Perempuan itu berjalan lambat, raut wajahnya sepucat sisa rembulan
di shubuh itu dengan bercak merah di
beberapa bagian, rambutnya yang kecoklatan terurai berantakan,
bergelombang layak ombak yang
terkena amuk badai, make up
yang sejatinya diperuntukan untuk mempercantik wajah malahnya
terkesan menimbun aura kecantikannya, kecantikan yang ia
kutuk setiap harinya kala cermin dengan
gamblangnya berucap tanpa berpikir lagi ‘kamu
cantik’.
Ia tak suka, bahkan saat
dimana ia berada di
mahanya kemarahan tanpa menunggu sedetik pun cermin
yang mengatakan ‘kamu cantik’ tersisa tinggal serpihan tak tumpul dengan dia
sebagai bayang perempuan yang tengah mengenggam tongkat golf.
Rintik menghujam pijakan lalu menghilang,
menyisakan noda lingkaran berantakan di sekitarnya.
Di jalan-jalan yang berlubang
sudah berganti nama menjadi genangan, perempuan itu terseyum bercermin di dalamnya.
Di genangan air keruh ini
bayangnya bergoyang-goyang lucu, tak
menampilkan warna, tak
menampilkan kecantikannya. Ia merendahkan
tubuhnya, memeluk lututnya di hadapan genangan yang ia
suka.
Beberapa jam yang
lalu ia tak tampak sekacau ini. Rambutnya bergelombang layak ombak di
laut malam yang
tenang, berkilau jika tersinari sinar bulan, wajahnya
sempurna dengan lukisan make up yang menambah kecantikannya dalam hitungan mata,
gaunnya mungil berwarna biru langit, berhias permata-permata putih seumpama
awan yang melengkapi. Ia terduduk di remang ruang penuh jejal tatapan lelaki.
“kamu cantik.....” ucap lelaki berjas
rapih, tatapannya tak lagi dapat dipungkiri tengah menikmati sajian mulus yang
terhidang apik di hadapannya. Bau alkohol menyeruak keluar, bersatu dengan
udara sekitar yang sudah terlebih dahulu beraroma uang, perempuan, dan seks.
Lampu sedikit berpendar, alunan musik
mulai memekakan, tapi malah jadi alasan orang-orang disini tuk menghentak
seirama di lantai. Bergoyang, berteriak, membebaskan apa pun yang sesak,
mengekspresikan apa pun yang pantas, menyerapah apa pun dan siapa pun.
Perempuan itu membuat jarak. Bergeser
sambil menutup hidung yang belum biasa akan aroma sehari-hari yang ia endus.
Tangannya takut-takut ia lepas dari genggam besar lelaki berjas, membalik badan
berniat menghilang di kerumunan.
“hey, mau kemana!” lelaki berjas itu
meledak murka, sebagai seorang yang kiranya tak pernah tidak dituruti
kemauannya . Sebagian orang yang sebelumnya tak peduli menatap ke satu arah
suara, menghasilkan gamang sepersekian detik. Lelaki itu berdiri menunjukan
wajah kuasanya, tangannya terkepal tapi tak menggenggam apa-apa, nafasnya
memburu.
Lalu, ditemani musik menghentak, aroma
alkohol, uang, perempuan, dan seks, teriakan-teriakan takut, dan segala
keriuhan ruang remang itu. Sumpah serapah mengalir tanpa bendung, berucap
berkali-kali ‘kamu cantik’ dengan tekanan amarah dan dera tinjuan tertuju
perempuan malang itu.
Belum murkanya mereda dua lelaki besar memisahkan
mereka dengan paksa dari gemulan sakit hati dan sakit tubuh.
“jangan sok suci lo! Cantik-cantik sok
suci, cuih..”
Perempuan itu memejamkan mata. Berusaha
menganggap biasa apa yang sedetik lalu terjadi, dipuja dengan cacian, hatinya
tinggal keping seperti cermin-cerminnya di rumah. Namun, tak biasanya keping
ini tajam di ujungnya, menggores sedikit demi sedikit, meninggalkan luka menganga,
menyisakan kepedihan yang amat. Perempuan itu berubah kacau.
Ia kembali ke memoar beberapa tahun
silam, membuatnya menggeleng tanpa ada pertanyaaan kala ia tak tahu jawabannya.
