar menyadari bahwa saat ini ia merasa manusia pesakitan yang rentan, rentan jantungnya berhenti berdetak. Rayhan menangis untuk pertama kali sebagai laki-laki.
***
“kamu ngga apa-apa?” zaira memandang kekasihnya khawatir, mengelus wajahnya lembut, membiarkan rayhan terobati dengan sentuhan halus dari telapak tangannya. Yang disentuh tersenyum dipaksakan, meski sudah ia usahakan untuk tersenyum sewajarya.
“ngga apa-apa sayang, cuma sedikit ngga enak badan”
“kita pulang” ajak zaira menggandeng lengan rayhan cepat.
Rayhan berhenti menahan zaira “eh kok pulang? Filmnya udah mau mulai kan”
“pokoknya kamu harus pulang ray, istirahat!”
“aku kan udah bilang ngga apa-apa ra. Kamu berlebihan deh”
“kamu bilang aku berlebihan? Lihat muka kamu pucat ray, tangan kamu juga basah”
“ra....”
“jangan buat aku marah” ucapa zaira. Menghentikan pembelaannya. Ia tak mau membuat wanitanya marah, tak mau. Hingga akhirnya ia mengikuti langkah zaira tanpa kata, tanpa tanya. Dalam sunyi ia menggenggam tangan zaira erat. Tak apa jika aku yang menanggung kesakitan ini tuhan, setidaknya jangan Kau perihkan lagi dengannya wanita baik  yang menanggung sakit ini, pinta rayhan dengan pengharapan dalam.
Zaira menatap jalan aspal berfikir. Ada rasa ganjil yang ia tangkap dari rayhan lelakinya. Sedikitnya telah tiga kali ia dapati rayhan berpeluh padahal cuaca tak lagi panas, bahkan hujan sekalipun. Juga keanehan tatapan rayhan yang kadang memandang kosong dengan sinar matanya yang redup. Tanpa dirasa kepalanya menggeleng berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi menggelayuti kepalanya. Rayhan baik-baik saja, akan baik-baik saja.
***
Rayhan hilang kesadaran, terjatuh di atas trotoar jalan yang ramai lalu lalang dengan kaki-kaki pengejar waktu. Membuat tatapan semua orang tertuju kepadanya, membuat teriakan kecil dari orang-orang yang melihatnya lunglai berdebam di aspal. Seorang bapak berumuran empat puluhan dengan anak remajanya yang baik hati menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Dengan kesadaran seperempat nyawa ia sempat mengucapkan terimakasih sebelum sang bapak dan anaknya izin pulang karena ada urusan.
Handphonenya bergetar, menandakan satu panggilan. Dengan lemah ia raih handphonennya dalam tas di atas meja samping ranjang tidurnya.
Zaira memanggil...
Bingung ingin berbohong apa lagi pada zaira, rayhan sengaja membiarkan getaran handphonenya berlama-lama menemaninnya. Hingga akhirnya terdiam tanda zaira menyerah memanggil rayhan untuk yang kesekian kalinya. Ia lega pun tak tega bila setelah ini ia akan terus berusaha menjauh menjaga jarak, terus berucap khayal yang tak nyata pada kekasih yang selalu bisa mempercayainya, bahkan pada dustanya. Ini harus diakhiri.
***
To : zaira
Besok malem kita ketemu ya di tempat biasa
From : Rayhan
31/12/2013
Rayhan mengirim pesan singkat kepada kekasihnya. Dalam dadanya ada keyakinan untuk mengakhiri keterikatan dirinya dengan Zaira, perempuan yang sangat ia cintai bahkan saat ia berusaha untuk melupakannya. Keegoisan dalam hatinya tentu ia rasakan nyata, namun siapa yang tega melihat tangis seseorang yang selalu ia jaga bahkan dari air mata? Saat nanti Rayhan akan terbaring tanpa bisa berbuat apa-apa memandang  Zaira yang layu mengetahui sakitnya. Oh bahkan ia lebih tak tega pada kekasihya lebih dari pada dirinya.
