Rabu, 02 April 2014

Genangan dan Perempuan


Perempuan  itu  berjalan  lambat,  raut  wajahnya  sepucat  sisa  rembulan  di  shubuh itu  dengan bercak  merah  di  beberapa  bagian,  rambutnya  yang  kecoklatan  terurai  berantakan,  bergelombang  layak  ombak  yang  terkena  amuk  badai,  make  up  yang sejatinya  diperuntukan  untuk  mempercantik  wajah  malahnya  terkesan  menimbun  aura kecantikannya,  kecantikan  yang  ia  kutuk  setiap  harinya  kala  cermin  dengan gamblangnya  berucap  tanpa  berpikir  lagi  ‘kamu cantik’.
Ia  tak suka,  bahkan  saat  dimana  ia  berada  di  mahanya  kemarahan  tanpa menunggu  sedetik  pun  cermin  yang  mengatakan  ‘kamu cantik’  tersisa  tinggal  serpihan  tak tumpul  dengan  dia  sebagai  bayang  perempuan  yang  tengah  mengenggam  tongkat  golf.
Rintik  menghujam  pijakan  lalu  menghilang,  menyisakan  noda  lingkaran berantakan  di  sekitarnya.  Di  jalan-jalan  yang  berlubang  sudah  berganti  nama  menjadi genangan,  perempuan  itu  terseyum  bercermin  di  dalamnya.  Di  genangan  air  keruh  ini bayangnya  bergoyang-goyang  lucu,  tak  menampilkan  warna,  tak  menampilkan   kecantikannya.  Ia   merendahkan  tubuhnya,  memeluk  lututnya  di  hadapan  genangan  yang  ia  suka.
Beberapa  jam  yang  lalu  ia  tak  tampak  sekacau  ini.  Rambutnya  bergelombang layak  ombak  di  laut  malam  yang  tenang,  berkilau  jika  tersinari  sinar  bulan,  wajahnya sempurna dengan lukisan make up yang menambah kecantikannya dalam hitungan mata, gaunnya mungil berwarna biru langit, berhias permata-permata putih seumpama awan yang melengkapi. Ia terduduk di remang ruang penuh jejal tatapan lelaki.
“kamu cantik.....” ucap lelaki berjas rapih, tatapannya tak lagi dapat dipungkiri tengah menikmati sajian mulus yang terhidang apik di hadapannya. Bau alkohol menyeruak keluar, bersatu dengan udara sekitar yang sudah terlebih dahulu beraroma uang, perempuan, dan seks.
Lampu sedikit berpendar, alunan musik mulai memekakan, tapi malah jadi alasan orang-orang disini tuk menghentak seirama di lantai. Bergoyang, berteriak, membebaskan apa pun yang sesak, mengekspresikan apa pun yang pantas, menyerapah apa pun dan siapa pun.
Perempuan itu membuat jarak. Bergeser sambil menutup hidung yang belum biasa akan aroma sehari-hari yang ia endus. Tangannya takut-takut ia lepas dari genggam besar lelaki berjas, membalik badan berniat menghilang di kerumunan.
“hey, mau kemana!” lelaki berjas itu meledak murka, sebagai seorang yang kiranya tak pernah tidak dituruti kemauannya . Sebagian orang yang sebelumnya tak peduli menatap ke satu arah suara, menghasilkan gamang sepersekian detik. Lelaki itu berdiri menunjukan wajah kuasanya, tangannya terkepal tapi tak menggenggam apa-apa, nafasnya memburu.
Lalu, ditemani musik menghentak, aroma alkohol, uang, perempuan, dan seks, teriakan-teriakan takut, dan segala keriuhan ruang remang itu. Sumpah serapah mengalir tanpa bendung, berucap berkali-kali ‘kamu cantik’ dengan tekanan amarah dan dera tinjuan tertuju perempuan malang itu.
Belum murkanya mereda dua lelaki besar memisahkan mereka dengan paksa dari gemulan sakit hati dan sakit tubuh.
“jangan sok suci lo! Cantik-cantik sok suci, cuih..”
Perempuan itu memejamkan mata. Berusaha menganggap biasa apa yang sedetik lalu terjadi, dipuja dengan cacian, hatinya tinggal keping seperti cermin-cerminnya di rumah. Namun, tak biasanya keping ini tajam di ujungnya, menggores sedikit demi sedikit, meninggalkan luka menganga, menyisakan kepedihan yang amat. Perempuan itu berubah kacau.