Betapa pongah kiranya ia karena cantik semenjak rambutnya yang lurus dan hitam
diikat masing-masing di atas telinganya. Betapa angkuhnya ia lantaran ibu-ibu
yang tengah menggosip bahkan menyempatkan untuk memuji kecantikannya, betapa
congkaknya kala di setiap sekolah ia dimahkotai ‘putri’, di kelilingi
pangeran-pangeran yang semua berharap dapat bersanding dengan titel ‘ratu dan
raja’.
Mungkin, salah satu dari mereka pernah
memandang langit dengan hati yang tinggal keping – sama sepertinya saat ini –
memejamkan mata, mengempulkan udara dalam-dalam di rongga dadanya, lantas
berteriak mengutuk perempuan itu kencang. Mungkin.
Atau dia adalah reankarnasi dari binatang hina,
hingga saat ini kala ia bereankarnasi menjadi manusia sempurna ia tetap
dianggap hina. Atau kemungkinan selanjutnya adalah karma dari perbuatan
perempuan yang melahirkannya.
Ruang remang tinggal sepi, pendar lampu
warna-warni hanya menghibur lantai, tumpahan dan remahan sisa kegilaan malam
tengah dienyahkan dengan sapu dan lap. Semprotan-semprotan harum di setiap sisi
ruang menyembunyikan aroma memualkan, yang dipastikan hanya akan bertahan
hingga malam selanjutnya. Satu titik di timur semakin meluaskan keharusannya
menerangkan dunia. Shubuh.
Perempuan itu masih terduduk dan
tertunduk di tempat yang sama. Memandang kekosongan. Ia tahu setelah dewasa
kecantikannya tak sekedar dipuja, ia dihina. Bahkan saat ia tak melakukan apa
pun! Ia tersenyum sendiri, sesekali mengeluarkan tawa tertahan, tangannya
menggapai-gapai yang tak ada, lalu tiba-tiba punggungnya bergetar, ia
sesegukan.
Lantai menghantarkan dingin ke kedua
kaki jenjangnya, ia beringsut ke pojok ruang yang terhampar karpet. Tak ada
yang mau menyuruhnya pergi, tak ada yang sebegitu tega. Ia terpejam sambil
mendengar denting jam. Menurutnya itu lebih menenangkan ketimbang menegak
beberapa gelas kecil alkohol. Ia suka mendengar denting jam yang setiap detik tak pernah absen menemani kesendiriannya,
begitu setia denting pada waktu yang telah ditentukan, dan ia hanya berhenti ketika
energinya benar-benar habis. Tapi, tetap setia menanti diberi energi.
Dengan
penuh usaha yang
ia kumpulkan di
kedua tangannya, ia
topang badannya untuk bangkit. Sesekali ia jatuh lagi bedebam di
karpet persia berlukis bunga saling bertautan. Kakinya lemas
seakan seseorang sebelumnya telah menyetrum dengan tegangan serupa
stungun. High heels dua puluh centi menyulitkannya bangkit. tanpa berfikir
lama ia lepas dan ia lempar hingga menimbulkan suara berisik lantaran tepat
mendarat di meja bundar yang masih menopang gelas-gelas berisi sisa bir, wiskey
dan segala jenis alkohol memuakan berwarna serupa air mani. Sekali lagi, ia
membuat keping-keping.
Kembali padanya yang tengah menatap
genangan sambil tersenyum. Kini tangannya mulai menggengam dengan menyisakan
jari telunjuk serupa menunjuk. Perlahan jari dan genangan ia satukan, menimbulkan lingkaran yang semakin lama
membesar, lalu hilang sebelum sampai di sisi genangan. Ia tertawa saat wajahnya
yang terpantul bergoyang-goyang. Rambut gelombangnya kini benar-benar serupa
tsunami, terhembus angin shubuh.
Pemandangan amat aneh, perempuan penuh
make up dengan gaun birunya bertingkah selayaknya anak kecil berusia tiga
tahun. Berjongkok memperlihatkan kaki jenjangnya yang sedikit kotor, sesekali
menatap lurus memperlihatkan wajah cantiknya walau terkotori make up dan darah.