Sedang di lain tempat siluet perempuan menekuk lutut memandang kelamnya malam. Sesekali menunduk memikirkan seseorang yang tengah memikirkannya juga. Hmm...mereka saling beradu memikirkan.   Satu pesan masuk membuat siluet itu bergerak meraih sesuatu yang tadi bergetar memanggilnya. Ia berjalan ketempat cahaya membias. senyumnya terlihat melengkung sempurna, sesempurna bulan purnama yang riuh teriakan jangkrik mencari pasangan.
Dalam gelap itu. Dua manusia saling suka berbeda rasa. Sang lelaki menahan gejolak hatinya yang memaki diri sendiri atas keputusan menyakitkan, sedang sang perempuan bersorak girang tak sabar menunggu malam digerus fajar mentari. Mereka tak tahu ada skenario yang telah Tuhan rencanakan untuk mereka esok, skenario yang tersusun dengan alur menyedihkan.
***
Rayhan mencengkram dadanya kuat. Peluh sudah lagi membanjiri wajah manisnya. Tak ada keluh, hanya desisan pelan menyatakan kesakitan. Pengelihatannya seketika kabur, kakinya mati rasa. Rayhan beringsut ke pojok kamar, menyandarkan diri terduduk. Kakinya ia peluk, wajahnya ia benamkan tertunduk. Menangis sambil berdoa pelan.
Waktu sudah terhabisi sepersekian jam untuk rasa sakitnya. Rayhan lega penglihatannya jelas melihat. Ia berusaha bangkit, sakit barusan telah menjadi teman di setiap harinya. Ketakutannya adalah kala detaknya tiba-tiba menghilang tak menemaninya lagi sebelum sempat berucap kasih pada orang terkasihnya.  Tubuhnya sudah mulai lelah menampung perih itu sendirian, namun dirinya sendiri tak bisa membantu. Tak mau ia membagi perihnya untuk orang lain, ia tak tega.
Gelap mulai menggusur habis langit oranye. Menaungi keseluruhan hamparan di atas kehidupan. riuh sahut-sahutan terompet menggemakan suara bising yang memekakan telinga. Panggung-panggung berdiri kokoh menantang langit malam, walau kadang tak sedikit yang bergoyang mengikuti hembusannya. Acara-acara televisi menampilkan artis-artis yang menyerukan kalimat dengan ejaan sama ‘selamat tahun baru’ berulang kali dengan taburan lulucon dan musik masa kini. Beberapa keluarga berkumpul sambil tertawa, tak ketinggalan para pemuda-pemudi saling bergandeng mesra di sepanjang jalan menuju tempat bergemul meriah.
Sakit itu kembali.
***
Zaira memandang jam tangannya sambil bersenandung. Sudah lama ia tak bertatap muka dengan mata teduh lelakinya pun sudah lama ia tak mendapat kehangatan dekapnya. Zaira merindukannnya, sangat rindu. Adakalanya dulu, saat rindu datang menghantam paksa perasaannya dan Rayhan tak sanggup memenuhi permintaan suanya ia hanya bisa menangis sendiri di tengah sunyi. Merasakan sesaknya rindu sendiri. Sangat menyakitkan untuk dia yang bagai dicandu Rayhan. Rayhan seperti narkoba baginya.
Di dalam perjalanan zaira memandang keluar jendela, cemas. Sudah telat setengah jam waktu yang dijanjikan rayhan untuknya. Mobil yang ia tumpangi terperangkap di tengah ribuan mobil yang berisi orang cemas seperti dirinya, berharap mobil yang ditumpangi bisa terbang membelah kerumunan kacau ini. Ah, sedang Rayhan tak sekalipun mengangkat teleponnya. Juga tak ada balas ketikan untuk puluhan pesan yang Zaira kirim. Kenapa dengan handphone Rayhan? atau...lebih tepatnya, kenapa dengan Rayhan? Zaira semakin cemas.