Ia kembali ke memoar beberapa tahun silam, membuatnya menggeleng tanpa ada pertanyaaan kala ia tak tahu jawabannya. Betapa pongah kiranya ia karena cantik semenjak rambutnya yang lurus dan hitam diikat masing-masing di atas telinganya. Betapa angkuhnya ia lantaran ibu-ibu yang tengah menggosip bahkan menyempatkan untuk memuji kecantikannya, betapa congkaknya kala di setiap sekolah ia dimahkotai ‘putri’, di kelilingi pangeran-pangeran yang semua berharap dapat bersanding dengan titel ‘ratu dan raja’.
Mungkin, salah satu dari mereka pernah memandang langit dengan hati yang tinggal keping – sama sepertinya saat ini – memejamkan mata, mengempulkan udara dalam-dalam di rongga dadanya, lantas berteriak mengutuk perempuan itu kencang. Mungkin.
 Atau dia adalah reankarnasi dari binatang hina, hingga saat ini kala ia bereankarnasi menjadi manusia sempurna ia tetap dianggap hina. Atau kemungkinan selanjutnya adalah karma dari perbuatan perempuan yang melahirkannya.
Ruang remang tinggal sepi, pendar lampu warna-warni hanya menghibur lantai, tumpahan dan remahan sisa kegilaan malam tengah dienyahkan dengan sapu dan lap. Semprotan-semprotan harum di setiap sisi ruang menyembunyikan aroma memualkan, yang dipastikan hanya akan bertahan hingga malam selanjutnya. Satu titik di timur semakin meluaskan keharusannya menerangkan dunia. Shubuh.
Perempuan itu masih terduduk dan tertunduk di tempat yang sama. Memandang kekosongan. Ia tahu setelah dewasa kecantikannya tak sekedar dipuja, ia dihina. Bahkan saat ia tak melakukan apa pun! Ia tersenyum sendiri, sesekali mengeluarkan tawa tertahan, tangannya menggapai-gapai yang tak ada, lalu tiba-tiba punggungnya bergetar, ia sesegukan.
Lantai menghantarkan dingin ke kedua kaki jenjangnya, ia beringsut ke pojok ruang yang terhampar karpet. Tak ada yang mau menyuruhnya pergi, tak ada yang sebegitu tega. Ia terpejam sambil mendengar denting jam. Menurutnya itu lebih menenangkan ketimbang menegak beberapa gelas kecil alkohol. Ia suka mendengar denting jam yang setiap detik  tak pernah absen menemani kesendiriannya, begitu setia denting pada waktu yang telah ditentukan, dan ia hanya berhenti ketika energinya benar-benar habis. Tapi, tetap setia menanti diberi energi.
Dengan  penuh  usaha  yang  ia  kumpulkan  di  kedua  tangannya,  ia  topang badannya  untuk  bangkit. Sesekali ia jatuh lagi bedebam di karpet persia berlukis bunga saling bertautan. Kakinya  lemas  seakan seseorang sebelumnya telah menyetrum  dengan tegangan  serupa  stungun. High heels dua puluh centi menyulitkannya bangkit. tanpa berfikir lama ia lepas dan ia lempar hingga menimbulkan suara berisik lantaran tepat mendarat di meja bundar yang masih menopang gelas-gelas berisi sisa bir, wiskey dan segala jenis alkohol memuakan berwarna serupa air mani. Sekali lagi, ia membuat keping-keping.
Kembali padanya yang tengah menatap genangan sambil tersenyum. Kini tangannya mulai menggengam dengan menyisakan jari telunjuk serupa menunjuk. Perlahan jari dan genangan ia satukan,  menimbulkan lingkaran yang semakin lama membesar, lalu hilang sebelum sampai di sisi genangan. Ia tertawa saat wajahnya yang terpantul bergoyang-goyang. Rambut gelombangnya kini benar-benar serupa tsunami, terhembus angin shubuh.
Pemandangan amat aneh, perempuan penuh make up dengan gaun birunya bertingkah selayaknya anak kecil berusia tiga tahun. Berjongkok memperlihatkan kaki jenjangnya yang sedikit kotor, sesekali menatap lurus memperlihatkan wajah cantiknya walau terkotori make up dan darah.