Tak dipungkiri tingkahnya lebih
menunjukan ia tak waras. Tawa dan tangis bergantian dikeluarkannya, terkadang berbarengan,
menangis tapi tertawa, tertawa tapi menangis. orang tak habis pikir, betapa
dengan cantiknya ia lebih cocok menjadi model atau artis pemain sinetron
beratus episode. Semua menggeleng tak tahu jawabannya.
Perempuan itu tak ambil peduli, lebih tepatnya
tak bisa peduli. Ia terus berfikir betapa sukanya ia dengan genangan, betapa
nyamannya ia melihat cerminan wajahnya tanpa ada ‘cantik’ di pantulannya,
betapa lucunya melihat dirinya bergoyang-goyang. Ia suka.
Mungkin, jawaban yang paling tepat mengapa
nasib perempuan ini terlalu jelek adalah karma, karma karena seorang yang
melahirkannya, yang ia panggil mama. Bertahun silam, saat rambutnya masih
diikat di atas telinganya, saat ia belum sepenuhnya mengerti mengapa setiap
hari mamanya menghukum kakanya, mengomeli dengan kata-kata yang tak ia
mengerti, menampar, memukul dan adegan-adegan yang tak pernah dilakukan mama
padanya. Ia dengan suruhan mama mengambil tongkat golf di lemari pojok ruang
tamu, berlari dan memberikannya pada mama. Mama sekali lagi memukul kaka.
Ia baru menyadari kenyataan bahwa
kakanya berbeda, kenyataan yang membuat ia serupa mama. Hingga akhirnya papa
membawa kaka menghilang di balik pintu saat hujan menghujam deras, tanpa pernah
ada kata pulang.
Hujan menderas. Noda lingkaran basah membesar,
perlahan jalan tertutupi sempurna oleh hujan. Genangan yang dijadikan cermin
oleh perempuan itu tak dapat lagi memantulkan bentuk wajahnya, terlampau keruh
dan berkecipak. gigil menggigit tubuhnya yang telah dimandikan hujan. Namun,
rautnya malah menunjukan ekspresi kegeraman yang tertahan.
Ia mulai berteriak mencaci, menunjuk
kehampaan, menertawakan kekosongan, menangisi kesunyian. Sesekali ia berjongkok
menghadap genangan, lalu kembali mencaci karena tak ada pantulan yang ia suka.
Orang-orang mulai berbalik dari kasihan menjadi cacian, kelakuannya mengusik
ketenangan.
“dasar pelacur gila!” umpat pria
berkepala plontos dengan gamblangnya. Sepeda motor hitamnya terpaksa berhenti
mendadak di hadapan perempuan itu, menghasilkan suara decit hasil gesekan ban
dan aspal yang terbasuh rinai.
Perempuan itu ‘sempat’ memandangnya. Layaknya bercermin di mata pria berkepala
plontos ia menatap matanya dalam. Lantas berteriak garang.
“dasar botak gila! Gue bukan pelacur,
gue perempuan baik-baik hahaaha...hhh...hh.” tertawanya disiram tangis tak
berair mata. Pria itu memilih pergi dengan gelengan pelan, geram di rongga
dadanya dibiarkan hilang dihembus angin dari atas motor hitamnya. Semakin bertambah saja orang gila di dunia!
Mereka yang berlalu lalang tak bisa
mengerti. Tak tersedia lagi palu untuk mengetuk hati-hati mereka yang sekeras
batu, hujan seharusnya bukan membasuh tubuh mereka, sejatinya lebih cocok
membasuh hati-hati meraka yang terbakar ego masing-masing.
Orang-orang menilainya perempuan kotor.
Hingga hardik tak habisnya menunjuk pada diri perempuan malang itu. Dari
bocah-bocah kecil yang tak lagi polos tentang hal porno sampai nenek-nenek
keriput bekas pelacur jalanan, semua tak tahu bahwa perempuan yang mereka
hardik bahkan lebih suci, bahkan sangat suci karena ia mempertahankan
kesuciannya di dunia kotor. Hanya sayang, tak ada tangan yang merangkul dan
menggenggam di ketakutan alam bawah sadarnya, tak ada ucap yang memanggil tuk
kembali pulang pada kenyataan. Tak ada sama sekali, bahkan genangan yang ia
suka.
Hingga
genangan mengering
Bahkan
tak ada....
Depok, 02 april 2014

.jpg)