Akhirnya setelah berterimakasih kepada gadis yang memberinya tumpangan gratis, Zaira sampai di tempat yang ia dan Rayhan janjikan. Sebuah taman hijau disamping sungai buatan. Tak ada lelakinya, yang ada hanya bunyi gemericik air mengisi kesunyian disini. tak ada kerumunan, karena tempat ini bukan pusat berkumpulnya orang-orang yang menunggu tepat tengah malam. Gadis manis itu menghela nafas berat, apakah Rayhan tak datang?
“ra...”
Seseorang memanggil. Suara rayhan.
Zaira menoleh.
“maaf..”
Angin berhembus menemani desiran darah yang mengalir dalam diri Zaira. Darahnya bagai mengalir deras melewati jantungnya, membuat degup tak beraturan. Suara Rayhan tadi bagai pemacu darah Zaira kalang kabut.
  “ eh engh Rayhan, kamu dateng dari mana? Maaf, aku telat tadi kena macet. Oh ya, kenapa kamu tak mengangkat teleponku? Padahal....”
“maaaf...”
Ucapan Zaira terpotong.
“maaf ra...”
Zaira tak mengerti.
“maaf untuk apa, Han?”
Yang ditanya hanya menggeleng menunduk. Mengangkat wajahnya sebentar lalu memandang wajah perempuannya dalam. Zaira heran dengan tatapan Rayhan yang tak biasa. Serupa tatapan-tatapan sayu di film-film yang berakhir kematian. Tatapan penuh arti, tatapan yang diartikan meminta izin tuk pergi.
 Tidak mungkin! Bukankah Rayhan mengajaknya bersua karena rindu? Ya, rindu.
Tapi mengapa rasanya? Ah, Zaira takut kenyataannya.
Zaira mulai menangis. Tak dapat dipungkiri jika ia semakin memaksa tak akan ada yang pergi ia malah semakin yakin Rayhan berniat untuk pergi  meninggalkannya. Ia mulai menangis. Wajahnya ia benamkan dibalik kedua tangan, badanya mulai bergerak mengikuti seguk tangisnya. Tangis tak bersuara.
Hangat.
Lelakinya tengah mendekapnya erat, mengelus rambutnya lembut. Berucap ‘jangan menangis’ hampir tanpa suara. Dingin malam semakin mendekap, angin berhembus membuat pepohonan menari seirama. Dalam dekap mereka cahaya menyilaukan terpancar, lurus horizontal menembus awan, lantas menghilang.
Sepasang remaja menatap heran dari balik pepohonan rimbun, memandang keganjilan di hadapan mereka. Seorang perempuan berdiri sambil menangis sendiri, kedua tangannya layaknya seseorang yang sedang mendekap berhadapan. Mereka saling pandang tak paham, lalu berlalu pergi dengan bergidik ngeri.











Depok, 2 april 2014

  



Aku Mengingatmu



Langit berputar, sepertinya aku gila.
Hey, saat bersandar di dinding aku mengingatmu
Saat aku mengarang berbagai cerita,
aku mengingatmu
saat aku mulai terpejam,
aku mengingatmu
saat kuhembuskan nafas pelan,
aku sedang mengingatmu
saat aku menggigit kuku ku karena bosan,
aku mengingatmu
saat angin berhembus ke arahku,
aku mengingatmu
saat aku lelah berlari,
aku mengingatmu
saat aku menangis bukan karena mu,
aku mengingatmu
saat aku bilang aku melupakanmu,
aku mengingatmu
saat aku tertawa karena lelaki lain,
aku mengingatmu
saat aku mendengarkan musik hingga terpejam,
aku mengingatmu
saat kugoyangkan kaki di bangku yang tinggi,
aku mengingatmu
di hari hujan,
aku mengingatmu
di tiap rintik yang mengalir di jendela,
aku mengingatmu
saat aku tertawa hingga keluar air mata,
aku mengingatmu
saat ku bentuk wajahmu di dinding dengan jariku,
aku mengingatmu
di tiap langkah-langkah ku,
aku mengingatmu
saat hujan menyentuh wajahku,
aku mengingatmu
saat aku tak lagi melihatmu,
aku benar-benar mengingatmu.