Tak dipungkiri tingkahnya lebih menunjukan ia tak waras. Tawa dan tangis bergantian dikeluarkannya, terkadang berbarengan, menangis tapi tertawa, tertawa tapi menangis. orang tak habis pikir, betapa dengan cantiknya ia lebih cocok menjadi model atau artis pemain sinetron beratus episode. Semua menggeleng tak tahu jawabannya.
Perempuan itu tak ambil peduli, lebih tepatnya tak bisa peduli. Ia terus berfikir betapa sukanya ia dengan genangan, betapa nyamannya ia melihat cerminan wajahnya tanpa ada ‘cantik’ di pantulannya, betapa lucunya melihat dirinya bergoyang-goyang. Ia suka.
Mungkin, jawaban yang paling tepat mengapa nasib perempuan ini terlalu jelek adalah karma, karma karena seorang yang melahirkannya, yang ia panggil mama. Bertahun silam, saat rambutnya masih diikat di atas telinganya, saat ia belum sepenuhnya mengerti mengapa setiap hari mamanya menghukum kakanya, mengomeli dengan kata-kata yang tak ia mengerti, menampar, memukul dan adegan-adegan yang tak pernah dilakukan mama padanya. Ia dengan suruhan mama mengambil tongkat golf di lemari pojok ruang tamu, berlari dan memberikannya pada mama. Mama sekali lagi memukul kaka.
Ia baru menyadari kenyataan bahwa kakanya berbeda, kenyataan yang membuat ia serupa mama. Hingga akhirnya papa membawa kaka menghilang di balik pintu saat hujan menghujam deras, tanpa pernah ada kata pulang.
Hujan menderas. Noda lingkaran basah membesar, perlahan jalan tertutupi sempurna oleh hujan. Genangan yang dijadikan cermin oleh perempuan itu tak dapat lagi memantulkan bentuk wajahnya, terlampau keruh dan berkecipak. gigil menggigit tubuhnya yang telah dimandikan hujan. Namun, rautnya malah menunjukan ekspresi kegeraman yang tertahan.
Ia mulai berteriak mencaci, menunjuk kehampaan, menertawakan kekosongan, menangisi kesunyian. Sesekali ia berjongkok menghadap genangan, lalu kembali mencaci karena tak ada pantulan yang ia suka. Orang-orang mulai berbalik dari kasihan menjadi cacian, kelakuannya mengusik ketenangan.
“dasar pelacur gila!” umpat pria berkepala plontos dengan gamblangnya. Sepeda motor hitamnya terpaksa berhenti mendadak di hadapan perempuan itu, menghasilkan suara decit hasil gesekan ban dan aspal yang terbasuh rinai.
Perempuan itu ‘sempat’ memandangnya.  Layaknya bercermin di mata pria berkepala plontos ia menatap matanya dalam. Lantas berteriak garang.
“dasar botak gila! Gue bukan pelacur, gue perempuan baik-baik hahaaha...hhh...hh.” tertawanya disiram tangis tak berair mata. Pria itu memilih pergi dengan gelengan pelan, geram di rongga dadanya dibiarkan hilang dihembus angin dari atas motor hitamnya. Semakin bertambah saja orang gila di dunia!
Mereka yang berlalu lalang tak bisa mengerti. Tak tersedia lagi palu untuk mengetuk hati-hati mereka yang sekeras batu, hujan seharusnya bukan membasuh tubuh mereka, sejatinya lebih cocok membasuh hati-hati meraka yang terbakar ego masing-masing.
Orang-orang menilainya perempuan kotor. Hingga hardik tak habisnya menunjuk pada diri perempuan malang itu. Dari bocah-bocah kecil yang tak lagi polos tentang hal porno sampai nenek-nenek keriput bekas pelacur jalanan, semua tak tahu bahwa perempuan yang mereka hardik bahkan lebih suci, bahkan sangat suci karena ia mempertahankan kesuciannya di dunia kotor. Hanya sayang, tak ada tangan yang merangkul dan menggenggam di ketakutan alam bawah sadarnya, tak ada ucap yang memanggil tuk kembali pulang pada kenyataan. Tak ada sama sekali, bahkan genangan yang ia suka.
Hingga genangan mengering
Bahkan tak ada....
   
  



 Depok, 02 april 2014